Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-20
Pagi hari ini adalah hari kepulangan Elisa dari rumah sakit yang disambut dengan langit yang sedikit mendung, namun udara terasa jauh lebih ringan. Dokter telah memberikan lampu hijau bagi Elisa untuk pulang, dengan syarat ia tetap harus menjaga aktivitasnya seminimal mungkin. Kontraksi rahimnya sudah mereda, dan bercak pendarahan ringan yang sempat memicu kepanikan itu telah berhenti sepenuhnya.
Kalandra tampak sibuk mengatur segalanya. Ia tidak membiarkan Elisa menyentuh tas kecil sekalipun. Dengan ketelatenan yang semakin alami, ia membantu Elisa mengenakan sepatu flat yang nyaman, lalu memakaikan kardigan wol tebal agar angin gunung tidak langsung menerpa kulit istrinya.
"Kita tidak kembali ke villa, Mas?" tanya Elisa saat melihat rute mobil yang berbeda dari arah kedatangan mereka sebelumnya.
"Kita kembali ke Jakarta, Elisa," jawab Kalandra sambil membantu Elisa duduk di kursi belakang mobil yang sudah dimodifikasi dengan bantal-bantal empuk. "Papa ingin kamu berada di bawah pengawasan dokter pribadinya di Jakarta. Lagipula, keamanan di mansion jauh lebih terjamin untuk saat ini."
Elisa mengangguk kecil. Ia sebenarnya menyukai ketenangan di Puncak, namun ia juga sadar bahwa persembunyian mereka tidak bisa berlangsung selamanya. Karena musuh yang ingin menjatuhkan sang suami sudah di batas wajar. Jadi badai di Jakarta harus dihadapi, bukan hanya dihindari.
Selama perjalanan, Kalandra tidak banyak bicara, namun tangannya terus menggenggam tangan Elisa. Sesekali ia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan bawah sadar yang seolah ingin memastikan bahwa Elisa benar-benar ada di sampingnya. Aris duduk di depan bersama Gery, asyik menceritakan pengalamannya melihat kebun teh, sementara Bimo memimpin di mobil pengawal di depan.
Mansion Mahendra menyambut mereka dengan kemegahan yang sama, namun kali ini terasa lebih hangat bagi Elisa. Nyonya Siska sudah menunggu di lobi depan, langsung memeluk Elisa dengan penuh kasih sayang begitu ia turun dari mobil.
"Selamat datang di rumah kembali, sayang. Kamarmu sudah Mama siapkan dengan aroma terapi baru yang tidak akan membuatmu mual," ujar Siska lembut.
Elisa diantar menuju kamarnya di lantai dua. Sebuah kamar yang luas dengan balkon yang menghadap ke taman belakang yang asri. Segalanya tampak sempurna, namun Elisa tahu bahwa di balik dinding-dinding mewah ini, sedang ada peperangan yang sedang berkecamuk.
Sore harinya, saat Elisa sedang beristirahat, ia mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Suara Tuan Baskoro yang menggelegar terdengar sampai ke atas, bercampur dengan suara Kalandra yang tenang namun tegas.
Elisa merasa gelisah. Ia perlahan bangkit dari tempat tidur, ia mengabaikan instruksi bed rest sejenak karena rasa ingin tahunya yang besar. Ia melangkah perlahan menuju balkon dalam yang menghadap ke ruang kerja terbuka di lantai bawah.
Di sana, ia melihat Tuan Baskoro berdiri di depan meja jati besarnya, sementara Kalandra duduk di hadapannya dengan tumpukan berkas yang berserakan.
"Dia sudah mulai berani mengirim orang untuk memotret pintu gerbang kita, Landra!" suara Baskoro terdengar penuh amarah. "Danu itu memang sudah gila. Dia pikir dia bisa menekan kita dengan cara-cara jalanan?"
"Papa tenanglah," sahut Kalandra. "Bimo sudah mengamankan orang-orang suruhannya. Mereka itu hanya pion. Yang perlu kita lakukan adalah memutuskan aliran dananya. Pak Gunawan dan pemegang saham lain sudah setuju untuk menarik dukungan dari proyek konsorsium Danu jika kita memberikan kompensasi yang tepat."
"Tapi bagaimana dengan reputasi Elisa? Foto-foto itu meskipun tidak jelas, tapi desas-desus di klub elit sudah mulai liar," Siska menimpali, suaranya terdengar cemas.
Kalandra berdiri, ia merapikan kemejanya. "Maka dari itu, Landra akan melakukan grand debut untuk Elisa. Kita akan mengadakan jamuan makan malam resmi keluarga minggu depan. Kita perkenalkan dia sebagai menantu Mahendra secara terbuka. Jika dunia melihat kita menerimanya dengan bangga, mereka tidak akan punya celah untuk menghina."
Elisa yang mendengar itu dari atas, merasa jantungnya berdegup kencang. Grand debut? Diperkenalkan secara terbuka? Ia merasa belum siap menghadapi tatapan menghakimi dari orang-orang sekelas Mahendra.
Tiba-tiba, pandangan Kalandra beralih ke atas, seolah ia merasakan keberadaan Elisa. Mata mereka bertemu. Kalandra tidak tampak marah melihat Elisa keluar dari tempat tidur, namun sorot matanya memberikan isyarat agar ia kembali masuk.
...----------------...
Malam harinya, Kalandra masuk ke kamar dengan membawa nampan makanan. Ia mendapati Elisa duduk di tepi balkon, menatap lampu-lampu taman.
"Kamu mendengar semuanya tadi?" tanya Kalandra pelan sambil menaruh nampan di meja.
Elisa menoleh, wajahnya menunjukkan kegelisahan. "Mas... apa memang harus ada jamuan makan malam itu? Saya... saya takut mempermalukan Mas. Saya tidak tahu cara bicara dengan orang-orang hebat itu. Saya hanya tahu cara mengantar pesanan makanan tepat waktu."
Kalandra berjalan mendekat, ia berlutut di depan Elisa agar posisi mata mereka sejajar. Ia mengambil kedua tangan Elisa.
"Elisa, dengarkan saya. Kamu tidak perlu menjadi orang lain. Kamu adalah istri saya. Kebahagiaanmu dan kesehatanmu adalah prioritas saya. Jamuan itu bukan untuk mengetesmu, tapi untuk membungkam mereka. Jika kamu berdiri di samping saya, tidak ada satu orang pun yang berani merendahkanmu. Karena jika mereka merendahkanmu, mereka juga merendahkan saya."
"Tapi bagaimana kalau mereka bertanya soal... masa lalu kita?" bisik Elisa.
"Kita akan katakan yang sebenarnya, namun dalam versi kita," Kalandra tersenyum tipis. "Kita akan katakan bahwa kita bertemu di saat yang tak terduga, dan saya jatuh cinta pada ketangguhanmu. Dan itu bukan sepenuhnya bohong, kan?"
Elisa tersipu. Rasa hangat kembali menjalar di dadanya. "Ush…Mas Landra pintar bicara."
"Hanya padamu," goda Kalandra.
Ia kemudian mengajak Elisa duduk di ranjang. "Makanlah dulu. Bi Inah membuatkan sup ayam jahe. Ini bagus untuk lambungmu."
Saat Elisa mulai makan, Kalandra duduk di sampingnya, memandangi perut Elisa yang masih sangat rata. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.
"Elisa, bolehkah saya…Em,,,menyentuhnya?" tanya Kalandra ragu-ragu.
Elisa tertegun, lalu mengangguk pelan. Kalandra mengulurkan tangannya yang besar, menempelkan telapak tangannya di atas perut Elisa. Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan. Kalandra memejamkan matanya, seolah sedang mencoba berkomunikasi dengan nyawa kecil di dalam sana.
Tiba-tiba, Kalandra merasakan sebuah kedutan halus. Sangat halus, hampir tidak terasa jika ia tidak fokus.
"Dia... dia bergerak?" tanya Kalandra dengan mata membelalak tak percaya.
Elisa tertawa kecil. "Secara medis, harusnya belum terasa, Mas. Mungkin itu hanya gerakan otot perut saya karena kaget tangan Mas yang dingin."
Kalandra tidak peduli dengan penjelasan medis. Baginya, kedutan itu adalah sebuah sapaan. "Apapun itu, rasanya luar biasa. Dia ada di sana, Elisa. Benar-benar ada."
Momen itu menjadi sangat intim. Tidak ada lagi jarak antara majikan dan kurir, tidak ada lagi jarak antara pria dingin dan korban. Di dalam kamar itu, hanya ada sepasang calon orang tua yang sedang menanti masa depan mereka.
Namun, kedamaian itu kembali terusik keesokan harinya. Sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim sampai di mansion Mahendra. Bimo yang menerimanya langsung membawanya ke ruang kerja Kalandra.
Di dalamnya terdapat foto-foto Elisa saat ia masih tinggal di kontrakan kumuhnya, foto saat ia menangis di pinggir jalan setelah kejadian di hotel, dan sebuah catatan singkat
...“Mahendra Group dibangun di atas fondasi kehormatan. Apakah Anda yakin fondasi itu tidak akan runtuh karena seorang wanita yang bekas orang lain?”...
Kalandra meremas surat itu hingga hancur. "Danu bener-bener main kotor. Dia mau memprovokasi Papa lewat sejarah Elisa."
"Kita harus segera bergerak, Lan," ujar Bimo. "Gue dapet info kalau Danu mau menyusupkan seseorang ke jamuan makan malam minggu depan untuk membuat kekacauan."
Kalandra menatap foto-foto itu dengan rasa perih di hatinya. Ia tidak melihat noda di sana, ia melihat perjuangan seorang gadis yang dipaksa dewasa oleh keadaan.
"Biarkan dia datang," ujar Kalandra dingin. "Kita akan buat jamuan itu menjadi kuburan bagi karier bisnisnya. Bimo, siapkan semua bukti transfer ilegal yang dilakukan Danu ke beberapa oknum pejabat. Kita akan bongkar semuanya di depan para kolega kita sendiri."
"Lo yakin? Itu risikonya besar, Lan," Bimo memperingatkan.
"Risiko terbesar saya adalah jika saya membiarkan istri saya terus dihina oleh pria pengecut itu," jawab Kalandra tanpa keraguan.
Di lantai atas, Elisa sedang membaca kembali catatan Nyonya Siska. Ia sampai pada bagian di mana Siska menulis tentang Kekuatan Seorang Ibu.
“Terkadang, perlindungan terbaik bagi anakmu bukan hanya dari pelukanmu, tapi dari keberanianmu untuk berdiri tegak di saat dunia mencoba menjatuhkanmu.”
Elisa menutup buku itu. Ia menarik napas panjang. Ia memutuskan bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi di balik punggung Kalandra. Ia harus belajar menjadi seorang Mahendra yang sesungguhnya. Jika Kalandra bersedia menerjang badai untuknya, maka ia harus menjadi pelabuhan yang kuat bagi suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat Membaca☺️🥰...
...Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya manteman🙏🏻🙌🏾❤️...
...Terimah kasih🤏🌹❤️...