NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: DAERAH TAK TERBACA DALAM PETA HATI

Ada suatu sore di mana matahari enggan tenggelam, menggantung di ufuk barat seperti menunggu sesuatu. Kinan, yang biasanya riang di jam-jam seperti ini, duduk diam di tangga depan. Boneka kesayangannya yang selalu dia bawa kemana-mana tergeletak di sampingnya seperti mayat kecil.

"Ada apa, Kinan?" tanyaku, duduk di sampingnya.

Dia tidak menjawab. Hanya memandang jauh ke jalan kosong. Baru setelah napas kelima, dia berkata dengan suara datar: "Mama tadi pagi nggak ingat aku."

Sakit itu datang perlahan, seperti air merembes melalui retakan. Aku sudah tahu ini terjadi Maya memang semakin sering lupa. Tapi mendengarnya dari mulut Kinan, dari anak berusia enam tahun yang seharusnya tidak memahami konsep seperti hilang ingatan...

"Tadi pagi, Adek masuk kamar, bilang 'selamat pagi, Ma'. Mama lihat Adek... terus tanya 'kamu siapa?'." Kinan memegangi tangannya sendiri. "Adek bilang 'Adek Kinan, Ma'. Mama cuma bilang 'oh' terus balik tidur."

Aku menariknya ke pelukan. "Mama sakit, Sayang."

"Tapi sakitnya bikin dia nggak sayang Adek lagi?"

"Tidak. Mama tetap sayang. Cuma... otaknya susah mengingat."

"Tapi kalau nggak ingat, gimana bisa sayang?"

Pertanyaan itu sederhana, langsung, seperti anak kecil menanyakan mengapa langit biru menggantung di udara antara kami. Bagaimana menjelaskan bahwa cinta bisa ada di luar ingatan? Bahwa ada bagian dalam hati yang tidak tersentuh oleh penyakit?

"Kamu ingat waktu Aisyah lahir?" tanyaku.

Kinan mengangguk.

"Waktu itu, Aisyah belum kenal kita. Tapi dia langsung cinta. Begitu ditaruh di dada Mama, dia tenang. Kenapa? Karena dia tahu itu ibunya. Tanpa perlu ingatan."

"Tapi Aisyah bayi."

"Dan kita semua punya bayi di dalam hati kita. Bagian yang tahu siapa yang mencintai kita, meski otak lupa."

Kinan terdiam, memproses. "Jadi di dalam hati Mama, dia masih tahu Adek anaknya?"

"Ya. Hanya tidak bisa keluar kata-katanya."

Air mata mulai menggenang di matanya. "Tapi Adek rindu Mama yang dulu. Yang ingat Adek suka warna pink. Yang ingat Adek takut gelap. Yang... yang ingat Adek."

Aku tidak bisa menjawab. Karena aku juga rindu. Setiap hari. Rindu pada Maya yang mengenaliku, yang bertengkar denganku, yang mengingat cerita-cerita kita.

---

Malam itu, Kinan menolak masuk ke kamar Maya untuk memberikan ciuman selamat malam ritual yang tidak pernah terlewat sejak dia bayi.

"Adek takut," bisiknya dari balik pintu kamarnya.

"Takut apa?"

"Takut Mama lihat Adek kayak lihat orang asing lagi."

Bima, yang mendengar dari kamarnya, keluar. "Ayo, Kinan. Aku temenin."

"Tapi Kakak..."

"Aku juga takut," akui Bima dengan jujur. "Tapi kalau kita nggak masuk, Mama mungkin lebih bingung."

Mereka berdua masuk, tangan bergandengan. Dari luar pintu, kudengar Bima berkata: "Ma, ini Kinan, adikku. Dia mau kasih cium selamat malam."

Diam. Lalu suara Maya: "Kinan... nama yang cantik."

Aku melihat dari celah pintu. Kinan mendekat pelan, mencium pipi Maya. Dan Maya dengan gerakan otomatis, seperti tubuh mengingat meski pikiran lupa membelai rambut Kinan.

"Anak yang baik," bisiknya.

Kinan tersenyum kecil, air mata mengalir di pipinya. Tapi kali ini, mungkin air mata lega.

---

Namun keesokan harinya, kabut kembali lebih tebal.

Maya bangun pagi-pagi, berdiri di tengah ruang tamu dengan bingung. "Aku... di mana?"

"Ini rumah kita, Sayang," jawabku, mendekat.

"Dengan siapa?"

"Dengan aku. Raka. Suamimu."

Dia memandangiku lama. "Kamu... suamiku?"

"Iya."

"Dan kita punya anak?"

"Tiga. Bima, Kinan, Aisyah."

Dia duduk, menutup wajah. "Aku tidak ingat. Tidak ingat apapun."

Itu pertama kalinya dia menyadari sepenuhnya bahwa dia kehilangan ingatan. Dan kepanikan itu nyata, mengerikan.

"Aku siapa?" tanyanya, suara bergetar.

"Kamu Maya. Perempuan kuat. Ibu hebat. Istri yang aku cintai."

"Tapi aku tidak ingat menjadi itu semua!"

Aku memeluknya. "Tidak apa. Kami yang akan mengingat untukmu."

Tapi ketakutan itu tidak hilang. Sepanjang hari itu, Maya seperti orang asing di rumahnya sendiri. Menyentuh foto-foto seperti menyentuh artefak orang lain. Memandangi anak-anak dengan rasa ingin tahu yang menyakitkan.

Bima, dengan keberanian yang membuat hatiku sakit, mengambil album foto. "Ini kita, Ma. Lihat, ini waktu kita ke pantai. Ini waktu Aisyah lahir. Ini waktu pernikahan Mama dan Om Raka."

Maya melihat foto-foto itu, matanya kosong. "Aku... terlihat bahagia."

"Karena Mama bahagia," kata Bima, suaranya retak.

"Apakah aku masih bahagia sekarang?"

Bima tidak bisa menjawab. Karena bagaimana menjawabnya? Bagaimana mengatakan bahwa kebahagiaan itu sekarang tertutup kabut, bahwa senyum di foto itu mungkin tidak akan pernah kembali?

---

Puncaknya terjadi tiga hari kemudian.

Kinan sedang menggambar di lantai ruang tamu. Maya, yang sedang duduk di sofa menatap kosong, tiba-tiba berkata: "Kamu anak siapa?"

"Adek anak Mama," jawab Kinan, tanpa melihat.

"Tapi aku tidak punya anak."

Kinan membeku. Pensil warnanya jatuh. "Mama... Mama lupa lagi?"

"Aku tidak lupa. Aku tidak pernah punya anak."

Itu berbeda dari sebelumnya. Ini bukan sekedar lupa nama. Ini penolakan. Penyangkalan.

Kinan menangis. Bukan tangisan pelan, tapi tangisan histeris, seperti lukanya terlalu dalam untuk dibendung. "AKU ANAK MAMA! AKU ANAKMU!"

Maya terkejut, mundur. "Jangan berteriak."

"TAPI MAMA LUPA AKU! MAMA LUPA ADEK!"

Aku berlari dari dapur, mengambil Kinan yang sudah berguling-guling di lantai. Bima keluar dari kamar, wajah pucat.

"Kinan, tenang"

"NGGAK MAU! ADEK NGGAK MAU MAMA LUPA ADEK!"

Maya berdiri, bingung, ketakutan. "Kenapa anak ini marah padaku?"

Kinan melepaskan pelukanku, menghampiri Maya. "Karena Adek sayang Mama! Karena Mama ibunya Adek! Tapi Mama nggak ingat!"

"Aku... minta maaf," kata Maya, tapi kosong. Seperti permintaan maaf pada orang asing yang marah tanpa alasan jelas.

Bima menarik Kinan. "Ayo, Kinan. Kita ke luar dulu."

"NGGAK MAU! ADEK MAU MAMA INGAT!"

Aku harus mengangkat Kinan yang meronta, menangis, berteriak dan membawanya ke kamar. Bima mengikut, wajahnya seperti batu.

Di kamar, Kinan akhirnya lelah. Tangisnya mereda jadi isakan. "Kenapa, Om? Kenapa Mama bisa lupa Adek?"

"Aku tidak tahu, Sayang. Tapi ini bukan salah Mama."

"Tapi sakit, Om. Sakit banget." Dia menepuk dadanya. "Di sini sakit. Kayak ditusuk."

Aku memeluknya erat, menangis dengannya. Karena memang sakit. Sakit yang tidak bisa diobati dengan pil atau suntikan. Sakit karena cinta yang tidak diakui. Karena ikatan yang diputus penyakit.

---

Bima, malam itu, menulis surat. Bukan untuk pengadilan atau dokter. Untuk dirinya sendiri.

"Aku marah pada Tuhan. Marah pada penyakit. Marah pada Mama yang tidak bisa mengingat. Marah pada diriku sendiri karena tidak bisa memperbaiki ini.

Tapi yang paling sakit adalah melihat Kinan. Dia masih kecil. Dia butuh ibunya untuk mengingat bahwa dia suka warna pink, takut gelap, suka es krim coklat. Tapi Mama tidak ingat.

Aku berjanji akan menjadi ingatan untuk Kinan. Aku akan ingat segala hal tentang dia. Dan tentang Mama. Dan tentang kita.

Tapi kadang, aku ingin masih kecil lagi. Ingin menangis seperti Kinan. Ingin berteriak bahwa ini tidak adil. Tapi aku tidak bisa. Karena aku kakak. Karena Om Raka butuh aku kuat.

Tapi Tuhan, tolong. Kalau memang harus ada yang menderita, kenapa tidak aku saja? Aku sudah besar. Aku kuat. Jangan Kinan. Jangan dia yang harus mengerti bahwa cinta ibunya bisa terlupakan."

Surat itu kudapati tergeletak di meja belajar Bima. Dan membaca baris-baris itu kejujuran brutal dari anak sembilan tahun yang memaksakan diri dewasa terlalu cepat merobek sesuatu dalam diriku yang tidak bisa diperbaiki.

---

Keesokan paginya, Kinan bangun dengan mata bengkak. Tapi ada ketegasan baru di wajahnya.

"Om, Adek mau buat proyek."

"Proyek apa?"

"Proyek ingatan. Adek mau kumpulkan semua hal tentang Mama. Biar nanti... biar nanti kalau Mama benar-benar lupa, kita masih punya bukti bahwa dia pernah ingat kita."

Jadi dimulailah "Proyek Ingatan" Kinan. Dia mengambil kotak sepatu, menghiasnya dengan stiker dan gambar hati. Di dalamnya, dia kumpulkan:

Gulungan rambut Maya (dari sisir)

Foto-foto lama

Catatan resep masakan kesukaannya

Potongan kain dari baju lama Maya

Dan yang paling menyentuh: rekaman suara

Kinan meminjam ponselku, menyuruh Maya bercerita. Tapi Maya tidak ingat cerita. Jadi Kinan yang bercerita, dan merekamnya.

"Di rekaman ini, Adek cerita tentang Mama. Nanti kalau Mama lupa, Adek putar rekaman ini. Jadi Mama tahu, dulu dia ibu yang baik."

Maya, yang sedang dalam kondisi cukup jernih pagi itu, mendengarkan Kinan menjelaskan proyeknya. Dan tiba-tiba entah bagaimana ada kilatan.

"Kamu... anak yang sangat mencintaiku," ucapnya pada Kinan.

Kinan tersenyum, air mata menggenang. "Iya, Ma. Karena Mama ibunya Adek."

"Meski aku lupa?"

"Meski Mama lupa."

Maya memeluk Kinan pelukan pertama yang tulus, yang diingat, sejak lama. "Maka aku harus berusaha mengingat. Untukmu."

Itu mungkin hanya momen singkat. Besok mungkin dia lupa lagi. Tapi untuk Kinan, untuk kami semua, itu seperti cahaya di terowongan gelap. Bukti bahwa di balik kabut, Maya masih ada. Masih mencinta. Masih berjuang.

---

Malam itu, sebelum tidur, Kinan memasukkan satu benda terakhir ke kotak ingatannya: gambar keluarga yang dia buat hari itu. Dengan lima orang yang saling bergandengan. Dan di atas gambar, dengan tulisan besar berwarna pink:

"Keluarga kita. Meski ingatan pergi, cinta tetap tidak akan pergi."

Dia menempatkan kotak itu di rak bukunya, di antara boneka dan buku cerita. Seperti makam kecil untuk ibu yang dia kenal. Seperti kapal waktu untuk mengarungi masa depan tanpa peta ingatan.

Dan aku, berdiri di pintu kamarnya, menyadari satu hal: perasaan seorang anak kepada ibunya memang menguras jiwa. Karena itu adalah cinta pertama. Ikatan pertama. Dunia pertama.

Ketika ikatan itu terancam, ketika dunia itu kabur, yang tersisa adalah luka yang dalam. Tapi juga... kekuatan yang tidak terduga. Seperti Kinan dengan kotak ingatannya. Seperti Bima dengan surat-suratnya.

Mereka tidak hanya kehilangan ibu. Mereka kehilangan bagian dari diri mereka sendiri. Tapi dalam kehilangan itu, mereka menemukan sesuatu yang lain: kapasitas untuk mencinta melebihi batas. Untuk tetap setia meski tidak diingat. Untuk menjadi ingatan ketika ingatan pergi.

Dan mungkin, pikirku sambil menutup pintu kamar Kinan yang sudah tertidur dengan boneka kesayangannya, mungkin itulah pelajaran terbesar dari semua ini:

Cinta sejati tidak membutuhkan ingatan.

Cinta sejati adalah ingatan itu sendiri.

Yang tetap hidup, meski segalanya terlupa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!