Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 211
Paviliun Bulan Tersembunyi – Kediaman Sementara Tim Asura.
Malam itu hening, terbalik dengan kegilaan yang terjadi di arena siang tadi. Bulan buatan planet ini bersinar pucat, menyinari halaman paviliun tempat Shi Hao duduk bersila di atas batu hias.
Di depannya, secawan teh roh mengepul hangat.
Nana berlutut di samping meja, menuangkan air panas dengan hati-hati. Tangannya masih sedikit gemetar sisa ketakutan melihat pertarungan raksasa sebelumnya.
"Tenanglah, Nana," kata Shi Hao tanpa membuka mata. "Getaran tanganmu merusak rasa tehnya."
"Maaf, Tuan..." cicit Nana.
"Dan lagi..." Shi Hao membuka matanya, menatap ke arah gerbang paviliun yang tertutup. "...Kita kedatangan tamu agung. Tunjukkan sopan santunmu."
Angin malam berhembus pelan.
Krieeet.
Gerbang kayu itu tidak dibuka. Namun, sesosok bayangan tiba-tiba sudah berdiri di tengah halaman. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada fluktuasi Qi. Dia menyatu dengan malam.
Seorang pria tua berjubah abu-abu dengan mata tertutup kain putih.
Wuming (Si Pendekar Buta).
Nana terpekik kaget, hampir menjatuhkan teko. Tapi Wuming mengibaskan jarinya pelan, dan teko itu melayang lembut kembali ke meja.
"Malam yang indah untuk minum teh, Rekan Dao Feng," suara Wuming serak namun ramah.
Shi Hao tersenyum tipis. Dia menunjuk kursi kosong di depannya.
"Duduklah, Senior Wuming. Teh ini murah, tapi cukup untuk menghangatkan tulang tua."
Wuming duduk. Dia tidak memegang pedang kayu lagi (karena sudah dipatahkan Shi Hao), melainkan sebuah tongkat bambu sederhana.
"Aku tidak datang untuk minum teh," kata Wuming langsung. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat serius, keningnya berkerut dalam.
"Aku datang untuk membayar hutang."
"Hutang?" Shi Hao mengangkat alis.
"Hutang pencerahan," jawab Wuming. "Satu jurus di arena kemarin... tebasanmu membuka simpul di hatiku yang sudah terkunci selama seratus tahun. Aku merasa selangkah lagi aku bisa menerobos ke ranah Dewa Sejati."
Wuming menundukkan kepalanya sedikit.
"Karena itu, aku tidak bisa membiarkanmu mati konyol di babak besok karena ketidaktahuanmu."
Ekspresi Shi Hao berubah serius. "Apa yang kau ketahui tentang babak besok?"
Wuming mengetukkan tongkat bambunya ke lantai. Suara tok itu menciptakan kubah kedap suara di sekitar mereka.
"Babak selanjutnya bukan di arena terbuka," bisik Wuming. "Panitia baru saja mengubah aturannya secara mendadak atas desakan 'Pihak Tertentu' aku curiga itu Pangeran Jin."
"Lokasinya adalah Dunia Rahasia: Labirin Bintang Kuno."
"Itu adalah pecahan dimensi kuno yang digunakan sebagai kuburan bagi para Dewa yang jatuh dalam perang purba."
"Di dalam sana, Pengawasan Panitia tak berlaku. Tidak ada wasit. Tidak ada aturan. Jika kau mati, mayatmu akan hilang selamanya."
Mata Shi Hao menyipit. "Medan pembunuhan tertutup. Tempat yang sempurna untuk menyingkirkan lawan."
"Lebih buruk dari itu," lanjut Wuming. "Aku mendengar bisikan dari angin... bahwa Segel Penjara di dalam labirin itu telah dibuka."
"Ada sesuatu yang jahat di dalam sana. Sesuatu yang disebut Xing Tian (Pemangsa Bintang). Dia memakan kultivator kuat untuk memperpanjang umurnya."
Shi Hao mengangguk pelan. Informasi ini cocok dengan apa yang dia temukan di bangkai kapal hantu sebelumnya. Xing Tian memang ada di sana, menunggu mangsa.
"Terima kasih atas peringatannya," kata Shi Hao. "Tapi aku tidak takut pada hantu lapar."
"Aku tahu kau kuat," potong Wuming. Dia mengarahkan wajahnya (meski buta) ke arah Nana yang duduk ketakutan di samping Shi Hao.
"Tapi bagaimana dengan dia?"
Shi Hao terdiam.
"Gadis Navigasimu," kata Wuming. "Dia kuncimu, bukan? Tapi di dalam Labirin pertempuran, dia hanya akan menjadi beban. Satu serangan nyasar dari Xing Tian, dan dia akan hancur menjadi debu."
"Namun, jika kau meninggalkannya di luar sini sendirian saat kau masuk ke Labirin..." Wuming menunjuk ke arah istana terapung Pangeran Jin di kejauhan. "...Serigala-serigala itu akan memakannya hidup-hidup."
Itu adalah dilema Shi Hao. Nana terlalu lemah untuk dibawa masuk ke medan perang tingkat tinggi, tapi terlalu berharga untuk ditinggal tanpa perlindungan. Tim Asura lainnya (Tie Shan, Shu Ling, Luo Tian) harus ikut masuk ke Labirin bersamanya.
"Jadi," Wuming menegakkan punggungnya. Aura pedang yang tajam namun lembut memancar dari tubuh kurusnya.
"Biarkan orang tua buta ini menjadi pedang pelindungnya."
Shi Hao menatap Wuming tajam.
"Kau menawarkan diri menjadi pengawal pelayanku? Kau adalah Pendekar Terhormat, Wuming. Kenapa merendahkan diri?"
Wuming tersenyum, senyum yang tulus.
"Kehormatan bukan tentang status. Kehormatan adalah tentang membalas budi."
"Kau memberiku jalan pencerahan menuju Dewa Sejati. Sebagai gantinya, aku bersumpah demi Jantung Pedang-ku... Selama kau bertarung di dalam Labirin, tidak ada sehelai rambut pun dari gadis ini yang akan jatuh."
"Siapapun yang ingin menyentuhnya entah itu pembunuh bayaran atau Pangeran Jin sendiri harus melangkahi mayatku dulu."
Shi Hao menatap Wuming lama. Dia menggunakan Mata Dewa nya untuk melihat jiwa orang tua itu. Tidak ada kebohongan.
Shi Hao menuangkan teh ke cawan Wuming sampai penuh.
"Baik," kata Shi Hao. Dia mengangkat cawannya. "Aku percayakan nyawa Nana padamu, Senior."
"Jika aku kembali dari Labirin, aku akan membantumu menyempurnakan terobosanmu ke Dewa Sejati."
Wuming menerima cawan itu dengan tangan gemetar karena haru. "Terima kasih, Rekan Dao."
Shi Hao berbalik menatap Nana.
"Nana."
"Y-Ya, Tuan?"
Shi Hao melepaskan sebuah cincin dari jarinya cincin penyimpanan yang berisi beberapa jimat pertahanan tingkat tinggi.
"Kau tinggal di sini bersama Senior Wuming. Jangan keluar dari paviliun ini apa pun yang terjadi."
"Tuan Feng... Tuan akan pergi ke tempat berbahaya lagi?" mata Nana berkaca-kaca.
"Hanya jalan-jalan sebentar ke kuburan tua," Shi Hao tersenyum, mengusap kepala Nana. "Aku akan membawakanmu oleh-oleh kepala monster."
Shi Hao berdiri. Dia menoleh ke arah barak tempat anggota timnya tidur.
"Tie Shan! Shu Ling! Luo Tian! Bangun!" teriak Shi Hao.
"Waktu tidur habis. Kita akan pergi berburu hantu."
Keesokan Harinya – Gerbang Dimensi Labirin.
Sebuah pusaran energi raksasa berwarna abu-abu berputar di tengah arena. Ratusan tim yang tersisa berdiri di depannya.
Suasana mencekam. Semua orang tahu ini bukan lagi sekadar turnamen. Ini adalah seleksi alam.
Pangeran Jin berdiri di balkon, menatap ke bawah sambil tersenyum kejam. Dia melihat Shi Hao tidak membawa Nana.
"Oh? Dia meninggalkan kucingnya?" gumam Jin. "Bagus. Kirim Pasukan Bayangan untuk menculik kucing itu segera setelah Feng masuk ke portal."
Di depan gerbang portal, Shi Hao memimpin Tim Asura.
Tie Shan sudah pulih (meski tubuh batunya masih ada bekas retakan yang ditambal emas). Shu Ling mengasah belatinya dengan gugup. Luo Tian meminum ramuan penguat jiwa.
"Ingat," kata Shi Hao kepada timnya. "Di dalam sana, musuh kita bukan cuma peserta lain."
"Ada monster kuno yang lapar. Dan ada Pangeran Matahari yang ingin kita mati."
Shi Hao menatap pusaran itu.
"Siapapun yang menghalangi jalan kita... Bunuh."
"SIAP!"
Shi Hao melangkah masuk ke dalam pusaran, diikuti oleh timnya. Mereka menghilang ditelan kegelapan dimensi.
Di paviliun penginapan, Wuming duduk di depan pintu kamar Nana, tongkat bambunya melintang di pangkuan. Dia tampak seperti orang tua yang sedang tidur.
Namun, ketika tiga bayangan pembunuh (utusan Pangeran Jin) mendarat di atap paviliun...
Tongkat bambu Wuming bergetar sedikit.
ZING.
Tiga kepala pembunuh itu jatuh menggelinding dari atap, bahkan sebelum kaki mereka menyentuh genteng.
"Sudah kubilang," gumam Wuming pelan. "Langkahi dulu mayatku."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛