NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Teritorial Sang Profesor

"Jaga bicara Anda, Clarissa."

Suara itu rendah, namun memiliki frekuensi yang sanggup menghentikan seluruh kebisingan di koridor Fakultas Arsitektur. Antares muncul dari balik belokan koridor dengan langkah yang tenang namun penuh intimidasi. Ia tidak mengenakan kacamata kerjanya, memperlihatkan tatapan mata yang gelap dan tajam, seolah sedang memindai sebuah struktur yang cacat.

Antares tidak berhenti hingga ia berdiri tepat di samping Zea. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata mahasiswa yang mulai berkerumun, ia melingkarkan tangannya di pinggang Zea, menarik gadis itu masuk ke dalam zona pribadinya yang sangat protektif.

"Mas..." cicit Zea pelan, tanpa sadar menyembunyikan wajahnya yang pucat di lengan kemeja Antares.

Antares melirik Zea sekilas dengan tatapan yang melembut sesaat, sebelum kembali menatap Clarissa dengan kedinginan yang absolut. "Sebagai Dosen Tamu yang baru bergabung, saya harap Anda lebih fokus pada kurikulum Arsitektur Berkelanjutan daripada membuat narasi tidak berdasar tentang mahasiswi saya. Etika profesional adalah fondasi utama di gedung ini, Clarissa. Jangan biarkan saya meruntuhkan karier Anda sebelum Anda sempat memberikan kuliah pertama."

Clarissa tersenyum tipis, meski tangannya yang memegang tas Hermes miliknya tampak sedikit menegang. "Aku hanya khawatir dengan kualitas mahasiswi unggulanmu, Antar. Melihatnya tampak begitu... rapuh dan tidak stabil, bukankah itu anomali bagi standar tinggi seorang Antares Bagaskara?"

"Kondisi Zea adalah tanggung jawab mutlak saya, baik secara akademik maupun personal," balas Antares dengan penekanan yang membuat para mahasiswa di sekitar mereka saling lirik. "Dan mengenai stabilitasnya, Anda tidak perlu khawatir. Zea memiliki struktur yang jauh lebih kuat daripada yang bisa Anda bayangkan."

Antares kemudian menoleh ke arah Zea, tangannya merapikan anak rambut Zea dengan gerakan yang sangat intim dan posesif. "Ayo. Bimbingan kamu akan dilakukan di ruangan saya hari ini. Oksigen di koridor ini sudah terlalu terkontaminasi oleh gangguan yang tidak perlu."

Zea hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan dirinya dituntun Antares melewati kerumunan mahasiswa yang kini mulai berbisik-bisik panas. Sarah, yang masih berdiri mematung, hanya bisa memberikan jempol secara sembunyi-sembunyi saat Zea menoleh ke belakang.

Begitu pintu ruang kerja tertutup dan kunci diputar, Zea langsung melepaskan tangan Antares dan duduk di sofa panjang dengan wajah yang ditekuk habis. "Mas! Mas tadi apa-apaan sih di koridor? Kenapa harus pakai rangkul-rangkul segala? Sekarang satu kampus pasti mikir kalau aku beneran ada 'apa-apa' sama Mas!"

Antares meletakkan tasnya di meja, lalu mendekati Zea dengan tenang. Ia berlutut di depan istrinya, mencoba meraih tangan Zea yang masih gemetar karena adrenalin dan mual. "Memang ada 'apa-apa', Zea. Kamu adalah istri saya yang sedang mengandung. Saya tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Clarissa, memandang rendah kamu."

"Tapi Mas, dia itu dosen tamu! Dia elegan, pinter, pembawaannya tenang banget... nggak kayak aku yang cuma bisa bikin Mas repot karena mual-mual terus," keluh Zea, suaranya mulai serak karena ingin menangis. "Aku malu, Mas. Aku merasa kecil banget di depan dia."

Antares menghela napas panjang, ia memegang kedua pipi Zea agar gadis itu menatap langsung ke matanya. "Zea, dengarkan saya. Clarissa mungkin punya gelar dan jam terbang, tapi dia tidak punya kunci untuk masuk ke orbit hidup saya. Kamu adalah pusat semesta saya sekarang. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan masa lalu yang bahkan sudah tidak ada dalam sistem memori saya."

Zea mengerucutkan bibirnya, masih merasa kesal. "Tetap saja! Pokoknya nanti pulang kuliah aku mau cilok Bang Jaja sama es boba! Titik! Nggak mau tahu!"

Antares terdiam sejenak, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Zea, micin dan gula sebanyak itu tidak baik untuk—"

"Tuh kan! Baru juga dibilang aku pusat semesta, mau cilok aja dilarang! Ini bayinya yang mau, Mas! Masa anaknya sendiri pelit banget sih nggak dikasih micin dikit?" potong Zea dengan jurus andalannya.

Antares memijat pangkal hidungnya, menyerah pada logika "ngidam" yang tidak ada dalam buku teks astronomi mana pun. "Baiklah. Satu porsi cilok dan satu boba setelah jam kuliah selesai. Tapi setelah itu, kamu harus minum jus kale yang disiapkan koki di rumah. Kesepakatan?"

Zea langsung tersenyum lebar dan mengangguk cepat. "Kesepakatan, Mas Antar sayang!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!