NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 17

BAB 17 — Nilai Ujian

Kertas HVS putih itu melayang di udara, mendarat dengan suara plak yang tajam di atas meja kayu Naufal.

“Naufal. Tujuh puluh lima,” suara Pak Hendra datar, tanpa emosi. “Kamu salah hitung di tiga nomor terakhir. Rumus benar, hasil akhir melenceng. Kurangi main basket, perbanyak latihan hitung desimal.”

Naufal meringis. Dia mengambil kertas ulangannya. Angka 75 tertulis dengan tinta merah besar.

“Lumayan lah, Pak. Di atas KKM dikit,” gumam Naufal membela diri, lalu melirik ke belakang, ke arah Mayang. “May, lo dapet berapa?”

Mayang menggeleng pelan. Kertasnya belum dibagikan. Jantungnya berdegup kencang di balik seragam putih abu-abunya. Telapak tangannya berkeringat dingin. Beasiswa. Hanya itu yang ada di kepalanya. Nilai di bawah 85 berarti surat peringatan dari yayasan.

Pak Hendra melanjutkan keliling kelas seperti malaikat pencabut nyawa.

“Jerry. Empat puluh. Kamu niat sekolah atau mau jadi donatur tetap?”

Kelas tertawa. Jerry nyengir tanpa dosa. “Donatur, Pak. Biar barokah.”

“Vivie,” panggil Pak Hendra.

Vivie menegakkan punggungnya. Dia yakin kali ini. Dia sudah les privat dengan tentor terbaik di Jakarta Selatan. Biayanya dua juta per sesi. Dia yakin bisa mengalahkan Vino—atau setidaknya mendekati.

Pak Hendra meletakkan kertas itu di meja Vivie. Pelan.

“Delapan puluh delapan.”

Senyum Vivie merekah, tapi sedetik kemudian luntur.

“Delapan delapan, Pak?” protes Vivie. “Kok bukan sembilan puluh? Saya yakin jawaban nomor lima benar.”

“Nomor lima kamu pakai cara cepat bimbel. Saya minta cara runut sesuai kurikulum. Hasil benar, proses instan. Saya potong dua poin,” jawab Pak Hendra tak terbantahkan.

Vivie mendengus kesal. Tapi dia melirik ke sekeliling. 88 adalah nilai tertinggi sejauh ini.

“Oke, not bad,” bisik Vivie pada Sarah. “Setidaknya gue aman. Paling tinggi di cewek-cewek.”

Pak Hendra kembali ke meja guru. Masih ada dua lembar kertas tersisa di tangannya.

Suasana kelas hening. Semua mata tertuju pada dua kertas itu. Satu milik Vino. Satu lagi milik Mayang.

“Sisa dua orang,” kata Pak Hendra. Dia memegang kertas pertama.

“Vino Al-Fatih.”

Vino, yang sedang melamun melihat awan di luar jendela, menoleh malas.

“Seratus. Sempurna. Tanpa cela.”

Pak Hendra tidak memberikan kertas itu ke meja Vino. Dia mengangkatnya, menunjukkannya ke seluruh kelas.

“Lihat ini. Tulisannya jelek seperti resep dokter, tapi logikanya tajam seperti silet. Vino menyelesaikan soal bonus dalam waktu tiga menit dengan metode substitusi yang bahkan belum saya ajarkan. Ini standar yang saya minta dari kalian.”

Vino maju, mengambil kertasnya dengan satu tangan, lalu kembali duduk tanpa senyum. Bagi Vino, nilai 100 hanyalah rutinitas. Membosankan.

“Dan yang terakhir,” Pak Hendra melihat kertas terakhir.

Kening Pak Hendra berkerut. Dia menatap kertas itu lama, lalu menatap Mayang di pojok belakang. Tatapan yang sulit diartikan. Curiga? Kagum? Atau marah?

“Mayang Sari.”

Mayang berdiri. Kakinya gemetar. Tolong, jangan di bawah 85. Tolong.

“Maju.”

Mayang berjalan ke depan kelas. Langkahnya terasa berat. Lorong meja terasa sangat panjang.

Pak Hendra menyerahkan kertas itu. Terbalik. Angkanya tidak terlihat oleh kelas.

Mayang membalik kertas itu perlahan.

Matanya terbelalak.

Di pojok kanan atas, tertulis angka 98.

Sembilan puluh delapan.

Hanya salah satu poin kecil di soal isian singkat. Sisanya benar semua.

“Sembilan puluh delapan,” umumkan Pak Hendra lantang ke seluruh kelas. “Nilai tertinggi kedua di angkatan ini. Mengalahkan kelas unggulan IPA 1.”

Glegar.

Seperti ada petir menyambar di siang bolong.

Hening. Total.

Semua mulut terbuka. Jerry menjatuhkan pulpennya. Naufal melongo.

Dan Vivie... Vivie membeku. Wajahnya yang tadinya cerah, kini pucat pasi, lalu perlahan berubah menjadi merah padam menahan amarah.

88 vs 98. Selisih sepuluh poin. Selisih yang memisahkan "Anak Pintar Hasil Les Mahal" dengan "Jenius Alami".

Mayang menatap angka itu. Matanya berkaca-kaca. Dia berhasil.

“Terima kasih, Pak,” bisik Mayang.

“Duduk,” kata Pak Hendra. “Pertahankan. Tulisanmu rapi, saya suka.”

Mayang berbalik. Dia berjalan kembali ke bangkunya dengan perasaan melayang. Dia tidak peduli tatapan orang. Dia hanya ingin pulang dan menunjukkan kertas ini pada Budhe.

Namun, saat Mayang melewati meja Vivie, sebuah tangan terulur cepat. Menahan lengan Mayang.

Cengkeramannya kuat. Kukunya menancap.

“Tunggu,” suara Vivie bergetar.

Mayang berhenti. Dia menatap Vivie.

“Ada apa, Vivie?”

Vivie berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dengan kasar. Dia merebut kertas ulangan Mayang dari tangan gadis itu.

“Hey!” protes Mayang.

Vivie melihat kertas itu. Memindai jawaban demi jawaban. Semuanya benar. Tulisannya rapi. Rumusnya tepat.

“Nggak mungkin,” desis Vivie. Dia menatap Mayang dengan nyalang. “Nggak mungkin otak udang kayak lo bisa ngerjain soal diferensial integral sebersih ini. Lo bahkan nggak punya buku paket edisi terbaru!”

“Saya belajar dari buku perpustakaan,” jawab Mayang tenang. Dia berusaha mengambil kembali kertasnya, tapi Vivie menjauhkannya.

Vivie berbalik menghadap Pak Hendra.

“Pak! Saya protes!” seru Vivie lantang. “Ini nggak masuk akal. Mayang pasti curang!”

Pak Hendra melepas kacamatanya. “Vivie, jaga tuduhanmu. Curang bagaimana?”

“Nyontek! Dia pasti nyontek!”

“Nyontek siapa?” tanya Pak Hendra. “Vino duduk di depan. Mayang di belakang. Jarak mereka enam meter. Penglihatan Mayang normal, bukan teleskop.”

“Kalau bukan Vino... pasti Naufal!” tuduh Vivie, menunjuk Naufal yang duduk di sebelah Mayang.

Naufal kaget. “Kok gue? Nilai gue cuma 75, Vie! Kalau Mayang nyontek gue, nilainya ya 75 dong, masa jadi 98? Lo kalo nuduh pake logika dikit napa!”

Kelas tertawa. Argumen Naufal valid. Mustahil menyontek orang yang lebih bodoh lalu dapat nilai lebih tinggi.

Vivie terpojok, tapi egonya menolak kalah. Dia mencari alasan lain. Matanya liar.

“Kalau gitu... bocoran!” teriak Vivie. “Dia pasti nyuri kunci jawaban! Bapak kan tahu dia sering keluar masuk ruang guru buat anterin teh atau bersih-bersih. Dia pasti ngintip soal di meja Bapak!”

Tuduhan ini lebih serius. Kelas kembali hening. Mencuri soal adalah pelanggaran berat. Sanksinya dikeluarkan.

Mayang mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Kertas ulangannya diremas oleh Vivie sampai lecek.

“Saya nggak pernah mencuri, Vivie,” suara Mayang rendah, tapi tajam. “Saya diajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain. Mungkin itu konsep yang asing buat kamu.”

“Halah! Maling mana ada yang ngaku!” Vivie melempar kertas ulangan Mayang ke lantai. Dia menginjaknya dengan sepatu hak mahalnya.

“Buktikan!” tantang Vivie. “Kalau lo emang pinter, buktikan sekarang di depan kita semua! Jangan cuma berani di kertas yang bisa dimanipulasi!”

Pak Hendra menatap situasi yang memanas. Dia guru senior. Dia bisa saja menghentikan ini. Tapi dia juga penasaran. Kenaikan nilai Mayang memang drastis. Sebagai pendidik, dia butuh validasi.

“Oke,” kata Pak Hendra. Dia mengambil kapur.

“Mayang. Vivie menantangmu. Kamu berani?”

Mayang menatap kertas ulangannya yang kotor diinjak Vivie. Harga dirinya diinjak.

Dia menatap Vivie. Lalu dia menatap Vino.

Vino duduk diam di kursinya, memutar-mutar pulpen. Dia tidak membela Mayang. Dia tidak berteriak menyuruh Vivie diam. Dia hanya menatap Mayang dengan alis terangkat.

Tatapannya berkata: Lo punya otak. Pake. Jangan cuma jadi korban.

Mayang menarik napas panjang.

“Saya berani, Pak,” kata Mayang.

“Bagus. Vivie, kamu juga maju. Kita lihat siapa yang paham konsep, siapa yang cuma hafal rumus,” kata Pak Hendra.

Vivie tersenyum sinis. “Oke. Siapa takut.”

Pak Hendra membersihkan papan tulis. Dia membaginya menjadi dua. Kiri untuk Vivie, Kanan untuk Mayang.

“Soal ini tidak ada di buku paket. Ini soal aplikasi turunan fungsi trigonometri gabungan. Tingkat kesulitan: S1 Teknik Sipil.”

Pak Hendra menulis soalnya. Panjang dan rumit.

Tentukan nilai maksimum dari fungsi f(x) \= 4 sin(x) (1 + cos(x)) pada interval 0 < x < pi.

“Mulai!”

Vivie dan Mayang memegang kapur bersamaan.

Vivie langsung menulis cepat. Dia menurunkan rumus standar yang diajarkan di bimbel. u kalikan v aksen ditambah v kalikan u aksen...

Mayang diam sejenak. Dia memandang soal itu.

Dia teringat ucapan Vino saat mereka di ruang arsip.

“Matematika itu pola, May. Jangan kejebak sama bentuk yang rumit. Sederhanakan dulu. Kalau bentuknya jelek, dandanin dulu biar cantik, baru diturunin.”

Mayang melihat 4 sin(x) (1 + cos(x)). Bentuknya jelek. Perkalian.

Mayang tidak langsung menurunkan. Dia mengalikannya dulu. 4 sin x + 4 sin x cos x. Lalu dia ingat identitas trigonometri. 2 sin x cos x \= sin 2x. Jadi: 4 sin x + 2 sin 2x.

Bentuknya jadi sederhana. Penjumlahannya mudah diturunkan.

Mayang mulai menulis. f'(x) \= 4 cos x + 4 cos 2x.

Vivie di sebelahnya masih berkutat dengan rumus perkalian yang panjang dan berpotensi salah tanda plus-minus. Keringat mulai menetes di dahi Vivie. Kapurnya patah sekali saking menekannya.

Mayang lanjut. Syarat maksimum: f'(x) \= 0. 4 (cos x + cos 2x) \= 0. cos x + (2 cos^2 x - 1) \= 0. Ini persamaan kuadrat biasa dalam bentuk cosinus.

Mayang memfaktorkan dengan cepat. (2 cos x - 1)(cos x + 1) \= 0.

Tangan Mayang bergerak luwes. Kapurnya menari. Tak tak tak. Iramanya konstan.

Di belakang, Vino tersenyum tipis. Dia pake metode penyederhanaan. Good girl.

Sementara itu, Vivie macet. Dia tersesat di baris kelima. Hasil turunannya menjadi sangat panjang dan dia bingung cara menolkannya. Dia melirik pekerjaan Mayang.

Mayang sudah sampai hasil akhir. x \= 60 derajat. Nilai maksimum \= 3 akar 3.

Mayang meletakkan kapur. Dia menepuk tangannya yang berdebu.

“Selesai, Pak.”

Waktu berlalu: 2 menit 15 detik.

Vivie masih berkeringat dingin, papan tulisnya penuh coretan tak beraturan yang belum ketemu ujungnya.

Pak Hendra melihat pekerjaan Mayang. Dia mengangguk-angguk.

“Efisien. Menggunakan identitas sudut rangkap untuk menyederhanakan fungsi awal. Cerdas.”

Pak Hendra menoleh ke Vivie.

“Vivie? Masih mau lanjut?”

Vivie menjatuhkan kapurnya. Wajahnya merah padam. Malu. Sangat malu. Dia baru saja ditelanjangi secara intelektual di depan satu kelas.

“Itu... soalnya aneh, Pak,” elak Vivie, suaranya bergetar menahan tangis. “Saya nggak pernah diajarin cara gitu di bimbel.”

“Bimbel mengajarkan cara menjawab soal. Sekolah mengajarkan cara berpikir,” kata Pak Hendra tajam. “Mayang berpikir. Kamu menghafal.”

Pak Hendra menunjuk Mayang.

“Tuduhanmu tidak terbukti, Vivie. Mayang memang layak dapat 98. Dan kamu... nilai sikapmu hari ini nol. Minta maaf ke Mayang. Sekarang.”

Kelas hening. Naufal tersenyum bangga di kursinya. Jerry bersiul pelan.

Vivie mengepalkan tangan. Meminta maaf pada anak tukang bubur? Di depan umum? Lebih baik dia mati.

Vivie menatap Mayang dengan tatapan penuh kebencian.

“Gue nggak akan minta maaf sama penipu,” desis Vivie.

Dia menyambar tasnya, lalu lari keluar kelas sambil menangis. Brak! Pintu kelas terbanting.

“Vivie! Kembali!” panggil Pak Hendra, tapi gadis itu sudah hilang.

Pak Hendra menghela napas. “Biarkan dia. Nanti saya urus di BK.”

Mayang berdiri di depan kelas. Dia tidak merasa menang. Dia merasa lelah. Kemenangan melawan Vivie selalu terasa hampa karena hanya menambah musuh baru.

Mayang berjalan kembali ke mejanya. Dia memungut kertas ulangannya yang kotor diinjak Vivie di lantai. Ada jejak sepatu hak di atas angka 98.

Dia membersihkan debunya pelan-pelan.

Saat dia duduk, dia merasakan tatapan seseorang.

Vino.

Vino memutar kursinya sedikit ke belakang.

“Satu kesalahan,” kata Vino tiba-tiba.

Mayang menoleh. “Apa?”

“Lo dapet 98. Salah satu nomor. Nomor berapa?”

Mayang melihat kertasnya. “Nomor terakhir. Soal bonus. Aku nggak sempet ngerjain karena waktunya abis.”

“Sayang banget,” kata Vino. “Padahal itu soal paling gampang.”

Vino mengambil pulpennya. Dia menarik kertas ulangan Mayang yang kotor itu.

Di bagian kosong yang ada jejak sepatunya, Vino menuliskan sesuatu.

f(x) \= infinity. Limit kesabaran lo \= tak hingga.

Vino mengembalikan kertas itu.

“Lain kali, jangan cuma buktiin lo pinter. Buktiin lo punya gigi. Vivie lari bukan karena dia kalah itungan, tapi karena dia malu. Lo harus belajar menikmati kemenangan lo dikit, Partner.”

Mayang membaca tulisan cakar ayam Vino. Dia tersenyum kecil.

“Saya nggak suka bikin orang nangis, Vino.”

“Maka lo yang bakal nangis terus. Dunia ini biner, May. Satu atau nol. Menang atau kalah. Makan atau dimakan.”

Vino kembali menghadap depan. Memasang headphone-nya lagi, menutup diri dari dunia.

Mayang menatap punggung Vino.

Makan atau dimakan. Filosofi hidup Vino begitu keras. Tapi mungkin dia benar. Hari ini Mayang tidak dimakan. Hari ini Mayang menggigit balik, meski hanya dengan kapur tulis.

Di kejauhan, Naufal melihat interaksi mereka. Dia melihat senyum Mayang pada Vino. Senyum yang berbeda dengan senyum sopan yang biasa Mayang berikan padanya.

Naufal meremas kertas ulangannya yang bernilai 75.

“Gue harus les,” gumam Naufal. “Gue harus pinter. Biar gue bisa ngobrol nyambung sama Mayang.”

Persaingan itu semakin nyata. Bukan hanya soal cinta, tapi soal siapa yang bisa mengimbangi langkah Mayang yang semakin cepat berlari ke depan.

Jam istirahat.

Mayang duduk di kantin sendirian (karena Naufal sedang mendaftar bimbel dadakan). Dia memakan bekalnya dengan tenang.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Mayang membukanya. Sebuah pesan singkat.

“Lo menang ronde ini, Upik Abu. Tapi perang belum selesai. Inget, beasiswa lo ada di tangan Yayasan. Dan Yayasan itu temen main Bapak gue. Hati-hati kalau jalan pulang.”

Tidak ada nama pengirim. Tapi Mayang tahu itu dari siapa.

Vivie.

Ancaman fisik sudah lewat. Ancaman akademis sudah gagal. Sekarang ancaman kekuasaan.

Mayang menutup ponselnya. Dia tidak takut. Dia melihat kertas ulangannya yang ada di meja. Angka 98 dan tulisan tangan Vino di sebelahnya.

Limit kesabaran \= tak hingga.

“Salah, Vino,” bisik Mayang. “Kesabaranku ada batasnya. Dan Vivie baru saja menyentuh asimtot-nya.”

Mayang menghabiskan suapan terakhir nasinya. Dia siap untuk ronde selanjutnya

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!