NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dosen / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Tragedi Jamban

Meong!"

Suara itu membelah keheningan. Dimas dan Zora tersentak, tubuh mereka yang semula nyaris tanpa jarak langsung menjauh dengan kikuk. Seekor kucing muncul entah dari mana, mengeong santai di dekat dapur seolah baru saja menggagalkan momen paling krusial malam itu.

Dimas berdehem, mencoba mengatur detak jantungnya yang berantakan. Ia menatap Zora yang masih menunduk dengan pipi merona hebat.

"Zora," suara Dimas merendah, berat dan tulus. "Sebenarnya... prosesi kita belum lengkap. Aku akan menahan diriku sampai kamu benar-benar siap. Sekarang, aku hanya ingin tidur di samping istriku. Hanya itu."

Tanpa menunggu jawaban, Dimas meraih jemari Zora, menggandengnya dengan lembut namun posesif menuju kamar kecil mereka.

Di sana, Dimas menundukkan Zora di tepian kasur sederhana itu. Ia berlutut di depan istrinya, lalu perlahan menangkup kedua pipi Zora dengan telapak tangannya yang hangat. Dunia seolah berhenti berputar hanya agar Dimas bisa mengunci tatapan Zora sepenuhnya.

Tangan Dimas yang hangat masih menetap di pipi Zora, ibu jarinya bergerak pelan mengusap kulit halus itu, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar hingga ke ujung kaki Zora.

Zora menahan napas. Wangi parfum woody bercampur aroma maskulin tubuh Dimas mengepung indranya, membuatnya pening oleh debaran yang kian menggila.

"Kamu tahu, Zora?" bisik Dimas, wajahnya perlahan mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Menunggumu siap adalah ujian tersulit yang pernah aku lalui."

Zora bisa merasakan hembusan napas Dimas di bibirnya. "Pak Dimas..."

"Sshhh." Dimas memotong ucapan itu dengan sentuhan lembut di dagu, mendongakkan wajah istrinya. Tatapannya jatuh pada bibir Zora yang sedikit terbuka, lalu kembali mengunci mata wanita itu. "Malam ini, biarkan aku hanya memelukmu. Tapi jangan salahkan aku jika jantungku berdetak terlalu keras di telingamu."

Dimas kemudian menarik tubuh Zora ke dalam pelukannya, merebahkan tubuh mereka secara perlahan di atas kasur yang berderit halus. Posisi mereka begitu rapat, hingga tak ada celah bagi udara untuk lewat. Dimas menarik selimut hingga sebatas bahu, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zora, menghirup aroma sampo istrinya dengan rakus.

Satu tangan Dimas melingkar erat di pinggang Zora, sementara jemarinya yang lain tertaut di sela-sela jari Zora, menggenggamnya kuat seolah takut dilepaskan.

"Tidurlah," gumam Dimas pelan, suaranya parau dan dalam. "Sebelum aku berubah pikiran dan tidak membiarkanmu memejamkan mata sampai pagi."

Zora memejamkan mata, merasakan tubuhnya bergetar hebat. Di balik punggungnya, ia bisa merasakan degup jantung Dimas yang liar—sama liarnya dengan apa yang ia rasakan. Ini bukan sekadar tidur bersama; ini adalah siksaan termanis yang pernah ia rasakan.

Zora baru saja akan terbuai dalam kehangatan pelukan itu, sampai ia merasakan deru napas Dimas berhenti tepat di depan bibirnya. Dimas tidak bergerak, namun cengkeraman tangannya di pinggang Zora semakin mengerat, seolah pria itu sedang berperang hebat dengan akal sehatnya sendiri.

"Zora," bisik Dimas parau, "bagaimana jika malam ini... aku tidak bisa menepati janjiku untuk sekadar tidur?"

Sebelum Zora sempat menjawab, ponsel di atas nakas bergetar hebat, menampilkan sebuah nama yang membuat alis Dimas berkerut.

"Hallo,Bum!"

*

Adzan subuh baru saja berkumandang saat Zora membuka mata. Ia nyaris menjerit ketika merasakan dadanya sesak oleh beban berat yang menghimpit. Namun, kesadarannya segera pulih. Itu bukan benda mati, melainkan Dimas—suaminya—yang masih terlelap, meringkuk posesif sambil memeluknya erat seolah takut Zora akan menghilang saat ia memejamkan mata.

Udara pedesaan di waktu subuh menusuk hingga ke tulang. Dinginnya begitu menggigit, bahkan selimut tebal yang membungkus tubuh Dimas tampak tak berdaya menghalau hawa dingin itu.

Zora bergerak pelan, mencoba mengangkat lengan kokoh Dimas yang melingkar di pinggangnya. Namun, gerakan kecil itu justru mengusik sang empunya tubuh. Sepasang mata Dimas terbuka perlahan, masih merah karena kantuk.

"Mau ke mana?" tanya Dimas dengan suara serak khas orang bangun tidur—suara yang entah mengapa terdengar jauh lebih seksi di telinga Zora.

"Sudah subuh, Pak. Saya mau shalat dulu," bisik Zora canggung. "Bapak lanjut tidur saja, udaranya sedang dingin sekali."

Zora bangkit, mencoba mengabaikan debaran jantungnya. Ia meraih ikat rambut, menyingkap rambut panjangnya yang berantakan dengan gerakan leher yang jenjang, tanpa sadar membuat mata Dimas kini terbuka sepenuhnya.

"Tunggu, Ra," cegat Dimas, ikut bangkit meski tubuhnya masih gemetar karena dingin. "Kita shalat berjama'ah. Aku imamnya."

Zora hanya bisa mengangguk pelan, ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di hatinya mendengar kata 'imam'.

Saat keluar kamar, mereka mendapati Wa Minah sudah sibuk di dapur, menyalakan tungku yang mulai menebarkan aroma kayu bakar.

"Loh, Uwa sudah bangun?" Zora terperanjat melihat pintu dapur yang memang sengaja tak ia kunci semalam sudah terbuka.

"Sudah dari tadi, Neng. Cepat ke kamar mandi, ambil wudu," sahut Wa Minah tanpa menoleh, sibuk dengan apinya.

Zora mengangguk kecil, sementara Wa Minah kini beralih menatap pria kota yang berdiri kaku di belakang keponakannya itu.

"Gimana, Jang Dimas? Nyenyak tidurnya? Apa kedinginan?" tanya Wa Minah dengan senyum penuh arti.

"Lumayan dingin, Wa," jawab Dimas jujur sambil mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri yang masih menggigil.

"Uwa sudah siapkan teh panas di meja. Nanti diminum ya kalau sudah selesai subuhan."

"Iya, Wa. Terima kasih. Saya ke air dulu, permisi."

Langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan kecil yang terpisah dari rumah utama.

Suara gemericik air yang jernih terdengar nyaring, mengalir langsung dari pipa bambu yang tersambung ke mata air pegunungan.

Dimas terpaku di ambang pintu. Ia menengadah; tidak ada atap yang utuh, hanya rimbun pohon bambu dan langit subuh yang masih biru gelap sebagai peneduhnya. Dindingnya pun hanya susunan bata setengah badan.

"Ra..." Dimas berbisik dengan wajah tersiksa.

"Kenapa, pak?"

"Ini... benar-benar terbuka begini? Kalau ada orang lewat di jalan setapak itu, mereka bisa melihat kepalaku, kan?" Dimas menunjuk bagian atas dinding jamban yang rendah dengan ngeri.

Zora tertawa kecil melihat ekspresi suaminya. "Hanya orang-orang kebun, pak. Dan jam segini mereka belum lewat. Kenapa? Pak Dimas mau buang air besar?"

Wajah Dimas memerah, antara menahan dingin dan malu karena tebakan Zora tepat sasaran. "Perutku sedikit... tidak bersahabat. Tapi keadaannya terlalu terbuka untuk bisa 'konsentrasi'."

"Namanya juga di desa,Pak. Anggap saja sedang menyatu dengan alam," goda Zora sambil tersenyum jahil.

Dimas mendengus, namun kemudian ia mendekat, mencoba mencari kehangatan dari istrinya di tengah udara yang menggigil itu. Ia menarik pinggang Zora, mengunci wanita itu di antara tubuhnya dan dinding jamban. Suasana yang tadinya canggung mendadak berubah menjadi sangat intens.

"Kalau begitu, tunggu di sini sebentar. Jangan pergi," gumam Dimas pelan. Ia menunduk, wajahnya mendekat, mencoba mengabaikan bau kayu bakar dan dinginnya pagi demi mencuri satu kecupan di bibir Zora yang tampak pucat namun mengundang.

Zora memejamkan mata, merasakan napas hangat Dimas yang semakin dekat... satu senti lagi...

PLUK!

Sesuatu yang kental, hangat, dan berwarna putih-abu jatuh tepat di tengah dahi Dimas, lalu meleleh perlahan turun ke hidungnya.

Dimas membeku. Matanya melotot. Aroma tak sedap yang sangat spesifik menusuk indra penciumannya.

"P-pak.." Zora membuka mata dan langsung menutup mulut dengan kedua tangan.

"Zora... jangan bilang ini apa yang aku pikirkan," suara Dimas bergetar, menahan horor yang luar biasa.

Zora mendongak ke atas, melihat seekor burung liar terbang santai di antara dahan bambu. "Pak... itu kado subuh dari burung," ucap Zora, yang sedetik kemudian tak mampu lagi menahan tawa hingga bahunya berguncang hebat.

"ZORA! INI TIDAK LUCU! SIALAN!" Dimas berteriak panik, langsung menyambar ciduk dan mengguyur wajahnya dengan air pegunungan yang sedingin es, sementara harga dirinya hancur berkeping-keping di depan jamban.

"Hahaha! Makanya pak, jangan macam-macam di tempat terbuka!"

Romantisme subuh itu lenyap, berganti dengan suara guyuran air yang brutal dan tawa Zora yang pecah, memecah kesunyian desa.

"Awas ya kamu, tunggu saatnya hukuman dariku!'Ancam Dimas sungguh-sungguh

Bersambung....

Coba koment perbedaan Dimas di buku Jodoh untuk Kanaya dan Dimas di buku ini?

1
Marini Suhendar
teka_teki silang ah thor😄
Ila Aisyah
kawinnnnn,,, ehhh,,, nikahhh ijab kabul😘🫰💪
Ila Aisyah
weleh,,, welehhh,,,, persiapan kondangan man temannnn,,, 🤣
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Eva Karmita
ya ampun pak dosen lihat sikon dong. kasihan Nurul yg polos ternodai matanya 🤣🤣🤣🤣
shadirazahran23: Maklum pak Dosen sudah lama menjomblo,jadi dia lagi kejar setoran
total 1 replies
suryani duriah
good job zora👍👍👍
shadirazahran23: Insya Allah sahabat Kanaya ini gak menye menye 😭
total 1 replies
suryani duriah
jgn petcaca tipuan pelakor lha pelakor zaman sekarang urat malunya udah putus lawaaan kita bantuin dah🤭😁😁👍
Acih Sukarsih
kamu perempuan berpendidikan jadi tahu mana yg asli/palsu
Eva Karmita
pasti ini si sepupu laknat yg kegatelan yg udah birahi 😤😏
shadirazahran23: OMG 😱😱😱
total 1 replies
Eva Karmita
ya ampun gagal lagi 😩😩😂😂😂
Eva Karmita
sabar tahan pak dosen masak unboxing nya di dalam mobil .... jangan atuh cari suasana yang romantis dong 🤣🤣🤣
Eva Karmita
makanya jangan encum otaknya pak dosen 🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
semangat upnya ya..❤️🥰
Eva Karmita
maaf otor aku Ndak tau itu di Garut mana karena aku asli orang Kalimantan 🤭😁
Wiwi Sukaesih
mira ulat bulu...
Wiwi Sukaesih: y Thor ksian amt pnganten baru bnyk halangan ny
dtmbh d ulet bulu mereka Lela
total 2 replies
Wiwi Sukaesih
haaaa
gagal maning 🤣🤣
shadirazahran23: tidak semudah itu furgoso🤭
total 1 replies
suryani duriah
siapa yg ngerusak moment yg ditunggu2🤣🤣
Wiwi Sukaesih
haaa
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭
Wiwi Sukaesih: othor tega BKIN kepala dosen pening gara" g ad ritual mlm pengantin 🤣
total 2 replies
suryani duriah
ceritanya baguuus👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!