Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: THE PROTOCOL DIAKTIFKAN
#
Listrik mati.
Bukan cuma di gedung TV. Tapi di mana mana. Seluruh kota. Mungkin seluruh negara.
Di ruang kontrol lantai lima yang sekarang gelap total, Arjuna berdiri dengan napas yang berhenti. Gak bisa gerak. Gak bisa pikir.
"Apa yang terjadi?" bisiknya. Tapi gak ada yang jawab karena semua juga gak tau.
Lalu generator backup nyala. Lampu darurat menyala redup, cuma cukup untuk lihat bayangan orang.
"The Protocol," kata Ratna pelan. Suaranya bergetar. "Dia aktifkan The Protocol."
"SIAL!" Pixel pukul meja. "Kita terlambat! Kita harusnya hack sistemnya lebih dulu sebelum broadcast video!"
"Sekarang bukan waktunya nyalahin," Arjuna coba tenang meski tangannya gemetar. "Sekarang kita harus... harus apa? Apa yang kita lakuin?"
"Kita matikan sistemnya," jawab Ratna sambil buka laptop yang sekarang jalan pakai batere. "Kita hack server pusat Adrian dan matikan The Protocol sebelum..."
Gedung bergetar.
Gak banyak. Cuma sedikit. Tapi cukup untuk bikin mereka semua berhenti.
"Itu apa?" tanya Pixel.
Arjuna lari ke jendela. Lihat keluar. Dan apa yang dia lihat bikin perutnya mual.
Di luar, di jalan jalan kota, lampu lalu lintas mati. Semua mati. Mobil nabrak satu sama lain karena gak ada yang ngatur. Orang orang keluar dari gedung gedung yang gelap, berteriak, panik.
Dan di kejauhan... di kejauhan ada asap. Asap hitam yang naik ke langit.
"Kebakaran," bisiknya. "Ada kebakaran besar di sana."
"Itu distrik finansial," kata Ratna sambil ikut lihat. "Gedung gedung tinggi penuh dengan orang. Kalau sistem pemadam kebakaran mati, kalau lift mati..."
Dia gak perlu lanjutin. Mereka semua tau. Orang orang di gedung itu akan terjebak. Akan mati.
"Berapa banyak yang akan mati?" tanya Pixel pelan.
"Ribuan," jawab Ratna. "Mungkin puluhan ribu kalau kita gak matikan sistem ini cepat."
Arjuna berbalik dari jendela. "Lalu kita matikan sekarang! Ibu bilang Ibu bisa matikan dalam lima menit!"
"Lima menit kalau aku punya akses ke server fisik Adrian," koreksi Ratna. "Tapi server itu ada di gedung Axion. Di lantai paling bawah. Dijaga ketat."
"Maka kita serang gedung Axion," kata Arjuna sambil ambil pistol dari toolbox. "Sekarang."
"Dengan apa?" Pixel natap dia kayak dia gila. "Kita bertiga? Lawan puluhan bodyguard Adrian? Kau mau bunuh diri?"
"Lebih baik bunuh diri sambil coba selamatkan orang daripada sembunyi sambil liatin ribuan orang mati!"
"ARJUNA!" Ratna pegang bahunya. Kuat. "Tenang. Napas. Pikir dengan kepala dingin."
"Gimana aku bisa tenang?!" Arjuna hampir teriak. "Gimana aku bisa pikir jernih kalau di luar sana orang orang lagi mati karena kita gagal?!"
"Karena kalau kau panik, kita semua mati dan gak ada yang bisa selamatkan siapapun," jawab Ratna tegas. "Sekarang duduk. Dengarkan aku. Kita punya satu kesempatan terakhir."
Arjuna duduk. Tangannya masih gemetar tapi dia coba napas pelan. Satu. Dua. Tiga.
"Apa kesempatan itu?" tanyanya akhirnya.
"Hendrawan," jawab Ratna. "Dia punya backup plan. Dia selalu punya backup plan."
"Ayah udah mati," kata Arjuna pahit. "Dia mati di lantai tiga belas gedung apartemen waktu lindungin kita."
"Atau dia mau kita pikir dia mati," Ratna buka laptop. "Hendrawan bilang ke aku sebelum kita pisah, dia bilang 'kalau The Protocol aktif, kalau semuanya jadi chaos, percaya pada rencana cadangan'."
"Rencana cadangan apa?"
Ratna ketik sesuatu di laptop. Buka file tersembunyi. File yang passwordnya... passwordnya nama Arjuna.
"Ini," katanya sambil putar laptop.
Di layar ada video. Video dari Hendrawan. Tapi bukan video yang sama dengan yang di pembantaian. Ini video baru. Video yang direkam... yang direkam kapan? Kualitasnya bagus. Gak goyang. Hendrawan duduk di kursi dengan latar belakang yang gelap.
"Kalau kalian nonton ini," suara Hendrawan dari speaker, "berarti The Protocol sudah aktif. Berarti Adrian sudah mulai menghancurkan segalanya daripada biarkan rahasia dia terbongkar."
Arjuna mencengkeram meja. Denger suara ayahnya lagi, meski cuma dari video, bikin dadanya sakit.
"Tapi aku sudah predict ini," lanjut Hendrawan. "Sudah siapin countermeasure. Di lokasi berikut ini..."
Layar berubah. Muncul peta. Alamat di pinggiran kota.
"...ada server cadangan. Server yang aku bangun pakai copy dari sistem The Protocol. Kalau kalian bisa akses server itu, kalau Ratna bisa masuk dan jalankan program yang aku tinggalkan, kalian bisa override The Protocol. Matikan dari jarak jauh."
"Ya Tuhan," bisik Ratna. "Dia beneran siapin ini. Hendrawan beneran siapin backup."
Video lanjut. Hendrawan natap kamera dengan mata yang serius.
"Tapi ada resikonya," katanya. "Server itu ada di tempat yang berbahaya. Di territory yang dikontrol kelompok Black Serpent. Kalian harus negosiasi dengan mereka. Atau... atau kalian harus fight."
"Black Serpent lagi," gumam Pixel. "Tempat dimana Bagas mati."
"Aku tau ini berbahaya," Hendrawan tersenyum sedih. "Aku tau aku minta kalian hadapi musuh yang udah bunuh teman kalian. Tapi ini satu satunya cara. Dan Arjuna..."
Dia natap langsung ke kamera. Langsung ke anaknya yang dia tau akan nonton ini.
"Anakku. Aku tau kau marah pada ayah. Marah karena ayah bohong. Karena ayah sembunyi. Karena ayah gak cukup kuat. Dan kau benar untuk marah. Ayah memang pengecut. Memang pengkhianat. Memang... memang ayah yang buruk."
Suaranya mulai pecah sekarang.
"Tapi satu hal yang gak pernah bohong adalah cinta ayah padamu. Cinta yang bikin ayah rela mati berkali kali kalau itu artinya kau bisa hidup. Kalau itu artinya kau bisa punya masa depan yang ayah gak pernah punya."
Air mata Arjuna jatuh. Dia gak bisa tahan lagi.
"Jadi kumohon," Hendrawan dengan air mata di pipinya juga. "Kumohon anakku. Bertahan. Menang. Hidup. Dan saat semuanya berakhir, saat kau akhirnya damai, ingat ayah. Gak perlu dengan baik. Cukup ingat kalau ayah pernah mencoba. Pernah cinta. Pernah berharap kau akan jadi lebih baik dari ayah."
Video berakhir.
Layar jadi hitam.
Ruangan hening. Cuma suara napas mereka bertiga dan suara chaos dari luar.
"Kita harus pergi," kata Ratna akhirnya. "Pergi ke lokasi server cadangan itu. Sekarang."
"Tapi Sari," Arjuna ingat. "Sari masih di gedung ini. Masih dengan Adrian. Aku harus..."
"Aku yang jemput Sari," kata Pixel sambil berdiri. "Kau dan Ratna pergi ke server. Matikan The Protocol. Aku akan bawa Sari keluar dari sini."
"Sendirian? Kau gila?"
"Mungkin," Pixel senyum. Senyum yang terlihat kayak dia udah siap mati. "Tapi lebih gila lagi kalau kita semua pergi bareng dan gak ada yang matikan sistem yang lagi bunuh ribuan orang di luar sana."
Arjuna mau argue tapi dia tau Pixel benar. Mereka harus split. Harus ambil resiko.
"Hati hati," katanya akhirnya. "Dan kalau ada masalah..."
"Aku tau. Improvisasi." Pixel ambil pistol satunya. "Sekarang pergi. Waktu kita gak banyak."
Mereka keluar dari ruang kontrol lewat pintu darurat. Di luar, gedung TV udah chaos. Orang orang lari kesana kemari, berteriak, cari jalan keluar. Lampu darurat berkedip kedip bikin semuanya terlihat kayak film horor.
Arjuna dan Ratna turun tangga ke lantai satu. Keluar lewat pintu belakang. Di luar, kota terlihat kayak zona perang.
Mobil mobil yang tabrakan. Api yang membakar di beberapa tempat. Orang orang yang lari, nangis, berteriak. Suara sirene ambulans dan mobil pemadam kebakaran yang nyala tapi gak bisa kemana mana karena jalan macet total.
"Ya Tuhan," bisik Arjuna. "Ini... ini kayak kiamat."
"Ini baru awal," kata Ratna sambil lari ke arah motor yang diparkir di gang belakang. Motor tua yang dia siapin kalau kalau butuh kendaraan darurat. "Kalau kita gak matikan The Protocol dalam sejam, akan lebih buruk. Rumah sakit akan kehabisan listrik. Orang orang yang di ICU akan mati. Bank akan dirampok. Penjara akan rusuh. Ini akan jadi..."
"Anarki," sambung Arjuna.
"Tepat."
Mereka naik motor. Ratna yang nyetir karena dia lebih tau jalan. Arjuna di belakang, pegang erat sabuk Ratna, pistol di tangan satunya siap kalau ada yang serang.
Motor melaju cepat di antara mobil mobil yang macet. Nyelip di sana sini. Hampir nabrak beberapa kali tapi Ratna jagoan nyetir, dia hindari semua dengan sempurna.
Lima belas menit kemudian mereka sampe di pinggiran kota. Daerah industri yang udah ditinggalkan. Gudang gudang kosong. Jalan yang berlubang.
"Di sana," Ratna nunjuk gudang paling besar di ujung. Gudang dengan tulisan "PENYIMPANAN BAHAN KIMIA" yang udah pudar.
Mereka parkir di depan. Turun. Jalan pelan ke pintu gudang yang setengah terbuka.
"Hendrawan bilang server ada di dalam," bisik Ratna. "Tapi dia juga bilang tempat ini dijaga Black Serpent. Jadi bersiaplah untuk..."
Pintu gudang terbuka penuh tiba tiba. Lima orang keluar dengan senjata terhunus. Semua pakai jaket kulit hitam dengan logo ular.
Black Serpent.
"Berhenti di sana," salah satunya bilang. Suaranya keras, authoritative. "Ini territory privat. Kalian masuk tanpa izin."
Arjuna angkat pistolnya. "Kami gak mau masalah. Kami cuma butuh akses ke server di dalam."
"Server?" pria itu ketawa. "Gak ada server di sini. Cuma gudang kosong."
"Jangan bohong," Ratna melangkah maju. "Hendrawan Surya yang taruh server itu di sini. Dia deal dengan kalian. Bayar kalian untuk jaga."
Pria itu berhenti ketawa. Natap Ratna lebih serius sekarang.
"Hendrawan sudah mati," katanya. "Deal kami dengan dia berakhir saat dia mati."
"Tapi server masih ada kan?" tanya Arjuna. "Masih di dalam?"
"Mungkin. Mungkin tidak. Tergantung seberapa besar kalian mau bayar untuk akses."
"Kami gak punya uang," jawab Arjuna jujur. "Tapi kami punya sesuatu yang lebih penting. Kami punya kesempatan untuk selamatkan kota ini. Selamatkan keluarga kalian yang mungkin lagi terjebak di luar sana."
Pria itu diam. Mikir. Lalu dia ngangguk ke anak buahnya.
"Biar mereka masuk. Tapi kawal. Kalau mereka coba sesuatu yang mencurigakan, tembak."
Arjuna dan Ratna masuk ke gudang yang gelap. Ditemani empat bodyguard yang senjatanya gak pernah turun.
Di dalam, di tengah tumpukan kardus dan mesin mesin tua, ada satu ruangan kecil. Ruangan dengan pintu besi tebal. Pintu yang butuh password untuk buka.
"Password?" tanya Arjuna.
Ratna ketik di keypad: A-R-J-U-N-A
Pintu buka.
Di dalam ada server. Bukan server besar kayak di film film. Tapi server sederhana. Cuma beberapa komputer yang connect satu sama lain dengan kabel kabel yang rapi.
"Ini dia," bisik Ratna sambil duduk di depan salah satu komputer. "Ini server cadangan Hendrawan."
Dia mulai kerja. Jari menari di keyboard. Layar penuh dengan code yang Arjuna gak ngerti.
"Berapa lama?" tanyanya.
"Sepuluh menit untuk full override. Lima menit kalau aku skip beberapa step safety."
"Skip," kata Arjuna cepat. "Kita gak punya waktu untuk safety."
Ratna ngangguk. Ketik lebih cepat.
Sementara itu, di gedung TV, Pixel lari ke lantai empat. Ke ruang tunggu VIP dimana Sari terakhir kali masuk.
Tapi pas dia sampe, ruangan kosong.
Gak ada Sari. Gak ada Adrian. Gak ada siapapun.
"Sial," bisiknya. "Dimana mereka?"
Dia denger suara. Suara dari studio. Suara... suara orang nangis?
Dia lari ke studio. Buka pintu pelan.
Di dalam, di tengah studio yang sekarang cuma diterangi lampu darurat, Sari berlutut di lantai. Tangannya diikat di belakang. Wajahnya penuh air mata.
Dan di sebelahnya... di sebelahnya ada seseorang yang bikin jantung Pixel berhenti.
Hendrawan.
Hendrawan Surya.
Hidup.
Tapi terluka parah. Wajahnya penuh darah. Baju robek di beberapa tempat. Dan dia juga diikat. Didorong berlutut di sebelah Sari.
Adrian berdiri di depan mereka. Pistol di tangan. Senyum di wajahnya.
"Akhirnya," katanya sambil natap pintu dimana Pixel berdiri. "Akhirnya kalian semua berkumpul."
Pixel angkat pistolnya. Tangan gemetar.
"Lepaskan mereka," katanya. "Sekarang."
"Atau apa?" Adrian ketawa. "Kau akan tembak aku? Dengan tangan yang gemetar kayak gitu? Kau bahkan gak bisa pegang pistol dengan benar."
"Coba aku."
"Oke."
Adrian berbalik cepat. Tembak.
BANG.
Pixel jatuh. Pistolnya terlempar. Dia pegang pahanya yang sekarang berlubang, darah mengalir deras.
"PIXEL!" Sari berteriak.
"Jangan khawatir," kata Adrian sambil jalan ke Pixel yang terbaring kesakitan. "Dia gak akan mati. Belum. Aku mau dia hidup cukup lama untuk lihat apa yang akan aku lakukan pada kalian semua."
Dia angkat pistolnya lagi. Kali ini ke kepala Hendrawan.
"Mulai dari pengkhianat ini."
"JANGAN!" Sari raung. "KUMOHON JANGAN BUNUH DIA!"
"Kenapa tidak?" Adrian natap dia. "Dia yang mulai semua ini. Dia yang khianati aku. Dia yang... yang ambil segalanya dariku."
"Dia juga yang coba hentikan kau!" Sari nangis sekarang. "Coba hentikan kau jadi monster!"
"Tapi dia gagal," bisik Adrian. "Dan sekarang dia akan bayar."
Jari Adrian di pelatuk.
Hendrawan natap ke kamera yang masih nyala di sudut studio. Kamera yang masih broadcast ke seluruh negara meski dalam kualitas buruk karena generator backup.
Dan dia tersenyum.
Tersenyum karena dia tau.
Dia tau Arjuna nonton ini dari suatu tempat.
Dan dia tau anaknya akan datang.
Akan datang untuk selamatkan dia.
Atau mati mencoba.