Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Melamar Kamu
4 gelas teh yang dipesan ibunya langsung Kenzie antar ke ruang tamu dengan sangat hati-hati. Ia sempat melirik pada Kenzo yang duduk di ujung sofa.
"Kali ini aku nggak dendam, jadi, nggak tak kasih garam!" bathin Kenzie seraya merendahkan tubuhnya untuk meletakkan teh itu di meja.
"Silahkan di minum tehnya, Om, Tante ..," ucap Kenzie dengan sopan tanpa mempedulikan Kenzo.
"Terima kasih, Kenzie." ucap Mia.
"Ehh, mau kemana? duduk sini dulu," pinta Laras sembari menahan lengan Kenzie.
"Buu,"
Kenzie memohon dengan raut wajahnya, tetapi Laras menolak dengan gelengan kepala kecil yang disertai menyipitkan mata supaya Kenzie nurut.
Kenzie langsung menatap ke arah lain seraya menarik napas dalam-dalam. Ia meletakkan nampan di meja kecil sebelahnya lalu duduk di ujung.
Zaky, Mia, dan Laras langsung saling melempar pandangan.
"Ehheem!"
Deheman dari Kenzo langsung membuat para orangtua itu menegakkan duduknya lagi.
"Kami ini sudah sangat lama kenal sama ibumu, dan setelah ngobrol-ngobrol, ternyata kalian pernah satu sekolah ya pas masih SMP, sebelum Kenzo ikut ke Balikpapan,"
Kenzie terpaksa tersenyum.
"Mungkin Tante, saya lupa." jawab Kenzie.
Mendengar jawaban itu membuat Kenzo menatap tajam, begitu juga dengan Laras langsung merasa tidak enak hati pada Zaky dan Mia.
"Mama kok nggak pernah cerita soal itu?" protes Kenzo.
"Orang kamu nggak nanya," jawab Mia santai.
Kesalahan Kenzo adalah tidak pernah meminta untuk melihat foto seseorang yang akan dijodohkan dengannya atau sekedar bertanya tentang perjalanan sekolahnya dulu. Dan, fakta hari ini benar-benar membuatnya sangat terkejut.
"Hehe, mungkin karena sudah sangat lama ya Pak Zaky, Mbak Mia, jadi sudah lupa. Apalagi Kenzo makin tampan dan gagah aja sekarang," timpal Laras.
Kenzie langsung menoleh pada ibunya dengan bibir yang ia sunggingkan karena tidak setuju dengan alasan itu.
"Sudah-sudah, itukan dulu, yang penting untuk sekarang," ujar Zaky.
Mia dan Zaky saling melirik untuk membuat keputusan siapa yang akan menyampaikan tujuan utama datang ke rumah ini.
"Mereka mau ngomong apa sih? mencurigakan nih!" bathin Kenzie.
"Oh ya, dengar-dengar kamu bekerja di pabrik X ya?" tanya Mia.
Kenzie mengangguk, "Iya Tante,"
"Wah, kebetulan sekali Kenzo juga sering di sana karena usahanya ada di sana," balas Mia.
"Terus, emangnya penting gitu??" bathin Kenzie.
Tetapi faktanya, Kenzie hanya nyengir saja.
"Kayaknya pernah ketemu dia jalan sama cowok!" sahut Kenzo tersenyum licik.
"Kamu juga jalan sama cewekmu yang seksi itu!" balas Kenzie.
"EHM!"
Zaky menengahi pembahasan ini karena tujuannya adalah menyudahi hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing saat ini.
"Mbak Laras, Kenzie,"
"Maafkan anak saya, Pak." ucap Laras memotong Zaky yang baru menyebut namanya.
Zaky menggelengkan kepalanya lalu berdehem kecil.
"Kenzie, Mbak Laras ... tujuan utama kami kemari tentu saja bukan hanya sekedar main-main, ada satu tujuan utama yang sudah kami pertimbangkan untuk Kenzo dan Kenzie," tuturnya.
Kenzo yang sudah mengetahui tujuan itu pun hanya menghela napas malas. Sedangkan Kenzie langsung menegang karena percakapan itu sangat berat didengarkan.
"Emm, maaf, ada apa ya ini?" tanya Kenzie menatap Laras dan orangtua Kenzo bergantian.
"Maafkan Ibu, tolong dengarkan baik-baik ya," pinta Laras lirih sembari mengusap punggung tangan putrinya.
"Kenzie, tujuan kami kemari adalah melamar kamu untuk menjadi istri putra saya, Kenzo." ungkap Zaky, sedangkan Mia mengangguk dengan perasaan cemas.
"APA?!" seru Kenzie menatap sekilas pada Kenzo.
"Bu, apa ini maksudnya?!"
"Pasti Ibu sudah merencanakan ini semuanya 'kan makanya maksa banget aku harus pulang?!"
"Bu, ayo jawab aku?!"
"Eh, kamu kenapa diam aja! kamu pasti juga nggak mau 'kan dijodohkan sama aku?!" tunjuk Kenzie pada Kenzo.
Kenzie menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia kembali melirik tajam pada Kenzo yang hanya melipat kedua tangannya.
"Dia sesantai itu?" bathin Kenzie terheran-heran.
"Kenzie, Ibu mohon kamu tenang dulu ya,"
"Dengarkan dulu, Kenzie." pinta Laras merasa bersalah.
"Ibu mau alasan apa, Bu? apa?!" balas Kenzie yang langsung menangis.
"Kenapa bukan Ibu sendiri aja yang nikah?"
"Aku ikhlas kok,"
Laras menarik napas dalam-dalam, ia siap jika perjodohan ini akan berakhir dengan kegagalan ketika melihat reaksi dari putrinya yang langsung menolak keras.
"Kenzie, Ibu mohon maaf sama kamu, ini memang rencana kami," ucap Laras lirih.
"Tante juga meminta maaf untuk kamu, Kenzo." lanjutnya.
"Kami membuat kesepakatan ini sudah cukup lama, melalui pertimbangan yang tidak mudah untuk menghadapi segala kemungkinan. Ya, contohnya penolakan kalian sekarang," tutur Laras.
"Saya mau bicara sama dia dulu, hanya berdua!" ujar Kenzo langsung berdiri menatap wajah-wajah dihadapannya secara bergantian.
"Mau ngapain sih dia?!" bathin Kenzie geram.
"Nggak mau!" tolak Kenzie.
Zaky dan Mia menatap Kenzie berharap gadis itu memberi kesempatan untuk mereka mengobrol.
Kenzo menatap Kenzie dengan ekor matanya yang memberi kode untuk mengajak keluar.
"Tapi, awas ya kalau sampai macam-macam!" ancam Kenzie.
"Jangan begitu, Kenzo bukan orang jahat." ujar Laras lirih.
"Ibu tau apa tentang dia!" bathin Kenzie kesal.
Karena Kenzie masih mematung, akhirnya Kenzo langsung menarik tangan gadis itu setelah kesabarannya habis.
"LEPAS NGGAK!" seru Kenzie.
"Kenzie," panggil Laras agar putrinya itu mampu mengontrol sikapnya.
"Maaf Pak Zaky, Mbak Mia." ucap Laras.
Zaky masih tetap bersikap tenang.
"Mereka pasti akan membuat kesepakatan, kita ikuti saja permainan mereka," ujar Zaky.
"Tapi, kita harus tetap memantau mereka," balas Mia.
Sebagai seorang ibu, tentu saja Laras sangat khawatir kalau putrinya salah memilih pasangan. Melihat sikap Kenzo membuatnya sedikit khawatir, tetapi sikap Zaky dan Mia membuatnya tenang karena seolah memberikannya keyakinan.
"Dari nama mereka saja sudah sangat cocok," ujar Zaky.
Kenzo melihat kursi panjang di bawah pohon mangga yang ada di halaman rumah Kenzie. Ia langsung menuju ke sana dan Kenzie pun mengikutinya.
"Mau ngomong apa kamu?!"
"Ah elah! duduk dulu kali, anggap aja rumah sendiri." ujar Kenzo yang sudah duduk lebih dulu.
Kenzie langsung melotot dengan tangannya mengepal kuat.
Dengan terpaksa Kenzie duduk di ujung kursi yang berbahan kayu itu dengan menjaga jarak.
''Cepat mau ngomong apa!" suruh Kenzie tanpa mau menatap Kenzo.
Bukannya langsung berbicara, Kenzo justru menghisap rokok elektriknya terlebih dahulu sehingga membuat Kenzie benar-benar kesal.
"Heh! ngajak kesini cuma mau buat nemani kamu ngerokok?! bikin penyakit aja!" protes Kenzie langsung berbalik arah hendak meninggalkan.
"AW! KURANG AJAR!"
Kenzie langsung mengibaskan tangannya setelah ditarik oleh Kenzo sampai membuatnya hampir jatuh ke pelukan laki-laki itu.
Kenzie sangat kesal ketika jarak yang begitu dekat, Kenzo justru mengeluarkan asap ke wajahnya sehingga membuat Kenzie terbatuk-batuk.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍