NovelToon NovelToon
Dipaksa Jadi Yang Kedua

Dipaksa Jadi Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: heni

Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.

Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.

Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Semakin Terperosok

Setelah mengunjungi Ayahnya, Zella mampir di salah satu caffe yang dia lewati, untuk menenangkan diri. Pikirannya terus berperang memikirkan cara lain membebaskan Ayahnya atau pasrah saja, dia sangat ingin berjuang demi Ayahnya. Namun dia tak ingin menyeret keluarga lain dalam masalah ini.

"Dipaksa menjadi yang kedua juga tidak merugikan dirimu bukan?" gumamnya.

"Aku harus bagaimana?"

Pikiran itu terus berkecamuk di kepala dan hatinya, deringan handphonenya membuat Zella menoleh pada benda pipih itu. Terlihat nama pemanggil adalah ibunya. Zella bersegera menerima panggilan itu.

"Ada apa mama?" ucap Zella.

"Bagaimana Ayahmu?" pertanyaan dari ujung telepon.

"Entahlah ma. Semua bukti dari TKP sangat memberatkan Ayah. Tapi aku yakin Ayah tidak melakukannya." Zella menceritakan semua masalah yang menimpa Ayahnya.

"Saat ini, Ayah Saman dan Taufik juga dalam masalah. Entah mengapa pupuk berbahaya itu bisa ada di gudang perkebunan mereka--" Tangis Indri pecah, tak bisa meneruskan perkataanya. "Ayah Saman dan Taufik terancam dipenjara, jika mereka tak bisa menemukan bukti kalau mereka tak bersalah."

Mendengar itu Zella semakin meringis. Kasus Ayahnya belum selesai, kini malah Ayah sambung dan Kakak sambungnya yang diseret dalam masalah. "Mama yang kuat ya. Setelah perkara Ayah Bagas selesai. Aku akan segera kembali. Maafin aku. Karena saat ini aku tak bisa berada di sisi mama."

Zella menyudahi sambungan telepon mereka. Zella semakin merasa tak berdaya. Dirinya belum maju selangkah dalam perjuangan ini, namun kini dirinya malah semakin terperosok ke dasar.

"Hasbunallah wani'mal wakil." Mulut Zella terus berulang kali melapalkan kalimat itu. Dirinya merasa berada di tepi jurang, jika dia masih menunda waktu tak meraih tali yang terulur padanya, membuat tanah yang dia pijak semakin retak dan membuatnya akan terjatuh. Namun jika dia meraih tali itu, dia harus menerima tawaran dari yang mengulurkan tali itu. Dengan perasaan hancur, Zella melakukan panggilan.

Tut ....

Nada itu terus berulang, hingga panggilannya terhubung.

"Bagaimana Zella?"

"Arumi, aku menyerah." Rasanya bernapas begitu berat, Zella berusaha mengatur napasnya dan melanjutkan perkataannya, "Aku terima tawaranmu. Dengan syarat, terlebih dahulu bebaskan Ayah Saman dan Taufik dari tuduhan itu, bebaskan Ayahku juga."

"Oh tidak bisa. Kamu harus menikah dulu dengan Kakak iparku, baru reward kebebasan itu kau dapat."

"Kamu bisa menjebakku dan membuatku tak punya pilihan lain, dan ini sangat mudah bagimu. Sedang ingkar dengan kesepakatan kita aku tak mungkin bisa! Tak ada kerugian padamu jika membebaskan Ayahku dan keluargaku yang lain lebih dahulu bukan?"

"Baiklah, kalau begitu kau harus bertemu dengan calon suami, dan calon madumu sekarang juga."

"Bertemu mereka?" Zella membuang napasnya kasar. "Baiklah, tidak masalah. Lagian aku ingin mengajukan beberapa sarat pada mereka."

Zella bersiap meninggalkan caffe itu, dia pasrah menerima negoisasi itu bukan tidak ingin berjuang, namun dirinya takut akan ada lebih banyak lagi orang yang terseret dalam ambisi Arumi. Saat hendak meninggalkan caffe itu, Zella mendengar keributan dari meja yang tak jauh darinya. Terdengar kalau anak remaja yang mengenakan seragam SMA itu tidak bisa membayar pesanannya.

"Beruntung caffe kami menerapkan aturan pembayaran lebih dulu. Kalau tidak, kami akan dirugikan pelanggan seperti kamu!" ucap salah satu pegawai Caffe.

"Saya baru sadar dompet dan hp saya ketinggalan saat selesai memesan pesanan saya! Saya hanya ingin izin pergi ambil dompet dan hp ke asrama!"

"Halah! Alasanmu basi! Sudah sering kami menemukan pelanggan kayak kamu, akhirnya kami yang dimarahi atasan karena pembatalan pesanan yang sudah masuk!"

"Bagaimana yakinin kalian? Aku bukan mau kabur! Andai kabur pun kalian nggak dirugikan kan? Karena saya hanya membatalkan pesanan!"

Adu mulut terus terjadi. Pekerja Caffe tak terima anak itu membatalkan pesanan karena alasan dompet tertinggal, sedang anak itu kekeh menjelaskan dia hanya ingin mengambil dompet bukan membatalkan.

"Ada apa sayang? Apa yang kamu ributkan sama pegawai di sini?" Zella mendekati anak remaja itu dan merapikan rambutnya yang berantakan.

"Heh!--" Anak itu bingung, namun perlakuan Zella padanya membuatnya tak bisa mengutarakan kata.

Zella langsung memeluk anak itu, dan berbisik, "Pura-pura jadi anakku biar kamu bisa cepat pergi dari sini," bisiknya.

Anak itu mengerti, walau tak sejalan dengan keinginannya, tapi dia juga kesal dengan pegawai di caffe ini.

Perlahan Zella melepas pelukan mereka. "Pasti dompet kamu ketinggalan lagi kan?"

Anak itu mengangguk.

"Dasar ceroboh! Lain kali harus lebih teliti sebelum pergi." Perhatian Zella tertuju pada para pegawai yang sedari tadi ribut dengan anak itu.

"Berapa pesanan anak saya? Saya saja yang bayar." Zella siap membayar dengan handphonenya.

Pegawai caffe itu terdiam, dan mempersilakan Zella membayar tagihan pesanan gadis itu.

"Kamu masih harus kembali ke asrama kan?" tanya Zella pada anak gadis itu.

"Iya."

"Ya sudah, bunda pergi duluan ya. Ada pekerjaan yang harus bunda selesaikan." Wajah Zella mengukir senyuman, namun hatinya menjerit, menyesali sebutan 'Bunda' yang terlepas begitu saja dari mulutnya, entah ide dari mana kata itu.

"I-iya." gadis itu masih bingung.

"Bye ... Bunda pergi duluan. Kamu belajar yang bener!" Zella langsung pergi begitu saja.

Anak remaja itu masih mematung memandangi kepergian Zella, namun setelah Zella menghilang dari pandangannya, dia tersadar. "Pesanan saya sudah dibayar kan? Saya berikan pesanan itu buat kalian! Dan saya kapok mampir di sini." Anak itu langsung pergi meninggalkan meja pemesanan. Dia berlari kearah parkiran mencari sosok wanita yang menjadi ibu dadakannya itu. Dari parkiran motor dia melihat wanita itu.

"Tante!" Anak itu mengangkat tangannya dan melambai kearah Zella.

"Hai." Zella menyambut ramah anak itu.

"Terima kasih banyak bantuan tante tadi, tapi maaf, aku dah kesel nggak minat lagi sama makanan mereka."

"Jadi kamu belum makan dong? Mau tante traktir atau tante antar ketempat tujuan kamu?"

"Terima kasih tante. Tapi asrama aku deket sini kok, aku mau langsung kembali ke asrama aja ambil dompet dan cari tempat makan lain."

"Oh ya sudah, tante pamit kalau gitu."

"Maaf tante, bukan nggak ngehargain pertolongan tante. Tapi izinkan aku mengembalikan yang tante bayar tadi. please ...." ungkapnya penuh permohonan.

"Ya sudah, sini handphone kamu, simpan nomor tante. Kapan aja kamu sempat silakan kamu transfer."

"Maaf tante. Handphone aku juga ketinggalan, makanya nggak bisa bayar tadi."

Zella tersenyum, dia mencari kartu namanya yang selalu dia simpan di dompetnya. "Nah ini nomor tante, dan nomor itu tertaut dengan aplikasi pembayaran online."

Anak itu mengamati kartu nama yang dia terima, "Terima kasih tante Zella." ucapnya.

Zella membalas dengan anggukan dan senyuman di wajahnya, dia berbalik arah dan melanjutkan langkahnya menuju motornya. Baru saja duduk di motornya, kini perhatiannya tersita oleh deringan handphonenya. Dia memeriksa pesan yang baru saja masuk. Decakan kesal seketika lepas dari mulutnya, saat melihat pengirim pesan itu dari Arumi. Tertera jelas di sana sebuah alamat rumah, dan Arumi meminta Zella segera menuju alamat yang Arumi kirimkan.

Titik tempat itu tidak jauh dari tempat Zella berada sekarang, jarak tempuh perjalanan 40 menit Zella akan sampai di alamat tersebut.

Tak membuang waktu, Zella segera melajukan motornya ke tujuannya. Sesampai di gerbang sebuah perumahan, Zella di cegat petugas keamanan dan menanyakan tujuan Zella masuk ke perumahan yang mereka jaga. Zella memperlihatkan kode yang Arumi kirim padanya, dengan mudah Zella diizinkan satpam masuk ke area perumahan itu. Hingga dia sampai di titik tujuan. Di halaman rumah itu Zella disambut 2 orang yang duduk di kursi roda, dan seorang wanita cantik yang sejak kemaren membuatnya kesal.

1
Ma Em
Semangat Thor semoga menjadi yg terbaik dan selalu mendapatkan rating 🤲🤲🤲.
ᗰIՏՏ ᘜᗩᑭTᗴK ᵖⁱⁿⁿ: Aamiin, makasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!