Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah insiden penculikan yang gagal itu, Jonah—gadis yang dulunya merasa paling berkuasa di kampus—kini meringkuk di sudut ruang interogasi kantor polisi. Rambutnya yang tertata rapi kini berantakan, dan wajahnya pucat pasi saat Natalie melangkah masuk dengan gaun sutra hitamnya yang anggun, namun sorot matanya sedingin maut.
Natalie meletakkan sebuah map di depan Jonah. "Ini adalah bukti semua transaksi ilegal ayahmu, rekaman suara saat kau merencanakan penculikanku, dan daftar semua orang yang telah kau intimidasi selama ini, Jonah."
"N-Natalie, tolong... aku hanya emosi..." Jonah memohon dengan suara bergetar.
Natalie mencondongkan tubuhnya, membisikkan kata-kata yang membuat Jonah tidak bisa bernapas. "Kau menyebutku lugu, pendiam, dan domba. Sekarang, biarkan domba ini memberitahumu satu hal, Jika kau muncul lagi dalam radius satu kilometer dariku, atau mencoba menyebut namaku di depan siapa pun, aku akan memastikan sisa hidupmu dihabiskan di balik jeruji besi yang paling gelap di negeri ini. Paham?"
Jonah mengangguk cepat, gemetar ketakutan. Ia benar-benar tidak berkutik. Sejak hari itu, Jonah menghilang dari peredaran, ia terlalu takut bahkan hanya untuk sekadar menatap bayangan Natalie di media sosial.
Kembali ke hotel, suasana canggung antara Julian dan Adrian pecah saat Adrian tertawa pelan.
"Kau pikir aku seteledor itu, Julian?" tanya Adrian sambil duduk di sofa mewah. "Kau masuk ke rumahku sebagai pengawal untuk putri kesayanganku. Apakah kau benar-benar mengira aku tidak menyelidiki siapa pria yang memiliki kemampuan tempur tingkat tinggi dan aksen Italia yang kental ini?"
Julian tertegun. "Jadi Anda tahu?"
"Aku tahu kau adalah Giuliano de Medici sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di Negara ini," jawab Adrian tenang. "Aku membiarkanmu tetap di sana karena aku tahu keluargamu tidak memiliki niat buruk, dan yang terpenting... aku tahu kau bisa menjaga Natalie lebih baik daripada siapa pun. Aku hanya menunggu waktu sampai putriku sendiri yang membongkar rahasiamu."
Queen Elara tersenyum, mengelus lengan Natalie. "Ayahmu memang suka sekali bermain drama, Sayang. Dia hanya ingin melihat sejauh mana kalian bisa menyimpan rahasia ini."
Malam itu, setelah Adrian dan Queen pergi meninggalkan mereka untuk memberi "waktu privasi" yang diatur, Julian menarik Natalie kembali ke dalam pelukannya.
"Jadi, sekarang semua orang tahu siapa aku," bisik Julian, suaranya parau saat ia menciumi bahu Natalie yang terbuka. "Apa kau masih menginginkan seorang pengawal, atau seorang pangeran?"
Natalie berbalik, melingkarkan lengannya di leher Julian dengan bar-bar. "Aku menginginkan pria yang berani menghajar penculikku tadi siang."
Gairah yang sempat terputus oleh kedatangan orang tuanya kembali membakar. Di bawah cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela besar, Julian mengangkat Natalie, membawanya ke ranjang dengan penuh pemujaan. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi beban identitas.
Cumbuan mereka malam itu terasa lebih dalam dan penuh emosi. Natalie melepaskan segala ketegangannya, membiarkan Julian sang pewaris Medici Memeluknya sepanjang Hari.
Saat itu, Natalie membisikkan janji liar bahwa ia akan ikut ke Italia jika memang itu yang diperlukan untuk tetap bersama Julian.
__________________________________
1 Tahun kemudian..
Lampu-lampu kota Milan berkelap-kelip di balik jendela penthouse mewah milik keluarga Medici. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya remang temaram, ketegangan antara Natalie dan Julian mencapai puncaknya. Tidak ada lagi seragam pengawal, tidak ada lagi sekat identitas, yang ada hanyalah dua jiwa yang sedang terbakar rindu. Rasa Rindu Setelah Beberapa bulan tidak bertemu, Kini Julian bukan lagi jadi Pengawal untuk Natalie.
Dengan Ijin Sang Adrian, Kini Natalie Melanjutkan Study nya di Negara sang Kekasih.
Pria 25 Tahun itu menarik pinggang Natalie, membenturkan tubuh gadis itu perlahan ke pintu kaca balkon.
Natalie, dengan sifat bar-barnya yang tak pernah hilang, langsung melingkarkan lengannya di leher Julian, menarik pria itu masuk ke dalam ciuman yang dalam dan penuh tuntutan.
Cumbuan mereka terasa seperti badai yang melanda pantai. Julian mencumbu leher Natalie, memberikan jejak-jejak panas yang membuat Natalie mendesah pelan dan meremas rambut cokelat Julian. Tangan Julian merayap di lekuk tubuh Natalie, namun gerakannya selalu terhenti di titik yang paling hormat.
"Natalie..." bisik Julian parau di sela cumbuan mereka, napasnya memburu di depan bibir Natalie. "Aku sangat menginginkanmu. Setiap sel di tubuhku memintamu."
Natalie menarik kerah kemeja Julian, menatap mata pria itu yang kini menggelap karena gairah. "Lalu kenapa kau berhenti, Julian, aku sudah 19 Tahun!?"
Julian menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Natalie dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh pemujaan. Ia mengusap bibir Natalie yang sedikit bengkak akibat ciuman mereka menggunakan ibu jarinya.
"Karena kau adalah Ratu-ku," suara Julian terdengar bergetar namun tegas. "Aku telah bersumpah pada ayahmu, dan yang terpenting pada diriku sendiri, bahwa aku akan menjagamu. Aku ingin saat kita benar-benar menyatu nanti, itu adalah di bawah sumpah suci pernikahan kita. Aku akan menunggu, Natalie. Sesakit apa pun menahan ini, aku akan menunggu sampai kau benar-benar menjadi istriku."
Natalie tertegun. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan cepat, namun kesabaran Julian justru membuatnya merasa lebih dicintai. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan pada dunia.
"Pangeran Italia-ku ternyata sangat kolot," canda Natalie, meski matanya berkaca-kaca.
Julian tertawa kecil, menyandarkan keningnya di kening Natalie. Ia kembali mencium kening dan kedua mata Natalie dengan lembut, seolah gadis itu adalah porselen paling berharga. "Bukan kolot, Natalie. Hanya saja, kau terlalu berharga untuk sekadar pemuasan gairah sesaat. Aku ingin memilikimu selamanya, bukan hanya untuk malam ini."
Malam itu, mereka menghabiskan waktu di atas sofa besar, hanya saling berpelukan dan bertukar ciuman-ciuman kecil yang manis. Julian dengan sabar mendekap Natalie hingga gadis itu tertidur di pelukannya. Di tengah keheningan malam Milan, sang pewaris Medici itu membuktikan bahwa cinta sejatinya jauh lebih besar daripada gairah primitifnya. Ia akan menjaga Natalie, melindunginya, dan menanti hari di mana mereka bisa bersatu tanpa ada lagi batasan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍😍😍😍