NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Laboon dan Janji

"PAUS RAKSASAAAA!" Usopp berteriak histeris sambil berlari ke sana kemari di dek. "ITU PAUS TERBESAR YANG PERNAH KULIHAT! KITA AKAN DIMAKAN!"

"Tenang, Usopp!" Nami mencoba menenangkan sambil memegang kemudi dengan erat. "Kalau kita tidak membuat gerakan aneh, mungkin dia tidak akan—"

GROOOAAAARRRR!

Laboon mengeluarkan suara raungan yang menggelegar, membuat seluruh lautan bergetar. Gelombang suara itu begitu kuat sampai kapal terguncang hebat.

"KYAAA!" beberapa orang terjatuh karena guncangan.

"Dia marah!" teriak Sanji sambil berpegangan pada tiang. "Kenapa paus ini marah?!"

Laboon tiba-tiba menyelam, menciptakan pusaran air besar yang menarik kapal kami!

"TIDAK BAIK!" Nami berteriak sambil mencoba mengendalikan kemudi. "Kita akan tersedot!"

"Kenji!" Luffy berteriak ke arahku. "Gunakan jaringmu! Tarik kapal menjauh!"

"Baik!"

Aku langsung menembakkan jaring ke bebatuan di samping jalur air. Jaring menempel kuat. Aku menariknya dengan sekuat tenaga, mencoba melawan tarikan pusaran.

"SEMUA BANTU TARIK!" teriakku.

Zoro dan Sanji langsung membantu memegang jaring dan menariknya bersama. Kekuatan kami bertiga berhasil melawan pusaran, dan kapal perlahan bergerak menjauh.

Tapi Laboon tidak membiarkan kami lolos begitu saja.

Paus raksasa itu muncul kembali dari air, tepat di depan kapal. Mulutnya yang besar terbuka lebar, siap menelan Going Merry!

"DIA MAU MAKAN KITA!" Usopp pingsan di tempat.

"MUNDUR! MUNDUR!" Nami berteriak panik.

Tapi sudah terlambat. Laboon menutup mulutnya, dan kegelapan menyelimuti kami.

Kami... dimakan oleh paus.

Kegelapan.

Lalu... cahaya?

Aku membuka mata dan melihat pemandangan yang aneh. Kami berada di dalam... perut Laboon? Tapi ini bukan perut biasa. Ada air seperti danau kecil di dalam sini, dan yang paling aneh—ada sebuah rumah kecil mengapung di atas pulau logam!

"Apa... ini?" gumam Zoro sambil menatap sekeliling dengan bingung.

"Ada rumah di dalam perut paus?!" Nami tidak percaya. "Ini tidak masuk akal!"

"Kita di dalam paus!" Luffy malah terlihat excited. "Sugoi! Di dalam perutnya ada rumah!"

Going Merry mengapung di dalam danau asam lambung—meskipun anehnya, air ini tidak terasa seperti asam yang menyakitkan.

Spider Sense ku tiba-tiba berdering pelan. Ada seseorang di rumah itu.

"Ada orang di dalam rumah itu," kataku sambil menunjuk.

"Orang?!" Sanji mengangkat alisnya. "Siapa yang tinggal di dalam perut paus?!"

Tiba-tiba, pintu rumah itu terbuka. Seorang pria tua dengan rambut seperti bunga keluar, membawa koran dan duduk di kursi santai seolah ini adalah hari biasa.

"Oh?" pria itu menatap kami dengan santai. "Ada tamu. Selamat siang."

Semuanya terdiam.

"SELAMAT SIANG APANYA!" Nami berteriak. "KENAPA ADA ORANG TINGGAL DI DALAM PERUT PAUS?!"

Pria tua itu—Crocus—tersenyum tipis. "Karena aku dokternya. Aku menjaga kesehatan Laboon."

"Dokter... paus?" gumam Robin yang baru saja keluar dari kabin. "Interesting."

Crocus menatap kami satu per satu, matanya berhenti sejenak pada Luffy. "Kalian bajak laut rookie yang baru masuk Grand Line?"

"Iya!" jawab Luffy dengan semangat. "Aku Monkey D. Luffy! Aku akan jadi Raja Bajak Laut!"

Crocus tidak terlihat terkejut. Malah, dia tersenyum. "Raja Bajak Laut, eh? Sudah lama aku tidak mendengar kata-kata itu dengan keyakinan seperti itu."

"Pak," aku melangkah maju. "Kenapa Laboon—paus ini—terlihat sangat marah? Apakah ada yang salah?"

Crocus menatapku dengan tatapan menghargai. "Bocah yang perhatian. Ya, ada yang salah. Laboon sakit. Tapi bukan sakit fisik—dia sakit hati."

"Sakit hati?" Nami mengerutkan kening.

Crocus menghela napas panjang dan mulai bercerita.

Cerita tentang Laboon.

Cerita tentang bagaimana 50 tahun yang lalu, sekelompok bajak laut dari West Blue—Rumbar Pirates—bertemu dengan Laboon yang masih bayi di saat mereka akan memasuki Grand Line. Laboon mengikuti mereka karena menyukai musik mereka.

Tapi Grand Line terlalu berbahaya untuk bayi paus. Jadi Rumbar Pirates berjanji akan kembali setelah menyelesaikan perjalanan mereka keliling dunia.

Laboon menunggu.

Dan menunggu.

Dan menunggu.

50 tahun berlalu. Rumbar Pirates tidak pernah kembali.

Laboon tidak tahu bahwa mereka semua sudah mati di suatu tempat di Grand Line.

Jadi setiap hari, Laboon menabrakkan kepalanya ke Red Line—dinding besar yang memisahkan Grand Line dari dunia luar—berharap bisa melewatinya dan mencari krunya.

Tubuhnya penuh luka. Kepalanya berdarah. Tapi dia tidak peduli.

Dia hanya ingin bertemu krunya lagi.

Saat Crocus selesai bercerita, hening menyelimuti kami.

Aku merasakan sesak di dada. Meskipun aku sudah tahu cerita ini dari anime, mendengarnya secara langsung—melihat kesedihan di mata Crocus—membuatnya terasa jauh lebih menyakitkan.

"50 tahun..." gumam Nami dengan mata berkaca-kaca. "Dia menunggu 50 tahun..."

"Laboon tidak tahu bahwa krunya sudah mati," kata Crocus dengan suara sedih. "Dan aku tidak punya hati untuk memberitahunya. Jadi aku hanya bisa menjaga dia, mengobati lukanya, dan berharap suatu hari dia bisa menemukan kedamaian."

Luffy terdiam. Ekspresinya serius—ekspresi yang jarang terlihat di wajahnya yang biasanya ceria.

Lalu, tanpa kata-kata, Luffy melompat dari kapal.

"LUFFY?!" Nami berteriak. "MAU KE MANA KAU?!"

Tapi Luffy tidak menjawab. Dia berenang menuju dinding dalam perut Laboon—atau lebih tepatnya, menuju jalan keluar.

"Dia mau keluar?" gumam Zoro.

Aku tahu apa yang akan dilakukan Luffy. Dalam cerita aslinya, Luffy memanjat ke luar dan—

BOOM!

Suara keras dari luar. Laboon bergetar.

"Apa yang terjadi?!" Crocus berdiri dengan wajah khawatir.

Kami semua berlari—atau dalam kasusnya, aku menggunakan jaring untuk berayun—mencari jalan keluar. Crocus menunjukkan pintu darurat, dan kami keluar dari dalam perut Laboon.

Pemandangan yang kami lihat membuat kami semua terkejut.

Luffy—berdiri di atas kepala Laboon yang terluka—sedang memukul paus itu dengan tinjunya!

"LUFFY! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Nami berteriak histeris.

"INI PERTARUNGAN!" teriak Luffy dengan semangat. "AKU MELAWAN LABOON!"

BOOM! Luffy memukul lagi.

GROOOAAAR! Laboon meraungan marah dan mencoba melempar Luffy dengan ekornya.

Tapi Luffy menghindari dan terus memukul.

"Dia gila," gumam Zoro, tapi ada senyum tipis di wajahnya. "Tapi aku mengerti apa yang dia lakukan."

"Eh? Mengerti apa?" tanya Usopp bingung.

Aku tersenyum sambil menonton. "Luffy memberikan Laboon alasan untuk hidup."

Robin menatapku. "Maksudmu?"

"Laboon sudah kehilangan harapan," jelasku. "Dia melukai dirinya sendiri karena tidak punya tujuan lagi. Tapi sekarang, Luffy memberikannya tujuan baru—melanjutkan pertarungan ini."

Dan benar saja.

Setelah beberapa menit "bertarung", Luffy berhenti dan tersenyum lebar ke Laboon.

"LABOON!" teriaknya. "Pertarungan kita belum selesai! Tapi aku harus pergi keliling Grand Line dulu! Jadi TUNGGU AKU! Setelah aku mengelilingi dunia, aku akan kembali dan kita akan lanjutkan pertarungan ini! JANJI!"

Laboon menatap Luffy dengan mata besar yang penuh emosi.

"Jadi jangan melukai dirimu lagi!" lanjut Luffy. "Kalau kau mati, aku tidak bisa melanjutkan pertarungan! Kau harus tetap hidup dan menungguku!"

GROOOOO...

Laboon mengeluarkan suara—bukan raungan marah, tapi suara yang lembut. Suara yang penuh dengan... harapan.

Air mata mengalir dari mata besarnya.

"Luffy..." gumam Nami sambil menangis. "Kau..."

Luffy tersenyum dan mengambil cat dari saku nya—entah dari mana dia dapat itu—dan mulai melukis di kepala Laboon.

Dia melukis lambang Kru Topi Jerami—tengkorak dengan topi jerami.

"Ini tandanya!" kata Luffy sambil menunjuk lukisan itu. "Tandanya kau sekarang adalah nakama ku! Dan aku akan kembali ke nakama ku! Jadi tunggu aku, Laboon!"

GROOOOOOO!

Laboon meraungan dengan penuh semangat. Bukan raungan kesedihan—tapi raungan kebahagiaan.

Dia punya alasan untuk hidup lagi.

Dia punya seseorang untuk ditunggu.

Dia punya harapan.

Aku tidak bisa menahan air mata. Ini adalah salah satu momen paling emosional di One Piece, dan melihatnya secara langsung—merasakannya secara langsung—membuatnya seribu kali lebih menyentuh.

"Luffy..." aku bergumam sambil tersenyum. "Kau benar-benar luar biasa."

Zoro menyeringai. "Itulah kapten kita."

Sanji menyalakan rokok baru. "Bodoh tapi selalu tahu apa yang harus dilakukan."

Nami dan Robin tersenyum sambil menghapus air mata.

Bahkan Usopp yang biasanya pengecut tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Crocus menatap Luffy dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu dia tersenyum—senyuman yang penuh dengan kenangan.

"Kau..." kata Crocus pelan. "Kau mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang dulu juga berjanji untuk kembali."

"Eh?" Luffy menatap Crocus.

Crocus menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa. Terima kasih, bocah. Kau memberikan Laboon sesuatu yang tidak bisa kuberikan—harapan."

"Shishishi! Tidak masalah!" Luffy tertawa. "Laboon sekarang nakama ku! Tentu saja aku akan kembali!"

Crocus lalu memberikan kami sesuatu yang sangat penting—Log Pose. Kompas khusus untuk Grand Line.

"Kalian akan membutuhkan ini," kata Crocus sambil memberikan Log Pose ke Nami. "Grand Line tidak seperti East Blue. Kompas biasa tidak bekerja di sini. Log Pose akan menunjuk ke pulau berikutnya setelah merekam medan magnet pulau saat ini."

Nami menerima Log Pose dengan hati-hati. "Berapa lama untuk merekam?"

"Tergantung pulaunya," jawab Crocus. "Bisa beberapa jam, bisa beberapa hari, bahkan bisa beberapa bulan."

"Eh?! Beberapa bulan?!" Nami terkejut.

"Selamat datang di Grand Line," Crocus tersenyum. "Tempat di mana aturan normal tidak berlaku."

Saat kami bersiap untuk berangkat, aku mendekati Laboon. Paus raksasa itu menatapku dengan mata besar yang penuh keingintahuan.

"Laboon," kataku sambil menyentuh kulitnya yang kasar. "Aku janji juga. Aku akan memastikan Luffy kembali ke sini. Aku akan melindunginya dengan kekuatanku. Jadi tunggu kami, ya?"

GROOO...

Laboon mengeluarkan suara lembut, seolah mengerti kata-kataku.

Spider Sense ku tidak berdering. Laboon tidak lagi memancarkan aura berbahaya—dia memancarkan aura harapan.

"Kenji! Ayo berangkat!" Luffy memanggil dari kapal.

Aku berlari—atau lebih tepatnya, berayun dengan jaring—kembali ke Going Merry.

Saat kapal mulai berlayar, kami semua melambaikan tangan ke Laboon dan Crocus.

"SAMPAI JUMPA LAGI, LABOON!" teriak Luffy.

GROOOOOAAAAR!

Laboon meraungan—raungan perpisahan yang penuh dengan harapan.

Kami berlayar meninggalkan Laboon, menuju petualangan berikutnya di Grand Line.

Di dek kapal, aku berdiri di samping Luffy yang menatap lautan luas di depan kami.

"Luffy," kataku. "Terima kasih."

"Eh? Untuk apa?" Luffy menatapku dengan bingung.

"Untuk menerima ku sebagai nakama," jawabku dengan tulus. "Aku tidak akan mengecewakan mu."

Luffy tersenyum lebar. "Shishishi! Kau sudah tidak akan mengecewakan! Kau adalah nakama ku! Dan nakama tidak pernah mengecewakan!"

Kata-kata sederhana, tapi sangat berarti.

Aku tersenyum dan menatap cakrawala. Grand Line membentang luas di depan kami—penuh dengan bahaya, petualangan, dan kemungkinan tak terbatas.

"Yosh," gumamku sambil menggenggam tangan. "Saatnya menjadi lebih kuat. Untuk melindungi nakama. Untuk mewujudkan impian."

Nami tiba-tiba berteriak dari kemudi. "OI! LOG POSE MENUNJUK KE ARAH SANA! ITU PULAU PERTAMA KITA!"

"YOSH! AYO KE PULAU ITU!" Luffy berteriak dengan semangat.

"Tunggu, Luffy!" Nami mencegah. "Kita harus bersiap dulu! Grand Line itu berbahaya! Kita butuh rencana—"

Tapi Luffy sudah berlari ke haluan kapal, berdiri dengan pose heroik.

"PETUALANGAN!" teriaknya dengan semangat yang tak terbendung.

Aku tertawa. Ini adalah Kru Topi Jerami yang kukenal dan kucintai—kacau, tidak terencana, tapi penuh dengan semangat dan tekad.

Dan aku sekarang adalah bagian dari mereka.

"Grand Line," gumamku sambil tersenyum. "Tunjukkan apa yang kau punya. Kami siap."

Going Merry berlayar dengan cepat, membawa kami menuju pulau pertama di Grand Line—dan menuju petualangan yang akan mengubah hidup kami selamanya.

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!