Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Dalang
“Selamat bersenang-senang!”
Deza mengucapkan kalimat itu sambil tertawa kaku, nadanya bergetar, lalu menarik Arif yang sudah pucat pasi. Keduanya berlari terbirit-birit menembus kerumunan, tak berani menoleh sekali pun, seolah takut bayangan Kaelion Blackwood akan mencabut nyawa mereka dari belakang.
Stone At Black perlahan kembali bising.
Musik menghentak, lampu berkelip, dan orang-orang yang tadi sempat terdiam mulai berpura-pura seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi. Di tempat seperti ini, kejadian nyaris berujung maut bukanlah sesuatu yang layak diingat terlalu lama.
Melihat kepergian keduanya, Mirea hanya berdiri diam.
Ekspresinya biasa saja. Tidak ada sisa ketegangan di wajahnya. Bahunya tegak, napasnya stabil, seolah pisau, ancaman, dan tembakan tadi hanyalah gangguan kecil yang tidak cukup berarti.
Tatapan Mirea terangkat.
Ke atas.
Ke arah balkon VIP yang sedikit lebih gelap, tempat orang-orang berkuasa menikmati kekacauan dari kejauhan.
Di sana, Kaelion Blackwood masih berdiri dengan santai. Satu tangan masuk ke saku celana, tangan lainnya memegang pistol dengan sikap yang terlalu tenang untuk sekadar main-main. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum ramah, melainkan ekspresi seseorang yang sedang menguji sesuatu.
Dengan gerakan pelan, hampir malas, Kael mengangkat pistol itu.
Larasnya mengarah lurus.
Ke arah Mirea.
Bukan ancaman sungguhan. Tidak ada niat menembak. Itu hanya permainan kecil, memprovokasi halus.
Seketika itu juga, tubuh Mirea bereaksi. Bukan karena panik, melainkan karena ia tahu kapan harus terlihat panik.
“K-Kak Noel…” bisiknya lirih, seolah menahan tangis.
“Aku ketakutan… kakiku sampai lemas.”
Ia menunduk, bahunya sedikit gemetar. “Apa Kakak bisa bawa aku istirahat sebentar?”
Noel langsung menegang.
Segala amarah, kewaspadaan, dan ketegangan yang masih tersisa di tubuhnya langsung berubah menjadi rasa bersalah dan panik.
“Ah—iya, iya,” ucapnya cepat. “Ayo, ayo kita pergi.”
Ia langsung memegang bahu Mirea dan membawanya menjauh dari pusat keramaian, tak sedikit pun menyadari bahwa semua ketakutan yang ia lihat hanyalah topeng yang dikenakan dengan sangat rapi.
Sebelum benar-benar pergi, Mirea sempat menoleh.
Hanya sekilas.
Tatapan mereka bertemu.
Mata Mirea tampak basah, terlihat penuh ketergantungan, sementara bibirnya sedikit terbuka seolah masih berusaha menenangkan napas. Namun jauh di balik ekspresi itu, ada kilatan tipis yang hanya bisa ditangkap oleh orang yang benar-benar jeli.
Kael menyipitkan mata.
“Dia selemah ini?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
“Kok rasanya… sangat berbeda dengan cewek siang tadi?”
Pistolnya diturunkan perlahan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Kael tidak langsung yakin dengan penilaiannya sendiri.
......................
Langkah mereka baru beberapa meter menjauh ketika seorang pria berpakaian rapi menghampiri dan menahan langkah Noel dengan sopan.
“Tuan Noel,” sapanya sambil sedikit menunduk. “Tuan Boris ada di lantai dua. Apakah Anda ingin menemuinya?”
Noel berhenti.
“Tuan Boris?” alisnya berkerut, jelas berpikir.
Mirea mengintip dari balik bahu Noel. Wajahnya tampak dibuat-buat polos, matanya membulat sedikit seperti anak kecil yang penasaran.
“Orang yang ngasih tiket masuk ke Kak Noel… ya?” tanyanya pelan.
Ia menoleh ke pria itu, lalu menambahkan dengan nada lugu,
“aku mau bertemu Boris Johnson itu, Kak?”
Nada suaranya begitu lembut, begitu tidak berbahaya, hingga mustahil membayangkan apa yang sebenarnya melintas di kepalanya.
Aku mau lihat, batinnya dingin,
orang yang berani jual tiket palsu ini sebenarnya siapa.
Noel melirik adiknya. Melihat wajah Mirea yang tampak lelah dan rapuh, ia akhirnya mengangguk.
“Ya sudah,” katanya singkat. “Kalau kamu mau.”
Mereka pun menuju ke lantai dua.
......................
Baru saja sampai di lantai atas,
Mirea melihat sosok...
Deza.
Yang kembali membuat ulah.
Lagi-lagi pria itu sedang menganggu seorang perempuan ke sudut lorong. Tangan besarnya mencengkeram pergelangan si perempuan, menahan setiap usaha perlawanan. Memaksanya bercium*n.
Mirea berhenti.
Tangannya terangkat dan mencengkeram jas Noel pelan.
“Kak Noel,” panggilnya lirih.
“Hm?” Noel menoleh.
“Aku… mau ke toilet sebentar, ya Kak,” ucap Mirea pelan. “Kakak tunggu di sini ya?”
Noel menatapnya ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah. Jangan lama-lama.”
Mirea mengangguk kecil dan melangkah pergi.
Begitu pintu toilet wanita tertutup, seluruh ekspresi lembut di wajahnya menghilang.
Tatapannya berubah dingin.
Ia melangkah ke dinding, mengamati kotak tisu yang menempel di sana. Dengan gerakan tenang, ia membuka sisi belakangnya dan mengeluarkan sebuah pistol kecil yang terbungkus kain.
“Hm,” gumamnya. “Aku sudah pergi lama, tapi ternyata pistol ini masih ada di sini.”
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia keluar dari toilet dengan langkah santai.
Tanpa ragu—
Satu tembakan mengenai lampu di ujung lorong.
Cahaya pecah, ruangan menjadi lebih gelap.
Tembakan berikutnya menghancurkan CCTV.
Lampu indikator mati.
Ruangan kini remang-remang, bayangan bergerak liar di dinding.
“Masih berfungsi,” gumamnya puas.
Di saat bersamaan Deza muncul entah habis dari mana, sambil bersiul santai menghisap rokoknya.
Mirea langsung menyembunyikan pistol di balik punggungnya, pura-pura ketakutan.
“Ternyata kamu berani juga.”
Kini wajahnya terlihat jelas.
Deza melangkah mendekat, lalu membuang rokoknya ke lantai dan menginjaknya kasar.
“Berani muncul di hadapanku setelah bikin aku malu,” ujarnya dingin.
Tenang saja, Mirea sudah menyembunyikan pistol di balik punggung. Wajahnya berubah, matanya membesar, napasnya memburu.
“K-Kak Deza…” katanya gemetar.
“Aku salah… tolong jangan sakiti aku dan kakakku.”
Nada suaranya halus, penuh ketakutan.
Deza tertawa kecil dan melangkah lebih dekat.
“Sekarang minta maaf?”
“Kira-kira aku bakal lepasin kamu gitu aja?”
Mirea mundur perlahan, langkahnya goyah seolah benar-benar ketakutan.
Namun di balik punggungnya, jarinya mencengkeram pistol dengan mantap.
“Jangan harap,” ujar Deza sambil mengejek dan mendekat lagi.
Pada saat yang sama—
Di ujung lorong, Kael dan Farel melintas.
Farel menghentikan langkah Kael dengan satu gerakan santai.
“Eh, Tuan Kael.”
Kael berhenti.
Farel menunjuk ke arah sudut lorong sambil tersenyum miring.
“Tunanganmu yang lemah dan malang itu…”
“lagi-lagi ditindas.”
Kael menoleh.
Tatapannya jatuh pada sosok Mirea yang tampak...