Dijual oleh Ibu dan Kakak tirinya pada seorang CEO dingin demi untuk menebus rumah yang digadaikan oleh Ibu tirinya dan juga melunasi hutang judi Kakak tirinya. Diandra terpaksa menikah dengan laki-laki kejam bernama Erlangga.
CEO yang begitu terkenal dengan prestasi dan begitu diidamkan banyak wanita itu, selalu berlaku semena-mena pada Diandra, terutama saat diatas ranjang.
Diandra terpaksa bertahan, tetapi bukan karena mencintai Erlan, melainkan karena keluarga barunya yang begitu menyambut baik kedatangan Diandra sebagai menantu. Ditambah lagi, dia tidak punya tempat berteduh kecuali rumah suami kejamnya itu.
Akankah Erlan luluh dan mencintai istrinya Diandra saat kekasih Erlangga yang sesungguhnya datang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delis Misroroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Menerima
Malam kian larut dan Diandra terbangun dari tidurnya. Erlan telah menggauli Diandra dua kali hingga akhirnya dia bisa tidur lelap. Namun anehnya, walaupun Erlan melakukan dengan pelan-pelan, bagian intim Diandra masih saja sakit. Meski tidak sesakit biasanya, tetapi rasa itu sangat tidak nyaman dan menggangu cara berjalan Diandra.
"Auh!" pekik Diandra saat ingin turun dari tempat tidur. Erlan terbangun dan segera mendekati istrinya.
"Sayang, kenapa? Aku dengar kamu merintih tadi. Sakit?" tanya Erlan khawatir.
"Iya, Mas. Rasanya sakit walaupun nggak sakit banget," jawab Diandra agak menekan perutnya.
"Bentar, aku pakai baju dulu. Nanti aku ambilin baju kamu juga," kata Erlan beranjak dari tempat tidur dan berganti pakaian. Erlan juga mengambilkan pakaian untuk Diandra lalu memakaikan perlahan. "Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Erlan lagi seraya berjongkok di depan Diandra. Sebuah anggukan membuat Erlan segera membopong tubuh Diandra masuk ke dalam kamar mandi dan menurunkannya perlahan.
Erlan memperhatikan dengan seksama apa saja yang dilakukan Diandra. Beberapa kali Erlan melihat Diandra meringis kesakitan saat buang air kecil. "Aku melakukan dengan sangat hati-hati, tapi kenapa dia masih kesakitan? Nggak mungkin dia pura-pura kesakitan demi mencari perhatianku," batin Erlan masih tidak memalingkan pandangannya.
Setelah selesai, Diandra membersihkan bagian intimnya dengan air kemudian mendongak menatap Erlan. "Udah selesai, Mas," kata Diandra, hanya saja Erlan malah terlihat tidak berkedip. "Mas!" panggil Diandra dengan meraih tangannya.
"Eh, udah? Maaf, tadi aku melamun, Sayang. Ayo kita kembali," jawab Erlan yang lalu membopong tubuh Diandra.
"Aku mau duduk dulu, Mas. Boleh tolong minta air hangat? Tenggorokan aku kering," pinta Diandra dan Erlan langsung mengangguk kemudian berjalan ke arah dispenser untuk mengambil air hangat yang diminta Diandra. "Maaf ya, Mas. Aku sangat merepotkan," kata Diandra lalu meraih gelas yang disodorkan Erlan dan meminum air itu hingga habis.
"Nggak pa-pa, Sayang. Mau sesuatu lagi?" tawar Erlan seraya duduk di sisi istrinya.
"Nggak, Mas. Kamu udah baikan? Pengaruh obatnya udah nggak ada?" tanya Diandra khawatir. Diandra bahkan meraih pipi Erlan dan mengusapnya. Erlan meraih tangan itu dan menciumnya.
"Aku nggak pa-pa. Terima kasih udah mau bantu aku, Sayang." Erlan kembali mencium tangan Diandra.
"Nggak perlu berterima kasih, Mas. Aku memang milikmu karena kamu udah membeli ku, jadi kamu mau gimana juga terserah kamu," jawab Diandra kemudian berbaring dan menarik selimutnya. "Ayo tidur lagi, Mas. Ini masih jam dua pagi," sambung Diandra seraya tersenyum manis.
"Sayang ... apa kamu nggak percaya kalau aku tulus mencintaimu? Aku udah bilang kalau aku putus dengan Cherin. Kamu masih nggak mau terima aku?" Erlan pun berbaring di sisi Diandra dan memiringkan tubuhnya menghadap serta memeluk Diandra.
"Aku nggak tahu, Mas. Aku harus gimana, aku nggak tahu, karena pada kenyataannya kamu membeli ku dari Ibu dan Kakak tiriku. Aku akan terus menurutimu supaya kamu nggak rugi membeli aku dengan harga mahal. Tidurlah, besok kamu harus kerja, bukan?" jawab Diandra masih dengan senyum manis.
"Sayang ... maafkan aku atas sikapku sebelumnya. Tapi bisakah kita nggak bahas itu lagi? Dadaku sakit. Bisakan kamu anggap ini adalah cara semesta mempertemukan kita?" kata Erlan dengan ketulusannya.
Hati perempuan mana yang tidak terharu dengan sikap suaminya yang tulus seperti Erlan. Matanya tidak menunjukkan sebuah kebohongan sama sekali. Diandra ingin percaya, tetapi bahkan dia saja tidak percaya dengan dirinya sendiri, bagaimana Diandra bisa percaya dengan laki-laki yang baru saja hadir dalam hidupnya itu.
"Aku akan mencobanya. Sekarang tidurlah, jangan sampai kamu kelelahan, Mas!" Erlan mengangguk dan mencium kening Diandra kemudian tidur dengan memeluk Diandra. "Aku merasa nyaman dan tenang sekarang, Mas. Aku merasa bahagia saat kamu bilang putus dengan kekasihmu. Tapi siapa yang tahu jika kekasihmu itu nggak melakukan sesuatu untuk mendapatkan kamu lagi? Maafkan aku yang belum terbuai dengan apa yang kamu ucapkan. Aku sangat berharap bisa hidup tenang dan bahagia bersamamu juga keluargamu, tapi aku takut, Mas. Aku sungguh takut," batin Diandra yang kemudian ikut memejamkan matanya.
AQ jga Lampung.. hehe
karna sudah ada isi