Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pesawat yang membawa Alya akhirnya mendarat mulus di kota ujung timur Pulau Jawa.
Dari balik jendela, ia melihat bentangan hijau yang berbeda dari kota asalnya. Udara terasa lebih terang, lebih bersih, seolah paru-parunya diajak bernapas ulang. Ketika langkahnya menyentuh lantai bandara, Alya tidak membawa apa-apa selain satu koper sedang dan hati yang lelah namun siap.
Banyuwangi.
Ia datang ke tempat ini bukan tanpa alasan. Bertahun-tahun lalu, Alya pernah punya teman perempuan bernama Halima. Mereka tak lagi sering berkabar, tapi satu hal selalu ia ingat: cerita Halima tentang kampung halamannya yang ramah, tentang tanah yang subur, dan tentang orang-orang yang menyapa dengan senyum tanpa curiga.
Alya naik mobil sewaan menuju desa tujuan. Semakin jauh dari kota, jalanan menyempit, rumah-rumah kayu muncul di kanan kiri, sawah membentang seperti kain hijau yang dibentangkan rapi. Angin masuk lewat jendela, membawa bau tanah dan dedaunan.
Saat mobil berhenti di sebuah halaman rumah sederhana, seorang perempuan paruh baya keluar tergesa. Wajahnya ramah, matanya berbinar melihat Alya turun.
“Loh… iki sing teko saka kutha, yo?” katanya antusias.
(“Loh… ini yang datang dari kota, ya?”)
Alya tersenyum kikuk. “Iya, Bu.”
Perempuan itu tertawa kecil. “Yo Allah, ayu tenan. Mlebu, Nduk. Ojo isin.”
(“Ya Allah, cantik sekali. Masuk, Nak. Jangan sungkan.”)
Belum sempat Alya melangkah jauh, seorang perempuan lain muncul dari balik pintu. Usianya sebaya Alya, wajahnya cerah, senyumnya lebar.
“Alya?” tanyanya ragu.
Alya memicingkan mata, lalu matanya melebar. “Halima?”
Perempuan itu tertawa. “Iyo! Tapi nang kene isun diceluk Emok."
"Iya! Tapi di sini aku dipanggil Emok")
“Emok?” Alya refleks mengulang, kaget sekaligus heran.
“Iyo,” sahut Halima sambil terkekeh. “Nang Banyuwangi, aran sing ono ma-ne biasane dadi Mok. Halima jadi Emok.
Alya ikut tertawa, kali ini lepas. Ada kehangatan yang langsung menyusup, rasa asing yang perlahan luruh, seolah beban yang di kota hilang ketika.
“Unik banget,” katanya jujur.
“Wes, biasane gedigi,” timpal seorang bapak yang baru datang, memanggul cangkul. (Sudah biasa seperti itu)
Setelahnya tidak lama kemudian para tetangga guyub dan rukun datang satu persatu mengintip tamu kota yang baru datang, dan Alya semakin terkejut.
“Wong kutha teko, mesti kaget," lanjut bapak itu. (Orang kota datang pasti kaget."
Alya menunduk sopan. “Saya Alya, Pak.”
“Yo wes, Alya,” jawab bapak itu ramah. “Saiki kene omahmu. Ojo sungkan.”
(“Ya sudah, Alya. Sekarang ini rumahmu. Jangan sungkan.”)
Di teras rumah, warga mulai berdatangan. Ada yang membawa pisang, ada yang menyodorkan air minum, ada pula yang sekadar ingin melihat lebih dekat penasaran pada wong kutha yang datang sendiri.
“Tekane adoh, yo?” (Datang dari jauh ya)
“Arep manggon suwe ta, Nduk?” (Mau tinggal lama ya Nak)
“Wes mangan durung?” (Sudah makan belum)
Pertanyaan-pertanyaan ringan itu mengalir tanpa menghakimi. Alya menjawab seadanya, sesekali menoleh ke Halimah saat tak paham sepenuhnya. Halimah membantu menerjemahkan dengan senyum sabar.
“Tenang,” bisiknya. “Nang kene wong-wonge kepo, tapi apik.” (tenang di sini orangnya kepo tapi baik)
Alya hanya mengangguk kecil tapi perhatian-perhatian kecil dari tetangganya itu membuat hatinya menghangat.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore itu, Alya duduk di bangku kayu, meminum teh hangat sambil memandang sawah yang berkilau diterpa matahari. Suara tawa, bahasa yang belum sepenuhnya ia pahami, dan keramahan yang tulus membuat dadanya terasa lapang.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Alya tidak merasa harus kuat. Ia hanya merasa… diterima. Dan entah kenapa, di kota ujung timur ini, Alya yakin ia bisa mulai menanam hidupnya kembali
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya.
Alya terbangun oleh suara ayam berkokok dan desir angin yang menyapu dedaunan di luar jendela. Cahaya matahari menembus celah dinding kayu, jatuh lembut di lantai. Ia bangkit, meraih jaket tipis, lalu keluar rumah.
Udara pagi terasa dingin, segar, berbeda dari kota. Di halaman, Halimah sudah berdiri sambil menggulung lengan baju.
“Wes tangi, Al?” sapanya ceria. “Ayo, melu aku nang sawah.” (Sudah bangun ayo ikut aku ke sawah )
Alya mengangguk, sedikit gugup. “Aku… bisa apa?”
Halimok tertawa kecil. “Ojo mikir kare repot, belajoro sulung, wes ta percoyo Ambi isun." (jangan berpikir repot dulu, belajar dulu, sudah deh percaya sama aku)
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang masih basah oleh embun. Sawah membentang luas, hijau, dan hidup. Beberapa warga sudah sibuk sejak subuh, ada yang memanggul cangkul, ada yang menuntun kerbau, ada pula yang jongkok mencabut rumput liar.
“Wong kutha teko, yo?” celetuk seorang bapak sambil tersenyum lebar. (Orang kota datang)
“Iyo, Pak,” jawab Emok. “Iki Alya.” (Iya Pak ini Alya)
“Yo wes,” bapak itu tertawa. “Kang penting gelem kotor.” (Ya sudah yang penting mau kotor.
Alya ikut tersenyum, meski jantungnya berdegup. Ia menggulung celana, menjejakkan kaki ke tanah basah. Seketika, dingin dan lembek menyergap telapak kakinya.
“Begini rasanya” gumamnya pelan.
Emok menyerahkan cangkul kecil. “Coba. Ojo kuwatir salah.” (Coba jangan khawatir salah)
Alya mengangkat cangkul itu berat. Ketika dihunjamkan ke tanah, gerakannya canggung. Tanah tidak langsung terbelah. Beberapa warga tertawa kecil, bukan mengejek, tapi geli.
“Edeng-edeng” kata seorang ibu. “Ojo kesusu.” (Pelan-pelan jangan kesusu)
Alya mencoba lagi. Kali ini lebih mantap. Tanah mulai terbuka, meski hasilnya belum rapi.
“Riko cepet pinter,” ujar bapak tadi. “Wong kadong gelem nyoba, mesti biso.” "Kaku cepat (nangkap, orang kalau mau nyoba pasti bisa.)
Matahari naik perlahan. Keringat mulai membasahi pelipis Alya. Tangannya pegal, punggungnya terasa kaku. Beberapa kali ia hampir terpeleset, tapi selalu ada tangan yang sigap menahan.
“Ati-ati Al,” seru Emok. “Lemahne licin.”
Menjelang siang, Alya duduk di pematang, napasnya terengah. Tangannya kotor, kukunya penuh tanah. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu tertawa kecil.
“Aku kelihatan kayak bukan aku,” katanya.
Emok duduk di sampingnya. “Iki riko kang anyar.” (Ini kamu yang baru)
Seorang ibu datang membawa nasi jagung, sayur lodeh, dan sambal. “Madang sulung. Ojo ngenteni elom.” (Makan dulu jangan nunggu laper.)
Alya menerima piring itu. Rasanya sederhana, tapi hangat. Ia makan pelan, menikmati setiap suapan.
Di kejauhan, angin menggerakkan padi muda, seperti gelombang hijau yang berbisik. Alya memejamkan mata sejenak, capek iya, pinggulnya juga sedikit sakit, bahkan pinggangnya encok, tapi entah kenapa hatinya merasa tenang, seperti kedamaian yang tidak pernah ia dapatkan di tempat sebelumnya.
“Al,” kata Emok pelan. “Nang kene, wong mosok kiro deleng sopo riko bengen, kang penting saiki," jelas Halimah. (Di sini orang tidak melihat kamu yang dulu, yang penting sekarang.)
Alya membuka mata. Ia mengangguk.
Hari pertama itu tidak sempurna. Banyak salah, banyak kaku. Tapi ketika Alya pulang dengan tubuh lelah dan kaki penuh lumpur, ia tahu satu hal pasti:
Di tanah asing ini, ia tidak sedang melarikan diri ia tapi sedang belajar memulai hidup baru.
Bersambung ....
Maaf ya, agak siang, sibuk sama dunia nyata he he. Selamat membaca ya.
Sedikit penjelasan di Banyuwangi bahasanya Osing, dan itulah bahasa Osing, semoga kakak-kakak suka...
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong