Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan yang Terlambat
Di taman belakang Academy, di antara rerumputan yang masih basah oleh embun, sebuah buku tua tergeletak utuh: tanpa retak, tanpa rusak, seolah tidak pernah terjatuh dari ketinggian.
Karza Jetrats berhenti melangkah.
Jubah dosennya berwarna abu-abu gelap, tanpa lambang mencolok. Wajahnya tenang, matanya tajam. Mata seseorang yang telah lama hidup bersama rahasia.
“Ini aneh,” gumamnya.
Ia berlutut, mengangkat buku itu dengan hati-hati. Beratnya tidak sesuai dengan ukurannya, terasa padat oleh waktu.
Karza mengalirkan mana tipis ke ujung jarinya.
Tidak ada reaksi.
Ia mengernyit, lalu mencoba lagi. Kali ini dengan pola sihir pembaca kuno yang biasa ia gunakan untuk manuskrip terkutuk.
Tetap kosong.
Buku itu tidak menolak.
Ia juga tidak menyambut.
Ia hanya… diam.
“Bukan segel,” gumam Karza pelan. “Ini lebih seperti ketidakselarasan.”
Ia membuka halaman pertama.
Tulisan di sana tampak pudar, hampir tidak terbaca. Huruf-hurufnya tidak rusak, namun menolak untuk dipahami. Seolah tinta itu tidak mengenali mana miliknya.
Menarik.
Karza tersenyum tipis.
Bukan senyum serakah.
Melainkan senyum seorang cendekiawan yang menemukan teka-teki murni.
“Siapa pun pemilikmu,” katanya pelan, “kau bukan buku biasa.”
Ia menutup buku itu, menyelipkannya ke dalam kantong dimensi kecil di jubahnya.
Tanpa kesadaran bahwa buku itu dipilih dan bahwa pemilik sebelumnya telah menolaknya.
Di kejauhan, di menara asrama, Lein terbangun mendadak.
Dadanya berdenyut pelan.
Raksha merasakan sesuatu bergerak, bukan ancaman langsung, melainkan pergeseran takdir.
Buku itu tidak pergi.
Ia hanya berpindah tangan.
***
Pagi di Academy Magica berjalan seperti biasa.
Suara lonceng kristal menggema pelan, murid-murid melintas di koridor dengan buku di tangan dan percakapan ringan yang saling bersahutan. Dunia tampak normal, terlalu normal bagi perasaan Lein.
Ia berjalan di samping Reyd, langkahnya sedikit tertinggal.
“Reyd…” panggilnya akhirnya.
Pangeran tampan itu menoleh, ekspresinya tenang seperti biasa. “Ada apa?”
Lein menarik napas. “Buku yang kau belikan di kota. Aku, aku sudah membuangnya.”
Reyd berhenti sejenak. “Membuangnya?”
“Iya.” Lein menunduk. “Aku tidak bisa memahaminya sama sekali. Bahasanya aneh, seperti bukan untuk dibaca.”
Reyd menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu tidak apa-apa. Buku hanya alat, Lein.”
Lein mengangguk, namun dadanya terasa berat.
Mereka kembali berjalan, tetapi pikiran Lein tertinggal di malam sebelumnya... pada buku yang jatuh ke taman, pada bunyi tumpul saat menghantam tanah.
Seharusnya aku membakarnya.
Pikiran itu muncul tiba-tiba, tajam seperti duri.
Ia mengepalkan tangan.
“Reyd…” katanya lagi, lebih pelan.
“Hmm?”
“Aku merasa bersalah.”
Reyd berhenti lagi. Kali ini ia benar-benar menatap Lein. “Kenapa? Kamu tidak salah.”
“Aku seharusnya tidak hanya membuangnya. Aku seharusnya memastikan buku itu tidak bisa ditemukan siapa pun.”
Reyd terdiam sejenak, lalu menghela napas ringan. “Lein, kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. Academy penuh penyihir. Jika buku itu berbahaya, seseorang mungkin akan menanganinya.”
Lein tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke matanya.
Di dalam dirinya, Raksha ikut terdiam.
Ia tahu...
buku itu tidak seperti yang Reyd bayangkan.
Bukan berbahaya karena sihirnya,
melainkan karena apa yang dijanjikannya.
Lein melanjutkan langkahnya, namun setiap detak jantungnya membawa firasat yang tak bisa ia singkirkan.
Bukan ketakutan.
Melainkan kesadaran bahwa ia telah melewatkan satu langkah penting.
Membuang bukanlah mengakhiri segalanya.