NovelToon NovelToon
Wanita Terakhir Sang Playboy

Wanita Terakhir Sang Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Playboy / Harem
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Swan

Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semesta Tak Mendukung-2

Raihan langsung beranjak, dan berusaha mengejar Kanaya, namun tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada panggilan yang masuk. Raihan pun langsung mengambil ponselnya, ternyata itu telpon dari sang ibu, yang tentunya seorang Raihan tak bisa menolak panggilan itu, Raihan tak akan pernah bisa melakukannya.

Dan akhirnya, Raihan terdiam sejenak dan menerima panggilan itu.

"Iya mom."

Raihan menarik nafasnya, sambil melirik sekilas ke arah Gavin."Mom, sekarang Rai gak bisa , Rai lagi ada urusan mom."

"Rai serius mom, ini penting banget buat Rai."

"Hmmm... Ya udah deh mom, iya Rai kesana sekarang."ucapan terakhir Raihan  sebelum memutuskan panggilan telponnya.

Gavin yang melihat sahabatnya masih terdiam, akhirnya menghampiri Raihan.

"Kenapa?" tanya Gavin yang masih melihat  Raih yang mematung.

"Gue harus nyari adek gue, padahal gue belum ngomong sama Kanaya, dia pasti marah banget ke gue."jawab Raihan frustasi,.

"Ya udah lo kejar aja, siapa tau dia masih ada di parkiran. "Ucap Gavin, Raihan mengangguk dan akhirnya berlari menuju ke parkiran kampusnya.

Sementara gadis yang ingin di temui Raihan, kini tengah terduduk di toilet yang tak jauh dari kantin, tempat tadi dirinya dan Raihan bertengkar. Kanaya terus terisak pelan, karena tak ingin sampai ada yang mengetahui dirinya sedang menangis di toilet.

Kata-kata Raihan, membuat hatinya sakit. Kanaya tak menyangka masalahnya tadi dengan Rangga, akan membuat Raihan mengeluarkan kata-kata seperti tadi.

Bukankah tadi Raihan juga melihat interaksinya dengan Rangga, bagaimana ia tak merespon pria itu, dan bagaimana ia menolak pria itu. Lantas kenapa Raihan masih berpikir seperti itu. Kanaya tak habis pikir dengan Raihan saat ini. Disaat dia sudah mulai berusaha menerima pria itu, kenapa Raihan malah bersikap seperti itu?

Raihan bersikap seolah Kanaya bersalah atas apa yang terjadi, padahal Kanaya bahkan tak pernah menduga dirinya akan di hampiri Rangga.

Setelah beberapa menit dan merasa puas menangis, Kanaya memutuskan untuk beranjak dan meninggalkan toilet, untungnya suasana cukup sepi sehingga Kanaya merasa cukup yakin tak ada yang mendengar dirinya menangis tadi.

Kanaya berjalan menuju gerbang kampus sambil sesekali melihat ponselnya. Ia bermaksud memesan taksi online, karna tadi pagi dia berangkat dengan Raihan, Kanaya juga tak ingin menghubungi sopirnya, karna itu akan membuatnya menunggu lebih lama.

Kanaya terus berjalan, namun saat Kanaya keluar dari area kampus tiba-tiba ia mendengar suara klakson tepat di belakangnya, membuatnya cukup terkejut dan segera berbalik ke belakang, dan saat itulah Kanaya lihat sebuah mobil yang cukup Kanaya kenali karna Kanaya sudah beberapa kali menaikinya.

"Mau bareng?"Tanya Gavin ketika mobilnya sudah berada di sisi Kanaya.

Gavin menatapap dalam Kanaya, ia tak mengira akan bertemu lagi dengan Kanaya, Gavin berpikir gadis itu sudah pergi bersama Raihan tadi.

Gavin tadi memang tak langsung meninggalkan kantin, karna dia tiba-tiba di panggil oleh pemilik kantin, karna perkelahian Raihan  sudah merusak beberapa kursi yang ada di sana, membuat pemilik kantin meminta pertanggung jawaban padanya. Entahlah Gavin jadi merasa cukup sial hari ini.

Kanaya menatap Gavin bingung, sejujurnya sejak pertemuannya dengan Gavin yang terakhir kali, Kanaya enggan untuk berdekatan lagi dengan pria tampan itu. Kanaya tak ingin kejadian yang sudah-sudah akan terulang kembali bila mereka sering bersama.

Gavin yang melihat ekspresi bingung Kanaya menghela napas, sejujurnya Gavin pun tak ingin sering sering bersama dengan gadis cantik itu, tapi Gavin pun rasanya tak mungkin mengabaikan Kanaya begitu saja.

"Nay, mau bareng gak, udah sore, kayaknya juga mau hujan?"tanya Gavin lagi, menyadarkan Kanaya yang masih terlihat linglung.

Kanaya nampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk, dan menerima ajakan Gavin.

Dan kini, Kanaya sudah berada di dalam mobil Gavin, tak ada pembicaraan di antara mereka,  Gavin maupun Kanaya memilih untuk sama-sama diam. Hingga beberapa saat berlalu, akhirnya Gavin memulai pembicaraan lebih dulu.

"Raihan itu... Gak pernah pacaran ataupun dekat sama cewek manapun sebelumnya Nay. Baru lo satu-satunya, cewek yang akhirnya berhasil membuat dia jatuh cinta."ucap Gavin pelan, yang membuat Kanaya berdehem pelan, sambil mengerutkan keningnya, sepertinya ia heran dengan yang di ucapkan pria itu.

"Maksudnya... Lo ngomong kaya gitu maksudnya apa?"tanya Kanaya, yang memang masih sensitif setelah apa yang terjadi tadi.

"Gue tau, lo pasti sedih dan kecewa sama ucapan dia hari ini, tapi Raihan emang sebodoh itu, dia belum tau cara memperlakukan cewek itu seperti apa, jadi sebagai teman Raihan  gue harap lo mau memaklumi sikap dia hari ini."lanjut Gavin, Kanaya menarik dalam mendengar ucapan pria itu.

"Terus, gue harus bagaimana menghadapi sikap kekanakan dia yang seperti tadi, bahkan dia gak berusaha mengejar gue ataupun membicarakan masalah ini lagi sama gua? Gue yakin dia tau dia gak harusnya kayak gitu, terus kenapa dia gak minta maaf?"Tanya Kanaya cepat, yang membuat Gavin terdiam.

"Tadi dia udah ngejar lo kok, tapi tiba-tiba nyokapnya telpon dan kayaknya urgent, makanya dia ga sempet lagi nyari lo."jelas Gavin.

Kanaya menarik nafasnya, setelah itu ia bungkam, seolah tak ingin lagi membahas apa yang terjadi.Kanaya memimilih menutup matanya, dari pada berbicara lagi dengan pria di sampingnya. Gavin meliriknya dan hanya bisa menarik nafas dalam.setelahnya. Dan suasana kembali hening.

Beberapa saat kemudian, mungkin karna efek lelah dan juga efek sehabis menangis tadi, tak butuh waktu lama setelah memejamkan mata, Kanaya sudah terlelap di samping Gavin.

Gavin hanya menggelang pelan, dan tersenyum melihat Kanaya yang tampak tertidur pulas. Gavin lalu melirik sekilas pada tangan Kanaya yang masih memegangi ponsel yang sudah hampir terlepas, Gavin pun mengambil ponsel itu, dan menaruhnya di samping tubuhnya.

Dan entah dorongan dari mana, Gavin membawa sebelah tangan Kanaya yang tadi memegangi ponsel, untuk ia genggam dengan tangannya. Tangan Kanaya yang mungil dan lentik ternyata begitu pas di genggaman tangan Gavin yang besar.

Entah kebodohan apa lagi yang kini tengah Gavin lakukan, bahkan sesekali Gavin membawa tangan itu ke bibirnya untuk dia kecup.

Andai kanaya dalam keadaan sadar Gavin yakin, gadis itu pasti sudah mengomelinya bahkan bisa saja menamparnya. Gavin hanya berharap waktu berjalan lambat saat ini, agar ia bisa lebih lama bersama gadis cantik di sampingnya.

Gavin tak mengerti dengan perasaannya pada Kanaya saat ini, di satu sisi dia harus menempatkan dirinya sebagai sahabat dari Raihan, karna itulah Gavin berusaha menjelaskan perihal Raihan pada kanaya.

Namun di sisi lain,Gavin pun tak bisa menampik, bahwa sebenarnya, di hatinya kini mulai tumbuh benih benih cinta, cinta yang tak sengaja hadir untuk kekasih sahabatnya.

-Bersambung

1
Supri Yanto
lanjut kk💪👍
Aisyah Swan: Siappp, di tunggu ya😍😍
total 1 replies
D
Lanjuut👍
Supri Yanto
lanjut kk
Supri Yanto
bagus alur ceritanya menarik pingin baca terus kelanjutannya😊
Aisyah Swan: Makasih, semangat bacanya😍
total 1 replies
Supri Yanto
lanjut👍
Aisyah Swan: Siapp😍
total 1 replies
D
Lanjut
D
😍
D
Suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!