Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Pelajaran dari Aroma Tanah
BAB 33: Pelajaran dari Aroma Tanah
Pukul 04.00 pagi di Desa Sukamaju, udara Januari yang dingin merayap masuk melalui sela-sela jendela kayu Dapur Satelit. Nayla berdiri di sudut ruangan, tersembunyi di balik bayangan mesin pengemas, memperhatikan seorang gadis dengan rambut yang diikat asal-asalan sedang bergelut dengan sekarung cabai rawit hijau. Gadis itu adalah Maya.
Tangannya yang biasanya dihias dengan cat kuku mahal dan menggenggam ponsel keluaran terbaru, kini tampak kemerahan karena gesekan tangkai cabai. Tidak ada lagi wangi parfum Prancis; yang ada hanya aroma getir cabai dan tanah yang menempel di apronnya.
"Mbak Nay, sudah satu jam dia tidak berhenti. Sepertinya dia benar-benar takut Mbak tidak memberinya uang makan," bisik Ranti yang berdiri di samping Nayla.
Nayla tetap diam, matanya tidak lepas dari adiknya. "Dia bukan takut tidak makan, Ran. Dia sedang bertarung dengan harga dirinya sendiri. Biarkan saja. Jangan ada yang membantunya."
Transformasi Maya di Dapur Satelit menjadi berita hangat di kalangan karyawan. Banyak yang mengira Nayla hanya bersandiwara untuk pencitraan, namun saat mereka melihat Maya benar-benar makan nasi bungkus yang sama dengan Ibu-ibu pekerja dan pulang menggunakan angkot, mereka mulai sadar bahwa Nayla tidak sedang bermain-main.
Namun, di tengah proses pendewasaan Maya, sebuah badai baru menerjang operasional Dapur Satelit. Pukul sepuluh pagi, Bagas datang dengan wajah pucat ke lokasi. Ia membawa satu kantong besar basreng yang baru saja dikemas di satelit tersebut.
"Mbak Nay, kita punya masalah serius. Tiga batch produksi dari satelit desa ini terdeteksi mengandung kadar garam yang tidak masuk akal. Hampir lima ratus bungkus sudah siap kirim, tapi rasanya sangat asin, seperti sengaja ditaburi garam satu karung," lapor Bagas.
Nayla segera mencicipi sampelnya. Wajahnya mengeras. Benar. Ini bukan kesalahan takaran biasa; ini adalah sabotase. Seseorang telah masuk ke ruang pencampuran bumbu dan merusak formulanya.
"Siapa yang memegang kunci gudang bumbu semalam?" tanya Nayla, suaranya rendah namun mematikan.
"Semua kunci dipegang oleh pengawas desa, tapi... CCTV di area bumbu mati selama tiga puluh menit karena gangguan listrik," jawab Ranti gugup.
Kecurigaan langsung mengarah pada orang baru, termasuk Maya. Ibu-ibu di desa mulai saling berbisik, menciptakan suasana tidak nyaman yang bisa menghancurkan moral kerja tim yang baru dibentuk ini.
Nayla tidak langsung meledak. Ia mengumpulkan semua pekerja Dapur Satelit di tengah ruangan. Ia melihat wajah Maya yang tampak sangat lelah namun matanya menunjukkan kebingungan yang tulus.
"Dengarkan saya," ujar Nayla lantang. "Seseorang mencoba menghancurkan kepercayaan kita. Mereka ingin saya menutup tempat ini dan memecat kalian semua. Tapi saya tahu, tidak ada satu pun dari kalian yang tega merusak makanan yang akan dimakan oleh orang lain. Saya tidak akan mencari siapa yang salah lewat tuduhan, tapi saya akan mencari lewat bukti."
Nayla kemudian memutar rekaman dari ponsel salah satu warga yang secara tidak sengaja merekam area belakang dapur saat sedang membuat konten video pendek. Di sana terlihat seorang pria asing berbaju hitam keluar dari jendela belakang saat listrik padam. Pria itu adalah orang suruhan dari pihak yang tidak suka dengan keberhasilan model pemberdayaan Nayla—sebuah taktik kotor dari distributor gelap yang merasa pasarnya terganggu oleh sistem satelit desa.
"Maya," panggil Nayla tiba-tiba.
Maya tersentak. "I-iya, Mbak?"
"Malam ini, kamu dan Bagas akan berjaga di sini. Pasang sistem keamanan cadangan yang saya bawa. Kamu yang paling tahu area ini sekarang karena kamu yang membersihkannya setiap sore. Bisakah saya mempercayaimu?"
Maya menatap kakaknya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tidak ada tatapan benci atau manja di matanya. Hanya ada tekad. "Bisa, Mbak. Aku nggak akan biarkan tempat ini dirusak. Aku sudah capek-capek bersihin lantainya setiap hari."
Malam itu, di bawah sorotan lampu darurat, Maya benar-benar berjaga. Ia belajar bahwa setiap keping basreng yang terbuang berarti hilangnya harapan bagi Ibu-ibu di desa itu. Ia mulai memahami kenapa Nayla begitu keras padanya.
Nayla sendiri kembali ke kantor pusatnya di Garut.
"Integritas tidak bisa diajarkan lewat ceramah di ruangan ber-AC, ia harus ditempa di tengah bau cabai dan peluh keringat. Sabotase mungkin bisa merusak lima ratus bungkus basreng, tapi ia tidak bisa merusak akar kepercayaan yang sudah mulai tumbuh di desa ini. Maya sedang belajar bahwa matahari tidak butuh pengakuan untuk menyinari bumi, ia hanya perlu tetap ada dan konsisten. Perjalanan kami menuju ke yang lebih cerah baru saja dimulai dari sebuah dapur kecil yang hampir saja dihancurkan oleh kedengkian."