NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 15: Utusan dari Utara

Reggiano memusatkan seluruh fokusnya pada denyut di pergelangan tangannya. Ia tidak lagi merasakan dinginnya lantai kayu, melainkan jalinan energi yang menjalar dari akar bangunan hingga ke ujung jemarinya. Dengan satu gerakan tangan yang perlahan namun penuh otoritas, ia seolah menarik selimut dari dalam tanah.

​"Lakukan sekarang, Tuan Herbert," perintah Seraphine lembut.

​Seketika, uap putih yang dingin dan beraroma tanah basah merembes keluar dari sela-sela aspal di luar toko. Dalam hitungan detik, kabut itu menebal, menggulung, dan menelan seluruh blok jalanan hingga jarak pandang menjadi nol.

​Dari balik dinding toko, melalui indra Penjaga Taman, Reggiano bisa "melihat" kekacauan yang terjadi di luar.

Para agen Organisasi yang tadinya bersiap dengan tangki bahan kimia mendadak berhenti. Bagi mereka, aspal kota yang keras telah berubah menjadi lumut lembap, dan gedung-gedung pencakar langit menghilang, berganti dengan pepohonan raksasa yang dahan-dahannya tampak seperti tangan yang siap mencengkeram.

​"Apa ini?! Hutan? Kita tadi di pusat kota!" teriak salah satu agen yang suaranya terdengar jernih di telinga Reggiano.

​"Jangan bergerak! Ini semacam gas halusinasi!" perintah suara lain yang gemetar.

​Reggiano mengepalkan tangannya, dan kabut itu bereaksi. Halusinasi tersebut menjadi semakin nyata, suara kicauan burung aneh yang memekakkan telinga dan geraman binatang buas mulai menghantui pikiran para agen tersebut. Mereka mulai menembak secara membabi buta ke arah bayangan pepohonan yang sebenarnya tidak ada, saling melukai satu sama lain dalam ketakutan.

​"Nona Florence," bisik Reggiano, matanya masih terpejam namun napasnya mulai stabil.

"Mereka kehilangan arah. Hutan ini... ia memakan kewarasan mereka."

​"Bagus, Tuan Herbert," sahut Seraphine sambil berjalan mendekat, menatap tanda sabit mawar di tangan Reggiano yang kini berpendar merah redup.

"Tuan telah berhasil menciptakan Zona eksklusif. Selama kabut ini ada, mereka tidak akan pernah menemukan pintu masuk kita. Mereka akan terjebak dalam rimba pikiran mereka sendiri sampai mereka memutuskan untuk pergi, atau sampai hutan itu memutuskan untuk tidak melepaskan mereka."

​Reggiano merasakan sedikit keletihan menyerang tubuhnya, namun ada kepuasan aneh yang muncul. Untuk pertama kalinya, ia menghentikan pasukan musuh tanpa perlu menembakkan satu butir peluru pun.

Reggiano memejamkan matanya lebih rapat, memusatkan seluruh kesadarannya pada denyut mawar di pergelangan tangannya. Ia tidak lagi melihat jalanan sebagai aspal mati, melainkan sebagai kulit tipis yang menutupi urat-urat raksasa di bawahnya.

​"Nona Florence, saya merasa ini cukup tidak lucu," bisik Reggiano.

"Sepertinya tidak ada yang bisa saya anggap waras sekarang."

​"Tuan Herbert, anda adalah Penjaga Taman. Tanah ini adalah perpanjangan dari kehendak anda," sahut Seraphine dengan nada formal namun memberi dorongan.

"Perintahkan mereka untuk menyingkirkan racun itu."

​Tanpa menggerakkan tubuhnya, Reggiano membayangkan akar-akar pohon ek yang tertidur di bawah tanah kota. Melalui tanda sabitnya, ia mengirimkan perintah.

Di luar sana, di bawah kendaraan Organisasi, tanah mulai bergetar pelan.

​SRRK!!

​Akar-akar yang sekeras baja dan setajam tombak mencuat menembus aspal dengan presisi yang mengerikan. Mereka tidak menyerang para agen, melainkan melilit tangki-tangki kimia dengan gerakan yang lapar. Betapa tidak masuk akalnya akar tersebut sangat kuat dan akhirnya tangki itu remuk dalam cengkeraman kayu purba sebelum sempat menyemprotkan isinya.

​"Laporan! Tangki kita hancur! Sesuatu dari bawah tanah, " suara agen itu terputus oleh suara gemuruh aspal yang kembali menutup.

​Reggiano menarik napas dalam, merasakan beban berat namun memuaskan di pundaknya. Cairan kimia yang tumpah di dalam tanah langsung diserap dan dinetralkan oleh akar-akar tersebut sebelum sempat merusak ekosistem toko.

​"Ancaman telah dinetralkan, Nona Florence," ucap Reggiano sambil membuka mata. Napasnya sedikit memburu, dan tanda mawar di tangannya kini tampak sedikit lebih mekar, warna merahnya semakin pekat.

​Seraphine mengangguk puas, meskipun matanya menunjukkan kilatan keprihatinan.

"Kerja yang sangat bersih, Tuan Herbert... anda telah belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu berarti menarik pelatuk. Namun, ingatlah, semakin sering anda memerintah akar itu, semakin dalam pula akar itu merambat ke dalam jiwa anda."

Kegelapan di luar toko Flower’s Patisserie bukan lagi sekadar malam yang sunyi, melainkan sebuah medan pertempuran yang tak kasatmata bagi manusia biasa. Reggiano Herbert berdiri mematung di tengah ruangan, namun jiwanya sedang merayap di bawah aspal, menjalin komunikasi dengan serat-serat bumi yang telah memberinya kehidupan kedua.

Di pergelangan tangannya, tanda sabit mawar itu tidak lagi sekadar berdenyut; ia membara. Rasa panasnya menjalar hingga ke tulang sumsum, sebuah sensasi yang menghancurkan nalar manusianya dan menggantinya dengan insting pemangsa purba.

"Nona Florence," suara Reggiano terdengar rendah, bergetar oleh kekuatan yang tertahan.

"Mereka tidak akan pergi. Mereka mengirimkan unit pemusnah. Saya merasakannya. Tapi kejadian ini buruk sekali, itu... mereka berniat meratakan tempat ini."

Seraphine berdiri di belakangnya, bayangannya memanjang terkena cahaya redup dari tungku roti.

"Tuan Herbert, taman ini telah memberikan anda kekuatan. Sekarang, ia meminta perlindungan anda.

"Gunakan otoritas anda sebagai Penjaga Taman. Jangan biarkan racun mereka menyentuh akar kami." lanjut Seraphine.

Rasa sakit di pergelangan tangan Reggiano mencapai puncaknya. Tiba-tiba, udara di sekitar tangannya mendingin secara drastis. Dari dalam tanda mawar merah yang melilit kulitnya, keluar jalinan sulur hitam yang keras dan tajam. Sulur-sulur itu merambat ke atas, memadat, dan memanjang, membentuk sebuah gagang yang terbuat dari kayu ek hitam yang membatu.

Kemudian, dengan bunyi desis yang menyeramkan, bilahnya termanifestasi.

Itu adalah sebuah Sabit Pencabut Nyawa yang sangat panjang. Bilahnya melengkung tajam, namun alih-alih terbuat dari baja dingin, bilah itu terbentuk dari ribuan duri mawar hitam yang tersusun sangat rapat dan mengerikan.

Cairan kental berwarna gelap, racun paling murni dari rahim bumi, menetes dari ujungnya, membakar lantai kayu tepat di mana tetesan itu jatuh.

"Ini..." Reggiano mencengkeram gagang sabit itu. Ia merasa seolah-olah senjata itu adalah bagian dari lengannya sendiri.

"Senjata ini... membawa mimpi buruk."

"Itu adalah The Reaper’s Thorn, Tuan Herbert," sahut Seraphine dengan nada formal yang dingin. "Ia tidak memotong daging, ia memotong koneksi antara jiwa dan raga. Gunakan dengan baik, karena setiap nyawa yang dicabut oleh sabit itu akan menjadi pupuk bagi mawar di tangan anda."

Reggiano berbalik. Matanya yang perak kini sepenuhnya berubah menjadi hijau zamrud yang menyala di kegelapan. Tanpa perlu membuka pintu secara manual, ia melangkah maju, dan dinding toko seolah meleleh memberinya jalan. Ia keluar ke jalan raya, berdiri tegak di tengah kepungan kendaraan Organisasi yang kini tampak seperti mainan kecil di matanya.

"Target terlihat!" teriak seorang komandan unit dari atas mobil taktis.

"Reggiano Herbert! Eksekusi di tempat! Gunakan gas saraf!"

Reggiano tidak menunggu. Ia mengayunkan sabit raksasanya dalam satu gerakannya yang luas. Ia bahkan tidak perlu menyentuh tubuh para agen itu. Gelombang energi hitam yang dihasilkan dari ayunan sabit itu melesat membelah udara.

Setiap agen yang terkena gelombang tersebut tidak berdarah. Mereka jatuh seketika, mata mereka memutih seolah-olah kesadaran mereka ditarik paksa keluar dari raga mereka.

Tangki-tangki kimia yang cepat terbakar, yang mereka bawa mendadak ditumbuhi mawar hitam yang tumbuh dalam hitungan detik, meremukkan logam-logam itu hingga hancur menjadi serpihan tak berguna.

"Apa yang terjadi?! Senjata kita tidak berfungsi!"

Reggiano melangkah maju, sabitnya terseret di atas aspal, meninggalkan jejak bunga-bunga layu yang menghitam.

Setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Ia merasa bukan lagi sebagai Reggiano sang pembunuh bayaran, melainkan sebagai personifikasi dari kemarahan alam yang telah lama terinjak-injak oleh beton dan polusi manusia.

Salah satu agen tingkat tinggi mencoba menembakkan peluru kaliber besar ke arah kepala Reggiano. Namun, sebelum peluru itu sampai, seikat duri mawar muncul dari udara hampa, menangkap peluru tersebut dan menghancurkannya hingga menjadi debu.

"Nona Florence benar," gumam Reggiano pada dirinya sendiri, suaranya bergema seperti ribuan daun yang bergesekan.

"Dunia ini sudah terlalu lama mencemari alam."

Ia mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Bilah duri hitam itu memantulkan cahaya bulan yang pucat. Dengan satu hentakan gagang sabit ke aspal, akar-akar raksasa meledak keluar dari bawah bumi, menjungkirbalikkan mobil-mobil taktis dan menyeret para agen ke dalam kegelapan di bawah jalan raya. Tidak ada jeritan, hanya suara gemuruh tanah yang kembali menutup, seolah-olah tidak pernah ada peradaban manusia di sana.

Reggiano berdiri sendirian di tengah jalanan yang kini ditumbuhi rumput-rumput liar yang tumbuh sangat cepat di sela-sela kehancuran. Napasnya stabil, namun ia bisa merasakan mawar di pergelangan tangannya mekar lebih sempurna.

Tanda itu kini menjalar hingga ke siku, mawar-mawar kecil mulai tumbuh menembus kulitnya, namun anehnya, ia tidak merasa sakit. Ia merasa... lengkap.

Ia menoleh ke belakang, ke arah toko yang kini kembali terlihat di matanya. Seraphine berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara bangga dan sedih.

"Tuan Herbert," panggil Seraphine dari kejauhan.

Reggiano berjalan mendekat, sabit raksasanya perlahan menyusut dan kembali masuk ke dalam tanda di tangannya sebagai sulur-sulur hitam yang tenang. Ia kembali menjadi pria dalam setelan yang hancur, namun auranya telah berubah selamanya.

"Ancaman telah dibersihkan, Nona Florence," ucap Reggiano sambil membungkuk kecil, meskipun darah masih mengotori wajahnya.

"Taman ini aman. Untuk sementara waktu..."

Seraphine mendekat dan mengusap pipi Reggiano.

"Anda telah melakukan tugas anda dengan baik sebagai Penjaga Taman. Tapi lihatlah tangan anda, Tuan Herbert. Mawar itu... Apakah anda siap untuk saat di mana anda tidak bisa lagi membedakan antara detak jantung anda dan kematian?"

Reggiano menatap tangannya yang kini dipenuhi ukiran alami mawar merah dan hitam. "Selama Elena bisa bernapas di tempat ini, Nona Florence, saya tidak keberatan jika seluruh tubuh saya berubah menjadi akar."

Seraphine tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak bisa dimengerti Reggiano sama sekali.

"Mari masuk, Tuan Herbert. Teh anda sudah dingin, dan Elena mulai menanyakan mengapa kakaknya begitu lama membuang sampah di luar."

Reggiano melangkah masuk kembali ke dalam toko, meninggalkan jalanan kota yang kini telah direklamasi oleh alam dalam satu malam yang mengerikan. Ia tahu bahwa Organisasi akan mengirimkan lebih banyak pasukan, namun ia juga tahu satu hal dengan sabit di tangannya dan Seraphine di sisinya, ia bukan lagi mangsa. Ia adalah akhir dari siapa pun yang berani mengusik ketenangan taman mereka.

......................

Pagi harinya, Reggiano tidak bisa lagi memegang pisau dapur biasa untuk membantu Seraphine. Setiap kali ia menyentuh benda logam buatan manusia, tanda sabit mawar di tangannya akan berdenyut protes, seolah-olah logam adalah penghinaan bagi kekuatannya.

"Tuan Herbert, biarkan saya saja yang memotong sayuran itu," ucap Seraphine sambil mengambil alih pisau dari tangan Reggiano yang gemetar.

"Saya minta maaf, Nona Florence. Saya merasa... tidak sinkron dengan benda-benda ini," keluh Reggiano.

"Itu karena jiwa anda sedang menolak apa pun yang tidak memiliki kehidupan, Tuan Herbert," jelas Seraphine.

"Sebagai Penjaga Taman, anda harus belajar untuk menciptakan alat anda sendiri dari alam. Jangan gunakan baja yang ditempa dengan api kebencian. Gunakan kayu yang tumbuh dengan kesabaran."

Reggiano mengangguk paham. Ia duduk di sudut dapur, memperhatikan Elena yang sedang asyik menanam bibit bunga matahari di pot-pot kecil. Ia menyadari bahwa hidupnya yang dulu telah benar-benar mati. Tidak ada lagi peluru, tidak ada lagi kontrak pembunuhan, dan tidak ada lagi rasa takut akan kematian.

Hanya ada pengabdian tanpa akhir kepada wanita misterius bernama Seraphine Florence dan taman yang menjadi jantung dari kehidupan baru mereka.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Reggiano bertanya-tanya Siapa sebenarnya Seraphine? Dan mengapa ia memilih seorang pembunuh seperti dirinya untuk menjadi penjaga rahasia di tamannya?.

Hujan tidak turun, namun udara di sekitar Flower’s Patisserie terasa berat dan lembap, seolah-olah awan sendiri sedang menahan napas. Reggiano Herbert berdiri di balik pintu kaca toko, matanya yang kini memiliki semburat hijau permanen menatap tajam ke arah trotoar. Di pergelangan tangannya, tanda sabit mawar berdenyut pelan, memberikan sinyal peringatan yang hanya bisa dirasakan oleh seorang Penjaga Taman.

Ada sesuatu yang mendekat.

Sesuatu yang bukan manusia, namun juga bukan bagian dari ekosistem yang dikelola oleh Nona Florence.

"Nona Florence," panggil Reggiano tanpa mengalihkan pandangan.

"Tamu kita telah tiba. Tapi dia tidak membawa aroma yang baik sekali... Dia membawa bau belerang dan tanah yang terbakar."

Seraphine Florence muncul dari balik tirai dapur, mengeringkan tangannya dengan kain linen putih. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit lebih serius.

"Tuan Herbert, mohon tetap berada di sisi saya. Ini adalah utusan dari Taman Belati, wilayah di Utara yang dipimpin oleh seseorang yang hanya mengenal pertumbuhan melalui kehancuran. Panggil dia 'Tuan Kaelen', namun jangan pernah lepaskan kewaspadaan anda."

Pintu toko berdenting.

Seorang pria tinggi kurus dengan setelan hitam yang tampak kuno melangkah masuk. Kulitnya sepucat kertas, dan matanya kuning seperti reptil. Di setiap langkahnya, tanaman hias di dalam toko tampak layu sesaat, seolah-olah pria ini menghisap kehidupan di sekitarnya hanya dengan bernapas.

Di kehidupan Reggiano dulu, tidak pernah ada makhluk seperti ini muncul. Sekalipun ia mengetahui ujung dunia, keberadaan aneh ini ternyata benar-benar asli tidak hanya sebatas karangan fiksi remaja pada umumnya.

"Nona Florence," pria itu membungkuk, namun gerakannya terasa mengejek. "Sudah lama sekali. Taman anda masih saja... terlalu hijau bagi selera saya."

Reggiano melangkah maju, menghalangi jalan pria itu sebelum ia bisa mendekati meja Seraphine. Sosok Reggiano yang besar dan penuh aura intimidasi membuat Tuan Kaelen berhenti seketika.

"Tuan Herbert, tunjukkan etiket anda," tegur Seraphine secara formal, meskipun matanya memberi isyarat agar Reggiano tetap pada posisinya.

"Maafkan saya, Nona Florence," sahut Reggiano dingin, matanya menatap tajam ke arah Kaelen. "Namun, insting saya merasakan energi yang tidak selaras untuk mendekati taman ini. Tuan Kaelen, anda di sini untuk bicara, bukan untuk membuat musuh."

Kaelen tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan tulang kering. "Seorang Penjaga baru? Dan seorang manusia, rupanya? Nona Florence, anda benar-benar sedang putus asa jika harus mengikat seekor anjing pelacak Organisasi untuk menjaga harta karun anda."

Rasa panas menjalar di pergelangan tangan Reggiano. Tanda sabit mawar itu bereaksi terhadap penghinaan tersebut.

"Tuan Kaelen," ucap Reggiano, suaranya kini bergetar dengan kekuatan tanah.

"Saya mungkin pernah menjadi anjing pelacak, namun sekarang saya adalah tanah yang akan menelan anda jika anda melangkah satu senti lagi tanpa izin."

"Cukup," potong Seraphine. "Tuan Kaelen, apa pesan yang dibawa dari Utara?"

Kaelen mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam yang tampak berdenyut.

"Pemilik saya meminta 'Benih Fajar' yang anda sembunyikan. Sebagai gantinya, Taman Belati tidak akan mengusik kota ini. Jika tidak, kami akan mengirimkan racun kami untuk menghanguskan setiap pondasi gedung di sini hingga runtuh."

Reggiano merasakan kemarahan alam bangkit di dalam dirinya. Ia bisa merasakan akar-akar di bawah toko mulai menggeliat, menanti perintahnya.

Tanpa sadar, bayangan The Reaper’s Thorn, sabit mawar hitamnya, mulai termanifestasi secara samar di genggamannya, menciptakan distorsi udara yang dingin dan beracun.

"Benih itu bukan untuk diperdagangkan," sahut Seraphine tegas.

"Kalau begitu, saya akan mengambilnya dengan paksa," ucap Kaelen. Tiba-tiba, dari balik lengan bajunya, muncul sulur-sulur hitam yang tajam seperti belati baja. Ia menerjang ke arah Seraphine dengan kecepatan yang tidak manusiawi.

Namun, Reggiano lebih cepat.

Dalam satu gerakan yang mengaburkan pandangan, Reggiano menghantamkan kepalan tangannya ke lantai.

DUAGH!!

Lantai kayu itu meledak, namun bukan hancur, melainkan berubah menjadi jalinan akar raksasa yang mencuat dan membentuk dinding pelindung di depan Seraphine.

Reggiano kemudian menarik sabit panjangnya sepenuhnya dari udara hampa. Bilah duri mawar hitamnya berkilau haus akan mangsa, dengan satu ayunan melingkar, ia memotong semua sulur belati milik Kaelen. Potongannya tidak menghasilkan darah, melainkan cairan hitam yang berbau busuk.

"Anda salah tempat untuk pamer kekuatan, Tuan Kaelen," geram Reggiano. Ia melangkah maju, sabitnya berpendar hijau pekat.

"Menjijikkan, sekarang saya mengatakan bahwa sampah harus dibersihkan."

Kaelen mencoba mengeluarkan lebih banyak kekuatan, namun ia menyadari sesuatu yang mengerikan: kakinya tidak bisa bergerak. Akar-akar toko telah melilit pergelangan kakinya, menyedot energi sihirnya langsung ke dalam tanah.

"Nona Florence! Penjaga anda ini... dia tidak terkendali!" teriak Kaelen ketakutan.

Seraphine menatap Reggiano yang kini tampak seperti dewa kematian hijau yang agung.

"Tuan Herbert, hentikan. Jangan biarkan dia mati di sini. Itu akan memicu perang yang belum siap kita hadapi."

Reggiano berhenti, ujung tajam sabitnya hanya berjarak beberapa milimeter dari leher Kaelen. Napasnya memburu, dan tanda mawar di tangannya kini menjalar hingga ke lehernya, memberikan gambaran mawar yang sedang mekar dengan sangat indah namun mengerikan.

"Dengar baik-baik, Utusan," bisik Reggiano tepat di telinga Kaelen.

"Katakan pada tuanmu di Utara, jika dia mengirimkan satu lagi parasit seperti anda, saya tidak akan hanya memotong sulurnya. Saya akan mencabut akarnya dari inti bumi. Pergi sebelum saya berubah pikiran."

Reggiano melepaskan tekanannya, dan akar-akar di lantai melepaskan Kaelen.

Utusan itu terjatuh, terbatuk-batuk, lalu segera berlari keluar toko dengan wajah penuh ketakutan, menghilang di balik kabut yang secara otomatis diciptakan oleh kekuatan Reggiano di luar.

Suasana toko kembali sunyi. Sabit raksasa itu perlahan menghilang, kembali menjadi tanda di tangan Reggiano. Reggiano terjatuh berlutut, merasa sangat lelah. Penggunaan kekuatan sebesar itu untuk pertama kalinya menguras energi manusianya secara drastis.

Seraphine mendekat dan berlutut di sampingnya. Ia meletakkan tangannya di dada Reggiano, menenangkan detak jantungnya yang liar.

"Anda melakukannya dengan sangat baik, Tuan Herbert. anda telah menunjukkan otoritas yang sah. Namun, mawar anda... ia tumbuh sangat cepat hari ini."

Reggiano menatap tangannya yang kini penuh dengan guratan merah permanen. "Saya tidak menyesalinya, Nona Florence. Selama tempat ini aman... dan selama Elena bisa terus melihat bunga-bunga itu tumbuh."

Elena muncul dari lantai atas, tampak bingung melihat kekacauan di lantai bawah. "Kak Reggi? Ada apa? Tadi ada suara berisik sekali."

Reggiano memaksakan diri untuk berdiri, menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggung. Ia menoleh ke adiknya dan tersenyum, sebuah senyum lelah namun penuh kasih. "Hanya tamu yang sedikit tidak sopan, Elena. Nona Florence sedang mengajari Kakak cara memperbaiki lantai yang rusak. Kembali ke kamar, ya? Kakak akan segera menyusul untuk membuatkan teh."

Setelah Elena pergi, Reggiano kembali menatap Seraphine dengan tatapan formal yang kembali tenang. "Nona Florence, mereka akan kembali dengan pasukan yang lebih besar, bukan?"

"Ya, Tuan Herbert," sahut Seraphine sambil menatap ke arah Utara yang gelap. "Perang antar taman telah dimulai. Dan anda adalah benteng pertama kami."

Reggiano mengangguk. Ia tahu bahwa mulai hari ini, ia bukan lagi seorang pelarian. Ia adalah Penjaga Taman, dan ia akan memastikan bahwa setiap duri di tubuhnya akan menjadi pelindung bagi keajaiban yang telah menyelamatkan keluarganya.

Malam itu, Reggiano tidak tidur. Ia duduk di ambang pintu, tangannya memegang segelas teh dingin, sementara indra pendengarannya yang tajam bergerak kesana kemari disetiap bisikan tanah hingga radius kilometer yang jauh.

Di bawah sinar bulan, tanda mawar di tangannya tampak bercahaya, sebuah janji setia antara seorang pembunuh dan bumi yang memberinya pengampunan.

Dunia mungkin sedang hancur di luar sana, namun di dalam Flower’s Patisserie, kehidupan akan tetap bertahan, selama sang Penjaga masih berdiri di posisinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!