Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Datang langsung
Dunia persilatan tidak lagi tenang. Kabar tentang musnahnya Sekte Pedang Langit dan teror yang disebarkan oleh "Sang Arsitek Maut" telah memaksa faksi-faksi besar untuk mengesampingkan ego mereka. Di bawah pimpinan Sekte Matahari Emas, sebuah koalisi dibentuk: Aliansi Penumpas Iblis.
Ribuan pendekar dari berbagai tingkatan berkumpul di Kota Wuhe, sebuah kota benteng strategis yang menjadi pintu masuk ke wilayah pusat.
Mereka tidak tahu bahwa sosok yang mereka cari sedang berjalan santai di pasar kota tersebut, dengan seekor ular perak kecil yang bersembunyi di balik lengan baju luasnya.
Xiao Chen menatap spanduk besar yang berkibar di tengah kota. “Tumpas Sang Arsitek Maut, Tegakkan Keadilan!”
"Keadilan?" Xiao Chen mendengus sinis. Suaranya tenggelam di antara keriuhan pasar. "Mereka menyebut pembantaian keluarga petani sebagai pencarian pusaka, tapi menyebut pembalasan dendamku sebagai kejahatan iblis. Lucu sekali."
Bai, ular perak di lengannya, mendesis pelan, merasakan amarah yang dingin dari tuannya.
Xiao Chen melangkah menuju kediaman utama penguasa kota, tempat para petinggi Aliansi sedang mengadakan rapat strategi.
Penjagaan di sana sangat ketat; setidaknya ada empat pendekar Ranah Inti Bumi yang berjaga di setiap sudut gerbang, dan puluhan murid Ranah Pengumpulan Qi yang berpatroli.
Xiao Chen berhenti di tengah jalan, tepat di hadapan gerbang utama. Kehadirannya yang tenang namun misterius segera menarik perhatian.
"Berhenti! Area ini ditutup untuk umum!" teriak seorang kapten penjaga. "Pergi dari sini sebelum kami menyeretmu ke penjara!"
Xiao Chen tidak berhenti. Ia mengangkat tangan kanannya, membiarkan Bai menampakkan kepalanya yang mungil namun mematikan. "Aku mendengar kalian sedang mencariku. Jadi, aku datang untuk memudahkan pekerjaan kalian."
Para penjaga tertegun sejenak, lalu tawa mereka pecah. "Kau? Kau adalah Arsitek Maut yang menghancurkan Sekte Pedang Langit? Jangan bercanda, Nak! Kau bahkan tidak membawa pedang—"
Kalimat itu terputus ketika Xiao Chen menghentakkan kakinya ke bumi.
BOOM!
Bukan ledakan fisik yang terjadi, melainkan gelombang Qi ungu pekat yang merambat melalui tanah. Seketika, uap beracun mulai keluar dari celah-celah batu jalanan. Para penjaga yang tadi tertawa tiba-tiba tercekik. Kulit mereka mulai melepuh seolah-olah mereka baru saja disiram air keras.
"Racun! Dia benar-benar orangnya! SERANG!"
Puluhan pendekar melompat dari tembok benteng, menghujani Xiao Chen dengan berbagai jurus tenaga dalam. Namun, Xiao Chen hanya menggerakkan jarinya seperti seorang dirigen musik maut.
"Seni Racun Langit: Hujan Jarum Terlarang," bisik Xiao Chen.
Dari udara kosong di sekitar Xiao Chen, ribuan jarum yang terbentuk dari Qi beracun terkondensasi dan melesat ke segala arah. Jarum-jarum itu bukan hanya tajam, tetapi membawa esensi bunga salju beku dan racun korosif.
Setiap pendekar yang terkena jarum itu tidak langsung mati. Tubuh mereka membeku di tengah udara, lalu perlahan-lahan mulai retak dan hancur menjadi serpihan es hitam yang berbau busuk.
Di dalam aula pertemuan, Tetua Zhao dari Sekte Matahari Emas membanting cawannya saat mendengar suara jeritan dari luar. "Apa yang terjadi?! Siapa yang berani menyerang saat Aliansi sedang berkumpul?!"
Seorang murid berlari masuk dengan kondisi mengenaskan; setengah wajahnya telah menghitam dan matanya meleleh. "D-dia... dia ada di depan gerbang... Sang Arsitek Maut..."
Tetua Zhao dan para pemimpin sekte lainnya segera melesat keluar. Mereka mendarat di atas tembok benteng dan tertegun melihat pemandangan di bawah mereka. Ratusan prajurit mereka telah tumpah di tanah, berubah menjadi genangan cairan ungu yang mengerikan.
Di tengah-tengah lautan maut itu, berdiri seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun dengan ekspresi wajah yang datar, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan sepele.
"Mu Rong sudah menanti kalian di bawah sana," ucap Xiao Chen sambil menatap para pemimpin aliansi di atas tembok. Matanya berkilat ungu, memancarkan tekanan Ranah Langit yang membuat beberapa pendekar lemah langsung jatuh pingsan karena ketakutan.
"Keparat! Kau pikir kau bisa melawan seluruh Aliansi sendirian?!" teriak Tetua Zhao, meskipun jantungnya berdegup kencang melihat kekuatan Xiao Chen.
"Sendirian?" Xiao Chen mengelus kepala Bai yang melilit di jarinya. "Aku tidak sendirian. Aku membawa dendam jutaan orang yang kalian tindas atas nama 'keadilan'. Dan hari ini, kota ini akan menjadi bejana pertama bagi eksperimen racun terbesarku."
Xiao Chen merentangkan kedua tangannya. Langit di atas Kota Wuhe mulai berubah menjadi warna ungu gelap yang pekat. Badai racun yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.