NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Ketika Garis Batas Dilanggar

Keesokan harinya, Yura kembali menginjakkan kaki di gedung yang dulu ia anggap sebagai masa depannya.

Langkahnya tenang. Wajahnya lelah, tapi matanya jernih. Ia berdiri di depan pintu ruangan atasan, mengetuk sekali sebelum masuk.

“Ada apa, Yura?” tanya atasannya, masih dengan nada formal.

Yura menarik napas. “Saya datang untuk mengajukan pengunduran diri.”

Ruangan itu hening.

Atasannya menegakkan punggung. “Apa maksudmu? Setelah semua yang kita perjuangkan?”

“Saya tidak bisa melanjutkan,” jawab Yura. “Bukan karena lelah bekerja. Tapi karena saya ingin hidup.”

Nada itu membuat atasannya terdiam sejenak.

“Kau tahu posisimu penting,” katanya kemudian. “Kita bisa atur ulang. Gajimu bisa dinaikkan. Dua kali lipat pun tidak masalah.”

Yura tersenyum kecil. Bukan tergoda melainkan iba.

“Terima kasih,” ucapnya sopan. “Tapi bukan itu yang saya cari.”

“Atau karena Arkan?” nada atasannya berubah lebih tajam.

Yura menggeleng. “Keputusan ini milik saya. Sepenuhnya.” Ia meletakkan surat pengunduran diri di atas meja. “Saya sudah memikirkannya matang. Saya tidak ingin kembali ke dunia yang membuat saya harus mengorbankan diri sendiri.”

Atasannya menatap surat itu lama. Wajahnya jelas kecewa.

“Kau menyia-nyiakan masa depan yang besar, Yura.”

Yura berdiri tegak. “Mungkin. Tapi saya sedang memilih hidup saya sendiri.”

Ia membungkuk singkat sebuah salam perpisahan yang sopan. Lalu berbalik dan melangkah keluar. Tanpa menoleh.

Dan di balik pintu yang tertutup, Yura tidak lagi merasa kehilangan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bebas.

Sejak pagi, Yura merasa ada yang tidak beres.

Bukan karena toko sepi justru terlalu ramai.

Supplier datang lebih cepat dari jadwal. Bahan baku premium tiba tanpa ia pesan. Bahkan izin usaha yang semestinya masih diproses berbulan-bulan, tiba-tiba sudah disetujui dalam semalam.

Semua terlalu… mudah.

Yura berdiri di balik meja kasir, menatap berkas izin itu dengan dahi berkerut. Matanya menyipit, otaknya bekerja cepat.

"Ini bukan kebetulan," gumamnya pelan.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Arkan:

Kita perlu bicara. Hari ini.

Yura menatap layar itu lama, lalu menguncinya tanpa membalas.

Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk.

Arkan:

Aku tidak suka diabaikan.

Yura menarik napas dalam. Tangannya mengepal, lalu ia meletakkan ponsel itu terbalik di meja.

Ia tidak mau.

Ia tidak akan datang.

Namun Arkan… tidak pernah menerima kata "tidak".

Sore itu, setelah toko tutup, Yura berjalan menuju halte bus seperti biasa. Langkahnya cepat, pikirannya masih penuh dengan kecurigaan tentang semua "kebetulan" yang terjadi hari ini.

Sebuah mobil hitam berhenti pelan di pinggir jalan.

Pintu belakang terbuka.

"Yura."

Suara itu membuat tubuhnya menegang.

Ia menoleh. Arkan.

Pria itu duduk santai di kursi belakang, menatapnya dengan tatapan yang terlalu tenang terlalu yakin.

"Maaf, aku sedang tidak ingin bicara," kata Yura dingin, melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi.

Namun sebelum ia benar-benar menjauh, dua pria berpakaian rapi bukan kasar, bukan menyeret menghalangi jalannya dengan sopan yang justru terasa lebih mengancam.

"Silakan masuk, Nona," ucap salah satu dari mereka dengan nada formal.

Yura mundur satu langkah. Rahangnya mengeras. "Ini pelecehan."

Arkan turun dari mobil. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

"Aku hanya ingin bicara," katanya. "Dan kau terus menolakku."

"Itu bukan alasan untuk..."

"Kau aman," potong Arkan cepat. Suaranya rendah, tapi tegas. "Tak ada yang akan menyakitimu."

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun dari mulut Arkan… justru terasa menakutkan.

Yura menatapnya tajam. "Kau sudah melewati batas."

Arkan mendekat. Suaranya rendah, terkendali namun penuh obsesi.

"Batas itu hanya ada kalau aku mengizinkannya."

Detik berikutnya, Yura sudah berada di dalam mobil. Bukan dengan kekerasan brutal melainkan tekanan situasi yang membuatnya tak punya pilihan.

Pintu tertutup. Mobil melaju.

Yura duduk kaku di kursi belakang. Tangannya gemetar bukan hanya karena takut, tapi karena marah. Ia menatap Arkan yang duduk di hadapannya dengan tatapan tajam.

"Kau pikir ini akan membuatku patuh?" suaranya bergetar, tapi tetap tajam. "Kau salah besar."

Arkan duduk tenang, menatapnya tanpa emosi. "Aku tidak ingin kau patuh. Aku ingin kau berhenti menjauh."

Yura tertawa kecil pahit. "Kalau begitu, kau benar-benar tidak mengenalku."

Arkan tidak menjawab. Tatapannya hanya semakin dalam.

Yura menarik napas, lalu bicara dengan nada yang lebih dingin lebih menekan.

"Kau tahu apa bedanya antara kau dan mantan atasanku yang dulu?" Yura menatap lurus ke mata Arkan. "Dia menggunakan kekuasaannya untuk menekan bawahannya. Dan kau… menggunakan kekuasaanmu untuk memaksaku masuk ke mobilmu. Sama saja."

Arkan diam. Rahangnya mengeras.

Yura melanjutkan, suaranya tetap tenang tapi menusuk.

"Kau bilang kau ingin bicara? Tapi kau bahkan tidak memberi aku pilihan. Kau bilang aku aman? Tapi aku di sini karena kau paksa. Jadi apa bedanya kau dengan pria brengsek lainnya?"

Arkan menatapnya lama. Sesuatu bergetar di matanya bukan marah, tapi… terguncang.

"Aku bukan seperti mereka," katanya pelan, tapi nadanya defensif.

"Tapi caramu sama," jawab Yura tajam. "Kau cuma pria kaya yang terbiasa dapat semua yang dia mau. Dan ketika ada satu hal yang tidak bisa kau beli kau paksa."

Keheningan jatuh di dalam mobil.

Arkan menatapnya dengan tatapan gelap. Napasnya mulai berat.

Yura terus menekan.

"Kalau kau ingin aku menghormatimu, lepaskan aku sekarang. Tapi kalau kau tetap memaksa… aku akan lihat kau persis seperti yang aku duga: pria lemah yang hanya bisa menang dengan kekuasaan."

Arkan diam. Tangannya mengepal.

Yura bisa melihatnya pria itu sedang menahan sesuatu. Emosi yang hampir meledak.

Dan kemudian.. Arkan Kehilangan Kendali

Arkan tiba-tiba menarik Yura ke arahnya.

"Kau bicara terlalu banyak," gumamnya rendah, suaranya serak penuh emosi yang tertahan.

Sebelum Yura sempat mendorong, Arkan sudah mencium bibirnya dengan paksa.

Ciuman itu keras, penuh tekanan bukan lembut, bukan penuh cinta. Tapi penuh obsesi, frustrasi, dan keinginan untuk membungkam semua kata-kata tajam Yura yang terus menusuknya.

Yura terkejut. Tubuhnya menegang.

Ia mencoba mendorong dada Arkan dengan kedua tangannya, tapi pria itu terlalu kuat.

Ciuman itu berlangsung beberapa detik sebelum Arkan akhirnya melepasnya.

Yura langsung mundur ke sudut kursi, napasnya memburu, matanya memerah antara marah, kaget, dan… terluka.

"Kau…" suaranya gemetar. "Kau gila."

Arkan menatapnya dengan napas berat. Ekspresinya gelap, penuh penyesalan dan obsesi yang bercampur aduk.

"Aku tidak bisa mendengarmu bicara seperti itu lagi," katanya serak. "Seolah aku tidak ada artinya bagimu."

Yura tertawa kecil pahit, lalu air matanya hampir jatuh tapi ia tahan.

"Kau memang tidak ada artinya bagiku," katanya dingin. "Dan sekarang… kau hanya membuatku semakin yakin aku benar soal kau."

Keheningan jatuh lagi.

Arkan menatapnya lama, lalu memalingkan wajahnya ke jendela, tangannya mengepal erat.

"Berhenti di depan," ucapnya pada supir dengan suara rendah.

Mobil berhenti.

Arkan membuka pintu tanpa menatap Yura.

"Turun," katanya pelan. "Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali."

Yura tidak perlu diperintah dua kali. Ia langsung keluar dari mobil dengan langkah gemetar.

Sebelum pintu tertutup, Arkan berbicara suaranya pelan, tapi terdengar jelas.

"Kau salah soal satu hal, Yura."

Yura berhenti, tapi tidak menoleh.

"Aku bukan pria lemah yang hanya bisa menang dengan kekuasaan," lanjut Arkan. "Tapi kau… membuatku hampir menjadi itu."

Pintu tertutup. Mobil melaju meninggalkan Yura di pinggir jalan.

Yura berdiri di pinggir jalan dengan napas yang tidak teratur.

Tangannya gemetar. Bibirnya masih terasa hangat dari ciuman paksa itu.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menarik napas panjang.

"Gila… dia benar-benar gila…"

Tapi yang membuatnya lebih takut bukan ciumannya.

Melainkan tatapan Arkan sebelum ia turun.

Tatapan yang penuh obsesi.

Tatapan yang bilang: "Aku belum selesai denganmu."

Dan malam itu, Yura tahu satu hal dengan pasti:

Arkan telah kehilangan kendali. Dan ia… telah memasuki wilayah paling berbahaya dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!