Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keajaiban Kecil dalam Kandungan
Sudah dua minggu sejak Safira tahu dia hamil. Dua minggu yang penuh dengan kebahagiaan tapi juga ketakutan yang mencekik.
Pagi itu Safira berdiri di depan cermin kamar mandi, mengangkat bajunya sambil menatap perutnya. Rata. Masih sangat rata. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana kalau dilihat dari luar.
Tapi dia merasakannya.
Merasakan kehangatan yang semakin kuat setiap hari. Merasakan gerakan halus yang kadang muncul, seperti kupu-kupu kecil mengepak sayap di dalam perutnya. Merasakan kehidupan yang tumbuh.
"Kok nggak ada perutnya ya?" Arga tiba-tiba muncul di belakang Safira dengan wajah bingung campur khawatir. Dia sudah jauh lebih kurus sekarang, tulang pipinya menonjol, mata cekung. Tapi matanya masih berbinar saat menatap perut Safira.
Safira langsung menurunkan bajunya dengan cepat, berbalik menatap Arga dengan senyum yang dipaksakan. "Kamu sudah bangun? Masih pagi. Kamu harusnya istirahat lebih lama."
"Aku bangun karena kamu nggak ada di sampingku," Arga melangkah maju, tangannya terulur menyentuh perut Safira yang rata. "Tapi serius, kok perutmu nggak membesar? Udah dua minggu kan? Biasanya kan ibu hamil mulai ada perubahan."
Safira menggenggam tangan Arga yang ada di perutnya. "Karena kandungan gaib berbeda dengan kandungan manusia biasa. Perut tidak akan membesar seperti ibu hamil normal. Tapi bayinya tetap tumbuh. Di sini."
Safira meletakkan tangan Arga lebih erat di perutnya. "Kamu rasakan? Kehangatan itu?"
Arga terdiam, fokus merasakan. Lalu matanya melebar. "Aku merasakan sesuatu. Seperti getaran kecil?"
"Itu dia," Safira tersenyum sambil air matanya mulai keluar lagi. "Itu anak kita, Arga. Dia... dia hidup. Dia tumbuh."
Arga langsung berlutut di depan Safira, memeluk pinggang istrinya sambil menempelkan telinganya ke perut yang rata itu. "Halo, nak. Ini bapak. Bapakmu. Kamu dengar nggak? Bapak sayang kamu. Sangat sayang."
Safira menangis melihat Arga bicara pada perutnya. Tangannya mengusap rambut Arga yang semakin menipis dengan lembut.
"Kamu harus kuat ya, nak," Arga melanjutkan sambil mengusap-usap perut Safira. "Kamu harus tumbuh dengan sehat. Jangan buat ibu sama bapak khawatir. Nanti kalau kamu lahir, bapak akan ajarin kamu banyak hal. Main bola kalau kamu cowok. Main boneka kalau kamu cewek. Atau apapun yang kamu mau. Bapak akan kasih kamu segalanya."
Safira tidak kuat menahan tangisnya lagi. Dia jatuh berlutut juga, memeluk Arga sambil menangis di bahu suaminya. "Arga, aku takut."
"Takut kenapa?" Arga melepaskan pelukan, menatap wajah Safira dengan khawatir.
"Takut, aku tidak bisa jadi ibu yang baik. Takut aku tidak bisa melahirkan dia dengan selamat. Takut... takut kamu tidak akan bertahan sampai dia lahir."
Arga merasakan dadanya sesak mendengar ketakutan Safira. Dia menarik istrinya ke dalam pelukan lagi, lebih erat kali ini walau tubuhnya sudah sangat lemah.
"Kita akan baik-baik saja," bisiknya sambil mengusap punggung Safira. "Kita bertiga akan baik-baik saja. Allah sudah kasih kita keajaiban ini. Dia pasti akan kasih kita jalan untuk bertahan."
Tapi Safira tahu itu bukan jaminan. Nenek Aminah sudah bilang. Semakin bayi tumbuh, semakin banyak energi yang tersedot dari Arga dan Safira. Dan Arga sudah sangat lemah sekarang.
***
Siang itu, saat Arga tidur lagi karena kelelahan, Safira menyelinap keluar rumah. Dia harus menemui Nenek Aminah lagi. Harus tahu perkembangan bayinya. Harus tahu... apa yang harus dia lakukan.
Di hutan yang gelap itu, Nenek Aminah sudah menunggu di bawah pohon besar yang sama seperti terakhir kali.
"Kau datang lagi, nak," sapa Nenek Aminah dengan senyum lembut.
"Nenek..." Safira menghampiri dengan langkah tergesa. "Hamba... hamba perlu tahu. Bayiku... dia sehat?"
Nenek Aminah mengangguk sambil berdiri, mendekat pada Safira. Tangannya yang tua dan keriput terulur, menyentuh perut Safira dengan lembut. Mata tertutup, bibir bergumam membaca mantra dalam bahasa kuno.
Lalu matanya terbuka. Ada senyum di wajah tuanya. "Bayimu sangat sehat, nak. Dia tumbuh dengan baik. Sangat baik bahkan. Aku bisa merasakan jiwanya yang kuat."
"Alhamdulillah..." Safira menghela napas lega sambil memegang perutnya sendiri.
"Tapi..." Nenek Aminah melanjutkan dengan nada serius. "Ada sesuatu yang harus kau tahu."
Jantung Safira langsung berdegup kencang. "Apa, Nek?"
"Bayimu akan lahir sebagai manusia sempurna," kata Nenek Aminah sambil menatap Safira dengan tatapan yang dalam. "Bukan setengah jin setengah manusia. Tapi manusia sepenuhnya."
Safira tersentak. "Ma... manusia sepenuhnya? Bagaimana bisa?"
"Karena ikatan pernikahan kalian yang sah," Nenek Aminah menjelaskan dengan sabar. "Karena Allah meridhai cinta kalian. Dia mengubah bayi di kandunganmu menjadi manusia sempurna agar dia bisa hidup normal di dunia ini. Tanpa harus menanggung beban sebagai makhluk dua alam."
Safira merasakan air matanya mengalir lagi. "Ya Allah... Ya Allah terima kasih..."
"Tapi ada konsekuensinya, nak," Nenek Aminah melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Transformasi dari jiwa jin-manusia menjadi jiwa manusia sempurna itu... membutuhkan energi yang sangat besar. Dan energi itu diambil dari kalian berdua."
Safira membeku. "Di... diambil dari kami?"
"Ya," Nenek Aminah mengangguk dengan wajah sedih. "Semakin bayimu tumbuh, semakin dia berubah jadi manusia sempurna, semakin banyak energi yang terserap dari kalian. Dari jiwa jin-mu. Dari energi hidup Arga. Semakin hari... kalian berdua akan semakin lemah."
"Ti... tidak..." Safira mundur selangkah dengan tangan yang gemetar menutupi mulutnya. "Tidak tidak tidak. Aku tidak mau Arga mati. Aku tidak mau."
"Dia akan mati kalau ini terus berlanjut," Nenek Aminah berkata dengan jujur walau terdengar kejam. "Mungkin... mungkin dalam hitungan minggu. Atau bahkan hari. Tergantung seberapa cepat bayimu tumbuh."
Safira jatuh terduduk di tanah hutan yang lembab. Tubuhnya gemetar hebat. "Lalu... lalu apa yang harus aku lakukan? Menggugurkan kandunganku? Membunuh bayiku sendiri untuk menyelamatkan Arga?"
"Bukan itu satu-satunya pilihan," Nenek Aminah berlutut di samping Safira, tangannya mengusap bahu gadis itu dengan lembut. "Kau bisa memberikan sebagian jiwamu untuk Arga seperti yang sudah kita bicarakan dulu. Dengan begitu, Arga akan kuat sampai bayimu lahir. Tapi kau... kau yang akan sangat lemah. Mungkin tidak bertahan."
"Aku rela," Safira menjawab tanpa ragu sambil mengusap air matanya. "Aku sudah bilang aku rela, Nek."
"Tapi ada hal lain yang lebih berat lagi," Nenek Aminah menatap Safira dengan tatapan yang sangat serius. "Setelah kau memberikan sebagian jiwamu, kau tidak bisa lagi berubah jadi manusia seperti rencana awalmu. Kau akan terkunci sebagai jin selamanya. Dan... dan kalau kau mati nanti, kau tidak akan bisa reinkarnasi. Kau akan benar-benar hilang. Tidak ada di dunia jin. Tidak ada di dunia manusia. Hanya... lenyap."
Hening.
Hening yang sangat mencekik.
Safira menatap tanah di bawahnya dengan tatapan kosong. Lenyap. Benar-benar lenyap. Tidak ada lagi. Seolah dia tidak pernah ada.
"Aku... aku akan benar-benar hilang?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan.
"Ya," jawab Nenek Aminah dengan sedih. "Tidak ada Safira lagi di alam manapun. Hanya kenangan."
Safira terdiam sangat lama. Lalu dia menatap Nenek Aminah dengan tatapan yang penuh tekad walau air matanya mengalir deras.
"Tidak apa-apa," katanya pelan tapi tegas. "Selama Arga dan anakku hidup. Selama mereka bahagia. Aku... aku rela lenyap. Rela tidak ada lagi."
Nenek Aminah menatap Safira dengan tatapan yang campur aduk antara kagum dan sedih. "Kau... kau benar-benar mencintai mereka ya, nak?"
"Lebih dari apapun, Nek," Safira tersenyum di antara tangisnya. "Mereka... mereka adalah segalanya bagiku. Dan kalau aku harus mengorbankan eksistensiku untuk mereka... aku akan lakukan tanpa ragu."
Nenek Aminah memeluk Safira dengan erat. "Kau jin paling mulia yang pernah aku temui, nak. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu kelak. Di manapun itu."
Mereka berpelukan cukup lama sampai Safira berhenti menangis.
"Kapan... kapan kita bisa lakukan ritualnya, Nek?" tanya Safira setelah melepaskan pelukan.
"Besok malam," jawab Nenek Aminah. "Saat bulan separuh. Itu waktu yang tepat untuk transfer jiwa. Kau siap?"
Safira menarik napas dalam. "Aku siap."
"Baiklah. Datang ke sini besok malam jam dua belas. Jangan bilang siapapun. Termasuk Arga."
"Kenapa tidak boleh bilang Arga?"
"Karena dia pasti akan mencegahmu," Nenek Aminah menjawab dengan tatapan yang tahu. "Dia pasti akan bilang dia tidak mau kau berkorban untuknya. Dia pasti akan marah. Jadi... jangan bilang dia. Lakukan diam-diam. Untuk kebaikan kalian semua."
Safira mengangguk pelan. Hatinya berat tapi dia tahu Nenek Aminah benar. Arga pasti akan mencegah kalau tahu.
***
Malam itu Safira pulang dengan perasaan yang sangat berat. Saat masuk rumah, dia melihat Arga sudah bangun, duduk di sofa sambil memegang foto mereka saat pernikahan. Wajahnya tersenyum sambil menatap foto itu.
"Kamu kemana?" tanya Arga saat Safira masuk.
"Jalan-jalan sebentar," jawab Safira sambil duduk di samping Arga. "Kenapa belum tidur lagi?"
"Aku nggak bisa tidur," Arga meletakkan foto di meja, lalu meraih tangan Safira. "Aku... aku takut kalau tidur, aku nggak akan bangun lagi. Jadi aku lebih milih melek, menatap kamu dan memikirkan anak kita."
Safira merasakan dadanya sesak mendengar itu. "Jangan bilang begitu. Kamu akan baik-baik saja."
"Aku tahu tubuhku semakin lemah, Safira," Arga tersenyum sedih. "Aku tahu aku tidak akan bertahan lama lagi. Tapi... tapi aku nggak takut mati. Yang aku takut adalah... ninggalin kamu dan anak kita sendirian."
"Arga..." Safira menangis sambil memeluk suaminya. "Kamu tidak akan mati. Aku janji. Aku akan buat kamu sehat. Aku janji."
Arga membalas pelukan dengan lemah. "Terima kasih, Safira. Terima kasih sudah jadi istriku. Terima kasih sudah kasih aku kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
Mereka berpelukan lama sampai Arga tertidur lagi di pelukan Safira karena kelelahan.
Safira memapah Arga ke kamar, membaringkannya dengan lembut di ranjang. Dia duduk di tepi ranjang, menatap wajah Arga yang tidur dengan damai walau napasnya terdengar berat.
"Besok malam," bisik Safira sambil mengusap wajah Arga dengan sangat lembut. "Besok malam aku akan memberikan sebagian jiwaku untukmu. Dan kamu... kamu akan sehat lagi. Kamu akan kuat lagi. Sampai anak kita lahir. Sampai... sampai kamu bisa melihat dia tumbuh."
Air matanya jatuh ke pipi Arga yang tidur.
"Maafkan aku, Arga," lanjutnya sambil menangis. "Maafkan aku karena melakukan ini tanpa sepengetahuanmu. Maafkan aku karena egois. Tapi... tapi ini satu-satunya cara. Satu-satunya cara agar kamu dan anak kita bisa hidup."
Safira menunduk, mencium kening Arga dengan lembut. Sangat lembut.
"Aku mencintaimu," bisiknya di telinga Arga yang tidur. "Sangat mencintaimu. Lebih dari apapun di dunia ini dan dunia lain. Dan karena cinta itu... aku rela mengorbankan segalanya. Bahkan eksistensiku."
Dia berdiri pelan, berjalan ke jendela kamar. Menatap bulan yang bersinar di langit malam.
Besok malam bulan akan separuh. Waktu yang tepat untuk ritual.
Waktu yang tepat untuk pengorbanan terakhirnya.
"Maafkan ibu juga, anakku," Safira mengusap perutnya sambil berbisik. "Maafkan ibu yang mungkin tidak bisa melihatmu lahir. Tidak bisa menggendongmu. Tidak bisa memelukmu. Tapi ibu... ibu akan selalu mencintaimu. Dari manapun ibu berada nanti. Ibu akan selalu menjagamu."
Safira menangis dalam diam sambil menatap bulan.
Menangis untuk cinta yang harus dia korbankan.
Menangis untuk kehidupan yang harus dia lepaskan.
Menangis untuk kebahagiaan yang tidak akan pernah dia rasakan.
Tapi dia tidak menyesal.
Tidak sedetik pun.
Karena cinta sejati bukan soal memiliki.
Tapi soal memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai.
Walau yang terbaik itu berarti kita harus pergi.
Selamanya.