MOHON MAAF, INI NOVEL PERTAMA SAYA, ISINYA MASIH SANGAT BERANTAKAN.LEBIH-LEBIH ALURNYA JUGA LONCAT-LONCAT. BTW LANJUTAN DARI NOVEL INI LEBIH RAPI YA, JUDULNYA PETUALANGAN ZHANG XIUHAN. TRIMS DAN MAAF SEKALI LAGI...
Zhang Xiuhan merupakan pemuda biasa saja yang tak memiliki keahlian bela diri. Meski tak memiliki latar belakang kependekaran, kebaikan hatinya telah berhasil mematahkan Mantera pada Pedang Naga Emas yang kemudian memaksanya untuk masuk dan terlibat di dunia persilatan.
Tak hanya terlibat di dunia kependekaran, Zhang Xiuhan juga melibatkan dirinya dalam memerangi militer Kekaisaran Min yang telah melakukan penjajahan di banyak wilayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashirama Senju, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 22 - Keberangkatan Misi
Li Jie bergegas menghampiri Matriark Wang untuk menanyakan keadaannya karena Matriark Wang terlihat mengibas-kibaskan tangannya berulang kali.
"Matriark Wang tidak papa?" Li Jie bertanya serius.
Bukannya menanggapi kekhawatiran Li Jie, Matriark Wang dengan cepat mengibaskan rambutnya ke dada Li Jie dan membuat Li Jie terpental jauh.
Li Jie terhempas ke tanah dan muntah darah. Matriark Wang dengan langkah angkuhnya mendekati Li Jie dengan pelan. Ia berjalan dengan dua tangan di belakang dan rambut bergoyang-goyang seperti kalajengking.
"Bocah sombong! Kau kira Kau bisa melukaiku? Aku bahkan hanya menggunakan kekuatanku seujung kuku." Matriark Wang tersenyum sinis sambil menikmati pemandangan Li Jie terbatuk-batuk tak berdaya.
"Tapi... Aku memang patut memujimu tentang satu hal....
Matriark Wang mengulurkan tangannya untuk membantu Li Jie bangun. Li Jie menerima uluran tangan Matriark Wang.
Begitu Li Jie bangun dan saling berhadapan dengan Matriark Wang, rambut Matriark Wang menggeliat-geliat di pipi Li Jie.
"Kau... Tampan." Bagitu memuji ketampanan Li Jie, Matriark Wang berbalik dan berjalan meninggalkan Li Jie.
"Temuilah Guru Fengying dan minta ia mengobati lukamu!" Matriark Wang berucap tanpa menoleh ke arah Li Jie.
***
Guru Fengying mengomel mendapati muridnya dilukai oleh ibunya sendiri. Wanita tak ber hati nurani. Bisa-bisanya melukai remaja yang bahkan hendak menjalankan misi berbahaya, batinnya.
Ia meracik sebuah ramuan herbal dan meminumkannya kepada Li Jie. Ia juga membalut dada Li Jie dengan perban.
"Tenang... Ramuan herbal ini akan membuat lukamu lekas sembuh." Guru Feng menghibur Li Jie yang terlihat masih kesakitan.
"Guru Feng apakah aku boleh masuk?" Suara seorang gadis di luar ruangan mengagetkan Guru Fengying dan Li Jie.
Lien Hua masuk ruangan begitu diijinkan oleh Guru Feng. Ia juga meminta ijin untuk berbicara berdua saja dengan Li Jie. Guru Feng menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar anak muda!" katanya sambil berlalu pergi.
Lien Hua melihat kondisi Li Jie. Ia yang biasanya bermuka garang kini seolah menunjukkan rasa bersalah yang besar.
"Li Jie, maafkan aku. Aku tak pantas dimaafkan. Bagaimana ini?" Lien Hua menutup wajahnya karena merasa sangat bersalah.
"Nona Lien Hua, aku tak mengerti maksudmu. Mengapa harus meminta maaf?"
"Aku memang murid kesayangan Matriark Wang. Tapi tak kusangka ia akan bertindak sejauh ini."
"Aku tak mengerti maksudmu, Nona Lien Hua."
"Aku memang melaporkan tindakanmu yang melukaiku kepada Matriark Wang. Aku harap Kau akan dihukum karena telah melukai murid kesayangannya. Tapi... Tak kusangka Kau dihukum seberat ini. Maafkan aku...." Lien Hua mulai menangis karena merasa bersalah.
"Nona Lien, kukira Kau salah sangka. Ini bukan karena dirimu." Li Jie berusaha menghibur.
"Tidak... Ini semua karena aku. Kudengar Kau diberi misi berbahaya. Dan sekarang, Matriark Wang melukaimu. Dia kelihatannya benar-benar marah."
Li Jie menggeleng-gelengkan kepalanya pusing. Menjelaskan suatu kebenaran kebapa wanita kadang memang seperti memberi garam di laut.
Sekeras apapun diberi penjelasan, wanita tetap memakai pemikiran dan prasangkanya sendiri.
"Baiklah... Kalau Nona Lien Hua memang merasa bersalah, aku maafkan. Tak usah dipikirkan. Aku tak pernah menyalahkanmu."
"Benarkah? Aku berhutang budi padamu. Bagaimana aku membayarnya."
"Tak usah dibayar."
Lien Hua mengernyitkan kening sambil memandangi pemuda rupawan di hadapannya. Ia tak pernah bermuka manis di hadapan pria lain kecuali hari itu.
Dengan malu-malu, Lien Hua mengecup pipi Li Jie kemudian berlari pergi. Antara gugup, takut, malu, dan merasa bodoh.
Lien Hua kembali dari ruangan Li Jie dengan langkah terburu-buru. Ia mengutuki dirinya sendiri karena telah berbuat bodoh dan memalukan. Sementara itu Li Jie diam mematung. Entah mengapa ia justru teringan Guru Zhillin.
***
Hari keberangkatan misi telah tiba. Li Jie dan Guru Fengying berpamitan kepada Matriark Wang Chunying dan segenap tetua dari Sekte Kalajengking Merah.
Rencananya adalah, Li Jie akan berganti pakaian dan menyamar sebagai Shinobi. Guru Fengying hanya mengamatinya dari kejauhan. Ia tak boleh terlibat dalam misi.
"Kau, berhati-hatilah." Dengan kaku, Matriark Wang memberi pesan kepada puteranya.
Guru Fengying tersenyum ragu. Antara kaget dan gembira. Ia hampir-hampir tidak pernah diberi kasih sayang oleh ibunya.
Sebelum Li Jie dan Guru Fengying lenyap dari pandangan, Matriark Wang berucap setengah berteriak.
"Kembalilah dalam keadaan selamat!"
Guru Fengying tersenyum bahagia, tanpa menyahut, tanpa menoleh. Ia melesat bersama Li Jie dan menghilang dari pandangan.
semangat Thor