Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : Hanya Pelampiasan?
Pesta makan malam privat itu diadakan di ruang makan utama yang megah. Di tengah suasana formal itu, Amara berdiri di sudut ruangan dengan jantung yang berdegup kencang. Ia mengenakan seragam pengasuhnya, namun di balik kain itu, Amara benar-benar polos tanpa páķáíáñ dálám sesuai perintah gila Arlan. Setiap kali ia bergerak, gesekan kain itu membuat púťíñğñýá menegang dan area báẃáhñýá terasa sangat sensitif.
"Amara, tuangkan anggur untuk Tuan Wijaya," perintah Arlan datar, matanya menatap Amara dengan kilat rahasia.
Amara melangkah mendekat. Ia merasa sangat telanjang. Saat ia membungkuk sedikit, ia bisa merasakan udara dingin menyentuh kéẃáñíťááññýá yang tidak terlindungi. Setelah itu, Arlan memberi isyarat agar Amara berdiri di samping kursinya. Saat percakapan bisnis memanas, tangan Arlan di bawah meja mulai bergerak.
Tangan besar Arlan merayap ke arah paha Amara. Jari-jarinya mulai menyelinap masuk ke balik daster, langsung menyentuh kulit paha bagian dalam yang hangat. Amara memejamkan mata, napasnya mulai tersengal. Jari Arlan terus merambat naik hingga akhirnya menyentuh area příbádíñýá yang sudah mulai báśáh.
Arlan menyusupkan satu jarinya ke dalam líáñğ Amara yang sangat peka, mulai memainkannya dengan gerakan memutar di bawah meja.
"Nngghhh..." Amara melenguh sangat lirih. Ia harus menggigit bibir agar tidak menjerit di depan tamu-tamu itu. Arlan terus berbicara tentang bisnis, sementara tangannya sedang méñğőbőķ-őbőķ Amara hingga gadis itu hampir mencapai puncak. Arlan sesekali menekan ķlítóříś Amara dengan ibu jarinya.
"Amara, kau nampak pucat. Apa kau sakit?" tanya salah satu tamu.
Arlan melirik dengan seringai nakal. "Dia mungkin hanya kelelahan. Benar begitu, Amara?"
"I-iya... Tuan... hhh... benar," jawab Amara terbata-bata, suaranya bergetar hebat saat ia merasakan puncak ķéñíķmáťáññýá sudah berada di ujung saraf sementara tubuhnya dipermalukan sekaligus dipuaskan secara rahasia di bawah meja makan mewah itu.
***
Suara deru mobil tamu terakhir menghilang. Amara masih berdiri mematung, tubuhnya gemetar hebat, dan bagian bawah dasternya sudah báśáh ķúýúp akibat ulah jari Arlan tadi. Arlan berdiri perlahan, matanya yang gelap dan penuh ñáfśú mengunci tatapan Amara.
"Kemari," perintahnya berat.
Arlan mencengkeram pinggang Amara dan mengangkatnya ke atas meja makan yang panjang. Tubuh Amara mendarat di atas taplak meja sutra di antara sisa hidangan.
"Persetan dengan mejanya," geram Arlan. Ia menarik paksa daster Amara hingga robek, memperlihatkan páyúdáráñýá yang besar dan berkilat karena keringat. Arlan meraih botol anggur merah dan menuangkan cairan itu mulai dari leher Amara, membiarkannya mengalir turun hingga membasahi area ķéẃáñíťááññýá yang polos.
"AAAKHH! Dingin, Tuan!" Amara menggeliat saat cairan itu menyentuh sarafnya.
"Dingin ini akan segera berubah menjadi api," bisik Arlan. Ia merunduk, méñjíláťí aliran anggur itu dari kulit Amara dengan rakus. Ia menyesap sisa cairan itu dari púťíñğ Amara dengan suara kecipak yang menggema.
Arlan tidak sabar lagi. Ia mengeluarkan ķéjáñťáñááññýá yang sudah menegang maksimal. Tanpa pemanasan lebih lanjut, ia menghujamkan miliknya ke dalam líáñğ Amara yang sudah banjir anggur dan ćáíráñ áśmárá.
"Nngghhh! TUAAANN!" Amara mendongak, punggungnya melengkung hebat. Hujaman itu terasa sangat dalam.
Arlan memacu gerakannya dengan liar. Suara benturan ķúlíť mereka berpadu dengan dentingan piring di atas meja. "Kau... sangat... ñíķmáť... Amara!" geram Arlan. Setiap kali ia médőřőñğ, meja kayu jati itu sedikit berderit.
Amara hanya bisa mendesah dan meracau, merasakan sensasi luar biasa dari ğéśéķáñ báťáñğ Arlan yang panas di dalam dirinya. Ķéñíķmáťáñ itu datang bertubi-tubi hingga ia merasa seolah terbakar di atas meja makan tersebut. Di bawah lampu gantung kristal, Amara dipaksa melayani tuannya sekali lagi, menjadi hidangan penutup yang paling mematikan bagi Arlan Aditama.
***
Suasana panas semalam di atas meja makan berubah drastis menjadi dingin mencekam saat fajar menyingsing. Amara terbangun bukan karena sentuhan Arlan, melainkan karena suara tangisan bayi yang terdengar sangat lemah dan serak dari kamar sebelah.
Dengan tubuh yang masih pegal dan lébám-lébám ćíñťá yang bertebaran, Amara berlari kencang menuju kamar Kenzo. Saat ia mengangkat tubuh mungil itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kulit Kenzo terasa sangat panas.
"Ya Tuhan... Kenzo! Sayang, ada apa?" tangis Amara pecah saat melihat wajah Kenzo yang memerah padam dan napasnya yang pendek-pendek.
Tak lama kemudian, Arlan muncul di ambang pintu. Namun, begitu melihat kepanikan Amara dan mendengar suara napas Kenzo yang tidak wajar, raut wajahnya berubah menjadi sangat keras dan mengerikan.
"Ada apa dengan Kenzo?!" Arlan menyambar bayi itu dari pelukan Amara. Begitu merasakan suhu tubuh anaknya, matanya langsung berkilat penuh kemarahan. "Kenapa dia bisa sepanas ini?! Apa yang kau lakukan semalam sampai tidak tahu anakku sakit, Amara?!"
"S-saya... saya tidak tahu, Tuan. Semalam saat saya letakkan di boks, dia baik-baik saja..." Amara terbata-bata, air matanya mengalir deras.
"Tentu saja kau tidak tahu! Kau terlalu sibuk méñdéśáh di bawah tubuhku sampai kau lupa tugas utamamu!" bentak Arlan dengan suara menggelegar. Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Amara. Rasa bersalah menghujam jantungnya—ia merasa menjadi wanita paling hina karena lalai menjaga bayi demi ķéñíķmáťáñ sesaat.
"Maafkan saya, Tuan... saya..."
"Diam! Cepat ambil tas bayi! Kita ke rumah sakit sekarang!" Arlan tidak memberi kesempatan Amara untuk membela diri.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil mewah itu terasa sangat mencekik. Arlan mengemudi dengan kecepatan tinggi, sementara matanya sesekali melirik ke sebelah, menatap Amara dengan tatapan penuh kebencian dan penghinaan.
"Jika terjadi sesuatu pada Kenzo, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Amara. Aku membayarmu bukan hanya untuk menjadi pémúáś di ranjangku, tapi juga untuk menjaga putraku!"
Amara hanya bisa menunduk, memeluk Kenzo erat-erat sambil membisikkan doa. Hatinya hancur berkeping-keping. Perhiasan mahal di lehernya kini terasa seperti duri yang menusuk kulitnya.
***
Di Rumah Sakit...
Dokter segera membawa Kenzo ke ruang observasi. Amara berdiri gemetar di lorong rumah sakit, pakaiannya yang berantakan dan rambutnya yang tidak tersisir membuatnya nampak sangat mengenaskan. Arlan berdiri beberapa meter darinya, membelakangi Amara sambil meninju dinding rumah sakit karena frustrasi.
"Tuan... Tuan Kenzo pasti akan baik-baik saja," bisik Amara mencoba mendekat.
Arlan berbalik, wajahnya nampak sangat dingin dan asing. "Jangan mendekat padaku. Mulai detik ini, jangan berani-berani kau menyentuh anakku atau muncul di depanku sebelum dokter mengatakan dia aman. Kau hanyalah pengingat akan kelalaianku sendiri, Amara."
Amara terisak di pojok lorong, menyadari bahwa di mata Arlan, ia tetaplah hanyalah seorang pelayan yang bisa disalahkan kapan saja, meski malam sebelumnya pria itu mémújáñýá seolah ia adalah segalanya.