Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 8 Bayangan yang Mengakui Nama**
Hujan turun tanpa suara, seolah langit takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur di bawah tanah. Defit berdiri di halaman belakang rumah tua itu, tubuhnya basah, napasnya berat. Di hadapannya, tanah hitam yang semalam terbelah kini kembali rata namun aroma busuk dan dingin masih menggantung, menusuk paru-parunya.
Ia tahu, apa pun yang bangkit semalam belum benar-benar pergi.
Setiap langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada tangan-tangan tak kasatmata menarik kakinya agar tetap berada di sana. Dunia di sekelilingnya terasa berbeda warna lebih pudar, suara lebih jauh, dan udara seakan dipenuhi bisikan samar yang tidak bisa ditangkap telinga, tapi dirasakan langsung oleh jiwa.
Defit memejamkan mata.
Sejak ia mengucapkan sumpah di hadapan tanah leluhur sumpah yang bahkan ia sendiri tak sepenuhnya pahami hidupnya tak lagi sama.
Ia tak lagi hanya manusia yang dihina.
Di dalam rumah, mertua perempuannya, Ratna, duduk di ruang tengah dengan wajah pucat. Tangannya gemetar saat memegang cangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, ia merasa jantungnya tak tenang. Ada firasat buruk yang terus menggerogoti batinnya.
“Defit…” gumamnya lirih, tanpa sadar menyebut nama menantu yang selama ini ia anggap beban.
Ia terkejut sendiri.
Kenapa ia menyebut nama itu?
Kenapa bayangan wajah Defit lelaki yang selama ini ia rendahkan terus muncul di kepalanya dengan sorot mata yang berbeda? Bukan lagi mata seorang pria lemah, tapi mata seseorang yang menyimpan sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia manusia.
Langkah kaki terdengar dari arah belakang rumah.
Ratna menoleh.
Defit berdiri di ambang pintu.
Bajunya basah, rambutnya menempel di dahi, namun yang membuat Ratna menelan ludah adalah tatapan itu. Tatapan Defit kini tenang, terlalu tenang… seperti permukaan danau yang menyembunyikan jurang di dasarnya.
“Kamu dari mana?” tanya Ratna, suaranya lebih tinggi dari yang ia inginkan.
“Dari belakang,” jawab Defit singkat.
Tidak ada nada takut. Tidak ada nada merendah.
Ratna merasakan sesuatu bergetar di dadanya perasaan yang belum pernah ia rasakan pada Defit sebelumnya: takut.
Malam itu, Defit tidak bisa tidur.
Ia duduk di kamarnya yang sempit, hanya diterangi lampu minyak kecil. Dinding kayu tua berderit pelan, seolah ikut bernapas bersamanya. Setiap detik berlalu dengan perasaan bahwa ia sedang diawasi.
Lalu…
cermin kecil di sudut kamar berembun.
Padahal udara tidak dingin.
Defit berdiri perlahan, mendekati cermin. Napasnya tertahan saat melihat bayangan di dalamnya tidak sepenuhnya mengikuti gerakannya.
Bayangan itu tersenyum lebih dulu.
Senyum yang bukan miliknya.
“Sudah lama aku menunggumu,” suara itu muncul dari dalam kepalanya, berat dan berlapis, seolah banyak suara berbicara bersamaan.
Defit mundur selangkah. Jantungnya berdegup kencang, tapi kakinya tidak gemetar.
“Aku bukan memilihmu tanpa alasan,” lanjut suara itu. “Penghinaan adalah pintu. Rasa sakit adalah kunci.”
Bayangan di cermin kini berubah wajahnya menjadi lebih tua, penuh luka, mata hitam tanpa cahaya.
“Aku… siapa kamu?” bisik Defit.
Bayangan itu mendekat, wajahnya hampir menembus permukaan cermin.
“Aku adalah mereka yang kau bangkitkan. Leluhur yang dikubur bersama dendam. Jiwa yang disegel oleh rasa malu.”
Defit merasakan kepalanya berdenyut. Ingatan-ingatan asing menyerbu pikirannya: jeritan, darah di tanah, sumpah yang diucapkan di bawah bulan merah.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Defit, suaranya bergetar.
Bayangan itu tersenyum lebih lebar.
“Keadilan,” jawabnya.
“Dan harga yang setimpal.”
Keesokan paginya, rumah itu diliputi keheningan aneh.
Istri Defit, Maya, memandang suaminya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Sejak beberapa hari terakhir, Defit berubah. Ia masih lembut padanya, masih diam… tapi ada sesuatu yang terasa jauh lebih dalam dan gelap.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Maya pelan.
Defit menatap wajah istrinya satu-satunya cahaya yang masih terasa nyata di hidupnya. Ia ingin berkata jujur. Ingin menceritakan semuanya. Tapi kata-kata itu terasa seperti racun jika keluar dari mulutnya.
“Aku hanya capek,” jawabnya akhirnya.
Maya mengangguk, tapi hatinya tidak tenang.
Di luar rumah, angin berembus membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua dari waktu.
Di balik bayangan pohon, sesuatu berdiri, mengamati rumah itu dengan mata yang tak terlihat manusia.
Dan ia berbisik:
“Babak pertama sudah dimulai.”
terus menarik ceritanya 👍