Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMARAN SEDERHANA YANG PENUH MAKNA
Setelah beberapa bulan menyimpan uang bersama, akhirnya Riki cukup uang untuk membeli cincin lamaran yang telah dipilih Safa.
Dia merencanakan acara lamaran yang sederhana namun penuh makna – di tempat pertemuan pertama mereka, pinggir jalan yang telah menjadi saksi awal mula cinta mereka.
Riki juga menyusun rencana dengan cermat agar acara lamaran ini menjadi kejutan bagi Safa. Dia menyuruh Maya dan Bu Yanti untuk membantu mengalihkan perhatian Safa pada hari yang dijadwalkan, sementara dia sendiri mempersiapkan segala sesuatunya dengan bantuan Pak Budi dan beberapa teman dekatnya.
Pada hari yang ditentukan, Safa merasa sedikit heran karena Maya memintanya untuk membersihkan bagian belakang warung yang sudah sangat bersih.
Ketika dia selesai, Bu Yanti memberitahunya bahwa ada orang yang mencari dia di ada orang yang mencari dia di pinggir jalan dekat warung.
"Seseorang bilang mau memberikan kamu sesuatu penting nih Saf," ucap Bu Yanti dengan senyum misterius. "Coba kamu periksa ya."
Safa pergi ke pinggir jalan yang dia kenal sangat baik. Ketika dia tiba di sana, dia terkejut melihat tempat tersebut dihiasi dengan lilin kecil dan bunga mawar putih yang disusun rapi membentuk bentuk hati.
Di tengahnya ada sebuah meja kecil dengan nampan kayu yang berisi makanan yang sama dengan yang dia berikan pada Riki saat mereka pertama bertemu – nasi putih, lauk tempe orek, dan sambal matah.
Tanpa terdengar suara, Riki muncul dari balik pohon besar dengan mengenakan baju yang lebih rapi dari biasanya.
Dia membawa kotak kecil yang berisi cincin lamaran dan berjalan perlahan menuju Safa dengan wajah yang penuh kegembiraan dan sedikit gugup.
"Ingatkah kamu makanan ini?" tanya Riki dengan suara lembut saat dia berdiri di depan Safa. "Ini adalah makanan yang kamu berikan padaku saat kita pertama bertemu. Saat itu aku merasa sangat terharu karena ada orang yang mau membantu aku tanpa pamrih apapun."
Safa sudah mulai menangis bahagia mendengar kata-kata Riki. Dia mengangguk dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Safa," lanjut Riki dengan suara yang penuh emosi. "Sejak saat itu, hidupku tidak pernah sama lagi. Kamu telah mengajarkanku arti cinta yang tulus, kebaikan hati yang sejati, dan makna kehidupan yang sebenarnya. Kamu telah membuatku menjadi orang yang lebih baik dan aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu lagi."
Dia kemudian membungkuk satu lutut dan membuka kotak kecil yang ada di tangannya.
Cincin lamaran dengan desain hati kecil yang mereka pilih bersama terpampang indah di dalamnya.
"Safa, aku ingin bertanya padamu sesuatu yang akan mengubah hidup kita berdua selamanya," ucap Riki dengan suara yang jelas dan tegas. "Apakah kamu mau menjadi istriku? Apakah kamu mau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku, baik dalam suka maupun duka? Apakah kamu mau menerima cintaku yang tulus dan menjadi bagian dari hidupku selamanya?"
Safa tidak bisa menahan air mata bahagia yang mengalir deras. Dia mengangguk dengan penuh kebahagiaan dan mengucapkan kata-kata yang Riki tunggu-tunggu.
"Ya sayang! Aku mau! Aku mau menjadi istri kamu dan menghabiskan seluruh hidupku bersamamu!"
Riki merasa sangat bahagia dan segera memasangkan cincin lamaran pada jari manis Safa. Setelah itu, dia berdiri dan menarik Safa ke pelukan dengan erat, memberikan ciuman penuh cinta pada bibirnya.
Tiba-tiba, Maya, Bu Yanti, Ayah dan Ibunya Safa, serta beberapa teman dekat muncul dari balik sudut jalan dengan membawa kembang api kecil.
Mereka memberikan tepuk tangan yang meriah dan menyanyikan lagu cinta yang penuh kebahagiaan.
"Kita sudah tahu tentang rencana ini dari awal Saf!" teriak Maya dengan senyum lebar. "Kita hanya membantu Riki membuat kejutan untukmu!"
Ayah dan Ibunya Safa mendekati mereka berdua dengan wajah yang penuh kebahagiaan. "Kita sangat senang melihat kalian berdua seperti ini," ucap Ayahnya Safa dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. "Riki, kita menyerahkan anak perempuannya pada kamu. Jaga dia dengan baik ya."
"Baik Ayah," jawab Riki dengan penuh komitmen. "Aku akan selalu mencintai dan melindungi Safa dengan sepenuh hati."
Mereka semua kemudian berkumpul untuk makan makanan yang sudah disiapkan – makanan yang sama dengan saat mereka pertama bertemu.
Meskipun makanan tersebut sangat sederhana, namun rasanya sangat nikmat karena penuh dengan cinta dan makna yang dalam.
Selama makan bersama, mereka berbagi cerita dan tawa. Banyak yang bercerita tentang momen-momen lucu yang terjadi selama Riki dan Safa bersama, serta memberikan doa dan harapan terbaik untuk masa depan mereka berdua.
"Aku tidak akan pernah melupakan malam ini sepanjang hidupku," ucap Safa dengan senyum bahagia sambil melihat cincin yang ada di jari tangannya. "Ini adalah momen yang paling bahagia dalam hidupku."
Riki mengambil tangan Safa dan melihatnya dengan mata yang penuh cinta. "Aku juga tidak akan pernah melupakannya sayang. Dan aku berjanji bahwa setiap hari bersama kamu akan menjadi hari yang bahagia dan penuh makna."
Pada akhir malam, mereka semua pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan. Riki mengantar Safa sampai di depan rumahnya dan memberikan ciuman lembut di dahinya.
"Aku akan segera datang untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan dengan orang tua kamu ya sayang," ucap Riki dengan senyum. "Kita akan merencanakan pernikahan yang sederhana tapi penuh kebahagiaan seperti yang kamu inginkan."
Safa mengangguk dengan senyum manis. "Tentu saja sayang. Aku tidak menginginkan pernikahan yang mewah, cukup dengan keluarga dan teman dekat saja sudah cukup."
Setelah Riki pergi, Safa memasuki rumah dengan hati yang penuh kedamaian dan kebahagiaan.