SEASON 1
Bagaimana rasanya ketika tiba tiba kamu di jodohkan dengan seorang lelaki yang ternyata adalah Saudara sepupu Mantan kekasihMu?
Mungkin tidak masalah mereka bersaudara,tapi yang menjadi masalah adalah,kamu belum benar benar bisa melupakannya.
-
SEASON 2
Kebersamaan yang berlangsung lama, dalam atap yang sama. Nyatanya menumbuhkan cinta bagi adik kakak yang tidak memiliki hubungan darah
Daren dengan Syan
Meski usia mereka terpaut empat tahun, nyatanya Daren tidak memperdulikan hal itu, ia jatuh cinta pada kakaknya. Syan.
Dan berusaha keras untuk mendapatkan cinta sang Kakak meski ada pria lain yang dijadikan gadis itu sebagai pilihannya. Bukan Daren, tetapi pria pilihan orang tuanya yang berhasil membuat Syan berpaling dari Daren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Sebenarnya
*
*
Suara musik DJ masih menggema mendominasi seluruh ruangan, dengan orang orang gila yang sibuk berjoged ria di lantai dansa
Sedangkan dua pria itu, mereka masih terlibat perbincangan serius. Tiba tiba saja aura Juan mendadak mengubah isi ruangan VIP yang sedang mereka singgahi menjadi berbau negatif
Wajahnya memang memancarkan kekesalan saat Abram malah tertawa ringan mendengar pertanyaannya barusan
"Tawamu sungguh buruk Abram. Berhentilah tertawa!" Sungut Juan dengan kasar
"Baiklah" Sahut Abram, yang kemudian menahan tawanya kemudian benar benar berhenti tertawa
"Juan, jangan katakan padaku jika kau belum meniduri Carra sampai sekarang!"
Juan diam, setengah malu mendapat cibiran seperti itu dari Abram. Ahh menyesal dia menanyakan hal ini pada saudara sepupunya itu
"Aku bahkan lebih beruntung darimu" Sahut cuek Abram
Dan itu mampu menyulut emosi yang berada di dada Juan
"Setan!" Umpat Juan lalu dengan secepat kilat menarik kerah kemeja Abram dan mendaratkan satu pukulan tepat mengenai rahang kokoh Abram
"Apa maksudmu?" Tanya Juan. Dia belum bisa menerima kenyataan seandainya saja benar jika Carra pernah ditiduri oleh Abram
Abram masih terlihat santai, pukulan dari Juan yang sedikit melukai bibirnya bukanlah apa apa, justru ia malah tersenyum dengan menyentuh ujung bibirnya yang berdarah
*
*
Juan dengan langkah gontai memasuki mansion dan mulai menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesekali ia meringis menahan nyeri di ujung bibirnya
Tetapi panggilan dari belakang menghentikan langkahnya untuk naik
"Dady"
Juan menoleh, ia mendapati Syan yang tengah menatapnya. Lantas, Juan berbalik dan menghampirinya
"Dady, kau" Sahut khawatir Syan sambil mengelus darah kering di sudut bibir Juan
"Dady tidak papa" Sahut Juan dengan senyum menghangatkan
Kini ia menatap tajam pada Rose yang berdiri di belakang Syan, mengapa ia membiarkan Syan masih terjaga selarut ini?
Tapi Rose tidak berani berbicara, bahkan menatap mata majikannya pun yang mengintimidasi itu ia tidak sanggup. Syan yang melihatnya lantas menatap dua orang dewasa itu secara bergantian
"Dady. Rose tidak bersalah" Sahutnya, membela sang pengasuh saat bisa membaca ekspresi dari Dadyn-ya
"Aku sudah tidur, tapi aku terbangun karena lapar" Sambungnya
"Dady" Panggil Syan lagi
Lantas Juan menurunkan pandangannya. Sekarang, ia menatap putri kecilnya
"Mengapa kau tidak tidur lagi?" Tanya Juan dengan lembut, lalu menggendong Syan dan duduk di sofa dekat tangga
"Aku akan kembali ke kamar, tapi aku melihatmu. Yasudah aku memilih untuk menanyakan satu hal padamu" Sahut Syan panjang lebar
Juan mengerutkan dahi, bingung dengan apa yang akan di katakan oleh putrinya
"Kau yakin tidak papa Dad, ini pasti sakit" Sahut Syan dengan ekspresi seakan akan dia sedang kesakitan
"Ini bukanlah apa apa Syan. Lebih baik cepat katakan apa yang ingin kau katakan pada Dad" Suruh Juan
"Baiklah" Syan menyahut pasrah
"Lalu, kau akan mengatakan apa hmm?" Tanya Juan, tidak sabar
"Aku akan bertanya, dan kau harus menjawabnya dengan jujur" Sahut Syan
Juan mengangguk
"Janji?"
"Dady janji"
"Baiklah. Jadi, diantara aku dengan Momy siapa yang paling kau sayangi?" Tanya Syan dengan wajah cemberut. Mengingat perkataan Carra jika katanya Juan jauh lebih menyayangi dirinya daripada Syan
Juan yang mendapat pertanyaan itu mengernyit, heran. Mengapa Syan tiba tiba saja menanyakan hal itu?
"Mengapa tiba tiba kau menanyakan ini Syan?" Tanya Juan dengan heran
"Aku bertaruh dengan Momy. Katanya, kau sangat menyayanginya karena dia sering menemani mu tidur" Sahut Syan dengan cemberut
Juan terdiam, rasanya ia benar benar sudah menyakiti Carra. Bahkan Carra mengatakan begitu pada Syan, mengatakan jika Juan sangat menyayanginya
Juan tidak dapat membayangkan, betapa terlukanya perasaan Carra dengan sikapnya beberapa hari ini sang istri
"Katakan itu tidaklah benar Dad" Pinta Syan dengan manja
Juan tersenyum menatap putrinya yang menggantukan secercah harapan padanya
"Dady, katakan kau lebih menyayangiku!" Lagi lagi Syan memaksa
"Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu besok, kau harus mengatakannya di depan Momy" Sahut Syan, kemudian turun dari pangkuan Juan dan pergi menghampiri Rose yang masih setia berdiri di depan tangga
Kemudian berlalu ke kamarnya setelah mengucapkan selamat tidur pada Juan
Sedangkan Juan, ia memijit pelan pelipisnya. Ia benar benar bukan suami yang baik untuk Carra
*
Juan membuka pintu kamarnya tanpa suara, takut takut mengganggu istrinya yang sudah terlelap
Dalam cahaya yang masuk lewat celah jendelanya, Juan bisa melihat dengan jelas kecantikan wajah Carra yang tenang dengan tidurnya, nafasnya terdengar berhembus amat teratur. Juan membelai wajah Carra, menyibakan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya
"Maafkan aku Carra, maafkan aku" Lirihnya dengan tangan yang masih menempel di wajah Carra
FLASHBACK ON
"Tenangkan dirimu Juan!" Suruh Abram dengan santainya sambil menepis tangan Juan yang dengan erat mencengkram kerah kemejanya
Bahkan amat jelas lecek itu terlihat begitu Juan melepaskan tangannya
Juan masih menatapnya dengan tatapan mematikan, nafasnya terdengar amat memburu
"Ekhemm, dengar! Carra itu wanita yang suci" Sahut Abram kemudian yang lebih terdengar seperti teka teki di telinga Juan
"Katakan dengan jelas!" Perintahnya
Abram tersenyum sebelum kembali bersuara
"Aku tidak pernah tidur dengannya. Dia wanita baik yang berpendidikan tinggi. Yang tidak bisa dengan mudah menyerahkan kesuciannya begitu saja sekalipun pada orang yang di cintainya" Tutur Abram
"Dua tahun aku berhubungan dengannya tapi di antara kami belum pernah ada tindakan diluar batas. Carra selalu memposisikan dirinya di posisi terbaik. Menjunjung tinggi harkat martabat dan harga dirinya sebagai seorang wanita"
"Dia bukan tipikal wanita yang mudah di rayu, itulah mengapa aku sangat menghormatinya" Sahut panjang lebar Abram yang mampu memukul, bahkan menampar harga diri seorang Juan
Suami sah dari Carra. Bagaimana ia menganggap rendah istrinya sendiri yang mati matian menjunjung tinggi kehormatannya. Bagaimana mungkin Juan tidak menghargai dan mempercayainya
Bahkan ia mengeluarkan kata kata kotor yang tidak pantas untuk di dengar oleh Carra. Bagaimana mungkin Juan malah meragukan istrinya sendiri?
Abram memperhatikan perubahan raut wajah Juan, ia mengernyitkan dahi
"Juan, kau"
"Jangan katakan jika kau melukai Carra dengan kata katamu!" Sahut Abram dengan tatapan berapi api
Abram amat kenal dengan Juan, ia memang tidak pernah berbuat kasar pada wanita secara fisik. Maka Abram yakin, jika Carra menangis waktu itu adalah karena ulah ucapanny. Ucapan maut Juan
"Aku," Juan terbata
"Aku mengatakan jika dia wanita murahan!" Jujur Juan yang membuat Abram murka mendengarnya
Bahkan Abram tidak memberikan kesempatan pada Juan untuk mengambil nafas. Dengan gerakan cepat ia memukul bagian sama yang dilakukan Juan tadi padanya
Juan yang tidak mempersiapkan diri lantas tersungkur ke belakang setelah menerima pukulan tiba tiba dari Abram
Baru ia akan meraba rahangnya yang terasa perih, pukulan kedua dari Abram kembali mendarat diwajahnya. Ditempat yang sama
"Yang pertama, untuk ucapan bodohmu pada Carra! Dan yang kedua, anggap itu balasan dariku" Sahut Abram dengan nafas yang terengah engah
Juan tidak marah!
Justru ia memang pantas di salahkan, bahkan dipukuli jika perlu
Lalu Abram mengulurkan tangannya untuk membantu Juan berdiri. Juan menggapai tangan itu
Ia berdiri dan merasa sakit yang lumayan di sudut bibirnya
"Lumayan" Sahutnya kemudian
"Temui Carra dan minta maaf lah padanya jika kau tidak ingin aku merebutnya kembali!" Sahut Abram
Juan memeluknya
Pelukan persaudaraan, tanda perdamaian
"Jangan biarkan aku membunuhmu jika saja kau berani melakukannya!" Ancak Juan setengah berbisik yang membuat Abram tertawa rendah
"Aku akan segera menemui istriku" Sahut Juan setelah melepaskan pelukannya
"Pergilah" Suruh Abram
Tanpa berkata lagi, Juan meninggalkan tempat itu yang sedikit kacau karena perang saudaranya dengan Abram
Yasudah! Biar kan Abram yang mengurusnya
FLASHBACK END
Juan masih membelai wajah cantik Carra. Hatinya memang harus merasakan rasa bersalah yang cukup parah karena melukai perasaan istrinya
Ia sudah salah paham dan berburuk sangka pada Carra
Jauh diluar dugaannya jika Carra adalah wanita yang luar biasa
Juan berjanji pada dirinya sendiri, ia akan meminta maaf pada Carra, akan menjadi lebih dewasa dan mencoba menjadi suami yang jauh lebih baik untuk Carra
Menjadi ayah yang baik untuk Syan dan anak anaknya dengan Carra nanti
Juan berjanji akan mempertahankan rumah tangganya
Cup!
Kecupan selamat malam ia berikan pada Carra yang berdamai dengan tidurnya
sukses
semangat
mksh
gtu aja ko repot si juan..kau kn org berkuasa
krna dsni kyanya si jeni yg cinta mati sma juan tp juan ga prnh gubris