fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aragorn Balyn
Aragorn saat tahun pertama pemerintahan Owen berusia 44 tahun. Ia memiliki Istri ; Aela Datharian, 3 saudara kandung yang semuanya lelaki ; Marcel Balyn (42 tahun), Delon Balyn (39 tahun) dan Steven Balyn (37 tahun), juga 4 anak ; dua lelaki ; Beryn Balyn berusia 29 tahun, Ralf Balyn (25 tahun), Delia Balyn (22 tahun) dan Antonete Balyn (16 tahun). Keluarga ini adalah keluarga berpengaruh di Whangarei. Bersama 3 keluarga lain. Mereka adalah keluarga dominan disana.
Dari 27 keluarga yang menyatakan diri bergabung dengan Owen .18 diantaranya adalah keluarga-keluarga berpengaruh di Pulau Utara, sisanya adalah para keluarga di Pulau Selatan. Sehingga tugas untuk mengajak penduduk Kaitaia bergabung ini diserahkan Lord Owen padanya.
Sebelum memulai misinya, Aragon melakukan pertemuan dengan para anggota keluarga dirumahnya. Desa Clown. Utara Kastel Kaitaia.
“Kita mendapatkan tugas mulia dari baginda. Yakni menyebarkan informasi ke Whangarei tentang perintah penguasa Kaitaia bahwa tak perlu ada bantuan saat ini. Ini penting dilakukan, karena jika pasukan Whangarei datang membantu Kaitaia, kekuatan kita yang belum sampai 1000 orang tak akan kuat menahan serangan mereka. Tugas ke Whangarei aku serahkan padamu Marcel dan Delon. Berhati-hatilah masuk ke wilayah itu. Pemimpinnya tentu sangat bersiap saat ini. Hubungi beberapa keluarga suku Adara disana. Pengaruhi mereka untuk ikut menyebarkan informasi ini..” kata Aragon membuka rapat.
“Siap laksanakan kakanda.” kata Marcel dan Delon Serentak.
“Aku dan yang lain akan menyebar, ke beberapa Desa untuk mempengaruhi warga untuk mendukung pemerintahan ini. Aku akan keperbatasan timur, Beryn dan Ralf ke Tenggara, Steven ke Selatan. Tetaplah berhati-hati dalam tugas kalian. Hindari konfrontasi, Masing-masing kita akan dikawal 6 orang pengawal keluarga. Dirumah ada 20 orang yang akan menjaga ibu dan adik-adik kalian.” kata Aragon lagi.
Saat itu dari arah pintu, muncul istrinya memberikan sesuatu, selembar kertas terlipat. Aragon membuka kertas itu..
“Kabar dari tuan Owen . Pasukan utama dipimpin Jhuma sudah bergerak menuju titik kumpul pasukan Baleth, kita diminta segera memulai tugas kita. Bersiaplah.” kata Aragon.
Segera mereka bersiap diri.
Aragon terpisah dari anggota keluarga yang lain. Ia hanya ditemani 5 pengawal keluarga, kunjungannya dibeberapa keluarga lain di Desa-desa bagian Timur disambut antusias warga yang menyatakan diri mendukung gerakan pembebasan The Horn Land dari kekuasaan Kekaisaran. Meskipun ada juga yang menolak dan meragukan, mereka yang mendukung bahkan siap bergabung dengan para pejuang.
Di wilayah ini, Aragon berhasil mengumpulkan 90 orang pejuang baru dari suku Adara. Mereka diberikan semacam surat khusus oleh Aragon untuk bisa bergabung di Kastel Kaitaia menemani para pejuang. Meskipun ada juga yang ingin langsung merasakan medan laga dengan berniat bergabung dengan Jhuma ke hutan barat.
***
Suatu hari, rombongan Aragon bertemu salah satu warga yang memberikan informasi ada rombongan prajurit Kaitaia terlihat di sisi barat. Mereka sedang bertarung dengan dua orang yang tak dilkenal. Segera Aragon menuju ke tempat itu. Keadaan sudah sepi namun disana sini terdapat mayat-mayat. begitu kagetnya ia mengetahui bahwa dua orang yang melawan pasukan Kaitaia ternyata adalah saudara-saudaranya. Marcel dan Delon. Keduanya telah tewas. di samping mereka Nampak beberapa tubuh lain tergeletak tak jauh, sepertinya terjadi pertarungan disini. Aragon sangat berduka melihat jenazah adik-adiknya ini.
“Siapapun pelakunya ini, akan mendapatkan balasan dariku..”
***
Setelah proses pemakaman ia mengatur lagi pasukannya.
“Kita akan kejar para pembunuh ini. Melihat dari jalur yang mereka ambil., sepertinya mereka menuju Whangarei. Kemungkinan mereka adalah pasukan yang akan meminta bantuan disana. Marcel dan Delon sepertinya mencoba menahan mereka…”
Para prajurit pengawal bersiap diri bersama pimpinannya.
“Kuda sudah siap Tuan. kami mengikuti perintah lebih lanjut.”
“Kita bergerak.” kata Aragon. ia seperti terburu-buru.
Rombongan kecil itu kemudian mengikuti arah para pembunuh itu. Insting Aragon benar, tak lama kemudian mereka bertemu rombongan pasukan Kaitaia. Mereka mungkin tak berlari cepat karena tak menyangka akan ada yang tahu tentang kejadian pertarungan tadi. Total pasukan ini berjumlah 15 orang saja. Mereka dipimpin oleh …Earl Adawulf.
“Aku akhirnya menemukan kalian, pembunuh!” Hardik Aragon pada orang-orang didepannya.
Melihat jumlah lawannya, Earl Adawulf dengan santai mendekati.
“Ada apakah gerangan ini? Ser? Kamu bagian dari para pemberontak di Kastel itu? Atau saudara dari dua orang yang mencoba mencegat kami?” tanya Earl Adawulf.
Sepertinya ia tak mengenal Aragon. Langkahnya berhenti 4 meter dihadapan Aragon.
“Aku kakak mereka. Aku akan membalaskan dendamku pada kalian.” kata Aragon geram. pedang telah terhunus.
“Mereka mencegat kami. Kami berniat ke Whangarei meminta bantuan disana atas pemberontakan kepala suku dan pendatang bernama Owen itu. Jika menghalangi kami, aku akan menangkapmu. aku adalah Earl Adawulf, Lord Kaitaia!”
Mengetahui sosok dihadapannya, dan niat orang ini untuk meminta bantuan ke Whangarei. Semangat Aragon bertambah.
“Bagus aku tak perlu lelah mencarimu Lord Adalwulf, kamu yang akan kami tangkap untuk dibawah pada Lord Owen ; Leader Kaitaia.” kata Aragon.
Adawulf tertawa. Sambil meludah ia berkata ;
“Leader… ha ha ha…coba saja tuan pemberontak. Atau kau yang akan menyusul adik-adikmu. Maju!!”. Dan terjadilah pertarungan antara dua kelompok di tempat itu. Aragon hanya berjumlah 6 orang. sementara Earl Adalwulf berjumlah 15 orang sudah termasuk Adalwulf. Adalwulf adalah pria berusia 50an tahun dan kurus. Ia juga tak terbiasa bertarung. Satu persatu korban berjatuhan baik di pihak pasukan Kaitaia maupun pasukan Aragon. Tak cukup satu jam, yang berdiri ditempat itu hanya tersisa Aragon dan satu pengawalnya, keduanya dikelilingi oleh 5 prajurit musuh.
Sementara Adalwulf berdiri di tempat yang aman menunggu hasil pertarungan yang sepertinya akan dimenangkan oleh pihaknya.
“Belum mau menyerah tuan? “ Teriak Adalwulf.
“Tak akan ku menyerah pada kalian ; Dalam beberapa peperangan, kau harus bertempur sendirian. Maju tanpa rasa takut.” sahut Aragon.
Ia maju membabat dua prajurit didepannya yang tak menyangka akan mendapatkan seragan mendadak. Keduanya roboh. Namun prajurit pengawal Aragon yang sudah kelelahan juga roboh oleh sabetan senjata lawan. Kini terjadi pertarungan 3 lawan 1. Dan meskipun sudah dalam keadaan lelah, tak lama kemudian Aragon mampu mengalahkan 3 prajurit itu.
Kemenangan ditangannya.
Saat ia berhenti sejenak. Tak disangkanya Adawulf kini maju dengan senjata ditangan, berusaha membokongnya. Namun dengan sekejap senjata ditangan Aragon menusuk tepat didada Earl Kaitaia itu. Tubuh Adawulf kemudian jatuh bersama pedang Aragon yang masih menancap. ia tewas seketika
Perlahan, Tubuh lelah Aragon yang juga mengalami luka dibeberapa bagian itu juga roboh. Ia pingsan ditempat itu…
Tanpa disadarinya, ia diselamatkan beberapa warga yang mengintip pertarungan. ia dibawah ke sebuah pondok dan dirawat. Dua hari kemudian ia sudah kembali sadar dan perlahan sudah bisa berkomunikasi dengan para penolongnya.
Saat ia terjaga, hari sudah gelap gulita, dan menyadari setiap sendi ditubuhnya nyeri. Aragon mencoba mengerakan tubuhnya. nia berusaha duduk, kepalanya masih berdenyut. Sambil mencengkeram ujung dipan, dia berdiri tapi limbung.
“Dimana aku berada?” tanya Aragon
Dia berada di sebuah ruangan panjang beratap rendah, dipenuhi cahaya lampu yang menggantung di balok-balok atap ; dimeja kayu gelap yang disemir berdiri lilin-lilin tinggi dan kuning, menyala terang. Disebuah kursi diujung ruangan, menghadap pintu keluar, duduk seorang lelaki paru baya, gendut, dengan rambut yang akan habis.
“Istrihatlah Ser, anda aman bersama kami. Kami merawatmu dua hari ini. rumah kami di perbatasan timur. Kenalkan namaku ; Gimli.” ia kemudian membersihkan luka di tubuh Aragon.
“Jika sudah cukup kuat. akan aku antar ke rumah tuan. Anda berasal dari mana?” tanya Gimli.
“Rumahku di Kauari Whangarei. Aku Lord Keluarga Balyn. ” kata Aragon pelan sambil menahan rasa sakit dari lukanya.
“Keluarga Balyn? Anda pendukung pemberontakan itu?.” tanya Gimli sambil berhenti membasuh.
“Iya” jawab Aragon. Perasaannya kini berubah tak baik. Ia curiga pada orang tua berusia 50an tahun yang tinggal sendiri ini.
“Baik,. istirahatlah dulu,. akan aku ambilkan obat lagi dan sedikit air diluar.” kata Gimli. Ia kemudian keluar dari rumah itu. Dan dalam beberapa saat ia tak kembali. Rasa cemas meliputi hati Aragon. Ia memperhatikan sekitar, ini rumah keluarga bersuku Yulara fikirnya. Mereka mungkin masih mendukung kekuasaan Kekaisaran.
Kini ia harus berusaha untuk bangkit dan pergi dari tempat ini. Namun tenaganya baru pulih 30 %, bahkan genggaman tanganpun masih bergetar.
“Aku harus pergi.” katanya setengah berbisik. Ia kumpulkan sisa energinya untuk menuruni dipan dan melangkah keluar ruangan kecil itu.
Gimli tiba-tiba muncul didepannya.
“Mau pergi Ser?” dengan wajah yang tak bersahabat.
“Ya terima kasih sudah merawatku tuan Gimli. Aku harus pergi.” kata Aragon melangkahkan kakinya dengan perlahan.
“Tak ada yang akan pergi dari tempat ini!!”
Suara Gimli berubah tegas. Ia mendekati Aragon yang kaget dan mulai menyadari potensi bahaya dari penolongnya ini.
“Tahan langkahmu tuan kecil!” Suara tegas lain muncul dibelakang Gimli.
Gimli dan Aragon menatap sumber suara itu. Nampak berdiri dua pemuda ditempat itu.
“Beryn…Ralf…” kata Aragon. Senyum diwajahnya terlihat menatap dua anaknya itu.
Keduanya maju mendekati Aragon. Gimli menjauh.
“Ayah..” Ralf maju memapah.
Seketika Gimli sudah menghilang dari tempat itu.