罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Kakushibori
...**...
...古傷に刻む永遠...
...-Furukizu ni kizamu eien-...
...'Mengukir keabadian pada luka lama'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Tiada satu pun cara untuk melawan, yang tersisa hanyalah menerima takdir itu."...
...⛩️🏮⛩️...
Noa hampir tidak bicara sedikitpun sejak kabar itu datang. Kabar bahwa pendeta Araki telah menyetujui perjalanan ke Tokyo.
Keesokan harinya, mereka membuka kuil sembahyang pribadi milik Oyabun dan pendeta, tempat hanya orang-orang terpilih yang bisa menapakkan kaki. Malam ini, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, segel kuno di balik altar kuil Yamaguchi akan diukir kembali.
Bukan ruang yang dahulu menjadi saksi irezumi darah Noa, melainkan ruang doa yang lebih sunyi dan sakral, seolah seluruh kejadian lalu hanya mengantarkan langkah menuju altar tersembunyi ini.
Empat pendeta pembantu melangkah dalam hening, membawa wadah dupa biru dari batu giok dan menyalakannya serentak pada keempat penjuru ruangan. Aroma yang meresap menusuk hingga ke sumsum, memadukan akar kutukan dan abu tulang leluhur yang telah mengering selama lima puluh tahun.
Noa dibawa masuk dengan tubuh bagian atas hanya tertutup kimono tipis. Ia diposisikan tengkurap di atas dipan kayu yang dingin, dengan salah satu sisi dipan yang berlubang untuk meletakkan kepalanya tetap menghadap ke bawah, kain kimononya disibakkan hingga pinggang dan bahunya tersingkap. Pergelangan tangan dan kaki diikat erat pada kaki-kaki dipan, membuat tubuhnya tetap menempel pada permukaan kayu tanpa celah untuk bergerak.
Posisinya dijaga agar tidak bisa bergeser setengah inci pun. Di mulutnya, dipasang semacam ball gag ritual dari kayu suci yang dililit benang merah, untuk mencegahnya berbicara, berteriak, atau suara lain yang bisa secara tidak sadar keluar selama ritual. Ia ditempatkan memunggungi semua yang hadir, karena ukiran baru akan ditorehkan di atas segel irezumi naga merah yang kini hanya tampak samar—garis terluarnya terkelupas, terbakar dari dalam di beberapa bagian namun kekuatan penyegelnya masih bertahan.
Tubuhnya penuh bekas luka dan darah kering, sebagian besar berasal dari insiden misi terakhir. Di antara permukaan kulit dan tulang belikatnya, ukiran naga merah memenuhi punggung Noa seolah menutup celah makhluk lain—Kuraokami—untuk muncul ke permukaan. Tapi belenggu itu kini memiliki celah yang samar. Seakan-akan napas dingin dari sang naga air mulai lolos dari sela-selanya.
Shirogane Araki Dono masuk dalam diam. Ia mengenakan jubah ungu pudar tanpa ornamen, rambut putih panjangnya dikepang satu ke belakang. Di tangannya, kuas ritual yang terbuat dari ekor rusa hutan utara dan tinta merah darah, hasil campuran darah pendeta, abu roh, dan cairan dari akar wasuregusa—tumbuhan kutukan yang hanya tumbuh di gunung utara tempat kelahiran Kuraokami.
Ia menunduk kepada para hadirin yang dibalas anggukan singkat—Yagami-dono, pendeta shinto klan Yamaguchi-gumi.
Oyabun, diam tak bergerak di kursi rendah dari kayu pohon sakura tua, pandangan tajamnya menusuk tiap gerakan.
Jin, dengan ekspresi kosong, tapi tubuhnya tegak siaga.
Kuroda, berdiri dengan tangan terkepal dan rahang mengeras.
Yagami bersuara pertama. "Anda tahu, Shirogane-sensei, satu garis yang melenceng, dan segel ini akan menjadi pintu masuk, bukan penjara."
Shirogane mengangguk. "Karena itu, tubuhnya harus diam. Seluruh garis irezumi harus disempurnakan dalam satu goresan."
Ia memulainya.
Dengan tangan yang sudah tua tapi tak bergetar, Shirogane dengan pelan namun tegas menyapu kuas pertama tepat di atas batas irezumi lama. Garisnya menyatu, bukan menutup, melainkan membentuk bingkai penjaga baru—mantra-mantra kuno ditulis dalam gaya kakushibori (tato tersembunyi yang hanya tampak saat segel irezumi bekerja). Goresan itu membentuk siluet abstrak—seperti cakar naga merah yang mencengkeram, melambangkan dominasi elemen api atas elemen air. Seolah mewujudkan tekad klan untuk tetap mengurung dewa naga air dalam tubuh gadis ini.
Tiap goresan, Noa menggeliat meski tak bisa bergerak bebas. Tubuhnya menegang dalam jerat ikat sabuk penahan. Keringat mengalir deras, bercampur dengan darah dan tinta. Kuas terus bergerak menelusuri tulang belikat hingga ke bagian bawah tengkuk—area pintu masuk di mana roh biasanya keluar dari tubuh manusia. Di sanalah Shirogane menyematkan simbol pengikat utama: tiga paku shinto dengan bingkai melingkar dipinggirnya.
Bau daging terbakar mulai tercium.
Yagami tak bergeming.
Jin mendekat setengah langkah. "Apa dia harus tetap sadar?"
Shirogane menjawab tanpa menoleh, "Jika ia pingsan, tinta tidak akan menyatu. Maka segel akan gagal. Dia harus tetap hidup, sadar, dan menghadapi penderitaan ini."
Penyegelan diteruskan ke bagian samping—ukiran mantra lingkaran mengelilingi rusuk dan tulang pinggang kanan, menyambung ke bagian belakang tubuh seperti lingkar ular. Masing-masing karakter ditorehkan hanya ketika napas Noa benar-benar tenang. Setiap gerakan kecil, setiap nafas tak terkendali, bisa menggagalkan keseluruhan segel tambahan ini.
Oyabun menutup mata sejenak. Di sudut bibirnya, kalimat samar hampir tak terdengar. "Jika kau ingin jadi penjara bagi naga, maka tubuhmu harus kokoh seperti batu... dan tetap tidak goyah."
Setelah hampir dua jam penyegelan tanpa henti, Shirogane akhirnya menyelesaikan goresan terakhir: segel pusat, tersembunyi di bawah bekas luka lama Noa. Ia menekuk lutut dan menunduk dalam-dalam ke arah tubuh Noa.
"Ini adalah akhirmu sebagai manusia biasa, Nakamura-san."
Tepat setelah kata itu, seisi ruangan diguncang oleh getaran kecil. Suara gemuruh terdengar dari dada Noa, bukan dari pita suaranya, tapi dari sesuatu yang bergerak di dalam—lapisan paling dalam dari daging dan jiwa. Namun, segel merah menyala perlahan, menyelimuti tubuh Noa dengan cahaya samar seperti bara api yang menutup kerak kawah.
Semua berdiri diam. Bahkan Yagami hanya mengangguk kecil.
Shirogane berdiri. "Segel berhasil diperkuat. Tapi dia tidak akan bisa bertarung dalam kondisi ini sampai raganya pulih."
"Kalau begitu," Oyabun bersuara pelan, "beri dia tiga hari. Setelah itu, duel bisa dilakukan."
...⛩️🏮⛩️...
Di perbatasan selatan wilayah Yamaguchi, jauh dari pusat kekuasaan, sekelompok pemburu bayaran bergerak dalam senyap di hutan berkabut. Di antara mereka, seorang lelaki berjubah hitam dengan lambang ular merah di lengan kirinya berhenti, menyentuhkan jari ke tanah.
"Koko da," (Di sini) bisiknya. "Mada kehai ga nokotte iru." (Energinya masih terasa)
Mereka berkumpul di sebuah ceruk tanah bekas pertempuran. Bekas ledakan spiritual masih meninggalkan jejak: batang pohon hangus, batu-batu yang retak, dan udara yang masih terasa jejaknya oleh kekuatan asing.
"Ini dari misi Yamaguchi, kan?" tanya salah satu dari mereka. "Yang gagal... tapi juga sukses?"
Sang lelaki berjubah hitam tersenyum tipis. "Misi yang berhasil, tapi menyisakan kebangkitan."
Ia membuka gulungan kertas dari kantongnya, menampilkan gambar mitologis tentang seekor naga air raksasa bermata biru terang—Kuraokami.
"Kita pikir itu hanyalah mitos," katanya, "Tapi aku merasakan ledakan itu dan melihatnya dari kejauhan. Ketika gadis itu melawan para pembunuh bayaran yang disewa geng Takatori, sesuatu muncul dari tubuhnya. Kekuatan itu membunuh dengan mudah pasukan tanpa ia sadari. Seolah ia hanya... wadah."
Pria lain mendesis. "Jadi mereka telah membangunkan Kuraokami."
"Belum sepenuhnya," jawab si pemimpin. "Tapi mereka mendekati titik di mana dewa itu bisa lepas kendali. Dan jika mereka gagal mengendalikannya, kita hanya perlu duduk dan menonton kerajaan itu hancur dari dalam."
Ia menggulung kembali kertas itu, lalu menatap ke kejauhan. "Kita kirim laporan ke Nagase-san. Sang Ketua pasti tertarik dengan ini."
...—つづく—...