NovelToon NovelToon
Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.

Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.

Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Status Baru dan Grogi di Balik Tembok

Nara terbangun dengan perasaan yang... wah, susah dijelasin pakai kata-kata. Rasanya kayak ada konser pelangi di dalem perutnya. Dia guling-guling di kasur sambil meluk guling erat-erat. Setiap kali dia inget kejadian semalam di meja makan Rian—pas Rian bilang mau jadiin dia "kontrak permanen"—Nara langsung tutup muka pakai bantal terus teriak-teriak nggak jelas.

"Gila, gila, gila! Gue beneran jadian sama Pak Robot?!" pekik Nara ke arah langit-langit kamar.

Dia buru-buru ambil HP-nya. Ada satu notifikasi pesan yang masuk sekitar jam tujuh pagi tadi.

Pesan dari: Rian (Sekarang Bukan Pak Robot Lagi ❤️)

"Pagi, Nara. Jangan lupa sarapan. Saya sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali karena ada meeting dadakan. Sandwich buah semalam masih tersisa satu, jangan lupa dimakan buat tenaga kerja. Semangat ya, asisten pribadi saya."

Nara langsung senyum-senyum sendiri baca pesan itu. "Dih, sejak kapan dia jago gombal lewat teks begini? Efisiensi bahasanya udah mulai luntur nih kayaknya."

Nara pun beranjak dari kasur dengan semangat 45. Dia mandi, dandan sedikit lebih niat dari biasanya—siapa tahu kan Rian pulang gasik—terus mulai duduk di depan laptop buat lanjutin desain. Tapi anehnya, setiap kali dia liat tembok yang membatasi unitnya sama unit Rian, fokusnya langsung pecah.

"Tembok ini... sekarang kerasa lebih tipis ya," gumam Nara sambil nempelin kupingnya ke tembok. "Duh, gue ngapain sih! Dia kan udah di kantor!"

Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Rian Ardiansyah lagi duduk di ruang rapat yang sangat formal. Di depannya ada dewan direksi yang lagi bahas laporan investasi kuartal pertama. Biasanya, Rian adalah orang yang paling vokal, paling teliti, dan paling nggak bisa diganggu fokusnya.

Tapi hari ini, asistennya, Sarah, berkali-kali ngerutin dahi liat bosnya.

Rian ketahuan lagi senyum tipis sambil liatin layar tabletnya—padahal isinya cuma grafik saham yang lagi merah. Bukan cuma itu, Rian juga sesekali benerin letak jam tangannya dengan gerakan yang santai, nggak setegang biasanya.

"Pak Rian? Bagaimana menurut Bapak soal proyeksi di sektor teknologi ini?" tanya salah satu direktur.

Rian tersentak pelan. Dia benerin posisi kacamatanya. "Ah, ya. Menurut saya, kita harus melihat value jangka panjangnya. Jangan terlalu kaku dengan angka sekarang, karena kadang... kejutan di luar rencana itu yang bikin hasilnya lebih bagus."

Satu ruangan diem. Mereka nggak pernah denger Rian ngomong pakai kata "kejutan" atau "di luar rencana". Biasanya bahasanya itu "mitigasi risiko" dan "kalkulasi presisi".

"Bapak... lagi sehat kan, Pak?" bisik Sarah pelan pas rapat selesai.

Rian cuma ngangguk singkat. "Saya sangat sehat, Sarah. Kenapa?"

"Bapak barusan senyum pas bahas kerugian saham. Saya agak ngeri, Pak," jawab Sarah jujur.

Rian cuma terkekeh pelan—yang bikin Sarah makin ngeri—lalu jalan balik ke ruangannya. Begitu sampai di ruang kerja pribadinya, Rian langsung cek HP. Nggak ada balesan dari Nara.

"Mungkin dia lagi sibuk revisi," pikir Rian. Dia baru aja mau naruh HP-nya, pas tiba-tiba ada pesan masuk.

Pesan dari: Nara Berisik 🐉

"Makasih semangatnya, Pak Pacar! (Duh, ngetiknya aja gue gemeteran). Jangan kerja keras banget, nanti kabel di otak Mas Rian panas. Pulang nanti mau dibeliin apa?"

Rian ngerasa hatinya mendadak adem. Dia langsung ngetik balesan dengan kecepatan cahaya.

"Cukup pulang dengan selamat. Jangan jatuh di koridor lagi. Saya jemput jam tujuh malam, kita cari makan yang bukan sate atau pasta. Mau?"

Jam tujuh malam tepat, Nara udah stand-by di depan pintunya. Dia sengaja nggak masuk ke unit Rian duluan karena dia mau ngerasain momen "dijemput pacar" yang beneran.

Pintu lift terbuka, dan Rian keluar dengan jas yang disampirin di pundaknya, kemeja putihnya udah dibuka dua kancing teratasnya—gaya yang bikin Nara hampir lupa cara napas.

"Udah nunggu lama?" tanya Rian sambil nyamperin Nara.

"Baru lima menit kok! Mas... capek ya?" tanya Nara sambil secara otomatis benerin kerah kemeja Rian yang agak miring.

Rian diem, nikmatin sentuhan tangan Nara di kerahnya. Dia tiba-tiba narik pinggang Nara mendekat, di tengah koridor yang sebenernya bisa aja ada tetangga lewat.

"Capeknya langsung hilang pas liat asisten saya udah dandan cantik begini," bisik Rian.

"Mas! Ini di koridor! Nanti kalau ada Pak RT gimana?!" Nara panik tapi wajahnya malah nyender di dada Rian.

"Biarin aja. Biar semua orang tahu kalau penghuni 401 udah ada yang punya," jawab Rian santai banget.

Mereka akhirnya mutusin buat jalan-jalan ke mall deket situ. Bukan mall mewah yang biasa Rian datengin, tapi mall yang banyak tempat mainnya karena Nara yang minta.

"Mas, main itu yuk! Pump It Up!" Nara nunjuk mesin dansa di area arcade.

"Hah? Saya? Joget-joget di atas mesin itu?" Rian geleng-geleng kepala. "Enggak. Itu nggak efisien, cuma buang-buang keringat."

"Dih, katanya mau dengerin saran tim hore! Ayo dong, sekali aja! Kalau Mas menang, saya turutin apa aja kemauan Mas selama seminggu!" tantang Nara sambil naik-naikin alisnya.

Rian menyipitkan mata. "Apa aja?"

"Iya, apa aja!"

Rian langsung buka jasnya, dikasihin ke Nara. Dia naik ke atas mesin itu dengan wajah sangat serius, kayak lagi mau ngerjain audit keuangan negara. Nara milih lagu K-Pop yang temponya kenceng banget.

Dan di luar dugaan... Rian Ardiansyah, si robot kaku, ternyata punya koordinasi kaki yang luar biasa. Dia injek tanda panah di layar dengan presisi 100%. Nggak ada satu pun yang miss. Orang-orang di sekitar arcade mulai kumpul buat liat cowok ganteng pakai kemeja kantor yang lagi "tempur" di mesin dansa.

"GILA! MAS RIAN KEREN BANGET!" teriak Nara sambil lompat-lompat.

Begitu lagu selesai, skor Rian muncul: SSS Perfect.

Rian turun dari mesin dengan napas yang sedikit memburu, tapi wajahnya tetep kelihatan tenang. Dia ngambil jasnya dari tangan Nara. "Jadi... seminggu ya?"

Nara melongo. "Mas... kok bisa jago gitu?"

"Dulu saya sering main ginian pas stres ngerjain tesis. Polanya itu matematis, Nara. Asal kamu tahu temponya, kamu bisa prediksi gerakannya," jelas Rian sambil ngelap keringat di dahinya pakai sapu tangan.

"Curang! Itu mah emang Mas udah jago dari dulu!" keluh Nara.

"Nggak ada kata curang dalam perjanjian. Sekarang, syarat pertama saya untuk seminggu ke depan..." Rian mendekat ke telinga Nara. "...setiap pagi, kamu harus bangunin saya pakai telepon, dan kamu harus bilang 'Selamat pagi, Rian sayang'. Tanpa tapi."

Nara ngerasa mukanya meledak saat itu juga. "MAS RIAN! Itu memalukan banget!"

"Perjanjian tetap perjanjian, Nara," ucap Rian sambil jalan duluan dengan gaya angkuhnya yang sekarang malah kelihatan seksi di mata Nara.

Malam itu ditutup dengan mereka makan es krim sambil duduk di taman mall. Nara nyenderin kepalanya di pundak Rian, ngeliatin bintang yang nggak terlalu kelihatan karena lampu kota.

"Mas," panggil Nara.

"Hmm?"

"Saya seneng banget. Makasih ya udah mau jadi 'manusia' buat saya hari ini."

Rian ngerangkul bahu Nara, terus dia nyium puncak kepala Nara dengan lembut. "Saya juga seneng, Nara. Makasih udah mau masuk ke dunia saya yang ngebosenin ini."

Mereka berdua nggak sadar, kalau di kejauhan, ada seseorang yang lagi ngeliatin mereka dengan tatapan nggak suka. Seseorang dari masa lalu Rian yang belum bener-bener pergi. Tapi untuk sekarang, di bawah lampu taman yang remang, dunia cuma milik penghuni unit 401 dan 402.

Kontrak mereka emang udah permanen, tapi tantangan sebenernya baru aja dimulai.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!