NovelToon NovelToon
Dulu Guruku, Sekarang Istriku

Dulu Guruku, Sekarang Istriku

Status: tamat
Genre:Tamat / Berondong / Nikahmuda / Cintamanis / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Grace caroline

'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'

***

Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...

--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Kembali Mengajar

Tyas dan Kaesang kompak menoleh ke Papa Indra. Senyum mereka merekah, memancarkan kebahagiaan dan kasih sayang yang begitu nyata.

"Makasih, Pa," sahut Kaesang, lesung pipitnya menghiasi senyum lebar yang merekah di wajahnya. Kebahagiaan yang terpancar darinya begitu kuat, menghangatkan seluruh ruangan. Mama Zora dan Papa Indra ikut tersenyum, terharu menyaksikan kebahagiaan putra mereka yang begitu tulus dan jarang terlihat seintens ini. Tyas, ya, Tyas-lah yang telah membawa sinar mentari ini ke dalam hidup Kaesang.

Mereka lanjut ngobrol di sana, membahas banyak hal sampai tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Mama Zora yang tengah hamil dan tidak boleh tidur terlalu malam langsung diminta papa Indra untuk segera tidur dan diantarkannya menuju ke kamar.

Sementara itu Kaesang dan Tyas juga pergi ke kamar mereka. Mereka berganti pakaian dengan piyama hangat lalu berbaring di atas ranjang.

"Yang," panggil Tyas lembut, senyumnya merekah menatap Kaesang. Jarak mereka begitu dekat, sehingga maju sedikit saja, mungkin ia bisa mencium Kaesang. Di atas ranjang, mereka berpelukan, saling berhadapan, masih terjaga, menikmati keheningan malam yang hanya diiringi detak jantung mereka sendiri.

"Hmm, kenapa Dear?" tanya Kaesang, senyum dan tatapannya begitu menenangkan bagi Tyas.

Dengan lembut, Tyas mengangkat tangannya, jari-jarinya menyentuh kancing kemeja Kaesang. Satu per satu kancing itu ia buka, menyingkap dada Kaesang yang putih bersih.

Kaesang tersenyum melihat apa Tyas lakukan, lalu meraih tangannya, menghentikan gerakan Tyas. "Kamu pengen, ya? Ayo, kalau pengen!" seru Kaesang, semangatnya tampak jelas. Ia pun duduk, melepas kemeja dengan tergesa lalu melemparkannya ke bawah ranjang. Sebelum Kaesang sempat melepaskan celananya, Tyas sudah meraih tangannya.

"Eh, Yang, aku capek. Tadi kita udah main loh, aku mau istirahat. Ngantuk aku. Besok aja ya kita mainnya, please," pinta Tyas, suaranya sedikit manja.

Kaesang cemberut, tapi mengangguk. "Ya udah, kamu tidur aja," katanya, sedikit terpaksa. Ia membantu Tyas berbaring, lalu menyusul berbaring di sampingnya.

"Kamu nggak pakai baju?" tanya Tyas, karena Kaesang langsung berbaring dan menaikkan selimut menutupi tubuh mereka, tanpa mengenakan bajunya yang tadi ia lempar ke bawah ranjang.

Kaesang menggeleng, bibirnya masih manyun. "Gerah, Dear, gini aja," katanya sedikit tergesa. Tyas merengkuh pinggang Kaesang dari balik selimut, tubuh mereka kini menyatu. Ia bisa merasakan hembusan nafas Kaesang di wajahnya.

"Maaf, ya," ucap Tyas lirih, merasa bersalah karena menolak permintaan Kaesang yang ia tahu pasti membuatnya kesal.

Kaesang mengerutkan kening. "Maaf? Kenapa?" tanyanya, bingung.

"Maaf karena aku udah nolak buat main. Aku beneran capek Yang, ngantuk juga. Terus, masih agak ngilu nih ituku bekas main kita tadi. Jalan aja aku masih agak terseok-seok, kayaknya otot-ototku masih tegang semua," ungkap Tyas sambil tersenyum kecil.

Senyum Kaesang mengembang. Senyum manisnya—dan senyum Tyas—adalah candu bagi mereka berdua. "Nggak apa-apa sayangku. Kamu tidur aja kalo ngantuk, aku nggak akan marah kok," katanya. Lalu mencium lembut kening Tyas.

"Tidur ya, have a nice dream Dear," bisiknya lembut, jari-jari tangannya membelai pipi Tyas dengan penuh kasih sayang. Lalu, ia menaikkan selimut hingga menutupi tubuh mereka lebih tinggi karena udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Hati Tyas berbunga-bunga mendengar kata-kata manis Kaesang dan merasakan sentuhan lembut bibirnya di keningnya. Senyumnya merekah lebar, mencerahkan wajahnya. "Yang, besok aku mulai ngajar lagi boleh ya? Aku udah ngambil cuti lama loh, nggak enak sama guru-guru dan murid-murid yang lain," pintanya dengan nada manja.

Semenjak menikah dan honeymoon dengan Kaesang, Tyas mengambil cuti panjang untuk tidak mengajar. Sebenarnya papa Indra selaku pemilik dari sekolah tempat Tyas mengajar juga tidak masalah Tyas mengambil cuti lama karena posisi Tyas sekarang adalah menantunya.

Bahkan papa Indra sendiri juga tidak pernah menyinggung soal sekolah kepada Tyas. Tapi Tyas yang masihlah guru di sekolah itu merasa tidak enak untuk mengambil cuti terlalu lama.

"Sebenarnya, aku lebih suka kamu di rumah, Dear, jadi ibu rumah tangga aja. Tapi, kalau kamu emang mau ngajar lagi, ya udah deh nggak papa," kata Kaesang, suaranya terdengar sedikit terpaksa, meski ia tetap mengizinkan Tyas kembali mengajar.

Tyas tahu Kaesang terpaksa mengizinkannya. Ia pun mencium singkat bibir Kaesang—kejutan kecil yang membuat Kaesang tersentak. "Ini udah jadi kewajiban aku Yang. Aku adalah guru di Genius High School dan usiaku juga masih sangat muda untuk harus pensiun dan berhenti jadi guru.

Maaf ya kalau aku harus nolak keinginan kamu, jadi guru itu udah cita-cita aku dari kecil dan akhirnya bisa bekerja di Genius high school kayak gini aku seneng banget. Aku nggak mau pensiun dini Yang," jelasnya.

Kaesang mengangguk, melihat kesungguhan di mata Tyas. "Iya aku tahu kok. Aku nggak masalah kalau kamu mau ngajar lagi, tapi aku cuma mau berpesan sama kamu, kalau kamu mulai mengajar nanti kamu jangan lupa sama posisi kamu dan aku, ya.

Sekarang kamu udah menikah loh nggak sendiri lagi. Apalagi kalau seumpama kamu hamil nanti, aku mau kamu cuti atau kalau bisa berhenti jadi guru dan fokus ngurusin anak kita. Kamu paham kan, Sayang?" Sebenarnya Kaesang agak berat hati mengatakan itu. Tyas masih muda dan jadi guru adalah cita-citanya.

Tapi Kaesang khawatir. Ia takut kesibukan Tyas sebagai guru membuatnya lupa waktu dan dirinya. Menjadi guru kan ribet, banyak tanggung jawabnya, ia takut Tyas sampai kelelahan dan tak punya waktu untuk mereka berdua.

"Iya aku ngerti kok. Kamu nggak usah khawatir ya. Aku nggak akan lupa sama posisi aku sebagai istri kamu," balas Tyas, senyumnya merekah. Hati Tyas terasa hangat mendengar perhatian Kaesang.

"Dan untuk hamil nanti...aku bingung sih. Sebenarnya aku masih mau ngajar dan jadi guru. Tapi kalau nantinya hamil, mungkin aku akan ngambil cuti aja. Kalau berhenti itu masih terlalu cepat Yang. Aku jadi guru juga belum lama ini, sayang banget wisuda aku," lanjutnya.

Benar juga apa yang dikatakan Tyas. Rasanya percuma semua pengorbanan dan jerih payahnya selama empat tahun lebih kuliah itu hanya untuk berakhir sebagai ibu rumah tangga biasa. Semua ilmu dan pengalaman yang didapatkannya selama ini akan terbuang sia-sia jika Tyas berhenti menjadi guru. Pendidikannya menjadi investasi yang tak membuahkan hasil.

Kaesang mengangguk, menghela napas panjang. "Semua keputusan ada di kamu Dear. Aku nggak akan paksa kamu. Apapun yang bikin kamu bahagia dan nyaman aku izinkan.

Nggak masalah kok kalau kamu emang mau ngajar lagi, asalkan kamu nggak lupa sama kewajiban kamu dan aku tentunya. Apalagi kalau di perut kamu nanti udah ada buah hati kita. Kamu harus jaga kesehatan kamu dengan baik loh ya. Jangan sampai karena kesibukan kamu sebagai guru kamu jadi lupa," katanya lembut.

Tyas tersenyum manis, mengangguk lucu seperti anak kecil. "Iya, Sayang. Aku usahain seimbangin semuanya. Aku juga pengen jadi ibu yang baik buat anak kita nanti," jawabnya mantap.

Kaesang menatap Tyas dengan penuh cinta, merasakan betapa seriusnya komitmen yang diucapkan istrinya. "Aku percaya kamu bisa, Sayang. We will support each other. Remember, we are a team, okay?"

Tyas merasa hatinya hangat mendengar kata-kata Kaesang. Ia tahu betapa berarti dukungan suaminya baginya. "Terima kasih, Yang. Aku beruntung memiliki kamu di sampingku," ucapnya tulus.

Setelah beberapa saat dalam keheningan yang nyaman, Tyas teringat sesuatu. "Eh iya, Yang. Besok aku mesti siapin materi buat anak-anak muridku nih. Aku kudu pastiin semuanya siap sebelum balik lagi ke kelas," katanya dengan nada semangat.

Kaesang tersenyum mendengar semangat Tyas. "Kalo butuh bantuan, jangan ragu buat minta ya. Aku siap jadi asisten mengajar kamu," jawabnya, matanya berkilau dengan candaan.

Tyas tertawa, "Asisten mengajar? Apa kamu yakin bisa? Kamu aja di kelas cuek bebek kek manekin! Meskipun kamu itu pinter banget."

"Tuh kamu tau. Kemampuan aku itu nggak kaleng-kaleng Dear di sekolah. Aku sering ngikutin olimpiade nasional dan selalu juara loh. Masih juga kamu raguin aku? Ya meskipun aku emang cuek dulu, tapi itu nggak ada hubungannya kan?"  jawab Kaesang sambil berpura-pura cemberut, tetapi senyumnya tidak bisa ditutupi.

Tyas tertawa melihat ekspresi Kaesang yang berusaha cemberut. "Oke, oke, aku akui kamu pinter. Tapi ngajar anak-anak itu beda loh, Yang. Kamu harus bisa bikin mereka antusias, bukan cuma ngebac0t kayak di olimpiade!"

Kaesang mengangkat alisnya, pura-pura terkejut. "Antusias? Ya ampun, kamu belum lihat gimana menawannya lesung pipitku pas senyum? Itu udah cukup buat bikin mereka terpesona! Apalagi, siapa sih yang nggak mau belajar dari guru yang suaminya seganteng aku?" katanya sambil melirik dirinya sendiri dengan percaya diri.

Tyas hampir terpingkal, "Oh ya? Kamu yakin semua muridmu bakal tertarik sama senyummu yang bikin mereka melongo? Yang ada mereka malah bingung, 'Ini guru apa model?'"

"Aha! Itu dia! Aku bisa jadi guru sekaligus model, jadi perhatian!" jawab Kaesang dengan semangat. "Bayangin, semua orang bakal bilang, 'Wow, ini bukan cuma guru, tapi juga bintang!'"

Tyas menggelengkan kepala, tak bisa menahan tawa. "Berhenti deh, Yang! Kamu ini narsis parah! Tapi ya, senang sih kalau kamu bisa bikin mereka tertawa dengan caramu."

Kaesang tersenyum lebar, merasa bangga. "Narsis itu bagian dari pesona, Dear. Lagipula, siapa yang bisa menolak pesona ini?" Ia melambai-lambaikan tangannya, berusaha menampilkan gaya model sambil tertawa.

Tyas hanya bisa menggelengkan kepala sambil terkekeh mendengar ucapan Kaesang yang makin nyeleneh. Ia merasa beruntung bisa hidup bersama seseorang yang penuh warna seperti Kaesang.

Bersambung ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!