Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Labirin Bawah Tanah
Ibu Kota Kekaisaran Wan, Kota Naga Pasir, adalah keajaiban arsitektur yang dibangun dari batu pasir kuning dan emas.
Namun, kemegahannya hanyalah topeng bagi kegelapan yang mengalir di bawahnya. Di bawah istana megah sang Kaisar, terdapat jaringan penjara bawah tanah yang dikenal sebagai Labirin Kerak Neraka, tempat di mana musuh politik, budak yang membangkang, dan makhluk-makhluk berbahaya dikurung.
Xiao Chen dan Ling masuk ke kota bukan melalui gerbang utama yang dijaga ketat, melainkan melalui saluran pembuangan limbah alkimia di sisi timur. Bagi orang lain, air limbah ini adalah cairan asam yang meluluhkan kulit; bagi Xiao Chen, ini adalah jalan pintas yang nyaman.
"Tahan nafasmu, Ling. Bukan karena bau, tapi karena limbah ini mengandung Merkuri Jiwa. Jika terhirup, ia akan membekukan aliran Qi-mu," instruksi Xiao Chen sambil berjalan tenang di atas air limbah, kakinya bahkan tidak basah karena dilapisi lapisan tipis energi ungu.
Ling mengangguk, ia melompat dari batu ke batu dengan lincah, matanya yang kuning waspada terhadap setiap pergerakan di kegelapan.
Mereka sampai di sebuah dinding batu besar yang dijaga oleh dua raksasa setinggi tiga meter.
Makhluk itu adalah Golem Daging, manusia yang telah diubah melalui eksperimen alkimia terlarang milik kekaisaran. Mereka tidak memiliki mata, hanya hidung besar yang bisa mencium aroma energi hidup.
"Siapa..." suara berat dan parau keluar dari mulut golem itu.
Xiao Chen tidak berhenti melangkah. "Hanya seorang tamu yang ingin melihat peliharaan Kaisar kalian."
Kedua golem itu meraung, mengayunkan palu gada raksasa yang bisa meremukkan besi. Namun, Xiao Chen hanya menjentikkan jarinya ke udara.
"Seni Racun: Embun Pemutus Jiwa."
Dua titik cairan kecil mendarat di hidung golem tersebut. Seketika, raksasa itu membeku. Tubuh mereka yang tadinya keras seperti batu tiba-tiba melunak, berubah menjadi tumpukan lendir berwarna kelabu yang berbau amis. Mereka bahkan tidak sempat mengeluarkan suara saat organ mereka mencair di dalam zirah.
Xiao Chen mendorong pintu batu itu dengan ujung jarinya. Di baliknya, sebuah lubang besar menganga ke bawah, menuju kegelapan yang memancarkan panas yang menyengat dan aroma sulfur yang kuat.
"Kita sampai. Di bawah sana adalah tempat di mana Naga Komodo Beracun itu dipenjara," ucap Xiao Chen.
Mereka turun ke kedalaman menggunakan tali energi ungu yang diciptakan Xiao Chen. Semakin dalam mereka turun, suhu semakin meningkat. Di dasar labirin, mereka menemukan sebuah ruangan seluas lapangan bola yang dikelilingi oleh pilar-pilar besi yang dialiri listrik.
Di tengah ruangan itu, seekor makhluk raksasa sepanjang dua puluh meter sedang meringkuk. Kulitnya bersisik hitam legam dengan guratan merah api. Setiap kali ia bernafas, uap beracun berwarna kuning keluar dari lubang hidungnya, melelehkan lantai batu di sekitarnya.
"Indah sekali," gumam Xiao Chen. "Ini bukan naga biasa. Ini adalah Naga Komodo Purba yang telah berevolusi dengan memakan limbah alkimia kekaisaran selama ratusan tahun. Racunnya adalah campuran dari maut alami dan kehancuran buatan."
Tiba-tiba, mata naga itu terbuka. Pupilnya yang vertikal menatap Xiao Chen dengan kebencian murni. Makhluk itu meraung, getarannya membuat seluruh labirin berguncang.
Namun, di saat yang sama, suara tawa bergema dari balkon di atas ruangan tersebut.
"Hahaha! Aku tidak menyangka 'Arsitek Maut' benar-benar berani datang ke sini!"
Xiao Chen mendongak. Di atas sana, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian kebesaran berwarna ungu tua—Pangeran Wan He, adik dari Kaisar sekaligus kepala riset alkimia kekaisaran. Di sampingnya, berdiri puluhan ahli alkimia yang sudah siap dengan kuali-kuali kecil mereka.
"Kau pikir penjagaan kami begitu lemah?" Pangeran Wan He menyeringai. "Kami sengaja membiarkanmu masuk. Naga ini lapar, dan Qi dari seorang ahli Ranah Raja Roh sepertimu adalah santapan yang sempurna untuk membuatnya berevolusi menjadi Kaisar Naga. Setelah itu, Kekaisaran Wan akan tak tertandingi!"
Pangeran Wan He menarik sebuah tuas. Pilar-pilar listrik di sekeliling naga itu mati, dan sebuah gerbang besi besar di atas naga itu terbuka, melepaskan ribuan liter cairan stimulan racun ke tubuh makhluk itu.
Naga Komodo itu bangkit, ukurannya membesar dua kali lipat, dan sayap-sayap kecil yang kaku mulai tumbuh dari punggungnya. Auranya meledak, setara dengan puncak Ranah Langit yang mendekati Raja Roh.
"Guru..." Ling mendekat ke arah Xiao Chen, tangannya gemetar namun matanya tetap tajam.
Xiao Chen hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Pangeran Wan He di atas sana mendadak merasa kedinginan.
"Ling, perhatikan. Hari ini aku akan mengajarimu cara menundukkan makhluk yang lebih kuat darimu bukan dengan kekuatan, tapi dengan menjadi 'Racun di atas Racun'." ucap Xiao Chen.
Xiao Chen melepaskan Bai dari lengannya. Ular perak itu melesat ke udara, namun bukannya menyerang naga itu, Bai justru berubah menjadi kabut perak yang menyelimuti Xiao Chen.
"Kau ingin naga ini memakanku?" Xiao Chen menatap Pangeran Wan He dengan pandangan mengejek. "Silakan. Tapi jangan menyesal jika naga ini justru menjadi belati yang memenggal kepala kalian semua."
Naga Komodo itu melompat, mulutnya yang penuh dengan air liur beracun menganga lebar, siap menelan Xiao Chen dalam satu lahapan. Xiao Chen berdiri diam, tangannya terulur, menyambut maut dengan ketenangan seorang legenda.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.