NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: SURAT DARI MASA LALU

Musim hujan datang lebih awal tahun itu. Langit Makassar kelabu selama berminggu-minggu, dan rumah kami yang kecil mulai menunjukkan masalah, masalah yang selama ini tersembunyi: atap bocor di sudut kamar Aisyah, plafon kamar mandi yang menggelembung, dan jamur yang mulai merayap di tembok belakang.

Tapi masalah rumah hanyalah pendahulu dari masalah yang lebih besar.

Surat itu datang di hari Selasa yang basah. Amplop coklat resmi, stempel pengadilan, alamat pengacara di Jakarta. Maya membukanya dengan tangan gemetar, matanya menyusuri baris-baris formal yang berisi makna mengerikan.

"Somasi," bisiknya, wajah pucat. "Dari orang tua Rangga."

Aku mengambil surat itu. Isinya dingin, legalistik: mereka menuntut hak kunjungan yang lebih luas. Tidak hanya sebulan sekali, tetapi setiap akhir pekan. Dan ini yang membuat darahku membeku mereka menuntut agar Bima dan Kinan menghabiskan liburan sekolah di Jakarta.

"Basisnya?" tanyaku, suara serak.

"Mereka klaim kita melanggar kesepakatan. Tidak memenuhi hak mereka sebagai kakek-nenek."

"Tapi kita sudah izinkan kunjungan!"

"Tidak cukup menurut mereka." Maya menunjukkan paragraf terakhir. "Mereka juga minta... hak untuk menentukan pendidikan anak-anak."

Aku terduduk. "Mereka mau pindahkan Bima dan Kinan ke sekolah internasional di Jakarta?"

"Tidak langsung. Tapi mereka minta hak untuk 'memberikan masukan dan kontribusi finansial untuk pendidikan terbaik'."

Ini pintu belakang. Jika mereka membayar sekolah, mereka punya kontrol. Jika mereka punya kontrol, perlahan-lahan mereka bisa menarik anak-anak ke dunia mereka.

"Kita harus hubungi pengacara," kataku.

Tapi sebelum sempat, telepon berdering. Dari nomor Jakarta.

"Raka? Ini Bayu."

Suaranya berbeda tidak lagi ramah, tapi profesional. Dingin.

"Kami terima somasi," kataku langsung.

"Saya tahu. Dan saya minta maaf harus seperti ini. Tapi orang tua saya... mereka merasa diabaikan."

"Mereka melihat anak-anak setiap bulan! Itu lebih dari yang mereka lakukan selama delapan tahun!"

"Raka, tolong pahami. Mereka sudah tua. Mereka takut tidak punya cukup waktu untuk mengenal cucu-cucu mereka."

"Dan mereka pikir dengan somasi hubungan akan membaik?"

Diam di seberang. Lalu: "Mereka punya uang. Dan mereka akan gunakan itu untuk mendapatkan apa yang mereka mau."

Ancaman itu telanjang sekarang. Uang melawan cinta. Hukum melawan ikatan keluarga.

---

Pertemuan dengan pengacara kami, Bu Rina, tidak membawa banyak harapan.

"Mereka punya tim hukum bagus," katanya dengan jujur. "Dan secara hukum... kakek-nenek punya hak juga. Terutama jika mereka bisa buktikan bahwa mereka bisa memberikan kehidupan 'lebih baik'."

"Lebih baik menurut siapa?" tanya Maya, suara bergetar.

"Menurut pengadilan. Dan sayangnya, 'lebih baik' sering diartikan sebagai lebih banyak uang, lebih banyak fasilitas."

"Jadi kita kalah?"

"Tidak pasti. Tapi kita harus siap berjuang. Dan... kita butuh senjata."

"Senjata apa?"

"Anak-anak. Jika Bima dan Kinan dengan tegas menyatakan tidak mau, pengadilan biasanya akan pertimbangkan. Tapi mereka harus siap diwawancara. Di depan hakim."

Bayangkan Bima, delapan tahun, harus bersaksi di pengadilan melawan kakek-neneknya sendiri. Kinan, lima tahun, harus ditanya tentang preferensinya.

"Kita tidak bisa lakukan itu pada mereka," bantahku.

"Atau kalian kehilangan mereka," kata Bu Rina dengan tegas. "Ini pilihan sulit, tapi pilihan harus dibuat."

---

Keputusan kami: tidak akan melibatkan anak-anak dalam pertempuran hukum. Sebagai gantinya, kami ajak mereka bicara. Jujur.

"Kakek dan nenek di Jakarta ingin kamu lebih sering ke sana," jelasku pada Bima dan Kinan di ruang tamu. "Mereka... mereka menuntut lewat pengadilan."

Bima memahami segera. Wajahnya berkerut. "Kita harus ke pengadilan lagi?"

"Mungkin."

"Dan aku harus bilang aku tidak mau tinggal dengan mereka?"

"Kamu bisa bilang apa yang kamu rasakan."

"Tapi itu akan menyakiti mereka." Bima menunduk. "Dan... mereka sudah tua."

Anak delapan tahun itu terjebak antara melindungi diri sendiri dan menyakiti orang tua. Antara memilih keluarga yang dia kenal dan menghormati orang yang memberinya kehidupan.

Kinan, dengan kebijaksanaan anak kecil, bertanya: "Mereka sedih karena kesepian?"

"Ya, Sayang," jawab Maya.

"Kalau gitu, kenapa mereka nggak cari temen? Adek juga dulu kesepian waktu belum punya temen main. Tapi sekarang punya Kak Bima."

Dari mulut anak lima tahun itu, solusinya terdengar sederhana: jika kesepian, cari teman. Jangan rebut cucu orang.

Tapi kehidupan tidak sesederhana itu.

---

Seminggu sebelum sidang pertama, Bayu datang lagi ke Makassar. Tapi kali ini, bukan sebagai paman yang baik, melainkan sebagai negosiator.

"Keluarga saya tawarkan kompromi," katanya di warung kopi dekat rumah kami. "Anak-anak tidak perlu pindah. Tapi setiap liburan panjang dua bulan di akhir tahun mereka habiskan di Jakarta."

"Dua bulan? Itu terlalu lama!" bantah Maya.

"Mereka akan sekolah di sana sementara. Kursus bahasa Inggris. Musik. Semua dibiayai."

"Dan selama dua bulan itu, kami tidak bisa melihat anak-anak?"

"Bisa. Mengunjungi. Tapi... mereka akan sibuk dengan kegiatan."

Ini jelas strategi: pisahkan anak-anak dari kami secara perlahan. Buat mereka terbiasa dengan kehidupan di Jakarta. Buat mereka melihat bahwa di sana lebih menarik, lebih berpendidikan, lebih... lebih.

"Kami tidak akan setuju," kataku tegas.

"Kalau begitu, kita bertemu di pengadilan." Bayu berdiri. "Dan Raka... pengadilan keluarga tidak suka dengan situasi seperti kalian. Pernikahan sepupu. Kondisi ekonomi pas-pasan. Itu semua akan digunakan."

Setelah dia pergi, Maya menangis. "Mereka tidak akan berhenti, Raka. Mereka punya uang. Dan waktu. Mereka bisa terus menyeret kita ke pengadilan sampai kita kehabisan biaya, atau sampai anak-anak lelah dan menyerah."

"Kita tidak akan menyerah."

"Tapi berapa lama kita bisa bertahan? Uang tabungan kita sudah habis untuk pernikahan. Biaya pengacara... kita tidak mampu."

Kenyataan itu pahit: dalam pertempuran hukum, yang benar tidak selalu menang. Yang punya sumber daya lebih banyak yang menang.

---

Malam itu, ketika anak-anak tidur, aku duduk sendirian di teras. Hujan sudah berhenti, tapi langit masih kelabu. Pikiranku berputar-putar pada satu solusi yang selama ini kutolak karena ego.

Kemudian, langkah kecil terdengar. Bima, dengan piyamanya yang sudah pendek, duduk di sampingku.

"Om, aku dengar Mama nangis tadi."

"Kamu harus tidur, Bima."

"Tapi aku nggak bisa tidur kalau Mama sedih." Dia memandangku. "Om, kalau... kalau aku dan Kinan ikut aturan mereka... apa Mama dan Om akan lebih tenang?"

"Jangan pernah berpikir seperti itu, Bima."

"Tapi aku lihat Om capek. Kerja dari pagi, pulang, urus kita, sekarang harus urus pengadilan lagi."

"Aku memilih ini, Bima. Memilih kalian."

"Tapi kami nggak mau jadi beban." Air mata mulai menggenang di matanya. "Aku lihat di TV, orang tua bisa sakit karena stres. Adek Kinan sering mimpi buruk lagi. Aisyah rewel terus karena suasana rumah tegang."

Dia memegang tanganku. "Om, kadang... cinta itu harus berkorban kan?"

Aku menarik napas dalam. "Ya. Tapi pengorbanan yang benar."

"Kalau pengorbanannya buat melindungi keluarga... itu benar kan?"

Aku tidak menjawab. Karena di dalam hati, aku mulai mempertanyakan: apakah mempertahankan anak-anak dengan segala cara benar-benar yang terbaik untuk mereka? Atau ego kami untuk tetap bersama justru membuat mereka menderita?

---

Sidang pertama berlangsung dingin. Orang tua Rangga tidak hadir hanya diwakili pengacara. Kami hadir dengan Bu Rina. Hakim perempuan paruh baya mendengarkan kedua belah pihak dengan ekspresi netral.

Pengacara pihak mereka memaparkan: kemampuan finansial, fasilitas pendidikan, jaringan sosial yang bisa diberikan. Lalu ini yang menyakitkan dia menunjukkan foto-foto rumah kami yang sederhana, bahkan agak kumuh setelah musim hujan.

"Dan bandingkan dengan lingkungan yang bisa kami tawarkan," kata pengacara itu, menunjukkan foto rumah mewah di Jakarta dengan kolam renang, ruang belajar pribadi, akses ke klub-klub eksklusif.

Bu Rina membalas dengan menunjukkan bukti ikatan emosional: foto-foto keluarga kami, laporan sekolah tentang perkembangan anak-anak, pernyataan dari guru bahwa Bima dan Kinan adalah anak yang bahagia dan stabil.

Tapi ketika hakim bertanya, "Apakah anak-anak pernah menyatakan keinginan untuk lebih dekat dengan keluarga ayah mereka?" Bu Rina harus mengakui bahwa Bima pernah menyatakan keinginan untuk mengenal kakek-neneknya.

Itu digunakan oleh pihak lawan sebagai bukti bahwa anak-anak "sebenarnya ingin" tetapi "dihalangi oleh ibu dan suami barunya".

Sidang ditunda. Keputusan akan diumumkan dalam dua minggu.

---

Pulang dari pengadilan, Maya diam sepanjang jalan. Begitu tiba di rumah, dia masuk ke kamar, mengunci diri.

Bima menatapku. "Kita kalah, Om?"

"Belum tahu, Nak."

"Tapi wajah Mama..."

Aku tidak bisa berbohong. "Mama sedih. Karena dia merasa tidak bisa melindungi kalian."

Bima mengangguk, lalu pergi ke kamarnya. Sepuluh menit kemudian, dia keluar dengan kertas di tangan.

"Om, tolong berikan ini ke pengacara kita."

Kertas itu adalah surat tulisan tangan Bima:

"Kepada Hakim yang terhormat,

Nama saya Bima, 8 tahun. Saya dan adik saya Kinan tidak mau tinggal di Jakarta. Kami mau tinggal dengan Mama dan Bapak Raka di Makassar. Kakek dan nenek di Jakarta baik, tapi mereka bukan rumah kami. Rumah kami di sini. Di mana Mama masak untuk kami. Di mana Bapak Raka ajari kami naik sepeda. Di mana adik kami Aisyah belajar jalan.

Tolong jangan pisahkan kami. Karena keluarga itu bukan rumah besar atau mainan banyak. Keluarga itu pelukan sebelum tidur. Cerita di sore hari. Makan malam bersama.

Terima kasih.

Bima."

Aku membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca. Lalu Kinan, yang melihat kakaknya, juga minta kertas. Dengan tulisan cakar ayam dan gambar hati, dia menulis:

"Aku Kinan. Aku cuma mau sama Mama, Bapak Raka, Kak Bima, dan Aisyah. Yang lain aku sayang tapi aku mau tidur di rumahku sendiri."

Maya keluar dari kamar, membaca kedua surat itu, dan menangis tersedu-sedu.

"Kita serahkan ini ke pengadilan," kataku.

"Tapi apakah cukup?" tanya Maya.

"Mungkin tidak. Tapi ini suara mereka. Dan suara anak-anak... seharusnya berarti sesuatu."

---

Dua minggu penuh ketegangan. Keluarga besar kami mendukung, tetapi kekhawatiran terasa di udara. Uang menipis. Semangat juga.

Hari pengumuman tiba. Kami ke pengadilan dengan hati berdebar. Orang tua Rangga hadir kali ini, duduk di sisi lain ruangan dengan wajah kaku.

Hakim membacakan keputusan:

"Pengadilan mempertimbangkan semua bukti, termasuk surat dari anak-anak yang bersangkutan."

Dia memandang kami, lalu ke pihak lain.

"Pengadilan memutuskan: hak kunjungan kakek-nenek diperluas menjadi dua minggu sekali, dengan durasi maksimal tiga hari. Liburan sekolah: separuh dihabiskan dengan ibu, separuh dengan kakek-nenek di Jakarta."

Maya menggenggam tanganku erat.

"Namun," lanjut hakim, "keputusan akhir tentang pendidikan dan tempat tinggal tetap pada ibu sebagai pemegang hak asuh penuh. Kontribusi finansial kakek-nenek boleh diberikan, tetapi dengan persetujuan ibu dan tidak mengikat."

Itu... kompromi. Bukan kemenangan penuh, tapi bukan kekalahan total.

Orang tua Rangga tidak puas terlihat dari wajah mereka. Tapi hakim menambahkan:

"Pengadilan juga menyarankan: dengarkan suara anak-anak. Mereka tahu apa yang mereka butuhkan."

Keluar dari ruangan, Bayu menghampiri kami. "Ini belum selesai," bisiknya. "Orang tua saya akan banding."

"Lakukan," jawabku. "Kami akan tetap di sini. Selalu."

---

Pulang ke rumah, kami kumpulkan anak-anak. Jelaskan keputusan.

"Jadi kita harus ke Jakarta lebih sering?" tanya Bima.

"Iya, Nak. Tapi tidak lama. Dan kita akan selalu jemput kalian."

"Dan kita tetap tinggal di sini?"

"Selamanya," janji Maya.

Malam itu, ketika semua tertidur, aku memeluk Maya erat.

"Kita menang hari ini," bisiknya.

"Pertempuran, bukan perang."

"Tapi selama kita bersama, kita bisa hadapi apa pun."

Di luar, hujan mulai turun lagi. Tapi di dalam rumah kecil kami, dengan atap yang bocor dan tembok berjamur, ada kehangatan yang tidak bisa dibeli oleh rumah mewah di Jakarta.

Kehangatan dari pilihan. Dari cinta yang memilih untuk tetap, meski mudah pergi. Dari keluarga yang tidak sempurna, tapi cukup sempurna untuk kami.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Untuk besok? Kami akan hadapi besok.

Bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!