"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - Frustrasi
"Ibu marah banget ya sama aku? Aku emang bodoh banget gak bisa dapet nilai yang bagus. Aku selalu bikin Ibu marah. Nggak berguna banget kan aku?"
"Kakak nggak suka kamu ngomong kayak gitu," tegas Abram sembari menarik Giselle ke dalam pelukan. Membiarkan adiknya itu menangis sesuka hatinya.
Setelah perdebatan dengan Atika usai, Abram segera menggiring Giselle menuju kamar gadis itu. Tidak ingin membiarkan adiknya sendirian, Abram dengan setia menemani Giselle hingga berhenti menangis.
"Tapi apa yang Ibu bilang itu bener," ujar Giselle, sesekali suaranya terbata karena menangis.
Abram mengusap kepala Giselle dengan sayang. Sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Udah ya? Jangan dipikirin omongan Ibu. Mending kita makan, kamu pasti laper, kan?" bujuk Abram. Mencoba mengalihkan pembicaraan, tidak ingin adiknya itu berlarut dalam kesedihan.
"Udahan nangisnya ya, nanti makin jelek, loh."
"Ishh, ngeselin." Giselle meninju pelan perut Abram. Pemuda itu terkekeh geli. Merasa senang bisa kembali dekat dengan adiknya. Ia merasa, sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka berpelukan seperti ini. Ia sungguh merindukannya.
Abram melepaskan pelukannya perlahan, tangannya terangkat untuk membersihkan sisa-sisa air mata di wajah Giselle. Juga merapikan rambut gadis itu yang terlihat sangat berantakan.
"Cuci muka sana, biar Kakak yang siapin makan," titah Abram.
"Nggak mau makan di luar," rengek Giselle. Ia takut bertemu dengan Atika. Saat ini, gadis itu hanya ingin mengurung diri di kamar.
"Iya, nanti Kakak bawa makanannya kesini." Abram mengecup dahi Giselle sebelum berjalan menuju pintu.
Sebelum Abram benar-benar keluar dari kamarnya, cepat-cepat Giselle kembali memanggil kakaknya itu.
"Kak Abram."
"Iya? Kamu pengen sesuatu?"
"Makasih." Giselle tersenyum manis.
Abram tersenyum lembut, "Apapun buat adik kecilnya Kakak."
...***...
Tok tok tok
"Giselle... main yuk."
Libra terkekeh sendiri mendengar ucapannya. Pagi ini, seperti biasa pemuda itu sudah bersiap dengan seragam sekolah yang menempel pada tubuhnya. Ia sedang berdiri di depan pintu rumah sahabatnya. Menunggu untuk berangkat bersama ke sekolah.
Beberapa saat kemudian, seseorang keluar dari rumah. Namun, alih-alih Giselle, justru Atika yang berdiri sembari menatap datar pada Libra.
"Giselle biar ayahnya yang antar. Kamu bisa berangkat duluan, Libra," ujar Atika dengan tegas. Jelas sekali wanita itu tidak ingin dibantah.
"O-oh, gitu ya Tante? Yaudah, saya berangkat dulu." Libra merasa aneh dengan sikap Atika. Tidak biasanya wanita itu bersikap dingin seperti ini. Dan lagi, sebelumnya Giselle tidak pernah diantar oleh ayahnya. Terasa mencurigakan bagi Libra, mengapa tiba-tiba?
Hendak berbalik, namun suara Atika menghentikannya.
"Libra, nanti nggak usah pulang bareng Giselle. Biar kakaknya aja yang jemput. Mulai sekarang, Giselle nggak akan berangkat-pulang bareng kamu lagi. Tante nggak suka kalau dia sering pulang terlambat. Tante mau dia banyak belajar di rumah."
Libra terhenyak di tempatnya. Mengapa ia merasa tidak terima dengan keputusan Atika?
"Kenapa harus gitu, Tan? Saya bisa langsung pulang kalau emang Tante nggak suka saya ajak Giselle main."
"Nggak perlu, silakan pergi." Setelahnya, Atika kembali memasuki rumah. Meninggalkan Libra yang berdiri mematung dengan pandangan tak lepas dari pintu yang sudah tertutup.
Libra berdecak, "Kenapa jadi gini, sih!"
...***...
"Kiw, cowoook. Sendirian aja? Jomblo, ya?"
Libra memukul kepala Farhan dengan kencang. Sengaja, sekalian melampiaskan kekesalannya pagi ini.
"Woy, sakit! Kira-kira dong kalau mukul. Ini kepala, kalau gue jadi bego gimana?" protes Farhan sembari mengusap-usap kepala belakangnya.
"Ya, bagus," balas Libra dengan santai.
Farhan berdecak, temannya yang satu itu memang tidak mempunyai perasaan. Namun, sikapnya akan sangat berbeda ketika sedang bersama Giselle.
"Lo tumben sendirian? Pujaan hati gue mana?"
"Pujaan hati mata lo," umpat Libra kesal. Ah, sepertinya berbicara dengan Farhan semakin membuat mood-nya hancur berantakan.
"Weiss, santai bro." Farhan mengalah melihat mood Libra yang mengerikan. Ia tidak ingin mengganggu singa yang sedang galau.
"Kenapa sih, lo? Kusut amat kayaknya. Giselle gak masuk?" tanya Farhan penasaran. Biasanya, kalau ada Libra pasti ada Giselle. Begitupun sebaliknya.
"Dia berangkat sama ayahnya. Gue gak dibolehin berangkat bareng Giselle sama ibunya," jelas Libra dengan wajah frustrasi.
"Loh, kenapa?"
"Ibunya bilang, dia gak suka gue ngajak Giselle main setelah pulang sekolah. Padahal mah gue jarang ngajak Giselle main. Cuma akhir-akhir ini aja yang sering pulang telat karena latihan pensi." Libra menghela napas panjang.
Farhan menatap kasian pada Libra. Temannya itu terlihat sangat frustrasi hanya karena tidak bisa berangkat bersama Giselle. Mau heran, tapi ini Libra. Terlihat sekali pemuda itu sangat bucin pada Giselle, hingga tidak mau berpisah barang sedetik pun.
"Bucin... bucin... semoga cepet sadar," gumam Farhan.
"Apa lo bilang?" tanya Libra kesal.
Farhan nyengir, tidak ingin mengganggu Libra yang sedang galau lagi, "Peace."
...***...
19 Januari 2026