Damian, lelaki yang dikenal dengan julukan "mafia kejam" karena sikapnya bengis dan dingin serta dapat membunuh tanpa ampun.
Namun segalanya berubah ketika dia bertemu dengan Talia, seorang gadis somplak nan ceria yang mengubah dunianya.
Damian yang pernah gagal di masa lalunya perlahan-lahan membuka hati kepada Talia. Keduanya bahkan terlibat dalam permainan-permainan panas yang tak terduga. Yang membuat Damian mampu melupakan mantan istrinya sepenuhnya dan ingin memiliki Talia seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Talia berlari ke sembarang arah. Biasanya kalau dia sedang menangis, dia akan mencari tempat yang sepi. Biar dia bisa menangis sekencang mungkin. Dalam kasus Talia, sebenarnya gadis itu tidak sedih-sedih amat. Tapi sudah terlanjur menangis, jadi dia akan terus menangis kencang sampai dia lelah sendiri.
Gadis itu masuk di sebuah lorong sempit yang kelihatan sangat sepi itu. Dia duduk di lantai gang, samping drum besi besar. Gadis itu tidak melihat ada orang lain di lorong itu, hanya dirinya seorang. Sesaat kemudian, gadis itu menangis sekencang-kencangnya.
"Hwaaaa! Hidup ini gak adil, manusia gak ada yang adil! Tapi aku juga manusia, hwaaa!"
Tanpa Talia sadar, ada seseorang yang kaget mendengar tangisan dan teriakan kencangnya.
Damian.
Ya, laki-laki itu adalah Damian. Sosok paling kejam di dunia bawah tanah. Banyak orang takut padanya, namun musuhnya juga sangat banyak. Saat ini Damian sedang terluka parah akibat tusukan di perutnya. Hari ini ia lalai hingga menyebabkan musuhnya hampir menghabisinya.
Tempat ini, adalah tempat dirinya bersembunyi dari kejaran musuh. Damian harus bersembunyi karena tubuhnya sudah sangat lemah. Dalam keadaan lemah begini, dia tidak bisa lagi melawan musuhnya.
Masih ada pisau yang menancap di perutnya. Tapi dia tidak menyangka akan ada orang lain yang datang ke sini. Perempuan pula, dan sedikit aneh. Perempuan itu berada di sebelah, mereka terpisah oleh drum besi. Kenapa seorang wanita malam-malam begini berkeliaran di jalanan sepi seperti ini? Apa dia tidak takut?
Damian menahan napas, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit yang luar biasa. Darah masih mengalir pelan dari luka di perutnya, membasahi baju hitam yang sudah penuh noda merah gelap. Ia bersandar pada dinding dingin lorong sempit itu, mencoba menenangkan diri meski kesadarannya mulai kabur.
Teriakan Talia yang melengking tiba-tiba membuatnya tersentak. Rasa kaget itu menambah perih di lukanya, membuatnya mendesis pelan. Ia tidak ingin ada orang yang tahu dia ada di sini, apalagi dalam kondisi sekarat seperti ini. Tapi perempuan itu … perempuan aneh itu … malah menangis sekeras mungkin, seperti tidak peduli pada dunia.
Damian mengerutkan kening, mencoba menahan rasa marah dan rasa sakit sekaligus. Suara tangisan itu membuatnya gelisah, bukan karena bising, tapi karena bisa menarik perhatian orang-orang yang sedang memburunya.
Akhirnya, dengan sisa tenaga, Damian menggerakkan tubuhnya sedikit, mencoba melirik dari balik drum besi besar. Ia melihat perempuan itu duduk di sana, lututnya ditekuk, wajah tertutup kedua tangan, dan menangis tanpa beban.
"Hentikan," desis Damian pelan, suaranya serak.
Talia langsung berhenti terisak. Ia menoleh dengan mata bengkak, kaget bukan main. Matanya bertemu dengan sosok laki-laki yang terlihat … mengerikan. Wajah laki-laki itu pucat, rambutnya berantakan, dan ada darah di mana-mana. Tangannya juga berdarah. Pisau menancap di perutnya.
Talia menjerit spontan.
"Aaaaa!! Ada orang berdarah-darah!!"
Shit.
Jeritannya membuat Damian mengumpat pelan.
"Diam! Jangan teriak!" katanya dengan suara rendah, tapi penuh ancaman.
Namun Talia justru berdiri, langkahnya ragu, tapi rasa penasarannya lebih kuat daripada rasa takut.
"K-Kamu kenapa? Kenapa ada pisau di perutmu?!" tanyanya polos.
Damian memejamkan mata, menahan frustasi.
"Bukan urusanmu. Pergi dari sini," katanya lemah.
Talia bukannya pergi, ia malah mendekat, menunduk melihat luka itu dengan ekspresi campur aduk antara ngeri dan panik.
Tapi gadis itu hanya duduk di depan Damian sambil terus menatap ke pisau yang menancap di bagian perut pria itu.
Berniat menolong?
Tidak. Dia hanya berniat melihat karena tidak tahu caranya menolong. Laki-laki di depan sana pun tatapannya sangat tajam dan mengintimidasi. Talia takut mendekat dan membuatnya tersinggung.
"Apakah itu sakit?" tanyanya polos. Damian menatap gadis itu dengan emosi tertahan. Sudah lihat kondisinya begini, masih tanya pula.
Damian baru menyadari eyeliner gadis itu sudah luntur karena air matanya. Sekarang area matanya bengkak dan hitam semua. Penampilan emonya berubah. Saat pandangan Damian jatuh ke tahi lalat hitam kecil di bawah matanya, ia pun langsung mengenalinya. Gadis itu adalah gadis aneh yang ada di warung makan waktu itu, dan si penyanyi sumbang yang tidak sengaja bertemu di taman dekat rumahnya. Sudah sebulan yang lalu, tapi entah kenapa Damian masih mengingatnya. Bahkan suaranya dia ingat sekali.
"Aku tanya, apa luka kamu rasanya sakit?"
Damian menghela napas pendek, menahan sakit yang terasa seperti bara di perutnya.
"Menurutmu?" desisnya pelan, penuh sarkasme.
Talia mengangguk pelan, tampak serius menanggapi.
"Pasti sakit, ya. Soalnya aku pernah ke tusuk jarum pentul aja nangis setengah mati." ia menatap pisau yang menancap di perut Damian dengan ekspresi prihatin campur penasaran.
"Tapi pisau itu… lebih besar dari jarum pentul."
Damian memejamkan mata, mencoba mengabaikan komentar bodoh itu. Dia benar-benar tidak punya energi untuk meladeni gadis aneh ini.
Namun Talia tetap duduk di sana, tidak bergerak. Tangannya meremas ujung jaket yang ia kenakan.
"Kamu gak takut mati?" tanyanya lagi, kali ini suaranya pelan.
Damian membuka mata, menatap lurus ke arah Talia. Sorot matanya tajam, penuh dengan sesuatu yang gelap, tapi juga samar-samar ada kelelahan di sana.
Takut? Dia sudah melewati banyak hal lebih buruk dari kematian. Kematian tidak ada dalam daftar takutnya.
"Dari matamu, pasti kamu nggak takut mati." ucap Talia lagi, seolah tahu apa yang akan Damian katakan.
"Aku juga," katanya pelan. Ia terus bicara. Lupa akan rasa takutnya kepada pria itu.
"Kayak … pas ketahuan nyontek di kelas. Itu rasanya lebih parah dari mau mati. Makanya menurutku, ketahuan nyuri itu lebih menakutkan dari kematian, apalagi ketahuan nyontek saat lagi asyik-asyiknya. Malu banget gak tuh?"
Damian ingin tertawa, tapi perutnya malah berdenyut hebat. Ia meringis, lalu bergumam,
"Kau terlalu berisik."
Talia mengangguk cepat, lalu duduk bersila.
"Aku memang selalu berisik orangnya. Tapi kamu tenang aja, aku akan tetap di sini, nemenin kamu sampai … kamu gak berdarah lagi."
Damian mendesah.
"Gila."
Talia mengangguk setuju.
"Iya."
Damian mendengus pelan. Lalu meringis kesakitan lagi. Tidak, dia tidak bisa begini terus. Darahnya tidak berhenti keluar, dia harus segera mencari pertolongan. Musuhnya pasti masih mencarinya. Dia harus segera menelpon Max. Tapi hapenya ada di dalam saku, keadaanya sekarang ini membuatnya kesulitan mengambil benda pipih dalam sakunya. Satu-satunya yang bisa menolongnya sekarang adalah gadis di depannya ini. Tetapi Damian tidak yakin. Gadis itu agak gila.
Meski begitu, dia tidak bisa menampik kalau hanya gadis itu yang bisa menolongnya sekarang.
"Kau ..." suara Damian serak, nyaris tak terdengar. Ia menelan ludah, menahan darah yang merembes dari sudut bibirnya.
Talia mencondongkan tubuh, mendekatkan telinganya karena tidak mendengar dengan jelas.
"Hah? Apa? Boleh di ulangi?"
Damian mengerang pelan, frustrasi.
"Bisa … tolong aku…?"
Talia memiringkan kepala.
"Tolong? Maksudnya … cabutin pisaunya? Aduh, aku nggak berani. Dulu aja waktu narik perban di luka temanku, aku pingsan duluan."
Damian menutup matanya dalam-dalam. Gadis ini, biasanya orang lain akan langsung membantu dan mencari cara apa saja saat melihat orang lain terluka, tetapi gadis ini ...
dobel up