Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Sang Penyelamat yang Berbahaya
Deru helikopter di atas hutan Elara bukan sekadar suara mesin, itu adalah suara kekuasaan yang absolut. Cahaya lampu sorot dari langit menyapu hutan jati, mengubah kegelapan menjadi siang yang menyakitkan mata.
Di bawah sana, para pengejar dari SUV hitam yang tadinya tampak seperti malaikat maut, kini kocar-kacir bak kecoa yang terpapar cahaya. Suara tembakan berat dari senapan mesin helikopter mulai menyalak, menghancurkan kap mesin SUV musuh hingga meledak dalam bola api yang mengerikan.
Di dalam kabin ambulans yang ringsek, suasana mendadak hening meski kebisingan di luar sana luar biasa. Kayra masih mencengkeram wajah Harry, tangannya yang bersimbah darah gemetar di atas kulit pria itu yang mulai menghangat akibat lonjakan kimiawi dari jarum suntik yang ia hujamkan tadi.
Harry menatapnya. Bukan lagi tatapan predator yang mengintai, melainkan tatapan yang dalam, intens, dan nyaris ... mengapresiasi.
"Kau gila, Dokter," bisik Harry. Suaranya masih serak, namun ada nada geli yang terselip di sana.
Tangan besarnya yang kasar perlahan terangkat, membalas cengkeraman tangan Kayra di pipinya. Ia mengusap bercak darah di rahang Kayra dengan ibu jarinya. "Prosedur intracardiac di tengah baku tembak? Kau lebih berbahaya daripada aku."
Kayra tersentak oleh sentuhan itu. Rasanya seperti tersengat listrik yang jauh lebih kuat daripada obat mana pun. Ia segera menarik tangannya, berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Aku hanya memastikan pasienku tidak mati menjadi saksi bisu eksekusi kami."
"Pasienmu?" Harry terkekeh, meski kemudian ia meringis karena luka di dadanya berdenyut hebat. "Setelah apa yang kau lakukan tadi, kau bukan sekadar dokter bagiku. Kau adalah orang yang berani menjamah jantungku ... secara harfiah."
Wajah Kayra memanas, sebuah reaksi emosional yang seharusnya tidak muncul di tengah medan perang. Sebelum ia sempat membalas, pintu belakang ambulans ditarik paksa hingga jebol dari engselnya.
"Tuan Harry!"
Sekelompok pria berseragam hitam taktis dengan senjata lengkap merangsek masuk. Mereka bukan polisi, dan jelas bukan tentara pemerintah. Kedisiplinan dan tatapan dingin mereka menandakan mereka adalah tentara bayaran elit, milik Harry.
Enzo segera memberi jalan. "Bawa dia! Cepat! Dokter ini berhasil menjaganya tetap hidup!"
Dua orang paramedis bersenjata segera mengangkat brankar Harry. Saat tubuhnya mulai diangkat, Harry mencengkeram lengan jas putih Kayra dengan kuat, menolak untuk dilepaskan.
"Dia ikut denganku!" perintah Harry mutlak kepada anak buahnya.
"Tuan, kita harus segera evakuasi ke helikopter pertama, beratnya terbatas, "
"Aku tidak peduli!" Harry memotong dengan nada yang tidak menerima bantahan. Matanya terpaku pada Kayra. "Dokter ini adalah satu-satunya alasan jantungku masih berdetak. Dia tetap bersamaku."
Kayra menoleh ke belakang, melihat Mia dan Freya yang masih meringkuk di sudut mobil dengan wajah pucat. "Bagaimana dengan asistenku? Mereka harus ikut!"
Enzo menatap Harry, meminta keputusan. Harry terdiam sejenak, menatap kedua asisten yang ketakutan itu, lalu kembali ke Kayra. Ada kilatan posesif yang lewat sekejap di matanya.
"Bawa mereka ke helikopter kedua. Pastikan mereka sampai di perbatasan kota dengan selamat, beri mereka uang, dan pastikan mereka tidak bicara pada siapa pun tentang malam ini."
"Harry, tidak! Aku harus bersama mereka!" protes Kayra.
Harry menarik tangan Kayra hingga wanita itu jatuh terduduk di sisi brankarnya. Di tengah kekacauan evakuasi, di antara debu dan asap, Harry menarik tengkuk Kayra, memaksa wajah mereka berdekatan.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai anak buah Luca yang lain datang mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Kayra tertegun. Kalimat itu terdengar seperti perlindungan, namun juga seperti jeratan rantai yang sangat kuat. Ia melihat Mia dan Freya dipandu keluar oleh Enzo menuju helikopter kedua yang baru mendarat di area lapang tak jauh dari sana.
"Janji mereka akan selamat?" bisik Kayra pasrah.
"Aku selalu membayar hutang nyawaku, Dokter," jawab Harry lembut, tangannya masih menetap di belakang leher Kayra, jari-jarinya bermain dengan helaian rambut wanita itu yang berantakan.
Mereka pun dievakuasi. Saat helikopter terangkat dari tanah hutan Elara, Kayra melihat dari jendela kecil bagaimana Puskesmas Elara dan hutan di bawahnya mengecil, tertutup asap hitam. Hidupnya yang tenang telah hangus terbakar.
Suara baling-baling yang memekakkan telinga memaksa mereka menggunakan headset komunikasi. Harry berbaring di bawah peralatan medis yang jauh lebih canggih sekarang. Paramedis pribadinya mencoba mengambil alih, namun ia menepis tangan mereka.
"Biarkan dia," Harry menunjuk Kayra.
Kayra, yang masih syok, mendekat untuk memeriksa kantung infus. Saat ia sedang menyesuaikan selang, ia menyadari Harry terus menatapnya tanpa berkedip. Bukan tatapan mengancam, melainkan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Kenapa kau lari ke Elara, Dokter?" tanya Harry melalui sistem interkom headset.
Kayra terhenti sejenak. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Dokter bedah dengan kemampuan sepertimu tidak akan berada di puskesmas kumuh tanpa alasan. Kau punya tangan yang diciptakan untuk menyelamatkan orang-orang penting di rumah sakit besar, bukan untuk mengobati petani yang digigit ular."
Harry mengulurkan tangannya, menyentuh ujung jari Kayra yang masih ternoda darah kering. "Apa yang kau sembunyikan?"
"Sama seperti kau, Harry," balas Kayra, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku hanya ingin bertahan hidup."
Harry menarik tangan Kayra, membawa jemari wanita itu ke bibirnya yang pucat, mengecup buku jarinya dengan gerakan yang lambat dan penuh makna. Tindakan itu begitu intim, membuat jantung Kayra berdetak lebih tidak beraturan daripada saat baku tembak tadi.
"Sekarang hidupmu adalah hidupku, Kayra Ardeane," gumam Harry. "Kau sudah menyelamatkan seekor iblis. Dan iblis tidak pernah melepaskan malaikat yang telah menariknya kembali dari neraka."
Kayra merasa bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena ia sadar bahwa ia mulai merasa tertarik pada kegelapan yang dipancarkan pria ini. Ia melihat ke arah tangannya yang digenggam Harry, tangan yang tadinya hanya ingin hidup tenang, kini terikat pada pria paling berbahaya yang pernah ia temui.
Helikopter mendarat di sebuah mansion mewah yang tersembunyi di balik perbukitan batu yang terisolasi. Tempat itu lebih mirip benteng daripada sebuah rumah. Puluhan pria bersenjata berjaga di setiap sudut.
Harry segera dilarikan ke ruang medis privat yang setara dengan unit gawat darurat rumah sakit internasional. Saat pria itu akan dibawa masuk ke ruang operasi steril, ia kembali menahan tangan Kayra.
"Ikut masuk," bisiknya.
"Harry, kau punya tim dokter terbaik di sini. Aku butuh istirahat, aku—"
"Aku hanya percaya pada tangan yang sudah memegang jantungku," potong Harry tegas. Matanya menyiratkan kerentanan yang hanya diperlihatkan pada Kayra. "Jangan tinggalkan aku."
Kayra menarik napas panjang. Ia tahu, mulai malam ini, ia bukan lagi dokter di Elara. Ia telah menjadi bagian dari dunia Harry Marcello. Ia pun mengangguk, mengikuti brankar itu masuk ke dalam ruangan yang akan menentukan masa depan mereka berdua.
Saat pintu ruang operasi tertutup, Kayra sempat melihat bayangannya di cermin lorong. Jas putihnya hancur, penuh noda darah dan debu, namun matanya memancarkan api yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia bukan lagi pelarian. Ia adalah dokter bagi sang raja kegelapan.