Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Menjaga Sang Iblis
Lorong rumah sakit khusus milik keluarga Valerius terasa seperti lorong menuju keabadian yang dingin. Dinding-dindingnya yang berwarna putih pucat memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip pelan, menciptakan suasana yang mencekam. Aruna duduk di kursi besi di depan ruang Intensive Care Unit (ICU), masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai di dermaga. Noda darah Dante yang sudah mengering di daster batiknya kini berubah warna menjadi cokelat gelap, seolah menjadi tato permanen yang mengingatkannya pada pengorbanan pria itu.
Bumi tertidur di pangkuannya, terbungkus jaket besar milik Enzo. Bocah itu akhirnya menyerah pada kelelahan setelah berjam-jam menangis dan bertanya kapan "Paman Robot" akan bangun. Aruna mengusap rambut putranya dengan tangan yang masih gemetar. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali melihat saat Dante melompat ke depan mereka, menjadi perisai hidup yang menghalangi terjangan timah panas.
"Dia masih di dalam," suara rendah Enzo memecah keheningan. Pria itu berdiri di dekat jendela, matanya tak pernah lepas dari pintu ICU. Enzo tampak lebih tua sepuluh tahun malam ini. Jasnya robek di beberapa bagian, dan ia menolak untuk diobati sampai dokter keluar memberikan kabar.
"Berapa peluru yang mengenai punggungnya?" tanya Aruna, suaranya hampir hilang.
"Dua peluru di punggung, dan satu di bahu. Tapi yang paling berbahaya adalah luka operasinya di perut yang robek total akibat tekanan fisik yang luar biasa," jawab Enzo tanpa menoleh. "Dokter bilang dia kehilangan terlalu banyak darah. Secara medis, dia seharusnya sudah mati di dermaga tadi."
Aruna menelan ludah. "Dia melakukannya demi Bumi. Dia melakukannya demi saya."
Enzo akhirnya menoleh, menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia melakukan itu karena dia mencintai kalian, Nyonya. Meskipun dia sendiri mungkin tidak akan pernah mengakuinya. Dante Valerius yang kukenal tidak pernah mempertaruhkan nyawanya untuk siapa pun kecuali untuk tujuannya sendiri. Tapi malam ini, tujuannya adalah kalian."
Tiba-tiba, pintu ICU terbuka. Seorang dokter dengan pakaian hijau bedah keluar, wajahnya kusam oleh kelelahan. Aruna dan Enzo segera berdiri.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Aruna cepat.
Dokter Miller menarik napas panjang. "Kami berhasil mengeluarkan pelurunya dan menjahit kembali luka di perutnya. Tapi Tuan Valerius kehilangan banyak fungsi kesadaran karena syok hemoragik. Dia sedang dalam masa koma induksi. Sekarang, semuanya tergantung pada keinginannya untuk bertahan hidup. Empat puluh delapan jam ke depan adalah masa paling kritis."
Aruna merasa lututnya lemas. Ia kembali terduduk di kursi. Koma. Pria sekuat Dante kini tergantung pada seutas benang tipis antara hidup dan mati.
"Bolehkah saya melihatnya?" tanya Aruna lirih.
"Hanya sebentar. Dia butuh ketenangan total," jawab dokter.
Aruna menitipkan Bumi pada Enzo, yang berjanji akan menjaganya seperti nyawanya sendiri. Ia kemudian mengenakan jubah sterilisasi dan masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan bunyi bip mesin penopang hidup.
Di sana, di tengah tumpukan kabel dan selang, Dante terbaring diam. Tidak ada lagi aura intimidasi yang biasanya memancar darinya. Wajahnya yang tegas kini tampak sangat pucat, hampir transparan di bawah cahaya lampu medis. Aruna mendekat, hatinya teriris melihat pria yang sebelumnya begitu perkasa kini tampak begitu rapuh.
Ia duduk di samping tempat tidur dan dengan ragu meraih tangan Dante. Tangan itu terasa dingin, jauh berbeda dari tangan hangat yang membelai pipinya di dermaga.
"Dante..." bisik Aruna. "Kau harus bangun. Kau bilang kau tidak bisa mati. Kau bilang kau adalah monster yang tidak punya hutang lagi. Tapi kau salah. Kau masih punya janji pada Bumi untuk melihat koleksi plesternya."
Aruna terisak pelan. "Tolong jangan tinggalkan kami sekarang. Aku baru saja mulai mengenalmu. Aku baru saja mulai memahami bahwa di balik semua kekejaman ini, ada jiwa yang kesepian yang hanya ingin dicintai."
Tak ada respon dari Dante. Hanya suara mesin ventilator yang memompa udara ke paru-parunya dengan irama yang monoton.
Saat Aruna keluar dari ruangan, ia dikejutkan oleh kehadiran sekelompok pria bersetelan jas hitam yang berkumpul di lorong. Mereka bukan anak buah Enzo. Di tengah-tengah mereka berdiri Bianca, yang tampak sangat marah.
"Minggir, Enzo! Kami harus masuk!" teriak Bianca. "Organisasi sedang kacau! Musuh-musuh kita di luar sana mulai mencium kelemahan Dante. Kita butuh keputusan sekarang, atau Valerius akan runtuh dalam semalam!"
"Tuan Dante sedang kritis, Bianca! Tidak ada yang boleh masuk!" Enzo berdiri tegak di depan pintu, tangannya sudah berada di gagang senjatanya.
"Jika dia mati, siapa yang akan memimpin? Wanita ini?" Bianca menunjuk ke arah Aruna dengan jijik. "Dia adalah alasan Dante terbaring di sana! Dia adalah kutukan bagi keluarga ini!"
Aruna melangkah maju. Rasa takut yang selama ini menghantuinya seolah menguap, digantikan oleh kekuatan baru yang ia dapatkan dari Dante. Ia berdiri di samping Enzo, menatap Bianca dengan tatapan yang dingin dan tak gentar.
"Cukup, Bianca," ucap Aruna, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang mengejutkan semua orang di sana.
Bianca tertawa sinis. "Oh, lihatlah janda kecil ini mulai berani bicara. Kau pikir karena kau memakai kalung itu, kau punya hak di sini?"
Aruna menyentuh liontin berlian hitam di lehernya. "Dante memberikan ini padaku bukan hanya sebagai perhiasan. Dia memberikannya sebagai mandat. Selama dia belum bisa bicara, aku adalah suaranya di sini. Dan aku memerintahkan kalian semua untuk kembali ke pos masing-masing."
"Kau tidak punya hak!" teriak Bianca, mencoba maju.
Enzo segera mengokang senjatanya, diikuti oleh beberapa anak buah setianya yang muncul dari sudut lorong. "Nyonya Aruna benar, Bianca. Kode etik Valerius mengatakan bahwa siapa pun yang memegang simbol perlindungan pribadi Tuan, memiliki kata akhir saat Tuan berhalangan. Pergilah sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kusesali."
Bianca menatap Aruna dengan kebencian yang mendalam, namun ia menyadari bahwa saat ini ia kalah jumlah. "Ini belum berakhir. Jika Dante tidak bangun dalam dua hari, aku sendiri yang akan memastikan kau dan anakmu didepak dari sini... atau dikubur bersamanya."
Setelah Bianca dan kelompoknya pergi, lorong kembali sunyi. Aruna bersandar di dinding, napasnya memburu. Ia tidak pernah menyangka akan terjebak dalam perebutan kekuasaan mafia.
"Terima kasih, Enzo," bisik Aruna.
"Anda melakukannya dengan baik, Nyonya," puji Enzo tulus. "Tuan Dante akan bangga jika dia melihatnya. Anda memiliki keberanian yang sama dengannya."
Dua hari berlalu seperti siksaan yang tak kunjung usai. Aruna hampir tidak pernah meninggalkan sisi Dante. Ia makan di sana, tidur di kursi di samping tempat tidurnya, dan terus bercerita tentang hal-hal kecil—tentang mimpi-mimpi Bumi, tentang rasa kopi yang ingin ia buatkan untuk Dante, dan tentang bagaimana ia mulai memaafkan masa lalu.
Pada malam kedua, saat hujan badai kembali mengguyur kota, Aruna sedang tertidur lelap dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur Dante. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah gerakan halus.
Sebuah jari yang dingin bergerak pelan di atas tangannya.
Aruna tersentak bangun. Ia menatap ke arah monitor jantung. Iramanya berubah, menjadi sedikit lebih cepat. Ia menatap wajah Dante. Kelopak mata pria itu bergetar hebat.
"Dante? Dante, bisakah kau mendengarku?" Aruna memanggil dengan penuh harap.
Perlahan, sangat perlahan, mata gelap itu terbuka. Untuk sesaat, pandangannya tampak kosong dan kabur, namun begitu ia melihat wajah Aruna di bawah cahaya lampu yang redup, sorot matanya kembali fokus.
Dante mencoba bicara, namun masker oksigen menghalanginya. Ia meraih tangan Aruna dengan sisa kekuatannya, mencengkeramnya pelan seolah memastikan bahwa wanita itu nyata dan bukan sekadar mimpi dalam komanya.
"Sstt... jangan bicara dulu. Kau sudah aman. Bumi aman," Aruna mengusap dahi Dante, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
Dante menarik napas panjang yang terasa menyakitkan. Ia menatap Aruna lama, sebuah tatapan yang penuh dengan pengakuan bahwa dunianya kini benar-benar telah berubah. Ia tidak lagi hanya berhutang nyawa; ia telah menyerahkan seluruh hatinya pada wanita yang sedang memegang tangannya ini.
Di luar, badai perlahan mereda, menyisakan keheningan malam yang damai. Sang Vulture telah kembali dari ambang kematian, bukan untuk kembali ke kegelapan, tapi untuk menjaga cahaya yang akhirnya ia temukan. Namun, baik Dante maupun Aruna tahu, bahwa perang sesungguhnya untuk mempertahankan kebahagiaan mereka baru saja akan dimulai.