NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Pulau keramat

Freen dan Nam berhasil memesan tiket penerbangan tercepat ke provinsi pantai di Selatan yang diyakini menjadi lokasi hilangnya kapal tersebut. Perjalanan menuju bandara dan penerbangan berlangsung tanpa insiden, memberikan mereka waktu yang cukup untuk merencanakan strategi logistik di wilayah pesisir.

Setibanya di kota pelabuhan utama di provinsi tersebut, suasana terasa sangat berbeda dari hutan yang dingin. Udara hangat dan lembab, beraroma garam dan ikan. Freen, meskipun tidak menyukai air dingin, mengakui bahwa pemandangan pantai yang cerah sedikit lebih menyenangkan daripada kegelapan hutan yang mencekam.

Mereka menyewa mobil sederhana dan segera menuju dermaga tempat kapal penyelam harta karun itu terakhir kali terlihat.

"Nam, ingat perannya," bisik Freen saat mereka mendekati kantor Syahbandar kecil yang tampak sepi. "Kita adalah ahli kelautan yang disewa oleh perusahaan asuransi untuk menyelidiki klaim kehilangan kapal."

Nam mengangguk, tas laptopnya disiapkan. Nam kini mengenakan kemeja rapi dan sunglasses, memberikan kesan profesional yang meyakinkan.

Di kantor Syahbandar, mereka bertemu dengan seorang petugas yang tampak bosan. Nam, dengan data palsu yang disiapkannya, mulai mengajukan pertanyaan.

"Kami dari Asuransi Lintas Samudra," kata Nam dengan nada otoritatif. "Kami perlu detail mengenai hilangnya kapal 'Penjelajah Kuno'.

Khususnya, apakah ada artefak yang diselamatkan sebelum kapal hilang, atau apakah ada laporan mengenai benda aneh yang dibawa?"

Petugas itu menghela napas. "Oh, kapal Penjelajah Kuno milik Kapten Wit. Dia memang agak gila, selalu mencari harta karun. Kapalnya hilang tiga hari lalu di sekitar perairan Pulau Keramat, sekitar 40 mil dari sini. Tidak ada yang selamat."

"Pulau Keramat?" tanya Freen, pura-pura mencatat.

"Ya. Pulau itu terkenal angker. Banyak kapal karam di sana. Legenda mengatakan, di bawah laut di sekitar pulau itu, terbaring reruntuhan kuil kuno yang tenggelam," jelas petugas itu, bergidik. "Kapten Wit ngotot ingin mencari sesuatu di sana, konon katanya cermin kuno."

Freen dan Nam saling pandang—konfirmasi sempurna. Cermin itu terkait dengan reruntuhan kuil tenggelam di Pulau Keramat.

"Apakah ada sisa-sisa kapal yang ditemukan?" tanya Nam.

"Tidak ada. Hanya beberapa puing kecil yang terbawa arus," jawab petugas itu.

Setelah mendapatkan detail lokasi yang mereka perlukan (koordinat sekitar Pulau Keramat), Freen dan Nam segera meninggalkan kantor Syahbandar.

"Pulau Keramat, reruntuhan kuil tenggelam," ujar Freen sambil berjalan cepat menuju mobil.

"Cermin itu pasti ada di reruntuhan itu, Nam. Dan sekarang, kapal penyelam itu menjadi korban di sana."

"Kita butuh kapal dan kapten yang berani, Freen. Dan kita harus mengemudi 40 mil ke tengah laut," kata Nam, melihat koordinat di tabletnya.

Mereka menuju ke area pelelangan ikan, tempat mereka yakin bisa menemukan nelayan yang bersedia disewa untuk perjalanan berbahaya itu dengan imbalan yang besar.

Freen, menggunakan Mustika Merah Delima untuk memancarkan aura keyakinan dan keberanian (dan dibantu oleh uang tunai Nam yang persuasif), berhasil menyewa sebuah perahu nelayan tua milik seorang pria tangguh bernama Paman Suthep.

"Pulau Keramat sangat berbahaya, Nona," Paman Suthep memperingatkan. "Arusnya ganas, dan sering ada kabut tebal yang datang tiba-tiba. Roh laut di sana tidak suka diganggu."

"Kami tahu risikonya, Paman Suthep," jawab Freen dengan tenang. "Kami hanya perlu mencapai area terdekat dengan pulau itu. Kami ingin melihat puing-puingnya. Dan kami akan membayar Anda tiga kali lipat."

Paman Suthep, dibujuk oleh uang dan ketegasan Freen, akhirnya setuju.

Kapal nelayan tua itu melaju membelah ombak. Saat mereka semakin menjauhi pantai, Freen mengeluarkan Mustika Merah Delima. Ia memejamkan mata, memfokuskan energi spiritualnya.

Freen bisa merasakan aura Cermin itu. Itu bukanlah aura gelap seperti iblis, melainkan aura dingin, tua, dan sangat memanipulasi. Cermin itu memancarkan daya tarik dan ancaman secara bersamaan.

"Nam, Cermin itu ada di bawah sana. Tepat di sebelah Pulau Keramat," bisik Freen. "Energinya terasa seperti mata yang mengawasi dari bawah laut. Kapal Kapten Wit ditarik ke sana, bukan tenggelam karena cuaca."

Mereka akhirnya mencapai perairan yang ditunjukkan oleh Paman Suthep. Pulau Keramat diselimuti kabut tipis, tampak misterius dan suram di kejauhan. Arus laut di sana terasa lebih kuat.

"Di sinilah kapal itu hilang," kata Paman Suthep, menghentikan mesin.

Freen melihat ke bawah air yang keruh. Ia tahu, Cermin itu hanya beberapa puluh meter di bawah mereka, terkunci di dalam reruntuhan kuil kuno.

Nam menatap Freen dengan sorot mata khawatir, gesturnya menyapu ombak dan air laut yang tampak gelap.

"Artefaknya di dalam air, Freen," ujar Nam, suaranya sedikit meninggi melawan deru ombak. "Kita tidak mungkin menyelam. Kita tidak punya peralatan menyelam, dan bahkan jika punya, kita tidak terlatih untuk menyelam di perairan berbahaya seperti ini."

Freen menoleh ke Nam, lalu kembali menatap permukaan laut yang beriak. Ia tahu Nam benar. Ini bukan hutan yang bisa mereka susuri, ini

adalah lautan yang luas dan tak kenal ampun.

"Aku tahu, Nam. Menyelam adalah bunuh diri," jawab Freen, suaranya tenang meskipun tantangan di depan mereka sangat besar.

"Tapi ingat, kita bukan pemburu harta karun. Kita adalah alat takdir. Cermin itu harus diambil, dan jika ia memiliki kekuatan untuk menarik kapal tenggelam, maka kekuatan itu juga bisa digunakan untuk menarik Cermin itu kembali."

Freen lalu mengeluarkan Mustika Merah Delima, memegangnya erat di antara jari-jarinya.

"Paman Suthep," panggil Freen ke nelayan tua itu. "Apakah di kapal ini ada tali yang panjang dan kuat, dengan pemberat yang cukup berat?"

Paman Suthep menunjuk ke buritan. "Ada, Nona. Tali pancing tebal untuk ikan besar. Tapi untuk apa?"

"Kami akan memancing," kata Freen dengan senyum tipis yang tampak sedikit gila.

"Memancing Cermin Kuno."

Nam menatap Freen dengan mata membelalak. "Freen, kau tidak mungkin serius! Itu artefak, bukan ikan tuna raksasa!"

"Dengarkan aku, Nam," potong Freen.

"Energi Cermin itu sangat kuat. Ia telah menyebabkan kapal tenggelam di sini. Tapi energi itu juga memancarkan daya tarik yang ekstrem. Aku akan menggunakan Mustika ini sebagai pemancar untuk menghubungkan energi kita dengan Cermin itu. Kita tidak akan menariknya dengan kekuatan fisik, tetapi dengan kekuatan spiritual."

Paman Suthep, yang bingung dengan pembicaraan mereka, tetap membantu menyiapkan tali pancing tebal itu, mengikatkan jangkar kecil sebagai pemberat.

Freen berlutut di tepi perahu. Ia memejamkan mata, memegang Mustika Merah Delima di satu tangan, dan meletakkan tangan yang lain di tali pancing yang memanjang ke dalam air keruh.

Ia memusatkan pikirannya, mengabaikan ombak yang mengguncang perahu. Ia menyalurkan seluruh energi protektif dan otoritas spiritual dari Mustika Merah Delima, bukan untuk melawan, tetapi untuk memanggil Cermin itu.

Batin Freen: "Cermin Kuno, aku datang bukan untuk menguasaimu. Aku datang untuk mengembalikanmu ke tempat aman. Jika kau terancam, tunjukkan jalan. Aku memanggilmu, Objek Spiritual. Kembalilah ke dimensi Takdir!"

Di bawah laut, Freen bisa merasakan aura Cermin itu bergetar. Cermin itu seolah ragu, energinya dingin dan waspada.

"Terima aku! Kau tidak akan jatuh ke tangan yang salah lagi!" desak Freen dalam hati, menyalurkan energi yang kuat, seolah menarik Cermin itu dengan benang spiritual.

Tiba-tiba, tali pancing di tangan Freen bergetar hebat. Itu bukan getaran ikan besar, tetapi getaran spiritual yang kuat. Tali itu menegang, seolah sesuatu yang berat dan kuno baru saja menggigit umpan mereka.

"Freen! Ada yang menarik! Tali itu menegang!" seru Nam, bergegas mendekat.

"Tarik, Nam! Tarik sekuat tenaga! Kita tidak menarik batu, kita menarik energi!" perintah Freen, tidak membuka mata.

Nam dan Paman Suthep segera membantu. Mereka menarik tali itu dengan sekuat tenaga. Tali itu terasa berat, tetapi Freen tahu itu adalah berat dari artefak yang tidak ingin dilepaskan oleh reruntuhan di bawah laut.

Perlahan, melalui permukaan air yang berombak, sebuah benda mulai terlihat. Itu adalah sebuah objek bulat, berbingkai logam kuno, tertutup lumut laut.

Itu adalah Cermin Kuno yang mereka cari.

Saat Cermin itu ditarik ke permukaan perahu, Freen merasakan gelombang energi dingin yang hampir membuatnya pingsan. Cermin itu memancarkan aura ribuan mata, seolah ia telah merekam setiap jiwa yang lewat.

"Cermin itu!" seru Nam, terkejut.

Freen langsung meraih Cermin itu, menempelkan Mustika Merah Delima ke permukaannya. Energi Mustika segera menenangkan gejolak Cermin itu. Freen Sarocha berhasil memancing artefak spiritual dari reruntuhan kuil tenggelam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!