Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Dari Hati Ke Hati
Karena apa yang dikatakan oleh Shafa, kini terpaksa Ameer bercerita pada Hana dan kedua orang tuanya tentang siapa Meizia. Namun, Ameer menegaskan bahwa semua itu Meizia lakukan karena dipaksa.
Tentu saja penjelasan Ameer membuat Hana dan kedua orang tuanya hanya bisa tercengang, tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Mungkin bagi kalian ini adalah aib," kata Ameer. "Dan kami semua tahu itu aib, tapi Meizia ingin merubah hidupnya. Selama ini dia berusaha, hanya saja tidak ada yang membantu."
Semua orang masih terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama kedua orang tua Hana, mereka sungguh tak menyangka Ameer jatuh cinta pada wanita seperti Meizia dan dia tetap mempertahankan cintanya meski tahu siapa Meizia.
Sekarang mereka juga mengerti kenapa orang tua Ameer enggan merestui Ameer dan Meizia, memang orang tua mana yang mau anaknya menikahi seorang pelacur?
"Kalau begitu kita harus membantunya," ujar Hana yang langsung menarik perhatian semua orang. "Mbak Shafa benar, kita harus lapor polisi supaya tidak ada lagi Meizia-Meizia yang lain nantinya," kata Ameer.
Ameer mengangguk sambil mengulum senyum samar, tak menyangka Hana justru mendukungnya dengan tangan terbuka.
"Bi?" panggil Ameer pada ayahnya itu. "Maafkan aku, tapi aku rasa Mbak Shafa dan Hana benar, kita harus membantu Meizia."
"Apa aku menolak ide kalian?" sarkas Abi Zaid. "Besok kita akan ke kantor polisi, tapi kita butuh Meizia bersaksi dengan jujur. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa apa-apa."
"Aku akan membujuk dia supaya mau bersaksi," pungkas Ameer meyakinkan.
Sementara di dalam kamar, Meizia telah sadar pingsannya. Wanita mengerang lirih sambil menatap pergelangan tangannya yang masih sakit.
Setelah itu, ia menatap ke sekelilingnya dan barulah ia teringat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Meizia menunduk, dan menyadari ia telah berganti baju. Bahkan rambutnya juga sudah kering.
Dengan tergesa-gesa Meizia segera turun dari ranjang, sambil memegang kepalanya yang terasa pusing, ia melangkah keluar dan mencoba mencari orang yang ada di sana.
Samar-samar Meizia mendengar suara dari ruangan lain, ia pun mendekati asal suara itu dan seketika Meizia hanya bisa mematung karena kini semua orang sudah menatapnya.
"Zia, kamu sudah sadar." Ameer langsung menghampiri wanita itu yang masih terlihat pucat dan lemas.
Meizia tak menjawab, tatapannya justru tertuju pada semua orang selain Ameer. Entah kenapa tiba tiba Meizia merasa malu dan ia langsung tertunduk. "Aku akan pulang," lirih Meizia.
"Di luar masih hujan," tukas Ameer. "Mbak Shafa juga sudah memanggil Dokter, jadi sebaiknya kamu istirahat di sini."
Meizia menggeleng, entah kenapa ia merasa tidak pantas berada di antara mereka semua. Orang-orang yang berpenampilan begitu berbeda dengannya.
Shafa langsung menghampiri Meizia, ia memegang lengan wanita itu dengan lembut kemudian berkata, "Kita kembali ke kamar, Meizia. Kamu butuh istirahat."
Meizia langsung menatap Ameer seolah bertanya siapa dia. "Dia kakakku," jawab Ameer yang mengerti kebingungan Meizia. "Mereka semua keluargaku, Meizia, jangan takut."
"Aku merasa jauh lebih baik, jadi aku rasa tidak apa-apa jika aku pulang," kata Meizia sekali lagi yang membuat Ameer tampak kesal.
"Kamu mau pulang ke mana? Di luar hujan, anak buah Ibu kamu juga pasti sedang mencari kamu." Ameer berkata dengan tegas yang seketika membuat Meizia terdiam.
"Tidak apa-apa, Meizia," kata Shafa sambil tersenyum, seolah ia mengerti mental Meizia tidak baik-baik saja sekarang. "Kita ke kamar sekarang, okay?" Shafa sedikit menarik Meizia pergi ke kamar, memaksanya. Sementara Meizia hanya bisa menatap Ameer dengan nanar.
Kedua orang tua Ameer yang melihat tatapan kosong Meizia dan wajah pucatnya merasa bersimpati, apalagi ka melihat satu pergelangan tangan Meizia diperban sementara satu yang lain sudah memiliki bekas sayatan.
Entah kenapa, mereka seolah bisa merasakan rasa sakit Meizia.
Saat Meizia tak lagi terjangkau oleh pandangannya, Ameer kembali ke sofa dan saat itulah Marwa berkata, "Aku rasa Meizia juga butuh psikiater, dia pasti punya trauma dan kesehatan mentalnya tidak baik-baik saja."
"Aku rasa juga begitu, Mbak," sahut Hana. "Satu tangan yang lain punya bekas sayatan juga, apa artinya dia pernah mencoba bunuh diri sebelum ini?"
"Pernah," jawab Ameer mewakili. "Saat dia merasa putus asa, hanya itu yang dia pikirkan. Mengakhiri hidupnya."
Mandengar ucapan Ameer, kedua orang tuanya merasa semakin bersimpati. Dan kini mereka mengerti kenapa Ameer bersikeras membantu anak itu.
"Malang sekali nasibnya," gumam kedua orang tua Hana.
Sementara di dalam kamar, Shafa membantu Meizia naik ke ranjangnya dan itu membuat Meizia terharu. Seumur hidup, tak pernah ada yang memberikan perhatian kecil seperti ini.
"Terima kasih," ucap Meizia.
"Sama-sama," jawab Shafa sembari duduk di sisi ranjang. "Boleh aku berbicara, Zia?" tanya Shafa kemudian yang langsung dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.
"Tapi kasih tahu kalau kamu tidak suka dengan apa yang akan aku katakan," kata Shafa. Lagi-lagi Meizia mengangguk. "Aku rasa besok kita harus ke kantor polisi dan melaporkan siapa yang membuatmu jadi seperti ini."
Meizia terbelalak mendengar ucapan Shafa, bahkan ia menahan napas seolah takut. "Jangan takut." Shafa langsung menggengam tangan Meizia dengan lembut. "Kami akan menemanimu dan membantumu sampai masalah ini tuntas, kami janji."
"Tapi kenapa kalian mau membantuku?" lirih Meizia. "Kalian bahkan belum mengenalku."
"Karena kami juga wanita," jawab Shafa dengan lugas. "Dan kami tidak bisa melihat hidup wanita lain hancur, martabatnya direndahkan. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi pada saudari kami."
Meizia meneteskan air mata tanpa bisa dicegah, orang asing yang baru sekali bertemu dengannya membicarakan martabatnya sementara ibu yang telah mengandung dan melahirkannya justru mencabik-cabik kehormatan, harga diri dan perasaan Meizia tanpa ampun.
Meizia berusaha menahan tangisnya, tetapi wanita itu justru terisak pilu dan air mata mengalir deras di pipinya. Shafa yang melihat itu langsung mendekap Meizia, mengusap punggungnya yang bergetar dengan lembut.
"Jangan takut, Zia, kamu berhak memperjuangkan apa menjadi hakmu. Dan kamu berkewajiban menghentikan keburukan yang terjadi padamu dan pada orang-orang di sekitarmu. Jadi kita harus melaporkan semua ini pada polisi."
Meizia mengangguk pelan, meski rasanya berat melaporkan ibunya sendiri ke polisi tetapi mengingat bagaimana sang Ibu menjerumuskan Meizia ke lembah dosa itu, Meizia bertekad akan melakukannya. Bukan untuk balas dendam, tetapi agar tak ada lagi yang sepertinya, seperti Jenny dan teman-temannya di rumah bordil itu.