Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang
Elia membuka kunci pintu perlahan. Matanya menyapu sekitar dengan penuh kewaspadaan. Ia tak boleh sampai ketahuan oleh Sarah maupun Angel bahwa dirinya keluar dari kamar tersebut.
Saat hendak melangkah keluar, telinga Elia menangkap suara langkah kaki yang semakin dekat. Seketika rasa panik menyeruak. Ia segera bersembunyi di balik pintu, membiarkannya tetap terbuka sedikit, cukup untuk mengintip keadaan di luar.
Angel berhenti melangkah. Matanya sempat melirik ke arah pintu yang terbuka. Ia mendekat perlahan, kecurigaan mulai tumbuh. Namun langkahnya terhenti mendadak saat seekor kecoak tiba-tiba muncul di dekat kakinya.
“Aaaaa!” teriak Angel histeris. Ia panik bukan main. Teriakannya terdengar hingga ke taman depan, membuat Sarah yang sedang duduk di sana langsung terkejut. Lisa yang hendak membawa nampan berisi minuman untuk Sarah dan Angel pun ikut terhenti, matanya membulat saat melihat Angel melompat-lompat di atas sofa.
“Angel, ada apa?” tanya Sarah cemas.
“Itu, Mom! Ada kecoak! Aku takut!” serunya sambil menunjuk ke lantai dengan wajah pucat dan ketakutan.
“Ya ampun, Mom kira kenapa. Ternyata cuma serangga,” ujar Sarah, sedikit menghela napas melihat tingkah putrinya yang seperti anak kecil.
“Mom tahu kan aku fobia serangga,” protes Angel dengan nada tegas.
“Iya, Mom tahu. Ya sudah, sekarang kita kembali ke taman, ya,” ucap Sarah lembut sambil membelai rambut Angel yang masih tampak ketakutan.
Lisa segera mengambil sapu dan pengki, lalu membuang kecoak itu setelah memastikan serangga tersebut telah mati.
“Aku mau ke toilet dulu sebentar, Mom,” ujar Angel.
Sarah mengangguk, lalu kembali melangkah ke taman.
Sementara itu, di dalam kamar, Elia bersandar di balik pintu. Jantungnya masih berdegup tak beraturan. Rasa takut belum juga mereda. Ia cemas jika sewaktu-waktu Angel atau Sarah tiba-tiba masuk ke kamar tersebut.
Keadaan akhirnya hening. Elia mengintip sedikit untuk memastikan situasi aman. Ia pun keluar dari kamar dengan langkah cepat, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat mendengar pintu toilet akan dibuka, Elia segera berpura-pura membersihkan meja makan yang sebenarnya sudah bersih.
"Kau sudah siap?" tanya Angel.
"Sudah Kak, tadi aku ganti pakaian dulu" jawab Elia tenang.
“Baiklah,” ucap Angel sambil bergidik, bayangan kecoak tadi masih membuatnya jijik.
"Kenapa Kak?" tanya Elia pura-pura.
“Tadi ada kecoak. Dia tiba-tiba muncul di kakiku,” jelas Angel dengan ekspresi jijik.
"Ya ampun.. Nanti aku suruh Lisa untuk menyemprotkan obat anti kecoak"
Angel menjentikkan jari nya. "Setuju, jangan biar mereka hidup".
"Oh iya ngomong-ngomong, tadi pintu kamar bawah terbuka sedikit. Memang itu kamar siapa sekarang?" tanya Angel.
DEG!
"Mati aku" batin Elia.
"Eh… itu kamar tamu, Kak. Pintunya memang agak longgar, jadi sering terbuka sendiri,” terang Elia, tetap berusaha tenang.
"Lalu kamar kalian berdua dimana?"
"Di atas kak" katanya dengan cepat untuk menepis kecurigaan. Sebab ini rumah adiknya jadi Angel hafal letak kamar dan jumlahnya.
Angel mengangguk paham, "Ku kira kamar tadi di tempati oleh kau dan Dave. Karena saat belum menikah, anak nakal itu tidur di lantai bawah". jelas Angel. Ia masih ingat masa-masa saat Dave masih sendiri dan sesekali Angel menginap dirumahnya bersama Sarah.
Elia merasa lebih tenang sekarang. Syukurlah Angel tidak bertanya lebih detail. Mungkin juga karena takut Elia merasa risih, dan terkesan ikut campur.
"Terimakasih ya, Lisa" ucap Sarah dengan ramah, saat Lisa mengantarkan minumnya.
"Sama-sama, Nyonya".
Sarah kembali asik dengan ponselnya, menonton beberapa video lucu yang membuat nya terkikik geli.
Angel dan Elia keluar bersamaan, dengan Elia menenteng tas Sarah yang tersimpan di ruang tamu.
"Mom, Ayo kita berangkat sekarang" seru Elia.
Sarah mematikan terlebih dahulu ponselnya. "Oke Sayang". lalu menyesap sedikit teh buatan Lisa, sebagai bentuk menghargai.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, dengan Angel mengambil posisi sebagai pengemudi.
"Mom, apa nama pemakaman nya?" tanya Angel sambil memasang sabuk pengaman.
“Pemakaman Umum Sukhumvit,” jawab Elia.
“Oke, kita berangkat sekarang.”
Angel segera menghidupkan mesin mobil. Sarah dan Elia duduk di kursi belakang. Sarah sengaja memilih duduk di sana agar Angel bisa fokus menyetir dan Elia tidak merasa terasingkan karena jumlah mereka yang ganjil.
"Angel, nanti mampir dulu ke toko bunga ya". titah Sarah.
"Ok, Mom".
Jiwa dan raga Elia memang berada di dalam mobil, namun pikirannya masih tertinggal di rumah. Ia mencuri kesempatan dengan mengirim pesan pada Lisa, mengingatkan kembali perintah yang telah ia sampaikan sebelum berangkat.
"Elia.." tanya Sarah memecah keheningan beberapa saat di dalam mobil.
"Ya Mom?"
"Apa kau bahagia kau bahagia bersama Dave?"
"Mom.. Mereka baru menikah dan masih menikmati momen sebagai pengantin baru". Timpal Angel menyela pembicaraan, sambil melirik ke arah kaca spion dalam.
“Mom tahu,” ujar Sarah pelan. “Tapi Mom khawatir kalau Dave tidak memperlakukan Elia dengan baik.” Ingatannya kembali pada masa ketika Dave bersikeras menolak pernikahan itu.
"Sejauh ini Dave memperlakukan ku dengan baik kok, Mom". Ucap Elia. Meski dalam hati bergumam, namun malu rasanya untuk mengeluhkan rumah tangga yang masih seumur jagung.
“Kalau Dave sampai bersikap kasar padamu, laporkan pada Mom. Biar Mom sendiri yang memberi pelajaran pada anak itu,” tegas Sarah.
Elia mengangguk cepat, "Tenang saja, itu tidak akan terjadi".
"Oh iya setiap bulan Dave memberi mu nafkah kan, Sayang? Kau jangan sungkan-sungkan untuk meminta sesuatu yang mahal dari nya". lanjut Sarah. Ia tidak ingin menantu nya menderita mempunya suami kaya raya tapi pelit.
"Benar kata Mom, El. Dave itu CEO di perusahaan nya sendiri. Bisnis yang dia jalankan juga lancar. Kau harus pintar merayu Dave supaya dia keluar uang banyak".
Elia tertawa pelan. "Dave memberikan aku black card dan credit card nya kok Mom, Kak Angel". Sahut Elia.
Ah, itu sudah biasa, El,” ujar Angel memprovokasi. “Coba minta barang yang harganya selangit. Berlian, misalnya.”
Sarah mengangguk setuju, "Benar, kau harus punya barang-barang mahal dari hasil keringat suami mu".
Elia hanya tersenyum menanggapi setiap ucapan mereka. Ia tak ingin menuntut Dave membelikannya barang mahal, apalagi berlian. Yang ia inginkan hanya satu, dianggap sebagai seorang istri.
Dave memang mencukupi semua kebutuhannya dengan black card dan kartu kredit tanpa batas. Namun yang dibutuhkan Elia bukan sekadar uang, melainkan cinta dan kasih sayang. Sebab apa arti semua kemewahan itu jika tak ada rasa yang tumbuh di hati Dave?
Pesan dari Elia tadi membuat pikiran dan konsentrasi Dave buyar. Ia terpaksa menghentikan rapat kali ini lebih cepat dari yang direncanakan.
“Sial!” umpat Dave begitu para jajaran direksi dan karyawan membubarkan diri. Kini hanya tersisa dirinya dan Nick di ruang rapat. “Kenapa Mom harus pakai acara menginap segala sih,” gumamnya kesal.
Nick memilih diam sambil membereskan berkas-berkas di atas meja. Ia tak ingin rasa ingin tahunya justru memperkeruh suasana hati Dave yang sedang buruk.
Tiba-tiba ponsel Dave berdering, menandakan panggilan masuk. Ia melirik layar panggilan video dari James. Tombol hijau digeser ke atas, dan beberapa detik kemudian tiga wajah pria tampan muncul di layar.
"Hai Dave!" kata ketiga nya kompak.
“Hai,” jawab Dave singkat sambil melambaikan tangan. Raut wajahnya masih menyimpan kekesalan akibat rapat yang kacau dan pesan dari Elia.
[Kami sudah selesai pendidikan, Dave] ujar James
[Iya benar, kami bertiga merindukan mu] goda Erik
Dave tersenyum getir,. " Aku juga rindu pada kalian, sekarang kalian sedang dimana?" tanya nya.
[Kami sedang dalam perjalanan menuju ke restoran, ayo kau kemari susul kami] ajak Albert.
Albert, James dan Erik memutuskan untuk naik taxi online setelah kepulangan nya dari bandara. Rencana nya mereka ingin membuat kejutan untuk keluarga masing-masing dengan tidak memberikan nya kabar.
"Kirim saja lokasi nya, aku akan menyusul"
[Siap, Bos!]
Panggilan video terputus. Dave memasukkan ponselnya kembali ke saku jas. Tak lama kemudian, sebuah notifikasi pesan masuk membuat kedua sudut bibirnya terangkat tipis.
Bianca baru saja mengirimkan foto terbarunya. Dalam foto itu, Bianca mengenakan gaun yang dibelinya saat berjalan bersama Dave di mall.
"Nick, aku akan pergi menemui teman-teman ku. Tolong bereskan laporan yang sempat tertunda". Ujar Dave sebelum meninggalkan ruang rapat.
"Baik Tuan". Ucap Nick sambil memerhatikan Dave keluar dari ruangan. Tak lama kemudian para tiga orang petugas kebersihan masuk untuk membersihkan ruangan.
Dave tak langsung turun ke bawah. Ia masuk ke ruangannya terlebih dahulu untuk mengambil kunci mobil. Sekalian, ia mengganti pakaian agar terlihat lebih santai. Kaos hitam berkerah, celana jeans kargo, dan topi putih begitu cocok untuk Dave, terlihat lebih tampan dan muda.
Saat hendak keluar, pandangannya tertuju pada tas bekal yang sejak tadi belum ia sentuh. Langkah Dave terhenti. Ia ragu sejenak, menimbang apakah akan memakan makanan itu atau tidak.
“Ah, sial!” umpatnya.
Dave berbalik, menghampiri meja, lalu menyambar tas bekal tersebut.
Ting!
Pintu lift terbuka. Dave masuk, sementara lift meluncur turun. Tangannya sibuk membuka ponsel, membaca pesan dari James yang mengirimkan lokasi restoran tempat mereka akan bertemu.
Di dalam lift yang hening, aroma dari tas bekal itu perlahan menyeruak. Menggoda. Membuat Dave penasaran.
Ia membuka sedikit resleting tas, mengintip isinya. Selain kotak makanan, Dave menemukan obat, vitamin, dan sebuah amplop kecil berisi surat.
Perlahan ia membuka amplop itu dan membaca isinya.
"Semalam kau tidak pulang, padahal aku sudah menyiapkan makan malam. Dan kau juga tidak memakan bekal dariku. Kali ini aku membuatkannya lagi, dan kau harus memakannya. Oh iya, sebelum makan minum obat maag-nya dulu. Setelah makan, minum vitaminnya. Aku memasak makanan yang cocok untuk penderita maag. Semoga kau suka :)"
Dave terdiam. Lift terus bergerak turun, sementara kata-kata dalam surat itu terasa jauh lebih berat dari sekadar bekal makan siang.
Dave memasukan kembali surat itu kedalam tas bekal. Tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Bahkan ia tidak merasa penting setiap usaha yang diberikan oleh Elia.
Elia, Sarah, dan Angel akhirnya tiba di pemakaman. Setelah memarkirkan kendaraan di area khusus, ketiganya turun dan melangkah perlahan menuju sebuah pusara yang telah lama dirindukan.
Begitu melihat batu nisan sang ibu, Elia langsung berjongkok dan mengucap salam. Seolah-olah ia benar-benar melihat ibunya berdiri di sana, menyambut kedatangan putri semata wayangnya dengan senyum hangat seperti dulu.
“Halo, Mom… maaf aku baru bisa ke sini,” ucap Elia lirih. Matanya berkaca-kaca, hingga tanpa ia sadari air mata jatuh membasahi pipinya.
Sarah yang berdiri di sampingnya pun ikut terdiam. Hatinya bergetar, seakan ia juga merasakan kehadiran mendiang sahabatnya itu. Kenangan lama kembali menyeruak, membawa rindu yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Sayang, ini bunganya,” ujar Sarah lembut sambil menyerahkan setangkai bunga lili dan sedap malam. Dua bunga yang paling disukai Amelia semasa hidupnya.
Elia menerima bunga itu dengan tangan gemetar. Kesedihan yang ia pendam sejak tadi akhirnya tumpah. Sarah pun tak mampu menahan air matanya. Keduanya sama-sama pernah kehilangan belahan jiwa, sama-sama ditinggalkan oleh suami tercinta. Rasa itu membuat ikatan mereka kian kuat.
“Amelia,” ucap Sarah dengan suara bergetar, “aku telah menunaikan janjiku saat kau masih tertawa bersamaku.” Ia mengusap air mata di pipinya sebelum melanjutkan, “Elia kini telah menjadi menantuku… sekaligus anakku. Aku berjanji akan menjaganya seumur hidupku.”
Suasana haru pun pecah.
Angel yang sejak tadi memilih diam ikut larut dalam kesedihan itu. Ia menundukkan kepala, kedua matanya pun tak lagi mampu menahan air mata yang perlahan jatuh.
Elia meraih tangan Sarah dan menggenggamnya erat, menyampaikan rasa terima kasih yang tak terucap. Sarah membalasnya dengan menarik Elia ke dalam pelukan hangat. Dari belakang, Angel ikut memeluk keduanya, menyatukan duka dan kasih dalam satu keheningan.
Sementara itu, Dave baru saja tiba di depan sebuah restoran Jepang. Ia turun dari mobil sambil menenteng tas bekal, tanpa rasa malu ataupun gengsi. Pandangannya menyapu sekitar, hingga tak lama kemudian sebuah taksi online berhenti tepat di depannya.
Tiga orang pemuda turun dari kendaraan itu dan segera menghampiri Dave. Senyum lebar terukir di wajah mereka sebelum akhirnya saling berpelukan hangat, melepas rindu setelah lama tak bertemu.
"Wah kawan, aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan kalian". ucap Dave.
*Bagaimana kabar mu, Dave?" tanya James.
"Aku baik, kalian juga kan?"
"Tentu saja , dan sebentar lagi kita akan membuka klinik masing-masing, yeaaaaayy" ucap Erik diiringi teriakan hingga membuat pengunjung restoran yang menoleh ke arahnya.
"Erik jaga sikap mu, kita ini dokter spesialis" tegur Albert mengingatkan.
"Maaf, aku hanya sedang bahagia saja sekarang". Kata Erik tanpa merasa bersalah.
"Ya sudah, ayo kita masuk" ajak Dave. Keempatnya pun melangkah masuk ke dalam restoran, disambut oleh seorang pelayan yang membukakan pintu dan menyapa mereka dengan ramah.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang pas, pelayan segera datang dan menyerahkan buku menu.
“Silakan, Tuan-tuan,” ucapnya ramah.
Keadaan mendadak hening. Mata mereka terpaku pada halaman demi halaman menu yang begitu banyak hingga membuat bingung memilih mana yang paling enak.
“Hei, cepat! Kalian ini lama sekali,” seru Dave tak sabar.
“Kami bingung, menunya kebanyakan,” sahut Albert.
“Lebih baik pesan satu set saja,” usul Dave.
Erik menjentikkan jari. “Setuju. Ya sudah, itu saja,
Nona". Pelayan segera mencatat pesanan mereka.
“Ada tambahan lagi?” tanyanya sopan.
“Aku mau salmon sashimi,” tambah Dave.
“Baik. Ada lagi, Tuan?”
“Cukup.”
Saat pelayan hendak pergi, Dave kembali memanggilnya. “Ah, Nona, sebentar. Bisa tolong hangatkan makanan ini?” katanya sambil menyerahkan tas bekal.
Pelayan itu tampak ragu sejenak. “Sebelumnya saya mohon maaf, Tuan. Di sini ada peraturan tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar.”
“Apa akan dikenakan charge?” tanya Dave.
“Kurang lebih begitu, Tuan.”
“Tidak masalah. Berapa pun saya bayar. Tolong panaskan makanan ini,” tegas Dave.
Akhirnya, pelayan menerima tas bekal tersebut dan membawanya ke dapur. Tiga pria di hadapan Dave menatapnya dengan heran.
“Kau bawa bekal?” tanya Albert.
“Iya. Itu buatan Elia.”
Ketiganya langsung saling pandang dan mengangguk paham.
“Duh… duh… duh… mentang-mentang pengantin baru,” goda Erik.
“Oh iya, kami bahkan belum sempat mengucapkan selamat,” timpal James.
Dave mengangkat tangan, menghentikan mereka. “Tidak perlu. Lebih baik kita bahas hal lain saja.”
Tak ada satu pun kecurigaan di antara ketiga pemuda itu. Mereka tak mengetahui kenyataan yang sebenarnya, meski di benak masing-masing ada sesuatu yang terasa mengganjal.
Selesai dari pemakaman, Sarah memutuskan mengajak Elia dan Angel makan siang. Tadinya Angel sempat menolak karena ingin segera bersiap untuk dinner malam nanti bersama Billy. Namun karena Sarah memaksa dan waktunya masih cukup lama, Angel pun akhirnya menurut.
“Enaknya makan apa siang ini?” tanya Sarah.
“Bagaimana kalau sushi?” usul Angel.
“Wah, ide bagus. Tapi yang enak di mana ya?”
“Hokkaido Japanese Food,” jawab Angel cepat. “Di sana menunya banyak.”
“Oke, Mom setuju. Kalau kau bagaimana, Elia?”
Sarah menoleh, menyadari Elia sejak tadi hanya diam, masih terbawa suasana haru pemakaman.
“Aku ikut saja, Mom.”
“Baiklah, kita ke restoran yang di rekomendasikan Angel ya".
Elia mengangguk sambil tersenyum. Tak lama, ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Pesan itu dari Lisa. Memberi kabar bahwa perintah Elia telah dilaksanakan.
Senyum Elia mengembang penuh arti. Bukan hanya karena Lisa menyelesaikannya tepat sebelum mereka tiba di rumah, tetapi juga karena bayangan bahwa nanti malam mereka akan berada di dalam satu kamar.
Sarah yang sejak tadi memperhatikan, langsung dibuat penasaran. “Itu pesan dari suamimu?” tanya Sarah, membuyarkan lamunan Elia.
“Eh… iya,” jawab Elia berbohong, sambil memasang senyum manis.
Dasar pengantin baru,” gumam Sarah pelan, disusul tawa kecil.
Elia kembali terdiam.
"Aku akan berusaha sekuat dan semampuku untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi, batinnya. Aku tak ingin Mom bersedih atau terluka karena sikap Dave. Dia sudah terlalu baik padaku.
Meski demikian, ada rasa bersalah yang perlahan mengendap di hatinya, karena harus berbohong pada mertuanya sendiri"
Sambil menunggu pesanan datang, keempatnya mengobrol tentang pengalaman mereka selama berada di China.
“Kalian tahu? Waktu aku ke sebuah mal, aku bertemu gadis yang sangat cantik. Senyumnya lembut, seperti bidadari,” ujar Erik sambil menyandarkan punggung, wajahnya penuh khayalan.
Albert mendecak. “Bidadari yang ke berapa, Rik? Bukankah kemarin kau juga melihat bidadari saat di bandara?"
James tertawa kecil. “Hati-hati, nanti semua gadis di China kamu sebut bidadari.”
“Tidak bisa disamakan,” bantah Erik serius. “Yang ini spesial. Senyumannya... bisa bikin lupa jalan pulang”
Dave hanya menggeleng pelan, menyesap teh ocha yang masih hangat.
“Oh iya,” James menyela, “bagaimana kalau nanti kita liburan bersama ke China?”
“Setuju!” sahut Albert. “Aku paling suka musim dingin. Udaranya sejuk, pemandangannya luar biasa”
“Aku juga suka musim dingin,” kata Erik cepat. “Apalagi kalau ditemani wanita cantik yang bisa memberi kehangatan.”
Albert menatap Erik datar. “Kau ini mau liburan atau cari pacar sih?"
“Dua-duanya bisa sekalian,” jawab Erik santai.
“Kau ini pikirannya mesum,” celetuk Albert.
“Hei, aku pria normal,” protes Erik. “Kalau aku tiba-tiba tidak suka wanita, kalian justru harus curiga.”
James tertawa terbahak. “Sudahlah rik, jangan terlalu banyak mengkhayal. Lebih baik kita isi perut dulu.” ujar nya bertepatan dengan pelayan yang membawakan pesanan mereka.
Keempatnya makan dengan khidmat. Albert, James dan Erik makan dengan lahap seperti orang sedang berlomba. Sementara Dave menikmati bekal buatan sang istri.
“Astaga, untuk parkir saja repot sekali,” gerutu Angel dengan nada kesal, setelah beberapa kali memutar mobil namun tetap kesulitan menemukan tempat kosong.
“Maklum, Kak. Ini restoran Jepang dengan rating tertinggi di Thailand,” timpal Elia santai. “Pasti banyak penikmat kuliner yang penasaran ingin
mencicipinya". Ia sempat tersenyum kecil, teringat hasil googling singkatnya sebelum mereka tiba.
Ketiganya kemudian melangkah masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan menyambut dengan ramah sambil membukakan pintu. Begitu berada di dalam, mereka serempak mengedarkan pandangan. Hampir seluruh meja terisi, dipenuhi pengunjung yang tengah menikmati hidangan dengan wajah puas.
Beberapa saat kemudian, Elia menangkap sebuah suara yang begitu akrab di telinganya.
“Dave,” gumamnya lirih. Meski pria itu duduk membelakanginya, Elia hafal betul postur tubuh suaminya, tak mungkin ia salah.
Langkah Elia pun terarah menuju meja tempat Dave dan ketiga temannya menikmati makan siang. Tanpa ragu, ia menyentuh bahu suaminya dengan lembut.
Dave terlonjak kaget dan spontan menoleh ke belakang. “Elia?”
Nama itu meluncur dari bibirnya dengan nada terkejut. Sementara Elia hanya membalas dengan senyum manis. Tanpa meminta izin, ia memeluk Dave dari belakang dan mengecup pipinya singkat.
Mata Dave membulat. Perasaannya bercampur aduk, antara menahan rasa malu di depan teman-temannya dan sedikit kesal karena kejutan itu.
“Aku datang ke sini bersama Mom dan Kak Angel,” bisik Elia di telinganya.
Saat itu juga Dave mengerti. Ingatannya kembali pada ucapannya tempo hari, bahwa mereka harus terlihat romantis di depan sang ibu dan keluarga. Kini, Elia hanya menjalankan peran itu dengan sangat meyakinkan.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita