NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Hari pertama hukuman dimulai. Pagi-pagi sekali, saat embun masih menempel di dedaunan pesantren, Randi sudah berdiri di depan tempat wudhu santri dengan wajah yang sangat masam. Ia mengenakan kaos oblong dan celana kain yang digulung, memegang sikat lantai seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.

Namira, yang sengaja bangun lebih awal, menyeret Ayyan untuk "inspeksi" sambil membawa segelas es teh manis di tangan kirinya.

"Semangat ya, Pak Mantan Donatur! Itu pojokannya masih agak lumut tuh, disikat pakai tenaga dalam dong!" seru Namira dari kejauhan dengan nada yang sangat menjengkelkan sekaligus menggemaskan.

Randi melirik tajam, tapi begitu melihat Ayyan berdiri di samping Namira dengan tatapan dingin dan tangan bersedekap, ia langsung menunduk dan kembali menyikat lantai dengan bertenaga.

"Namira, sudah. Jangan terlalu digoda, nanti dia bukannya bertaubat malah makin dendam," bisik Ayyan pelan, meski sudut bibirnya sendiri sedikit terangkat melihat pemandangan langka itu.

"Biarin, Mas! Ini namanya terapi mental. Biar dia tahu kalau hidup nggak cuma soal benerin jam tangan mahal," jawab Namira sambil menyeruput es tehnya dengan bunyi srupuuut yang sengaja dikencangkan.

Setelah memastikan Randi bekerja dengan benar, Ayyan mengajak Namira berjalan-jalan di pematang sawah belakang pesantren. Suasananya sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk drama media sosial kemarin.

"Mas..." panggil Namira pelan.

"Dalem?" jawab Ayyan lembut.

Namira sempat tertegun. Panggilan "Dalem" dari Ayyan selalu sukses membuat jantungnya copot dari tempatnya. "Mas beneran nggak nyesel nolak tanah wakaf seluas itu? Itu kan bisa buat asrama yang megah banget, Mas."

Ayyan menghentikan langkahnya, menatap hamparan padi yang mulai menguning. "Namira, membangun asrama itu tujuannya untuk tempat tinggal para pencari ilmu Allah. Kalau pondasinya saja sudah diawali dengan rasa angkuh dan niat untuk merendahkan orang lain, Mas khawatir keberkahannya akan hilang."

Ia menoleh ke arah Namira, merapikan sedikit helai jilbab istrinya yang tertiup angin. "Mas lebih pilih santri-santri tidur di tempat sederhana tapi hatinya lapang, daripada di gedung mewah tapi didapat dari cara menginjak harga diri istri Mas."

Namira terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia langsung menubruk dada bidang Ayyan, memeluknya erat-erat di tengah pematang sawah. "Mas Ayyan... makasih ya. Mas selalu bikin aku ngerasa jadi wanita paling berharga, padahal aku tahu aku masih jauh dari kata sempurna buat jadi istri Gus."

Ayyan membalas pelukan itu, mengelus punggung Namira dengan sayang. "Tidak ada manusia yang sempurna, Namira. Mas pun masih belajar. Mas butuh 'berisik'-mu supaya hidup Mas nggak kaku terus, dan kamu butuh Mas supaya... ya supaya ada yang bayarin seblak kamu."

Namira tertawa di balik dada Ayyan. "Ihhh! Mas ngerusak suasana banget sih!"

"Hehehe. Oh iya, habis ini ada jadwal apa?" tanya Ayyan.

Namira mendongak, nyengir lebar. "Hari ini Randi kan di sini, gimana kalau kita bikin konten TikTok bareng para santri? Judulnya: 'Daily Life di Pesantren: Tutorial Sabar Ngadepin Mantan yang Lagi Kerja Bakti'. Pasti viral lagi, Mas!"

Ayyan memijat keningnya, mulai merasakan pusing yang amat sangat. "Namira... Mas mohon, satu hari saja jangan bikin huru-hara media sosial."

"Bercanda, Mas! Ih, serius banget sih Gus-ku ini. Habis ini aku mau belajar masak sama Umi. Katanya Mas suka sayur lodeh ya? Aku mau coba bikin, tapi jangan diketawain ya kalau rasanya nanti kayak kuah seblak."

Ayyan tersenyum pasrah. "Apapun yang kamu masak, Mas akan makan. Selama itu bukan air rendaman mukena yang kemarin kamu ancamkan ke Randi."

"MAS AYYAN!!!"

"Aduh, sakit tahu, Mas!" Namira mencubit pelan lengan Ayyan yang keras seperti beton. "Itu tuh namanya taktik pertahanan diri yang kreatif! Harusnya Mas bangga punya istri yang siap tempur demi kehormatan keluarga."

Ayyan terkekeh, suara tawanya yang rendah berpadu dengan suara gesekan daun padi. "Iya, Mas bangga. Tapi Mas lebih bangga kalau istri Mas sekarang masuk ke dapur dan fokus ke sayur lodehnya. Kasihan Umi sudah nungguin di dapur."

Namira langsung berpose hormat ala tentara. "Siap, Gus Pelatih! Lodeh istimewa ala Chef Namira segera meluncur!"

Dua jam kemudian, suasana di dapur ndalem sudah seperti medan perang. Namira sibuk dengan ulekan di tangan, sementara Umi Fatimah hanya bisa mengawasi sambil menahan tawa melihat menantunya yang memakai celemek bunga-bunga dengan kacamata hitam di atas kepala—katanya biar nggak perih pas ngupas bawang.

"Mira, itu santannya jangan kebanyakan, nanti jadi kolak," tegur Umi lembut.

"Tenang Mi, ini resep rahasia! Perpaduan antara tradisi pesantren dan inovasi anak Jaksel," jawab Namira penuh percaya diri, padahal tangannya belepotan bumbu kuning.

Saat sayur lodeh itu matang, aromanya memang harum, tapi ada yang aneh. Warnanya sedikit lebih kemerahan dibanding lodeh pada umumnya. Namira segera menyajikannya di meja makan tepat saat Ayyan dan Abah Kyai masuk untuk makan siang.

"Nah, silakan dicicipi! Sayur Lodeh Red Velvet ala Namira!" seru Namira antusias.

Ayyan menatap mangkuk di depannya dengan dahi berkerut. Ia menyendok kuahnya sedikit, lalu mencicipinya. Sedetik kemudian, matanya membelalak.

"Namira... kamu pakai cabai berapa biji?" tanya Ayyan sambil buru-buru meraih gelas air putih.

"Cuma lima belas, Mas. Kan biar seger! Biar Mas nggak ngantuk pas ngajar kitab kuning nanti," jawab Namira tanpa dosa.

Abah Kyai yang juga mencicipi hanya tersenyum sambil menyeka keringat di dahinya. "Wah, ini mah bukan lodeh, Ayyan. Ini lodeh rasa seblak level tiga. Tapi... enak juga ya, seger."

"Tuh kan! Abah aja bilang enak! Mas Ayyan aja yang lidahnya lidah es krim, nggak kuat pedas," ledek Namira.

Ayyan menggelengkan kepala, namun tetap menyendok nasi dan sayurnya lagi. Meskipun pedasnya minta ampun, ia menghargai usaha istrinya.

"Ya sudah, Mas habiskan. Tapi habis ini Mas nggak mau denger kamu ngeluh sakit perut ya."

"Siap, Mas Sayang!"

Setelah makan siang, Ayyan kembali ke area tempat wudhu untuk mengecek Randi. Ternyata, Randi sudah selesai menyikat satu area, tapi dia sedang duduk lemas di pojokan sambil mengipasi diri dengan sandal jepit.

"Gus..." panggil Randi saat melihat Ayyan datang. Wajahnya sudah benar-benar kusam, jauh dari citra pengusaha muda sukses.

Ayyan berdiri di depannya. "Sudah selesai?"

"Sudah, Gus. Capek banget ternyata ya," gumam Randi pelan.

"Itulah yang dirasakan para santri pengabdian setiap hari tanpa pernah mengeluh. Mereka melakukan ini karena cinta pada tempat ini. Kamu melakukannya karena hukuman. Itulah bedanya niat, Randi," ucap Ayyan dengan nada yang kali ini lebih kebapakan, bukan lagi dingin.

Randi terdiam. Ia menatap lantai yang kini mengkilap hasil kerjanya. "Gus... saya mau minta maaf sekali lagi. Soal Namira... dia emang pantes dapetin orang kayak Gus. Kalau sama saya, mungkin dia nggak bakal belajar cara bikin lodeh pedas tadi."

Ayyan sedikit terkejut. "Kamu dengar soal lodeh itu?"

"Suara Namira teriak-teriak di dapur kedengeran sampai sini, Gus. Pesantren ini... emang nggak pernah sepi kalau ada dia," Randi tersenyum tipis, kali ini terlihat tulus.

Ayyan menepuk bahu Randi sekali. "Selesaikan dua hari lagi. Setelah itu, pulanglah. Jadilah manusia yang lebih baik."

Saat Ayyan hendak kembali ke kamar, ia melihat Namira sedang mengintip dari balik pohon jambu sambil membawa piring berisi... kerupuk seblak.

"Mas! Mas! Si Randi udah tobat belum? Kalau belum, mau aku kasih sisa lodeh tadi nih!" bisik Namira heboh.

Ayyan menarik tangan Namira, membawanya menjauh dari sana. "Sudah, jangan diganggu lagi. Sekarang mending kamu masuk kamar, siapin kitabnya. Mas mau kasih 'hukuman' buat kamu juga karena bikin lodeh terlalu pedas."

"Hah?! Hukuman apa Mas?! Jangan bilang nambah hafalan?!"

Ayyan mendekatkan wajahnya ke telinga Namira, berbisik pelan. "Hukumannya... kamu harus nemenin Mas setoran doa-doa perlindungan untuk keluarga kita, selama satu jam. Tanpa boleh pegang hp. Gimana?"

Namira cemberut, tapi matanya berbinar. "Kalau Mas yang mimpin doanya sih... aku mau banget. Tapi habis itu boleh beli es krim kan?"

"Dasar bocah seblak. Iya, boleh."

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!