*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 - "Tikus Mien" menghadang Raksasa
Udara malam yang seharusnya sejuk terasa panas dan menyesakkan, dipenuhi bau hangus dari kayu Palliton yang terbakar dan asap tebal.
Kekacauan telah menyebar ke seluruh jalanan utama desa. Para bandit, dengan teriakan buas yang lebih mirip lolongan hewan daripada pekikan manusia, merangsek masuk seperti air bah kotor, menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan.
Kilatan-kilatan Crafting yang kacau melesat tanpa henti. Lontaran Tanah yang kasar meledak di dinding rumah, mengirimkan serpihan kayu ke udara. Sengat Air tak terarah mendesis melewati telingaku.
Di tengah semua itu, terdengar dentang logam yang konstan dan brutal saat baton-baton saling beradu.
Pertahanan Paleside, yang hampir seluruhnya terdiri dari kadet-kadet Sentinel Corps yang masih hijau, tampak seperti tanggul rapuh yang nyaris jebol. Mereka bertarung dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, namun mereka kalah jumlah hampir satu banding tiga. Pengalaman mereka tidak sebanding dengan kebrutalan para bandit yang sudah terbiasa dengan pertarungan hidup atau mati.
Aku menemukan Percy di badai itu, sosoknya yang tegap menjadi titik fokus di antara carut-marut pertarungan. Wajahnya yang pucat kini dipenuhi jelaga dan keringat.
Tepat sebelum aku tiba, aku melihatnya membeku sesaat.
Salah satu kadetnya terhantam keras di dada oleh seorang bandit bertubuh besar. Kadet itu jatuh tersungkur dengan bunyi yang membuat perut ngilu. Untuk sepersekian detik, suara komando Percy lenyap, digantikan oleh tatapan kosong. Ia baru menyadari bahwa ini bukan lagi sekedar ‘magang’ menjaga gerbang desa, dengan masalah terbesar adalah temannya yang terlambat datang di pergantian shift. Ini adalah pertarungan nyata, dan nyawa rekan-rekannya bergantung kepada komandonya.
Tepat saat itu, Urgon melangkah maju dari barisan bandit.
Ia mendorong anak buahnya sendiri ke samping, menatap lurus ke arah Percy. Pertarungan di sekitar mereka sedikit mereda, seolah menunggu perintah dari para pemimpin.
"Sentinel Corps!" suara Urgon menggelegar, serak dan penuh amarah.
Ia merentangkan tangannya, seolah menyambut teman lama.
"Lihatlah kalian... Anak-anak ingusan yang bermain perang-perangan," ejeknya dengan seringai lebar yang menampilkan gigi kuningnya. "Kami datang jauh-jauh dari hutan, kelaparan dan lelah... Dan inikah sambutan kalian? Menodongkan mainan kecil itu pada kami?"
Percy berdiri lebih tegap, berusaha menyembunyikan getar di tangannya dengan menggenggam baton lebih erat.
"Di sini tidak ada apa-apa untuk kalian!" balasnya, suaranya terdengar jelas dan menantang. "Mundur sekarang, atau kalian akan kami tangkap karena menyerang desa!"
Urgon tertawa. Suara tawanya kasar, tanpa humor, seperti gesekan batu cadas.
"Tangkap? Kalian mau menangkap? Kalian saja tidak bisa kencing dengan benar."
Lagi, suara tawa batu cadas itu memenuhi udara. Matanya yang kejam menyapu barisan pertahanan Sentinel yang tipis. Ia mengangkat batonnya yang besar.
"HABISI MEREKA! AMBIL SEMUANYA!"
Pekikan perang kembali meledak.
Percy, tersentak oleh ancaman nyata itu, berbalik dan mulai meneriakkan perintah dengan panik namun jelas. "Roric, Genta, tahan gang di sebelah kanan! Jangan biarkan mereka memutar!"
Namun, realitas medan perang merespons perintah itu dengan kejam.
Roric, kadet bertubuh gempal yang dipanggil Percy, mencoba maju dengan gagah berani. Ia menghentakkan kakinya, memanggil dinding tanah setinggi pinggang untuk menutup gang. Namun, seorang bandit dengan gada raksasa tidak melambat sedikit pun.
BRAK!
Sekali ayun, pertahanan tanah Roric hancur berkeping-keping. Gada itu terus melaju menghantam bahu sang kadet. Roric terlempar ke belakang seperti boneka kain.
"RORIC!!" teriak kadet lain histeris.
Suara Percy tercekat melihat temannya tumbang begitu cepat. Namun ia memaksakan diri, suaranya kini pecah oleh keputusasaan.
"Kian, Damar, Elara, mundur perlahan! Jaga warga di belakang kalian!" teriaknya serak.
Matanya kemudian bertemu denganku. Ada kelegaan yang begitu jelas di matanya saat melihatku. Sebuah pengakuan tanpa kata bahwa ada seorang profesional lain di medan neraka ini. Kedatanganku seolah menyentakkannya kembali dari jurang keraguan itu. Matanya kembali fokus.
"Zane! Lihat Gora yang paling besar itu!" teriaknya menunjuk Urgon yang berdiri seperti raksasa. "Gerakannya tidak memiliki teknik, hanya kekuatan mentah! Dia cuma tahu cara menerjang ke depan! kita buat dia lelah, serang saat dia hilang keseimbangan!”
"Mengerti!" balasku.
Namun, untuk mencapai Urgon, aku harus membelah gelombang bandit di depanku.
Aku menerjang maju, bahu-membahu dengan dua orang kadet Sentinel yang tampak gemetar namun menolak mundur.
"Jangan serang membabi buta!" nadaku tajam mengatasi kebisingan perang. "Tunggu celah! Biarkan mereka yang salah langkah!"
Seorang bandit mengayunkan gadanya yang berat ke arahku. Aku menunduk, membiarkan senjata melanyang melewati atas kepalaku. Di saat yang sama, aku melepaskan cambuk air tipis yang melilit pergelangan kakinya.
Sreekk!!
Ia kehilangan fokus dan keseimbangan.
"Sekarang!" teriakku.
Kedua kadet itu maju serempak, menghantam bandit yang jatuh itu dengan baton mereka hingga pingsan.
Bandit kedua lebih tangguh. Ia menangkis serangan dadakan salah satu kadet dan membalas dengan hantaman baton yang keras ke bahu. Kadet itu jatuh mengerang kesakitan.
Bandit itu menyeringai dan menerjangku. Aku maju menahan pukulannya dengan batonku yang bergetar hebat menahan benturan.
PRAK!!
Tiba-tiba aku merasakan rentetan hantaman dari belakang. Aku terpaksa mengelak ke samping untuk menghindari serangan bandit di depan, nyaris kehilangan keseimbangan.
Aku menoleh dan melihat wajah pucat seorang kadet muda di sampingku—Damar, kurasa namanya. Ia baru saja melepaskan Lontaran Kerikil yang terlalu lebar dan menghantam punggungku.
"Ma-maaf!" gagapnya takut.
Meskipun geram, aku hanya berteriak, “Depanmu!”.
Kadet itu tersentak, tepat waktu untuk mengelak dari Hydrocraft bandit di depannya. Aku memanfaatkan momen itu, maju dan menghantam rusuk bandit itu. Si bandit mengerang, mencoba menangkap batonku.
"Lututnya! Hajar lututnya!" perintahku.
Damar mengumpulkan sisa keberaniannya, mengayunkan baton ke sisi lutut si bandit.
Krak!
Bandit itu goyah. Aku tidak membuang waktu, menghantam tengkuknya dengan gagang batonku. Dua tumbang.
Di sela napas yang memburu, aku mendengar teriakan dari arah balai desa.
Aku melirik sekilas. Itu Fiora.
Balai desa yang tak berdinding itu kini menjadi benteng terakhir yang rapuh. Melihat barisan bandit mencoba menerobos sisi sayap, Fiora menolak menjadi korban. Dengan para warga yang terluka di belakangnya, ia berdiri tegap dan memasang kuda-kuda bertahan.
Beberapa buah batu seukuran kepalan tangan melayang di depannya. Dengan beberapa ayunan batonnya yang cepat, ia meneriakkan rapalan formula.
“Petrocraft Tiga: Lontaran Tanah!”.
Hujan tanah keras itu melesat, menghantam wajah para bandit yang mencoba mendekat, membuat mereka terhuyung mundur.
Dia benar-benar bertarung. Namun aku tak bisa lama-lama kagum.
Bandit ketiga di depanku, berteriak frustrasi maju ke depan, mengayunkan batonnya tak tentu arah. Aku dengan cepat melepaskan semburan air, membuat tanah di depannya nya menjadi lumpur licin. Ia tergelincir. Kadet terakhir yang bersamaku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Jalan menuju Urgon kini terbuka.
Aku berhadapan langsung dengannya. Gora itu berdiri seperti sebuah menara. Ia tidak lincah, gerakannya berat, namun setiap serangannya memiliki kekuatan yang mengerikan.
Melihatku mendekat, ia menyeringai buas, memperlihatkan gigi yang tidak rata.
"Kita berjumpa lagi, Tikus Mien..."
Suaranya yang serak dan dalam, seolah menarik kakiku ke dasar jurang...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu