"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: PERMINTAAN MAAF SANG PREDATOR
Pagi itu, kamar utama mansion Valerius tidak lagi berbau debu paviliun yang menyesakkan. Udara telah digantikan oleh aroma bunga lily putih yang segar, yang entah sejak kapan sudah memenuhi vas-vas kristal di setiap sudut ruangan. Cahaya matahari masuk dengan sopan melalui jendela yang kini terbuka lebar, memberikan ilusi bahwa tempat ini adalah surga dunia, bukan penjara berjeruji emas.
Arunika duduk di kursi santai dekat jendela, jemarinya membolak-balik halaman buku tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya masih tertinggal pada puing-puing kotak musik yang dihancurkan Adrian kemarin.
Rendra. Nama itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Siapa pria itu? Mengapa Elena begitu berharap padanya?
Cklek.
Pintu terbuka. Adrian masuk tanpa jas formalnya. Ia hanya mengenakan kemeja sutra hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memberikan kesan santai namun tetap mengintimidasi. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah marun.
Adrian berjalan mendekat, lalu berlutut di depan kursi Arunika—sebuah posisi yang seharusnya menunjukkan kerendahan hati, namun bagi Arunika, itu terasa seperti predator yang sedang mengincar tumit mangsanya.
"Kau masih marah padaku, Sayang?" suara Adrian terdengar sangat dalam dan lembut, jenis suara yang bisa membuat wanita mana pun luluh jika mereka tidak tahu monster apa yang bersembunyi di baliknya.
Arunika menutup bukunya perlahan. Ia harus memainkan perannya. "Aku tidak marah, Adrian. Aku hanya... takut. Kemarin kau tampak sangat berbeda."
Adrian mengambil tangan Arunika, mencium jemarinya dengan penuh pengabdian. "Maafkan aku. Paviliun itu membawa kembali kenangan buruk tentang ibuku yang sakit. Aku tidak ingin kau terkontaminasi oleh energi negatif tempat itu. Aku hanya ingin melindungimu."
Adrian membuka kotak merah marun itu. Sebuah cincin dengan berlian biru yang sangat besar berkilau di dalamnya.
"Ini sebagai tanda maafku. Berlian ini disebut The Blue Hope. Aku ingin kau memakainya setiap hari agar kau selalu ingat bahwa masa depan kita jauh lebih cerah daripada masa lalu siapa pun di rumah ini," ucap Adrian sambil menyematkan cincin itu di jari manis Arunika.
Cincin itu terasa berat. Sangat berat. Bagi Arunika, ini adalah borgol baru. Sebuah pelacak atau mungkin sekadar tanda bahwa ia telah "dibeli" kembali setelah kejadian kemarin.
"Terima kasih, Adrian. Ini sangat indah," ucap Arunika dengan nada suara yang sengaja ia buat sedikit bergetar, seolah ia terharu.
"Bagus. Karena kau sudah bersikap manis, aku punya kejutan lain," Adrian berdiri dan mengulurkan tangannya. "Mari kita makan siang di taman samping. Aku sudah meminta koki menyiapkan menu favoritmu. Dan... aku akan mengizinkanmu menggunakan ponsel pribadimu selama satu jam hari ini. Di bawah pengawasan Sandra, tentu saja."
Ponsel. Jantung Arunika melonjak. Ini adalah kesempatan emas. Meski diawasi, ia harus menemukan cara untuk mencari tahu siapa Rendra.
Makan siang itu berlangsung di bawah gazebo yang dikelilingi oleh mawar-mawar merah yang sedang mekar sempurna. Sandra berdiri lima langkah di belakang mereka, memegang sebuah tablet yang terhubung langsung dengan ponsel yang diberikan kepada Arunika.
"Gunakan waktumu, Sayang. Hubungi siapa pun yang kau rindu, kecuali... kau tahu aturannya, kan?" Adrian menyesap anggur putihnya sambil menatap Arunika dengan tatapan tajam.
Arunika mengangguk. Ia mulai menyalakan ponselnya. Layarnya bersih. Semua kontak lamanya telah dihapus, digantikan oleh daftar kontak yang disetujui Adrian: Dokter Pribadi, Butik, Sandra, dan Adrian.
Arunika mulai berselancar di internet. Ia tahu setiap kata kunci yang ia ketik akan muncul di tablet Sandra. Ia tidak bisa langsung mengetik "Rendra". Itu terlalu berbahaya.
Ia mulai mengetik hal-hal acak; tren fesyen, berita selebriti, hingga akhirnya ia masuk ke situs arsip berita lama kota ini. Ia berpura-pura mencari berita tentang ayahnya.
Pencarian: "Kasus Perusahaan Broto Kusuma 2020"
Ia menelusuri artikel-artikel lama. Di kolom komentar salah satu berita ekonomi lawas, ia menemukan sebuah nama yang pernah disebut sebagai kurator aset ayahnya: Rendra Atmadja.
Napas Arunika tertahan. Apakah ini Rendra yang dimaksud Elena? Seorang pengacara atau kurator aset?
Ia melirik ke arah Sandra. Sekretaris itu tampak sibuk memperhatikan layar tabletnya, namun wajahnya tetap datar. Arunika kemudian beralih ke pencarian gambar dengan kata kunci yang lebih umum namun berkaitan dengan sejarah keluarga Valerius.
Ia menemukan sebuah foto pesta amal sepuluh tahun lalu. Di sana, Adrian muda berdiri berdampingan dengan seorang pria berkacamata yang tampak cerdas. Keterangan fotonya berbunyi: "Adrian Valerius dan penasihat hukum pribadinya, Rendra Atmadja."
Jadi Rendra adalah orang kepercayaan Adrian? batin Arunika ngeri. Atau mantan orang kepercayaannya?
Tiba-tiba, tangan Adrian menyentuh bahunya. Arunika hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Menemukan sesuatu yang menarik di sana, Sayang?" tanya Adrian, matanya mencoba mengintip layar ponsel Arunika.
Arunika segera mematikan layarnya dan tersenyum tipis. "Hanya berita lama tentang perusahaan Ayah. Aku merindukannya, Adrian. Bolehkah aku menjenguknya dalam waktu dekat?"
Adrian terdiam sejenak. Ia mengusap pipi Arunika dengan ibu jarinya. "Ayahmu sedang dalam perawatan intensif, Arunika. Jika kau menjadi istri yang patuh selama satu minggu penuh ini, mungkin aku akan mempertimbangkannya."
Satu minggu penuh. Itu artinya tujuh hari lagi dalam pengawasan neraka ini tanpa boleh melakukan kesalahan sedikit pun.
"Aku akan mencoba, Adrian. Aku janji," ucap Arunika.
"Bagus. Waktumu habis," Adrian mengambil kembali ponsel itu dari tangan Arunika. "Sandra, bawa Nyonya kembali ke kamarnya. Dia butuh istirahat untuk acara makan malam dengan dewan komisaris besok."
Saat Arunika berjalan kembali menuju mansion, ia sempat berpapasan dengan Sandra. Untuk sekilas, mata mereka bertemu. Sandra memberikan sebuah kode kecil—ia sedikit menganggukkan kepalanya ke arah saku gaun Arunika.
Begitu sampai di kamar dan mengunci diri di kamar mandi, Arunika meraba saku gaunnya. Di sana ada secarik kertas kecil yang diselipkan Sandra saat mereka bersenggolan tadi.
Hanya ada satu kalimat di sana:
"Rendra Atmadja tidak lagi berada di kota ini. Cari 'Gudang 12' di dermaga lama jika kau ingin jawaban."
Arunika meremas kertas itu dan membuangnya ke dalam toilet. Jantungnya berdebar kencang. Sandra mulai membantunya. Tapi pertanyaannya adalah: Mengapa? Apakah Sandra juga korban Adrian yang lain? Ataukah ini jebakan baru yang disiapkan Adrian untuk menguji kesetiaannya?
Arunika menatap bayangannya di cermin. Cincin berlian biru di jarinya tampak seperti mata yang mengawasinya. Ia menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang bisa dipercaya sepenuhnya. Namun, ia tidak punya pilihan selain terus berjalan masuk ke dalam labirin kebohongan ini, meskipun ia harus mempertaruhkan kewarasannya.
"Gudang 12," bisik Arunika pelan. "Aku akan menemuimu, Rendra. Apa pun risikonya."