NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: BENDA-BENDA YANG BERBICARA

Dua minggu setelah malam ketika Sultan Rahman mengantarnya pulang, Alya merasa ada perubahan halus di sekitarnya. Tidak ada yang berbeda secara fisik di kantor—meja kerjanya tetap sama rapi dengan tumpukan dokumen yang tersusun rapi, mesin fotokopi masih kadang mengeluarkan suara berisik, dan rekan kerja tetap sibuk dengan tugas masing-masing. Namun dalam dirinya sendiri, ada getaran baru yang membuat setiap hari terasa lebih hidup.

Ia mulai datang lebih awal dari biasanya, tidak hanya karena tanggung jawab, tetapi juga karena merasa ada sesuatu yang dinanti di kantor. Kadang kala, ketika pintu ruangan Sultan Rahman terbuka sedikit, ia akan menyelinap pandangan singkat ke dalam, melihat pria itu yang sedang fokus membaca berkas dengan alis yang terkunci. Meskipun tidak pernah berkata apa-apa, Alya merasa ada ikatan tak terucapkan yang tumbuh perlahan.

Pada suatu hari Senin pagi, saat Alya sedang mengecek arsip tahun lalu di ruang penyimpanan dokumen, ia menemukan sebuah kotak kayu tua yang tertutup rapat di sudut paling belakang lemari besi. Kotak itu tidak ada di daftar inventaris yang pernah ia susun, membuatnya penasaran. Ia menarik kotak itu keluar dengan hati-hati—permukaannya berkilau karena sering disentuh, dengan ukiran bunga mawar yang sudah memudar akibat usia.

Tanpa sengaja, tutup kotak terbuka sedikit ketika ia menempatkannya di atas meja kecil di ruang arsip. Di dalamnya, ada beberapa surat tua yang dilipat rapi, sebuah foto hitam putih, dan sehelai kain sutra berwarna merah muda yang sudah menguning. Alya segera menutup kotak kembali. Ia tahu bahwa barang-barang yang tidak tercatat di inventaris kemungkinan adalah milik pribadi seseorang, dan membukanya tanpa izin adalah pelanggaran privasi.

Saat ia hendak menyimpan kotak kembali ke tempat semula, suara Sultan Rahman terdengar di belakangnya. “Kamu menemukan sesuatu?”

Alya terkejut dan hampir menjatuhkan kotak. “Maaf, Pak. Saya sedang mengecek arsip tahun lalu dan menemukan kotak ini. Saya tidak sengaja membukanya sebagian.”

Sultan Rahman mendekat dan melihat kotak dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh ukiran di permukaan kotak. “Itu milik ibu saya,” katanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. “Saya tidak menyangka masih ada di sini.”

“Maaf, Pak. Saya seharusnya tidak menyentuhnya,” ucap Alya dengan rasa bersalah.

“Maaf, Pak. Saya seharusnya tidak menyentuhnya,” ucap Alya dengan rasa bersalah.

Alya mengangguk pelan. Ia merasa seperti dipercayakan dengan sesuatu yang sangat berharga.

Sultan Rahman membuka kotak dengan hati-hati, seolah sedang menangani sesuatu yang rapuh. Ia mengambil foto hitam putih dan menunjukkan kepadanya. Di dalam foto, seorang wanita muda dengan senyum lembut berdiri di tengah kebun bunga, mengenakan gaun panjang berwarna putih. Di sebelahnya, seorang pria muda yang memiliki wajah mirip Sultan Rahman sedang memegang tangannya.

“Itu ibu dan ayah saya,” ujar Sultan Rahman. “Foto ini diambil beberapa bulan sebelum mereka menikah. Ayah saya adalah orang yang mendirikan perusahaan ini. Ia selalu mengatakan bahwa kesuksesan perusahaan tidak hanya berasal dari keuntungan, tetapi dari bagaimana kita menghargai setiap orang yang bekerja bersama kita.”

Alya menatap foto dengan penuh perhatian. “Mereka terlihat bahagia, Pak.”

“Sangat bahagia,” jawab Sultan Rahman dengan senyum tipis. “Sampai sakit yang tidak terduga menghantui ayah saya ketika saya masih kecil. Ibu saya harus menjalankan perusahaan sendirian saat itu. Banyak orang mengatakan bahwa seorang wanita tidak bisa mengelola bisnis skala besar, terutama di zaman itu.

Ia mengambil salah satu surat dan membacanya dengan pelan. “Ini surat dari ayah saya untuk ibu saya, ketika ia sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Ia selalu menulis tentang betapa ia merindukannya dan bagaimana ia mempercayai bahwa ibu saya bisa menangani segala sesuatu di rumah dan di perusahaan.”

Alya mendengarkan dengan penuh perhatian. Ini adalah pertama kalinya Sultan Rahman bercerita tentang kehidupannya pribadi. Ia melihat sisi lain dari pria yang selama ini dikenal sebagai bos yang tegas namun adil—sisi yang penuh dengan kenangan dan rasa hormat yang mendalam terhadap orang tuanya.

“Saat ibu saya meninggal lima tahun yang lalu, saya hampir menghapus semua barang-barangnya,” lanjut Sultan Rahman. “Tapi kemudian saya berpikir, semua nilai yang saya anut sekarang berasal dari mereka. Ayah saya mengajarkan saya untuk bekerja keras dan jujur. Ibu saya mengajarkan saya untuk melihat orang bukan dari jabatan atau kekayaan mereka, tetapi dari isi hati dan kerja keras mereka.”

Ia menatap Alya dengan mata yang penuh makna. “Itulah mengapa saya melihat sesuatu yang berbeda dalam dirimu, Alya. Kamu bekerja dengan cara yang sama seperti ibu saya—tenang, teliti, dan dengan hati yang tulus. Tanpa perlu mencari perhatian atau pujian.”

Alya merasa wajahnya menjadi hangat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Sultan Rahman lebih berarti daripada semua pujian yang pernah ia terima dalam hidupnya.

“Saya… saya hanya melakukan yang terbaik, Pak,” ucapnya dengan suara pelan.

“Saya tahu,” jawab Sultan Rahman. Ia mengambil sehelai kain sutra dari dalam kotak dan mengulurkannya kepada Alya. “Ibu saya selalu membawa kain ini ketika ada acara penting. Ia mengatakan bahwa kain ini memberinya keberanian dan kekuatan. Saya rasa sekarang sudah waktunya untuk memberikan kepada orang yang layak menerimanya.”

Alya terkejut. “Tidak bisa, Pak. Ini adalah barang berharga bagi keluarga Anda.”

“Barang berharga hanya memiliki makna jika diberikan kepada orang yang akan menghargainya,” ujar Sultan Rahman dengan tegas namun lembut. “Dan saya yakin kamu adalah orang yang tepat.”

Setelah beberapa saat ragu, Alya menerima kain sutra dengan hati-hati. Teksturnya lembut di antara jari-jarinya, seolah menyimpan semua kebaikan dan kekuatan dari sang pemilik sebelumnya.

“Saya akan merawatnya dengan baik, Pak,” janjinya.

Sultan Rahman mengangguk dan mulai menyusun kembali surat-surat tua ke dalam kotak. “Kita akan menempatkan kotak ini di ruang saya. Sehingga saya bisa melihatnya lebih sering dan tidak melupakan nilai-nilai yang telah diajarkan orang tua saya.”

Saat mereka keluar dari ruang arsip bersama, rekan kerja bernama Siti melihat mereka dengan ekspresi heran. Setelah Sultan Rahman masuk ke ruangannya, Siti mendekat ke Alya. “Apa yang terjadi? Saya melihat Anda berdua di ruang arsip cukup lama.”

“Kami hanya menemukan beberapa barang lama, Bu Siti,” jawab Alya dengan senyum sopan.

Siti mengangguk, namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya. “Kamu tahu kan, banyak orang yang mengira bahwa Anda mendapatkan perlakuan khusus dari Pak Sultan. Beberapa bahkan mengatakan bahwa Anda sedang mendekatinya untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.”

Alya merasa dada sedikit tertekan. Ini adalah kekhawatirannya yang paling dalam—dituduh mencari keuntungan dari perhatian yang diterimanya. “Saya tidak melakukan apa-apa yang salah, Bu Siti. Saya hanya melakukan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin."

“Saya tahu itu, Alya,” ujar Siti dengan nada penuh pengertian. “Tapi di dunia kerja seperti ini, fitnah bisa tumbuh dengan cepat. Kamu harus berhati-hati saja.”

Setelah Siti pergi, Alya menatap kain sutra yang ada di dalam tasnya. Ia tahu bahwa Siti berbicara dengan baik hati, tetapi kata-katanya tetap membuatnya merasa tidak nyaman. Apakah benar orang lain melihatnya seperti itu? Apakah Sultan Rahman juga akan melihatnya sebagai orang yang hanya mencari keuntungan?

Sore harinya, ketika Alya sedang menyelesaikan laporan bulanan, Sultan Rahman memanggilnya ke dalam ruangannya. Di atas mejanya, ada sebuah bungkus kado kecil yang dibalut dengan rapi.

“Untukmu,” katanya ketika Alya masuk.

“Pak, ini tidak perlu,” ujar Alya dengan terkejut.

“Saya ingin memberikan sesuatu sebagai tanda bahwa saya menghargai kerja kerasmu,” jawab Sultan Rahman. “Bukalah saja."

Alya membuka bungkus kado dengan hati-hati. Di dalamnya, ada sebuah pulpen emas kecil dengan ukiran sederhana di badan pulpennya. “Ini pulpen yang pernah digunakan ayah saya ketika ia menandatangani kontrak pertama perusahaan ini,” jelas Sultan Rahman. “Saya ingin kamu menggunakannya untuk membuat laporan-laporan penting. Semoga membawa keberuntungan seperti yang pernah diberikan kepada ayah saya.”

Alya merasa air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia telah menerima banyak hal dalam hidupnya, tetapi tidak pernah ada yang diberikan dengan penuh rasa hormat dan penghargaan seperti ini. “Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak tahu harus bagaimana membayar budi Anda.”

“Satu-satunya cara untuk membayarnya adalah dengan terus menjadi diri kamu sendiri,” ujar Sultan Rahman dengan senyum hangat. “Dan ingat, kamu tidak pernah perlu membuktikan sesuatu kepada siapa pun. Nilaimu sudah terbukti melalui kerja keras dan integritasmu.”

Saat Alya keluar dari ruangan Sultan Rahman, ia melihat beberapa rekan kerja sedang melihatnya dengan ekspresi yang berbeda—beberapa dengan iri, beberapa dengan rasa ingin tahu, dan beberapa dengan tuduhan yang jelas di mata mereka. Ia merasa ingin berlari dan menyembunyikan diri, namun kemudian ia mengingat kata-kata Sultan Rahman dan merasakan kain sutra yang ada di dalam tasnya.

Ia tidak akan pernah kembali menjadi orang yang takut dan rendah diri. Ia telah bekerja keras untuk mendapatkan harga diri yang kini dimilikinya, dan tidak akan membiarkan pandangan orang lain merusaknya.

Di rumahnya yang kecil, Alya meletakkan pulpen dan kain sutra di atas meja yang ada di kamarnya. Ia menatap kedua barang berharga itu, merasa bahwa mereka bukan hanya sekadar benda, tetapi juga saksi dari perubahan besar yang sedang terjadi dalam hidupnya.

Sementara itu, di rumah besar Arga dan keluarga nya, suasana semakin tegang. Bu Ratna terus mengeluh tentang kondisi rumah yang tidak pernah lagi sama seperti ketika Alya masih ada. Arga sendiri semakin sering terlihat murung dan terpencil. Ia mulai mencari tahu ke mana Alya pergi dan apa yang sedang dia lakukan, namun tidak menemukan informasi apa-apa.

“Sekarang kamu tahu betapa pentingnya Alya bagi rumah ini,” ujar Bapak Arga pada malam ketika mereka sedang makan malam dengan suasana sunyi. “Kamu dan ibumu selalu merendahnya, menganggapnya hanya sebagai pembantu padahal dia adalah orang yang menjaga keharmonisan rumah ini.”

Arga menekuk kepalanya dengan rasa bersalah yang mendalam. “Saya sudah menyadari itu, Ayah. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Dia sudah pergi dan tidak pernah memberi tahu saya ke mana dia pergi.”

“Mungkin itu yang terbaik bagi dia,” jawab Bapak Arga dengan suara pelan. “Kamu telah menyakiti dia terlalu banyak. Mungkin dia perlu waktu untuk menyembuhkan luka yang kamu berikan padanya.”

Di kamarnya, Arga mengambil foto lama dirinya bersama Alya—foto yang diambil saat mereka masih baru menikah dan masih penuh dengan harapan. Ia melihat senyum Alya di foto itu, senyum yang penuh dengan cinta dan kesetiaan. Kini ia menyadari bahwa dia telah merusak segalanya dengan kesombongan dan sikap merendahkan yang selalu ditunjukkan oleh keluarganya.

Namun di sudut kota yang berbeda, Alya sedang menulis catatan di buku hariannya menggunakan pulpen baru yang diberikan Sultan Rahman. Ia menulis tentang hari-harinya yang semakin baik, tentang rasa hormat yang diterimanya di kantor, dan tentang perasaan baru yang mulai tumbuh dalam dirinya—perasaan yang ia coba sembunyikan namun tidak bisa dipungkiri lagi.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Apakah perasaan yang tumbuh antara dirinya dan Sultan Rahman akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam, atau apakah itu hanya ilusi semata. Ia juga tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan bertemu lagi dengan Arga dan keluarga nya, atau apakah masa lalunya akan selalu mengikutiinya di mana pun dia pergi.

Yang jelas adalah bahwa Alya telah menemukan diri sendiri kembali. Ia telah membangun kehidupan baru berdasarkan rasa hormat dan penghargaan terhadap diri sendiri. Dan tidak peduli apa yang akan terjadi di masa depan, ia tahu bahwa ia akan menghadapinya dengan kepala yang tegak dan hati yang kuat.Yang jelas adalah bahwa Alya telah menemukan diri sendiri kembali. Ia telah membangun kehidupan baru berdasarkan rasa hormat dan penghargaan terhadap diri sendiri. Dan tidak peduli apa yang akan terjadi di masa depan, ia tahu bahwa ia akan menghadapinya dengan kepala yang tegak dan hati yang kuat.

Barang-barang berharga yang diberikan Sultan Rahman kepadanya bukan hanya sekadar kenang-kenangan dari masa lalu, tetapi juga cermin dari masa depan yang lebih baik—masa depan yang penuh dengan harapan, rasa hormat, dan mungkin juga cinta yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!