Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Di Balik Pintu Tertutup
“Selamat siang, Bu Zahra.” resepsionis menundukkan kepala, memberi hormat tanpa diminta.
Ayza hanya menatap sekilas, tak perlu lama. Cukup untuk mengenali wajah yang pernah dibawa suaminya pulang ke rumah. Wanita yang diberikan hidangan istimewa dan selalu diperhatikan.
Ia menggeser tas di pundaknya, lalu kembali melangkah dengan tenang seperti biasa.
Zahra berhenti saat mereka hampir berpapasan. “Sedang apa kamu di sini?” tanyanya, nada datar, mata meneliti dari ujung cadar sampai ujung gamis.
Ayza berhenti. Bukan karena takut, bukan juga karena terkejut. Ia menoleh perlahan. “Ngurus urusan keluarga,” jawabnya singkat, tanpa emosi.
Zahra tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, tapi senyum orang yang terbiasa jarang ditolak.
“Reza ada di atas,” katanya kemudian.
“Aku tahu,” sahut Ayza lembut.
Mereka diam cukup lama hingga membuat resepsionis melirik canggung.
Zahra menaikkan alis. “Kamu menemuinya?”
Ayza mengangguk kecil. “Sudah.”
Jawaban itu membuat rahang Zahra mengeras setengah detik, hampir tak terlihat, tapi cukup.
“Lain kali,” ucap Zahra sambil melangkah mendekat setengah langkah, “kalau perlu sesuatu, kamu bisa bilang. Tak perlu repot-repot ke kantor.”
Ayza menatap lurus. “Terima kasih. Tapi aku terbiasa mengurus urusanku sendiri," suaranya tetap tenang, lalu melangkah pergi lebih dulu.
Di belakangnya, Zahra berdiri diam, jemarinya mengepal erat. “Sial,” gumamnya pelan. “Wanita itu benar-benar sulit dihadapi.”
Tatapannya mengikuti punggung Ayza yang berjalan dengan tenang keluar gedung. Wanita itu berjalan tanpa tergesa, tidak juga menoleh, seolah dunia kantor itu tak pernah menyentuhnya. Rahang Zahra mengeras. Ia membuang napas, lalu berbalik menuju lift.
Tak lama kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu ruang Reza.
Sekretaris Reza hanya mengangkat wajah, lalu mengangguk kecil memberi hormat. Tak ada yang bertanya apalagi menghalangi. Di kantor itu, semua orang tahu posisi Zahra, tapi tak satu pun tahu posisi Ayza.
Tanpa mengetuk, Zahra masuk begitu saja. Reza mengangkat wajah dari berkas di mejanya saat pintu terbuka.
“Kau datang?” tanyanya.
“Hm,” jawab Zahra singkat.
Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan duduk di pangkuan Reza.
Reza tersentak, kursinya sedikit berderit. “Ra—apa yang kau lakukan? Ini kantor.”
Zahra tersenyum tipis. Ia mengangkat telunjuk, menempelkannya ke bibir Reza. “Ssst.” Suaranya rendah. “Justru karena ini kantor.”
Reza menelan ludah, tangannya refleks menahan pinggang Zahra, lalu cepat-cepat melepaskannya. Ia menarik pelan jari Zahra dari bibirnya. “Apa maksudmu?”
Zahra melingkarkan satu lengannya ke leher Reza, mendekat hingga napas mereka bercampur. “Kamu beberapa hari ke luar kota,” bisiknya. “Aku rindu.”
Hembusan napasnya hangat di leher Reza. Bibir Zahra menyentuh kulit itu sekilas, cukup untuk membuat Reza berdehem keras.
“Ra,” katanya menahan diri. “Aku ke apartemenmu nanti malam. Sekarang aku lagi banyak kerjaan.”
Zahra mengusap rahang Reza dengan ibu jarinya. “Kau tak merindukan aku?”
“Tentu saja,” jawab Reza cepat. “Tapi aku benar-benar sibuk. Pulang dulu, ya." bujuknya, bukan karena ia tak menginginkan Zahra, justru sebaliknya.
Zahra mengerucutkan bibir. “Kau punya waktu untuk Ayza, tapi mengusir aku?”
Reza menggeleng. “Bukan begitu. Dia cuma sebentar.”
“Ngapain?”
“Minta uang. Fahri bikin masalah semalam.”
Tatapan Zahra menelusup ke mata Reza, mencari celah kebohongan. “Kamu gak bohong, 'kan?”
“Enggak.”
Zahra mempercayainya, tapi setengah hati. Bayangan pertemuannya dengan Ayza di lobby tadi masih mengganggu.
“Sampai kapan kamu mempertahankan dia?” tanyanya dingin.
Reza menghela napas. “Aku gak tahu. Bunda masih berobat. Pernikahan itu… urusan mereka.”
“Jadi kau tak akan ceraiin dia sampai orang tuamu pulang?”
Reza mengangguk. “Iya. Aku terpaksa.”
Zahra tersenyum kecil. “Dan aku harus mengerti?”
“Ra…” Reza menatapnya penuh permohonan. “Pulang dulu ya.”
Zahra tidak langsung turun. Ia menggeser sedikit posisinya, cukup untuk membuat Reza menegang.
“Kau benar-benar mengusir aku?” bisiknya.
Darah Reza berdesir. “Ra…”
Zahra mendekatkan bibirnya ke telinga Reza. “Kau tak penasaran,” bisiknya perlahan, “seperti apa rasanya melanggar batas… di ruang ini?”
Reza menoleh refleks. Dan pada jarak yang terlalu dekat untuk aman, bibir mereka bertemu. Reza buru-buru menjauh, namun Zahra menarik dasinya.
"Ra..." Reza menelan ludah kasar.
Zahra kembali menggeser duduknya. Sengaja. Reza makin menegang.
"Kau juga menginginkannya bukan?" bisik Zahra.
Ia mengecup leher Reza, bibirnya bermain di sana, jemarinya melepas dasi Reza. Reza memejamkan matanya, jakunnya turun naik, lengannya memeluk Zahra erat.
"Ra--"
Kata-katanya terpotong saat bibirnya di tutup dengan bibir Zahra. Wanita itu mengulumm lembut bibir Reza, sengaja menggeser-geser posisi duduknya membuat sesuatu di bawah sana makin memberontak.
Satu per satu kancing kemeja Reza terlepas. Suara dentingan terdengar saat ikat pinggangnya menyentuh lantai. Zahra membalik posisi duduk berhadapan dengan Reza, saling mengecup, mengulumm dan membelit lidah. Logika Reza runtuh nafsunya mengalahkan imannya.
Zahra bergerak liar, Reza memegang pinggulnya erat, matanya berkabut. Suara desa han memenuhi ruangan itu. Kursi yang menjadi tempat maksiat itu bergeser perlahan hingga menabrak dinding. Zahra bergerak makin cepat membuat Reza kehilangan akal.
"Ra...hahh..hahh ."
"Kau ..suka..." napasnya tersengal, tapi tubuhnya tak berhenti menghentak.
"Le..lebih cepat..."
Tangan Reza mencengkram pinggul itu makin erat, membantu menghentakkannya lebih cepat dan dalam.
Hingga akhirnya sepasang insan itu mende sah panjang. Tubuh mereka menegang, tapi rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh mereka, berdenyut penuh nikmat.
Namun semuanya belum berakhir. Reza mengangkat tubuh Zahra, tanpa ragu membaringkannya di sofa di pojok ruangan itu. Kali ini Reza yang memimpin permainan. Suara derit sofa dan lengu han mereka kembali mengisi ruangan itu.
Zahra memeluk erat punggung Reza yang bergerak liar di atasnya. Napas mereka memburu, tubuh mereka panas, namun rasa nikmat yang makin meningkat membuat mereka bergerak makin cepat.
Di luar ruangan itu, kantor tetap berjalan seperti biasa, semua sibuk dengan berkas dan komputer masing-masing.
Tak ada yang tahu, di balik pintu tertutup itu ada iman yang runtuh dan batas yang sedang dilanggar. Dua orang hanyut dalam nikmat duniawi, tenggelam dalam lumpur dosa.
Zahra merapikan blazernya dengan tenang seolah barusan tak terjadi apa-apa.
Reza membenahi kemejanya, ada sesak yang menekan dadanya, tapi juga ada denyut hangat yang masih terasa memabukkan.
"Nanti malam aku ada party dengan teman-temanku," ucap Zahra ringan. 'Kamu gak perlu ke apartemen."
Reza mengangguk.
"Aku pergi," ucap Zahra, lalu mengecup bibir Reza sekilas sebelum menghilang di balik pintu.
Reza menghela napas panjang. "Apa yang aku lakukan?" gumamnya mengusap kasar wajahnya.
Reza meraih tisu dengan tangan gemetar, membersihkan sisa kekacauan yang tak ingin ia lihat lebih lama.
Dadanya terasa sesak. Bukan karena menyesal sepenuhnya, melainkan karena ia tahu, barusan ia memilih jalan yang salah dan tetap melangkah.
Lalu sebuah panggilan video membuat Reza memegang.
...🔸🔸🔸...
..."Ada perempuan yang merebut dengan suara keras, ada pula yang pergi tanpa suara, dan justru itu yang paling sulit dilupakan."...
..."Tidak semua pengkhianatan terjadi di ranjang. Sebagian dimulai dari keberanian untuk membiarkan seseorang tetap ada."...
..."Ia mengira telah memenangkan segalanya, tanpa sadar kehilangan satu-satunya perempuan yang tak pernah memintanya memilih."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍