NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh

Arka melangkah mendekati mamanya tanpa banyak ekspresi. Tangannya terulur, bukan untuk menyentuh wanita itu, melainkan ke arah Revan. Bocah itu langsung mengerti, meraih leher Arka dan naik ke gendongan dengan lincah.

“Ayo masuk, Ma,” ucap Arka singkat. Nada suaranya terdengar datar, tapi jelas mengandung perintah halus.

Mama Ratna menatap putranya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Ada banyak hal di balik tatapan itu. Penilaian, kekhawatiran, juga rasa ingin tahu yang belum terjawab. Namun, ia tidak membantah. Ia mengangguk pelan dan mengikuti langkah Arka menuju pintu belakang.

Revan melambai ke arah Alana. “Mbak, nanti ikut, ya!”

Alana tersenyum kecil dan mengangguk. “Iya.”

Namun ia tidak langsung menyusul. Ia menunggu sampai mereka benar-benar masuk ke dalam rumah. Setelah itu, barulah ia menarik napas panjang. Dadanya terasa sedikit sesak, meski ia sendiri tak yakin kenapa.

Alana menunduk, membereskan bola kecil yang tadi mereka mainkan, lalu berjalan pelan ke arah dapur. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.

Ruang keluarga rumah itu luas dan elegan. Sofa abu-abu besar menghadap jendela dengan tirai tipis. Cahaya pagi masuk lembut, membuat ruangan itu terasa hangat.

Arka menurunkan Revan di sofa. Bocah itu langsung meloncat-loncat kecil, lalu duduk di samping neneknya dengan antusias.

“Nenek udah lama nggak ke sini? Revan kok tak kenal,," ucap Revan polos.

Mama Ratna tersenyum sambil mengelus kepala cucunya. “Nenek banyak urusan. Tapi sekarang, nenek punya waktu.”

Tatapannya lalu beralih ke Arka. “Kamu kelihatan lebih kurus,” ucapnya, seolah itu hal paling penting yang harus dibahas.

Arka duduk di kursi seberang mereka. “Mama juga kelihatan capek.”

Mama Ratna terkekeh pelan. “Kamu masih suka menjawab seperti itu.”

Bi Marni datang membawa teh hangat dan beberapa camilan. Ia menyapa Mama Ratna dengan hormat, lalu mundur dengan tenang.

Arka menyandarkan punggung, menyilangkan kaki. “Bagaimana keadaan Mama? Perjalanan lancar?”

“Lancar,” jawab Mama Ratna. “Dokter bilang kondisi jantung Mama stabil. Jangan lihat Mama seperti orang rapuh.”

Arka mengangguk singkat. “Aku tidak pernah menganggap Mama rapuh.”

Hening sebentar menyelimuti ruangan. Revan sibuk membuka biskuit, tak menyadari ketegangan halus antara Oom dan neneknya.

Mama Ratna menghela napas, lalu kembali ke topik yang jelas belum selesai di pikirannya. “ “Siapa gadis itu yang di taman tadi?”

Arka tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir tehnya, menyesap perlahan, seolah pertanyaan itu bisa menunggu.

Mama Ratna memperhatikan sikap putranya dengan saksama. Ia mengenal Arka sejak kecil. Ia tahu, diam Arka bukan berarti tidak mendengar. Itu berarti sedang memilih.

“Dia terlihat dekat dengan Revan,” lanjut Mama Ratna. “Dan kamu juga seperti dekat dengannya.”

Revan menoleh cepat. “Mbak Alana baik banget, Nek. Dia suka main sama aku.”

Arka melirik Revan. “Makan dulu.” Revan cemberut sebentar mendengar teguran, tapi menurut.

Mama Ratna menyipitkan mata. “Namanya Alana?”

“Iya,” jawab Arka singkat.

“Lalu?” Mama Ratna menunggu.

Arka akhirnya meletakkan cangkirnya. Tatapannya lurus, suaranya tenang. “Dia pengasuh Revan.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak berlebihan. Tidak diberi penjelasan tambahan.

Mama Ratna mengangkat alis. “Pengasuh?”

“Iya.”

Mama Ratna terdiam. Ia kembali mengingat sosok Alana di taman tadi. Cara gadis itu tertawa. Cara Revan memeluknya. Cara Arka yang jarang ia lihat, ikut bermain tanpa keberatan.

“Pengasuh yang tinggal di rumah ini?” tanya mama Ratna lagi.

“Iya.”

Mama Ratna menatap Arka lama. “Kamu percaya pada orang asing untuk mengurus Revan?”

Arka membalas tatapan itu tanpa gentar. “Dia bukan orang sembarangan.”

Itu satu-satunya pembelaan yang keluar dari mulut Arka. Dan justru itulah yang membuat Mama Ratna makin tertarik. Arka tahu kalau Alana tadi mendengar semua ucapannya dengan sang mama, tapi dia tak mau jujur karena tak mau Mama Ratna nanti memarahi Alana, bahkan mungkin mengusirnya jika tahu dia telah menikahinya.

Namun ia tidak melanjutkan. Ia tersenyum tipis, lalu menepuk tangan Revan. “Sudah kenyang?”

“Sudah,” jawab Revan ceria.

“Bagus.”

Di dapur, Alana membantu Bi Marni memotong sayur. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya melayang ke ruang keluarga. Suara-suara dari sana samar terdengar.

Ia tidak berniat menguping. Ia hanya kebetulan mendengar.

“Dia pengasuh Revan.” Suara Arka terdengar jelas saat menjawab pertanyaan mamanya.

Tangan Alana sedikit gemetar. Pisau di tangannya berhenti sejenak, lalu kembali bergerak. Ia menelan ludah, berusaha menenangkan diri.

Bi Marni meliriknya. “Mbak Alana nggak apa-apa?”

Alana tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bi.”

Dia sadar posisinya yang hanya sebagai istri kontrak. Tak boleh menuntut apapun.

Tapi tetap saja, saat mendengarkan secara langsung rasanya seperti ditegaskan kembali bahwa tempatnya memang di sana. Di belakang. Di luar lingkaran keluarga itu.

Alana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Bi,” ucapnya pelan. “Saya lanjut masak sup aja, ya.”

Bi Marni mengangguk. “Iya, Mbak.”

Sementara itu di ruang keluarga, Mama Ratna berdiri dan berjalan mendekati jendela. Ia menatap taman belakang, yang kini kembali sepi.

“Kamu berubah,” ucap Mama Ratna tiba-tiba.

Arka menoleh. “Dalam hal apa?”

“Kamu biarkan orang masuk ke hidup kamu,” jawab Mama Ratna tenang. “Itu tidak biasa.”

Arka tidak menjawab. Apa yang mama Ratna katakan itu benar. Sejak berpisah dengan kekasihnya Celine, dia tak pernah dekat dengan wanita manapun.

Mama Ratna menoleh kembali. “Mama tidak menuduh. Mama hanya mengamati.”

Revan menyela dengan polos. “Om Arka sekarang suka main sama aku.”

Arka mengusap kepala Revan. “Om suka bermain denganmu.”

Mama Ratna tersenyum kecil. “Mungkin.”

Mama akan tinggal beberapa hari.”

Arka mengangguk. “Kamar Mama sudah disiapkan.”

“Bagus.”

Hening kembali tercipta. Tapi kali ini tidak canggung. Hanya penuh pikiran masing-masing.

Malam ini, rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Kehadiran Mama Ratna membawa perubahan kecil, pengawal bertambah, jadwal makan lebih teratur, dan suasana jadi sedikit lebih tegang.

Alana berusaha menjalankan rutinitas seperti biasa. Ia menyiapkan makan malam, menemani Revan belajar, lalu memastikan bocah itu tidur tepat waktu.

Saat ia keluar dari kamar Revan, Arka berdiri di lorong. Seolah sudah menunggunya.

“Revan sudah tidur?” tanya Arka.

“Sudah,” jawab Alana pelan.

Arka mengangguk. “Terima kasih.”

Alana tersenyum kecil. “Sama-sama.”

Ada jeda canggung. Alana berniat pamit, tapi suara Arka menahannya.

“Soal tadi .…”

Alana menoleh. “Iya?”

Arka tampak ragu sejenak. “Mama memang seperti itu.”

Alana mengangguk pelan. “Saya mengerti.”

“Dan .…” Arka berhenti. “Dan mengenai ucapanku mengenai status kamu di rumah ini ....”

“Saya tahu,” potong Alana cepat, suaranya tetap lembut. “Saya pengasuh Revan. Itu saja.”

Arka menatapnya. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal, tapi ia tidak tahu harus berkata apa.

Alana menunduk sedikit. “Kalau tidak ada lagi, saya permisi.”

Arka mengangguk. Alana berjalan menjauh. Setiap langkahnya terasa lebih berat. Tapi ia menegakkan punggung. Ia tidak ingin terlihat rapuh.

Di kamarnya, Alana duduk di tepi ranjang. Ia memejamkan mata, membiarkan perasaan itu lewat begitu saja.

Arka mengingatkan dirinya sendiri, ini hanya kontrak. Tidak lebih. Namun entah kenapa, sekuat apa pun dia mencoba bertahan, malam itu, air matanya tetap jatuh. Pelan. Tanpa suara.

Dan di kamar lain, Arka berdiri lama di depan jendela. Tatapannya kosong. Pikirannya penuh dengan satu wajah yang seharusnya tidak terlalu berarti baginya.

1
ElHi
semogaaa si Revan tantrum sampe sakit mikirin Alana biar keluarga sombong itu tau rasa!!! cerai aja Alana...sama Rafael ajaah...*)ngarep mode on
Tiara Bella
si Arkan kemana dia sampe gk tw klu Alana diusir sm mmhnya dia.....
Patrick Khan
emak arka jahat bgt . 🔥
muhammad ihsan
jangan pisahkan alana dan arka thor
Maria Kibtiyah
semoga si arka tau alana di usir emaknya
Suanti
semoga aja berjodoh sm rafael
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭
astr.id_est 🌻
mewek 😢
astr.id_est 🌻
alana yang malang
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ida Nur Hidayati
semoga Alana ditolong orang baik dan iklas
Cindy
lanjut kak
Radya Arynda
Dasar wanita somboh,angkuh dan jahat,,,,saat revan sudah mulai bahagia malah alana di usir,,,,si pecu dang arka juga habis merkosa peegi dasar iblis,,,,semogah revan sakit parah biar nenek sihir tau rasa....
dyah EkaPratiwi
ditunggu tantrumnya Revan biar arka n mama Ratna pusing
Oma Gavin
rasakan kamu arka dan ratna Revan tantrum ditinggal alana
Salim ah
semoga yg menolong Alana Rafael dan dibawa kerumahnya🙄
Patrick Khan
pasti Rafael itu..
Ilfa Yarni
siapa yg menolong Alana apakah rafael
Radya Arynda
semogah kamu di tolong orang baik,,dan mau merubah mu lebih kuat dan berani jangan lembek lagi
Valen Angelina
alama hamil anak arka...tapi giliran rafael yg jaga wkkwwkkw....biar impaskan 🤣🤣🤣
MomRea
Rafael yg nolong, tapi jodohnya tetap Arka ya Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!