Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kompensasi
Tuan Bupati saat ini sedang berada di pintu gerbang Kota, dia tertegun dan sedikit takut melihat lautan manusia yang menatapnya dengan marah, seolah dirinya adalah pendosa besar.
Awalnya, dia sedang bersantai di ruang kerjanya sambil menikmati secangkir teh dengan kudupan setelah menyelesaikan pekerjaannya. Tapi kenikmatan itu terganggu saat ketukan pintu terdengar, dia berdecak kesal, padahal dia sudah memperingati penjaga untuk tidak membiarkan orang-orang mengganggu waktu istirahatnya.
Tapi dia tetap membiarkan orang itu masuk, setelah mendegar bahwa salah satu penjaga gerbang Kota datang untuk menyampaikan sesuatu, "Haaa, palingan para pengungsi itu membuat onar lagi. Katakan! Lakukan seperti biasanya."
Orang itu keluar menyampaikan pesan kepada penjaga, dan masuk lagi lalu berkata, "Tuan, masalahnya agak sedikit berbeda. Katanya, ini masalah kelangsungan reputasi Tuan Bupati dan kemakmuran Kota!"
Tuan Bupati paling tidak suka jika ada yang merusak reputasinya, jadi dia membiarkan penjaga Kota itu masuk dan meminta untuk menjelaskan masalahnya.
Penjaga pun menceritakan dari awal sampai di mana Aruna menghancurkan batu besar yang ada di luar gerbang.
Tuan Bupati merasa sangat marah mendengar orang-orang Desa mengancamnya, bahkan membawa-bawa nama Yang Mulia Kaisar. Dia juga tidak percaya seorang gadis bisa menghancurkan batu besar itu, penjaga itu pasti melebih-lebihkan ceritanya.
Dalam hatinya ada sedikit kegelisahan, dia meminta pengawal pribadinya untuk pergi melihatnya langsung, dan ternyata apa yang dikatakan penjaga Kota itu semuanya benar. Dengan enggan akhirnya dia pergi ke Gerbang Kota. Jadi begitulah, kenapa akhirnya dia berada di situ.
Melihat Aruna yang berparas cantik dan bertubuh ideal, membuatnya sedikit tak percaya. Benarkah, Aruna yang menghancurkan batu itu? Sangat mustahil.
Sebenarnya dia sangat marah, karena para pengungsi tidak ada yang memberi hormat kepadanya, dengan terpaksa dia harus menekan amarahnya.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?" tanya Tuan Bupati dengan datar.
"Tuan Bupati saya akan menjawab sebagai perwakilan dari mereka semua!" ujar Aruna tak kalah datar.
Tuan Bupati tak menyangka, arusan seperti ini malah diurus oleh seorang gadis, tapi dia juga merasa terkesan dengan keberaniannya, "Hmm, jelaskan kenapa kalian membuat keributan?"
"Tuan, Anda tak perlu berpura-pura! Pertanyaan seperti itu tak perlu ditanyakan lagi, Anda sendiri sudah tau apa jawabannya." Kata Aruna dengan senyum meremehkan.
"Kau, kau.." Tuan Bupati sangat ingin memaki Aruna, beraninya Anak ingusan memprovokasinya.
Aruna berpura-pura tak melihat amarahnya. "Kami hanya ingin masuk Kota, itu saja! Tapi kalian malah meminta bayaran 2 tael."
Tuan Bupati berpura-pura terkejut, lalu dengan cepat dia berkata. "Apa! Ada hal seperti itu? Tidak, Tidak, Saya tidak pernah meminta mereka untuk melakukannya!"
Para pengungsi antara percaya dan tidak, selama beberapa hari mereka meminta keringanan, para penjaga itu mengatakan 'Ini langsung perintah Tuan Bupati, jika ingin masuk Kota, maka bayarlah.'
Aruna tersenyum mengejek, akting yang sangat buruk. "Tapi para penjaga itu mengatakan, Syarat 2 tael adalah perintah langsung dari Tuan Bupati."
"Tidak! Bukan saya." sangkalnya "Kalian, beraninya memeras para Desa pengungsi atas nama Tuanmu!" katanya dengan menatap para penjaga dengan tajam.
Para penjaga yang ditatap seperti itu langsung membeku, bagaimana bisa Tuan Bupati malah melimpahkan ke mereka, mereka hanya bekerja sesuai perintah, tapi sekarang malah dituduh melakukan kejahatan.
"Tu—tuaan, bukan seperti itu..Kami juga hanya menjalankan tugas." salah seorang penjaga menjawab.
"Siapa yang memberimu tugas seperti itu haa? Kalian sudah membuang-buang waktu dan tenaga mereka.!" bentaknya.
Orang-orang yang mendengarnya hanya bisa mendengus. Siapa yang percaya omong kosongnya?
"Tunggu hukuman kalian. Sekarang minta maaf kepada mereka semua!" pintanya dengan tegas. Tapi dalam hatinya sedang bersorak, masalah ini, bukanlah hal besar.
Para penjaga langsung bersujud dan meminta maaf, kepalanya bahkan terbentur ke tanah, jika orang lain tak tau masalahnya pasti langsung berpikir para penjaga itu sedang di aniaya.
"Tuan, biarkan mereka berdiri!" pinta Aruna, tapi bukan berarti dia memaafkannya, meski hanya menjalankan tugas, para penjaga tetap bersalah, apalagi mereka sudah banyak menghukum para pengungsi.
Dengan senang hati Tuan Bupati meminta mereka berdiri, tapi wajahnya tetap menunjukkan kebengisan, seolah dirinya benar-benar murka. "Cepat berdiri! Dan ucapkan terima kasih!"
Kelima penjaga langsung berdiri, berterima kasih kepada Aruna dan Tuan Bupati. Mereka sedikit lega, setidaknya mereka tidak dipermalukan di depan umum.
"Karena kesalahpahaman ini, saya meminta maaf kapada kalian semua. Kalian boleh masuk Kota, dan melanjutkan perjalanan esok hari." Tuan Bupati berucap dengan nada penuh penyesalan.
Sesuai yang dia harapkan, para rombongan pengungsi langsung berseru bahagia. "Kalian tenang saja! Saya akan membalas perlakuan mereka kepada kalian!"
Sekali lagi mereka besorak, mereka memuji Tuan Bupati yang begitu pengertian, dengan sedikit pujian, mereka seolah lupa kenapa mereka bisa tertahan di situ.
Aruna hanya bisa menggeleng sambil menghela nafas.Yang satu tidak tau diri, dan yang satu lagi terlalu polos, dia melirik ke rombongan Desa Suning, raut wajah mereka acuh tak acuh, mereka tidak ingin ikut campur.
"Kalau begitu saya pamit, masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan di kantor!" katanya dengan buru-buru lalu berlalu pergi.
"Tunggu!" Suara Aruna sesikit keras.
Tuan Bupati memejamkan matanya untuk menahan emosi, tangannya terkepal erat di dalam jubahnya.
"Ya Nona ada apa?" dia tau nama Aruna.
Aruna menatap wajah Bupati yang sudah memerah "Tuan, apakah hanya dengan meminta maaf, dan memberi sedikit pujian sudah dianggap selesai?"
Mata Tuan Bupati menyipit, dia merasa Aruna sangat cerdik, tidak mudah kelabui seperti yang lainnya, dengan canggung dia berkata "Eh benar juga, akhir-akhir ini ada banyak pekerjaan, sampai kurang konsentrasi.!"
Para warga yang tadinya juga ingin bubar langsung tertahan lagi mendengar Aruna memanggil Tuan Bupati kembali, bukankah mereka sudah diizinkan masuk Kota? Tapi mereka tetap diam, mau bagaimanapun Aruna yang sudah menolong mereka semua.
"Ya, Kami hanya ingin kompensasi, Tuan Bupati adalah pejabat yang murah hati, jadi kami hanya meminta sedikit saja sebagai ganti rugi!" Aruna juga tak mau kalah memberi pujian.
Lihat! Hanya pujian seperti itu, badannya langsung berdiri tegak. "Ini untuk setiap Desa, 200 kg beras putih, 100 kg tepung putih, 20 kg gula dan garam, 1 peti tulur ayam (100 butir ) dan juga kendi dan kantong air harus terisi penuh!"
Tuan Bupati terkejut, jika bukan karena Aruna, dia sudah pergi sejak tadi, para orang Desa itu mana berani meminta kompensasi kepada pejabat. Apalagi melihat reaksi para pengungsi yang bingung, yang tidak tau apa-apa.
"Semuanya, ucapkan terima kasih kepada Tuan Bupati, karena kesalahpahaman yang terjadi, Tuan akan menyediakan perbekalan sebagai ganti rugi!" jelas Aruna dengan suka cita.
Akhirnya mereka paham, ternyata menunda waktu perjalanan mereka bisa meminta kompensasi, tapi apakah mereka berani? Oh jelas tidak, mereka sangat beruntung bertemu dengan Aruna yang memiliki keberanian dan kekuatan besar.
"Waahhhh terimakasih Tuan Bupati!"
"Tuan Bupati panjang umur"
"Terimah kasih!"
"Semoga Kota Lawa makin makmur!"
Suara para pengungsi menggema, mengucapkan terima kasih sambil bersujud, mereka sampai menangis karena terharu.
Tuan Bupati awalnya sangat marah dengan permintaan Aruna yang berlebihan, bahkan meminta garam dan gula yang harganya sangat mahal, di kediamannya saja dalam sebulan hanya mengkonsumsi 5 kg saja, tapi mendengar pujian-pujian itu, amarahnya sedikit meredah.
Dengan enggan, Tuan Bupati menyetujui permintaan Aruna, dan berjanji dalam 1 jam barang tersebut akan diantarkan ke pintu gerbang.
****
Setelah Tuan Bupati pergi, para warga lokal yang juga ikut menonton keributan juga bubar, bukannya marah, mereka malah tertawa terbahak-bahak saking bahagianya, akhirnya ada juga orang yang berani melawan Tuan Bupati.
Ternyata, banyak yang tidak menyukai Tuan Bupati yang menjabat sekarang. Ingin menjaga nama baik dan reputasi, tapi perbuatannya sangat mencela, Para pembisnis atau pedagang membayar pajak yang sangat mahal, bahkan pedagang kecil pinggir jalan atau di pasar-pasar juga tak luput dari pajak mahal tersebut, dan sekarang ada banyak pengungsi yang akan masuk kota untuk lewat, jadi dia mengambil kesempatan untuk menekan, mau tidak mau para pengungsi terpaksa membayar, tapi kali ini ke 4 Desa itu benar-benar miskin, dan Aruna tiba-tiba datang sebagi juru bicara.
Para pengungsi segera mengucapkan terima kasih kepada Aruna, diambang keputus asaan malah bertemu dengan penolong yang benar-benar membantu mereka, apalagi mendapatkan perbekalan sebagai ganti rugi rasanya mereka sedikit bersyukur sudah tertahan beberapa hari di pintu gerbang.
Para kepala Desa juga tak menyangka, dengan tebal muka dan menahan malu mereka berkata 'Nak kami akan membalas kebaikanmu setelah kehidupan kami lebih baik di tempat yang baru'.
Mereka semua menunggu dengan perasaan was-was, takut jika Tuan Bupati tidak menepati janjinya. Tapi setelah melihat rombongan para pengawal datang membawa banyak barang, dan juga air yang terisi penuh.
Aruna menyarankan para kepala Desa untuk tidak membaginya, dia memberitahu bagaimana mereka masak dan makan secara bersama.
Para pengungsi akan melanjutkan perjalan besok pagi, tapi tidak dengan rombongan dengan Desa Suning, mareka sudah bersiap dan akan menginap setelah melewati Kota Lawa.
Rombongan Desa Suning Melanjutkan perjalanan, tidak ada yang bertanya kenapa? Karena mereka memang tidak suka jika bersama dengan rombongan lain, tatapan mereka semua berbeda-beda, ada yang kagum, iri dan serakah. Bukannya mereka sombong, tapi mereka tau diri, itu semua milik Aruna.
Saat keluar dari Kota Lawa sudah pukul 5 sore, biasanya di waktu seperti itu, mereka sudah memasak untuk makan malam.
"Kita menginap di sini!" Ujar Kakek Ji. "Kerjakan tugas masing-masing, sudah hampir gelap!" lanjutnya.
"Baik!"
Tidak perlu lagi saling tunjuk, mereka sudah terbiasa dengan tugas masing-masing. Pasang tenda, membuat kamar mandi dan memasak.
Aruna hanya masak sesekali saja, dia memang bisa memasak tapi malas untuk melakukannya, jadi hanya memberi bumbu racikan kepada Nenek Suyu dan memintanya untuk tidak pelit, agar rasanya bisa lebih lezat. Terkadang dia juga jadi mandornya jika ada menu baru yang harus dimasak.
Malam itu, mereka makan daging kelinci dan ayam hutan yang di panggang. Setiap kali Aruna masuk hutan, dia tidak pernah kembali dengan tangan kosong.
Di malam hari, setelah semua orang tertidur Aruna keluar dari tenda menggunakan baju serba hitam dengan penutup wajah. Di luar ada sekitar 10 orang berjaga termasuk Ozian dan juga Ji Yong.
"Kamu mau kemana?" tanya Ji Yong, keduanya sudah lebih dekat seperti saudara, begitupun dengan Ozian, meski terkadang keduanya berdebat dengan sengit.
"Menyelesaikan tugas, heheh!" balas Aruna dengan jujur, jangan kira yang tadi itu selesai begitu saja, harus diberi ganjaran.
"Aku ikut!" Kata Ozian dengan mutlak.
"Ya, jangan pergi sendiri, biarkan saudara Ozian ikut pergi! Jika tidak, jangan harap bisa pergi!" Dia juga sudah menganggap Aruna sebagai Adiknya. Semenjak berlatih beladiri, perubahan dalam dirinya langsung berubah.
Aruna menatap keduanya dengan tatapan bingung, kenapa mereka jadi posesif seperti ini? Tapi dia juga suka, rasanya ada manis-manisnya. "Baiklah, ayo kita pergi sekarang!"
Aruna dan Ozian segera menuju Koa Lawa, masuk tanpa diketahui penjaga itu sangat mudah, keduanya langsung pergi ke Kantor Pemerintah. Di pintu gerbang ada 2 orang penjaga.
"Siapa kalian?" tanyanya dengan bingung, melihat tiba-tiba dua orang berdiri di depan mereka dengan menggunakan penutup wajah.
Aruna tak menjawab, dia mengeluarkan selembar kertas "Apa ini masih berlaku?" tanyanya
Penjaga melihat kertas itu ternyata selembaran sayembara, ada lukisan wajah seseorang yang sudah mereka cari-cari. Wajah itu dilukis oleh seorang pelukis yang terbaik di kota Lawa, dia melukisnya sesuai dengan saksi mata, yaitu keluarga para korban.
Tapi sayang sekali, sudah setahun sayembara itu diadakan, tapi tak ada seorangpun yang bisa menangkapnya, dan jumlah korban penculikan makin meningkat, apalagi akhir-akhir ini para pengungsi banyak yang mengadu dan meminta bantuan, anak gadis mereka diculik di jalur gunung, segera para penyelidik dan orang-orang yang mengikuti sayembara menuju gunung tersebut, tapi mereka tidak menemukan apapun di sana.
"Tentu! Oh kalian berdua pasti bukan orang lokal kan? Sayembara itu dibuat oleh Tuan muda kedua Tuan Bupati!"
"Apakan harus ditangkap hidup-hidup?" tanya Aruna kembali, jika bukan karena hadiahnya, Aruna sudah menggantungnya di pintu gerbang.
"Tidak masalah, asal ada bukti itu sudah cukup!" mati? Mereka tidak peduli.
Duk..
Aruna mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain merah. Setelah mendarat di tanah, bungkusan itu terlepas "Lihatlah, apakah itu orangnya? Aku hanya membawa kepalanya, pedangku tidak sengaja terpeleset!"
Dua penjaga itu sudah mundur dua langkah, badan mereka bergetar, "Itu—itu memang dia. Tuan, tunggu sebentar saya akan datang melapor, rumah Tuan muda tidak jauh dari sini!"
"Tunggu!" Aruna mengeluarkan gadis-gadis para korban, mereka tidak sadarkan diri karena obat bius.
"Tuan siapa mereka?"
"Mereka korban penculikan, aku lihat ada beberapa Desa di luar Kota, mungkin salah satu dari mereka dari rombongan itu!"
"Baik, baik. Aku akan panggil Tuan muda!" salah satunya segera pergi berlari.
Aruna masih ada urusan, jadi dia mengatakan kepada penjaga yang tinggal, 'Aku akan kembali' setelah itu dia pergi dengan Ozian ke rumah Tuan Bupati.
"Rumah siapa?" tanya Ozian yang sudah berada di atas pohon.
"Pejabat brengsek itu!"
Ozian terkejut mendengar Aruna mengumpat, tapi dia setuju, para pejabat itu sudah sangat keterlaluan, mereka mengambil kesempatan di situasi seperti itu.
"Mau kemana?" tanya Ozian lagi melihat Aruna yang bersiap melompat.
"Memberikan hadiah!"
lanjut thorr💪💪💪