Ketika pernikahan yang selama ini ku anggap sempurna,ternyata hanya sebuah kebohongan membuat kehidupan ku hancur lagi dan lagi.
Namun aku bertahan berharap bisa mengubah pernikahan palsu itu benar-benar nyata,namun semakin aku bertahan rasanya semakin aku jatuh dan hancur mengetahui lebih banyak hal yang lebih menyakitkan.
"Aku mau bercerai"
"Setelah kau membuat ku bergantung pada mu,kau ingin bercerai dengan ku?JANGAN HARAP!.KAU TIDAK AKAN BISA PERGI DARI KU SELAMANYA SAMPAI AKU MATI!"
"Kenapa tidak?,AKU AKAN PERGI SELAMANYA SAMPAI KAU TIDAK PERNAH MELIHAT KU SAMPAI KAU MATI!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai cinta diri sendiri
"Tapi semuanya sudah terjadi,aku juga tidak bisa mengulangi nya lagi"
"Tapi untuk menghentikan semua rasa sakit ini,aku pikir sudah sebaiknya kita akhirnya semuanya"
Ia menarik nafas panjang,Ia tidak pernah berfikir waktu itu akan tiba secepat itu, dimana akhirnya Ia melepaskan pria yang begitu Ia cintai selama bertahun-tahun.
Oliver masih tidak merespon membuat Alessia tersenyum simpul,"Aku pikir inilah yang di inginkan nya sejak awal", gumam nya merasa bodoh karna merasa sakit sendiri dengan perpisahan itu,karna kenyataan nya memang hanya dirinya sendirilah yang menginginkan pernikahan itu.
"Besok surat cerai akan keluar,hanya perlu tanda tangan kita berdua maka kita akan resmi berpisah"
Ia seakan bicara pada patung yang menatapnya dengan tatapan yang sulit Ia artikan, sehingga tak ingin berlama-lama lagi di sana Ia menyeret langkah nya dari hadapan suaminya itu yang sebentar lagi mungkin akan menjadi mantan suaminya.
Namun langkah nya terhenti,saat merasakan genggaman tangan besar dan kuat menggenggam pergelangan tangannya hingga seakan ingin mematahkannya .
"Seperti nya kau sudah menyiapkan semuanya sejak awal,bahkan surat cerai pun sudah keluar?"
"Apa yang kau lakukan,kau akan mematahkan tulang ku!", protes nya dengan kesakitan berusaha melepaskan tangan pria itu dari tangannya.
"Jawab pertanyaan ku,kau sudah mengurus surat perceraian sejak kapan?"
Alessia berhenti memberontak untuk melepaskan tangannya,menatap pria di hadapan itu sekarang dengan tatapan bingung."Apakah itu penting sekarang, bukan kah itu hal yang baik surat nya sudah keluar besok apakah kita harus mengambil nya sekarang?
"Baiklah aku bisa menghubungi pengacara ku untuk mempercepat perceraian kita"
Namun hal itu justru membuat pria di hadapannya terlihat semakin marah,bahkan tiba-tiba pria itu menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka.
Ia jelas syok dan mendorong dada bidang itu dan berusaha melepaskan diri."Apa yang kau lakukan tuan Oliver Dirgantara!", teriaknya memukul-mukul dadanya,saat tangan pria itu semakin memeluk erat pinggang nya hingga tak bisa melepaskan diri.
"Cih?,Kita bahkan belum bercerai tapi kau sudah memanggil ku seformal itu?, apakah kau seingin bercerai itu dengan ku?".Tanya nya dengan sedikit berdecih.
"Apakah kau ingin bercerai dengan ku karna ingin bersama dengan pria itu?"
Ia terdiam beberapa saat untuk mencerna ucapan itu,hingga tersenyum miring dan menatap suaminya itu dengan tatapan tak percaya, bisa-bisanya pria itu menuduh nya seperti itu padahal tau bagaimana selama ini Ia mencintai nya.
Dengan sekuat tenaga Ia mendorong pria itu hingga terlepas,dan segera menjauh darinya."Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan siapapun,masalah utama perceraian ini adalah kita yang tidak saling mencintai"
Sorot mata Oliver terlihat begitu menusuk dengan mata yang sudah memerah dan berlinang air mata, otot-otot wajahnya begitu menonjol karna gigi nya yang terkatup menahan sesuatu dalam dirinya yang akan siap meledak.
"Tapi kau mencintaiku?"
"Iya,tapi kau tidak mencintai ku.Jadi sejak awal kita tidak pernah saling mencintai.Hanya aku sendiri yang menganggap pernikahan ini nyata"
Ia tersenyum miris dan mengusap kasar air matanya untuk terakhir kali dan mengalihkan pandangannya luar jendela."Sudahlah, lagipula itu sudah tidak penting kan?"
"Aku sudah putuskan untuk bercerai"
Setelah mengatakan itu Ia langsung melangkah dengan cepat keluar dari ruangan itu.
Kenapa hari ini datang secepat itu?
Sementara itu Oliver tersenyum miring dengan air mata yang kembali mengalir di wajahnya, Terhitung Ia sudah dua kali meneteskan air mata.Ia bukan lah tipe pria yang biasa menangis,Ia bahkan hampir tidak pernah meneteskan air mata untuk hal apapun yang Ia lewati selama ini"
Tapi kenapa, pernikahan yang memang benar tidak pernah Ia anggap justru melukai hatinya sekarang dan membuat dada nya begitu sakit seperti tertusuk oleh belati.
Bercerai?
Pertanyaan itu terus bertarung di hati dan pikiran nya.
***
Sementara itu saat keluar dari ruang meeting, Alessia sedikit terkejut saat Ia keluar tiba-tiba Lusia ada di samping pintu dan begitu saja langsung memeluknya.
"Al,kalau mau nangis,nangis aja sekarang.Aku tau ini bukan hal yang mudah untuk kamu"
Lusia tau bagaimana Alessia begitu mencintai Oliver,dan melepaskan orang yang sangat di cintai bukanlah hal yang mudah, terlebih orang seperti Alessia yang begitu mencintai Oliver selama bertahun-tahun lamanya.
Menurut psikologi, Alessia adalah tipe orang yang sangat sulit jatuh cinta namun sekali jatuh cinta Ia akan begitu bodoh dan itu adalah faktanya.
"Terimakasih lusia,tapi sebenarnya aku tidak apa-apa sekarang.bahkan rasanya lebih lega seperti sebuah beban berat yang terangkat dari pundak ku"
Alessia tersenyum di balik pelukan sahabat barunya itu,bohong jika Ia mengatakan itu sepenuh hati, nyatanya meski tersenyum air mata nya masih tetap mengalir,tapi Ia juga jujur kalau rasanya begitu lega setelah memutuskan untuk mengakhiri semuanya lebih cepat.
"Kamu cantik,smart,pintar dan berani.Masih ada banyak pria yang lebih baik di luar sana",ucap Lusia melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak sahabatnya itu dengan tatapan teguh dsn meyakinkan.
Hal itu membuat Alessia tertawa dan mengangguk sembari menghapus air matanya,"Terima kasih,tapi sepertinya untuk dua atau tiga tahun ke depan aku tidak ingin melakukan nya",jawabnya apa adanya kemudian berbalik lebih dulu berjalan pergi ke ruang kerjanya,hingga Lusia langsung mengikuti nya dari belakang.
"Baiklah terserah kamu, sebenarnya aku juga begitu.Aku muak dengan masalah percintaan,aku benci pria.Aku juga sebenarnya tidak ingin menikah,kalau begitu kita jalani kehidupan single era berdua!!!"
Teriak Lusia dengan penuh semangat dan bahagia mengikuti Alessia dari belakang hampir berlari.
"Apakah kau sakit hati dengan mantan mu itu?",sindir Alessia saat mereka sudah sampai di ruangannya.
"Apaan sih Al,gak usah bahas lagi laki-laki brengsek itu aku benci banget sama tu orang"
"Pokoknya karena dia aku trauma dengan laki-laki!"
Alessia menggeleng dengan senyum tipis,Ia tau sedikit tentang kisah Lusia dan mantan nya.
"Udah deh stop bahas tentang aku, jadinya kamu beneran bercerai Al?"
Seolah belum yakin,Lusia masih ingin memastikan.
Alessia menjawabnya dengan sedikit tersenyum."Yah,besok surat resmi pengadilan agama akan keluar"
Lusia tersenyum kecut, kemudian menghampiri Alessia yang duduk di kursinya dan memeluk nya kembali.
"Yang kuat ya,pokoknya kamu harus tetap pada pendirian kamu.Sudah saat nya kamu bahagia Al,tidak ada yang lebih penting daripada diri mu sendiri"
"Bahagia lah dan cintai diri mu sendiri"
"Itu jauh lebih indah daripada menikah dengan orang yang kita cintai,tapi nyatanya dia tidak mencintai kita"
Ucap Lusia yang kemudian sedikit menyindir kebodohan wanita di pelukan nya itu.
Namun Alessia hanya membalas nya dengan senyum, karna itu memang benar.
"Yah,aku memang terlalu bodoh dan buta selama ini"
***
tapi jika Yasmine benar2 penyelamat nya Oliver bakalan dilema antara pilihannya dan tidak akan memiliki ketegasan sikap.
jadi lebih baik Alessia pergi jauh saja menata hidupnya kembali sampai bertemu seseorang yang mencintainya dgn tulus, menerima apa adanya serta mampu melindunginya.
preeet....
CEO kok goblok.
maaf ya jadi keluar sumpah serapah
3 tahun mang sebentar.