Aku yang terjebak hubungan terlarang di luar nikah dan di tipu kekasihku yang membawaku kabur dari rumah ke kota, Tiba-tiba di lamar dan di nikahi oleh seorang Polisi yang terpaut 9 tahun lebih tua dariku. Polisi yang membantuku pulang ke rumah dan berdamai kembali dengan ayah.
Menjalani Pernikahan kilat dengan seorang pria asing yang sama sekali belum ku kenal sebelumnya, demi menebus dosa pada ayah yang sudah ku buat sedemikian hina.
"Kenapa kakak mau menikahi dan bertanggung jawab untuk seseorang yang tidak kamu kenal dengan baik?" ~ Karunia
"Karena aku tahu rasanya tidak punya orang tua." ~Anta Reza
meski begitu dia bukan sosok yang sempurna, dia memiliki kelemahan permanen yang membuatku akhirnya paham bahwa tidak ada seorang pria mau menikahi wanita asing yang mengandung anak dari orang lain dengan sukarela, sebagaimana pemikiran orang lain pada umumnya. hingga akhirnya aku mengetahui, bahwa ia memiliki alasan lain yang lebih masuk akal, selain dari yang telah dia ucapkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Orangtua yang Sesungguhnya
Aku sibuk memutar bola mata, Menghindari pandangan Kak Anta yang begitu dekat di depanku. Kami memang belum cukup lama tinggal bersama, sehingga dia mungkin tidak mengetahui kalau itu adalah tanda bahwa aku tak sanggup mendapatkan sorot matanya yang membuatku nanar dan hampir gila.
"Kalau marah memang suka gigit?"
Aku menggeleng-geleng. "Maaf,"
Kak Anta tidak mengatakan apa-apa untuk merespon jawabanku. Bayangan ketika dia menanggalkan cincin kawin dan pergi bersama Isma di penghujung sore sangat tidak bisa diterima oleh akal sehatku. Untung cuma mimpi! tapi, walau cuma mimpi tetap mempengaruhi mental dan psikologis ku. Kini, aku ketakutan bila harus membayangkan harus hidup tanpa Kak Anta.
"Sudah selesai. Untung kulitnya idak sampai robek. Oh, tadi maaf untuk apa?" katanya tiba-tiba, setelah selesai mengompres tanganku yang ada bekas gigitan.
"Maaf karena menggigit bahu kakak... "
Dia tersenyum, Manis sekali. Angin sore berhembus, menyentuh-nyentuh ujung rambutnya. Kak Anta mengambil air putih di sampingku untuk ketiga kalinya, dia selalu mengatakan; Kamu harus minum yang banyak, sebanyak air matamu yang keluar.
Aku menikmati air putih yang diberikannya, sementara dia duduk termangu, menatapku dengan senyum kecil tergores di bibirnya yang manis, sambil sesekali mencuri pandang kepadaku, dan hatiku pun gemetar karena tersentuh oleh ketampanannya. Ulala.
"Aku tidak marah kamu gigit, Malah lucu. Tapi aku kurang suka, kalau kamu menyakiti diri sendiri. Yang salah itu aku, jadi yang pantas menerimanya juga aku. Bukan kamu."
Aku bangga pada Kak Anta. Dia sebenarnya cepat beradaptasi dengan berbagai lingkungan, dia mampu menjadi sosok seperti apa pun untuk pendampingnya, hanya pembawaannya yang sering terlalu formal dan dingin, membuat dia menjadi menarik hanya dari segi fisik. Tapi, bila dia sudah membuka dirinya, dia akan tampil dengan karakter yang sesungguhnya, karakter yang hangat dan bersahaja; meski sekarang kelebihannya itu ditunjukkan mungkin sekadar untuk memenuhi perannya sebagai suamiku. Tapi, itu sama sekali bukanlah kesalahan.
Aku langsung melirik ke sana kemari. Tersipu-sipu karena senyum manisnya yang meluluhlantakkan pertahanan diriku.
"Jangan melihat pada masa lalu,"
Begitu mendengar celetukannya itu, Aku langsung berhenti. Pandanganku kini hanya fokus pada sosok pria yang duduk manis di depanku. Dia melempar tatapan masam ke arahku, sebanyak mungkin lontaran agar aku mau menanggapinya.
"Meski bukan aku yang melakukannya, tapi, Kalau aku sudah menikahimu, maka anakmu juga adalah anak ku. Soal tadi pagi, aku memang salah karena tidak dengar penjelasan kamu terlebih dahulu." Kak Anta merem4s-r3mas Kain kompres di tangannya.
"Jangan selalu berpikir bahwa ayah anak ini hanya pria yang menghamilimu saja. Aku sedikit terganggu saat kamu mengatakan begitu."
Seraya menggertakkan gigi, Kak Anta beranjak dari kursi dan berdiri membawa baskom kompres dan lapnya. Ketika hendak berbelok meninggalkan ruang makan, dia kembali menatapku dan berkata, "Kamu kelihatan kusut. Jangan marah lagi padaku!"
Aku merasa seolah baru saja dilindas truk trailer delapan belas ban. Barusan dia seperti tengah merayuku untuk melupakan kekhilafannya. Dia itu, selalu bisa diandalkan untuk berbicara terus terang. Tetapi inilah salah satu waktu Kak Anta tidak ingin mendengar jalan pikiran ku terungkap dalam bentuk kata-kata.
Jika dia tersinggung karena aku mengatakan bahwa ini bukan anaknya, bukankah itu berarti bahwa dia menginginkan agar aku menganggap bahwa kami memang keluarga yang sempurna? Sial. Apakah dia cemburu karena mengesampingkan statusnya? arghh ... Kak Anta mengapa kamu sulit ditebak.
Bahkan meskipun selama ini dia mencintai Mbak Isma, melihat sikapnya selama ini, aku berani bersumpah Kak Anta itu menaruh perasaan terhadapku. Walau mungkin sedikit... Ketegangan sensual yang terjadi di antara kami tempo hari, bahkan hari ini terasa begitu kental, sehingga aku bisa membayangkan seandainya aku menyentuh Kak Anta, dan dia menyentuhku, kami berdua seketika akan terbakar.
Kak Anta....
Selalu mampu membuat orang lain berada dalam keadaan bingung dan dilema.
Dengan perasaan seperti sekarang, seandainya Kak Anta tidak buru-buru pergi dari tempat ini, aku mungkin akan menghambur kepadanya dan memaafkannya. Apa saja agar aku bisa berada lagi di dalam pelukannya, seperti tadi. Ketika dia membisikkan kata maaf saat aku tenggelam dalam dadanya, bahkan hanya beberapa detik sentuhan fisik dia mampu menenangkan hatiku yang terusik.
Sementara seluruh indra ku berputar pada bayangan Kak Anta, aku di kejutkan oleh suara serak basah yang menggambarkan kemaskulinan suamiku yang luar biasa, "Mau duduk di situ terus?"
"Hah?"
Aku menoleh ke belakang, rupanya sudah ada Kak Anta yang datang bawa susu dan suplemen ibu hamil yang baru kami dapatkan tadi bagi saat periksa kandungan dengan Dokter Rani, kakak Rambo, sahabat Kak Anta.
"Sebenarnya aku kurang mengerti, tapi seingatku suplemen ini bisa membantu mengembalikan nutrisi ibu hamil yang sudah nangis seharian sampai pingsan."
Aku tersenyum kecut. "Kakak cuma mengada-ngada."
Begitu menarik kursi di depanku, Kak Anta mendudukinya dan membantu buka bungkus suplemen untukku. "Apa mungkin aku berbohong padamu?"
Pemandangan langit di penghujung senja hari ini pun akan kalah bila di sandingkan dengan tingkah Kak Anta yang begitu lembut dan menenangkan. Rasanya jantungku mau copot karena terlalu terpesona dalam perlaakuannya yang menghanyutkan. Tapi, ah, indahnya. Aku harus tetap tenang, tidak gugup; meski kenyataannya aku hanya bisa berpura-pura tenang dan berpura-pura tidak gugup.
Ku telan suplemennya, barulah setelah itu ku reguk susu ibu hamil yang dibuatkannya. Awalnya enak-enak saja, apalagi kalau sambil melihat Kak Anta.
Dari kejauhan sana, di sebelah barat cakrawala, mendung tebal menggantung, seakan mengancamku. Lengkap dengan Sorot mata dan perilaku Suamiku yang demikian menghanyutkan, entah bagaimana ia begitu mampu mencuri maaf dariku di balik pembawaan dirinya yang kaku. Tetapi, senyumannya itu tak bisa membohongi ku. Aku jatuh cinta pada lengkungan bibirnya.
"Aw," Kataku merintih.
Tiba-tiba saja perutku keram, sontak saja ku tekan untuk mengurangi sakitnya. Namun, beruntungnya aku, karena Kak Anta menghalanginya.
"Kenapa?" dia menatapku lekat-lekat. lagi-lagi dengan ekspresinya yang menyimpan rasa khawatir dan takut.
"Keram... "
Lalu setelah mendengar jawabanku, Kak Anta mendorong kursinya dan berlutut di hadapanku. layaknya seorang Pangeran yang melamar Cinderella. sayangnya, Aku tidak semenarik itu untuk disebut begitu, hanya keberuntungannya saja yang sama. Kak Anta mendekat Dan menempelkan wajahnya di perutku.
"Aku mendengar sesuatu... " Katanya, "Dia marah karena telat diberi makan oleh ibunya."
Kak Anta mengangkat wajahnya dan tersenyum kepadaku.
Oh, syukurlah. Kupikir dia mendengar suara debar jantungku yang demikian kencang Karena dia bersikap sangat intim hari ini.
"Ma-mana mungkin dia bicara begitu!" Aku mulai menampakan gugup yang dari tadi menggerayangi tubuh. Kaki ku sampai gemetaran karenanya.
Kak Anta tak menjawab apa pun, dia hanya menyunggingkan kedua ujung bibirnya, tersenyum. Hingga kemudian, perasaan berdebar itu semakin kencang saat Kak Anta mengelus perutku dengan tangannya yang besar. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi sebelumnya. Sungguh sial. Aku jadi tersipu-sipu...
"Cukup kak cukup, apa yang kakak lakukan?"
Aku berkata sekadar agar dia menghentikan sentuhan itu, dan selamat lah jantungku. tetapi yang lebih mengejutkan adalah saat dia berkata;
"Biar anak ini tahu, kalau ayahnya sedang menyapa."
Dasar Kak Anta yang menyebalkan. Dalam satu hari saja dia mampu menaikturunkan emosiku, mampu mengendalikan detak jantungku dengan hebat. Dia bisa membuatku membencinya, namun dalam satu waktu juga dia mampu membuatku tak sanggup jika harus kehilangan dia.
Bicara tentang ayah, aku jadi teringat tentang pertemuan terakhirku dengan Petra. Saat itu dia mengatakan hal yang membuatku cukup terkejut dan penasaran, yaitu ketika dia tidak sengaja mengucapkan tentang pernikahanku dan tentang suamiku.
"Kak... "
"Hm?"
"Kakak tahu siapa pria yang sudah menghamili aku?"
...****************...
Halo bestt...
Sebelumnya author mohon maaf mau cerita sedikit tentang ini...
Kemarin rupanya saat mengajukan kontrak karya "I LOVE U! SUAMI DADAKAN" ada kendala tentang pernikahan di bawah umur antara Kak Anta dengan Karunia yang terpaut 11 tahun (problemnya mungkin author skip di sini; detailnya bisa dilihat di sorotan instagram author), dan Editor menyarankan agar author revisi.
Karena itu author mohon maaf dengan berat hati, Usia dan Plot awal tentang Karunia terpaksa author ubah. Yang tadinya 17 tahun author up jadi 19 tahun, yang tadinya berhenti di kelas 2 SMA author up jadi baru lulus. Yang tadinya beda usia 11 tahun jadi terpaksa diubah menjadi 9 tahun.
Agak sedih, karena plot yang sudah author pikirkan dengan matang biar mereka saling berkaitan. Dan hubungan antara pemimpin yang dewasa dengan gadis kecil yang masih labil kehilangan arah terpaksa diganti. Semoga perubahan ini tidak merubah vibes para tokoh novel ini. Aamiin...
Akhir kata, jangan lupa mampir ke karya besttiee kita satu ini 🤝