"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: WAJAH BARU SANG TAWANAN
Cahaya fajar menyelinap di antara celah gorden beledu tebal, membentuk garis-garis emas yang membelah lantai kamar yang sunyi. Pagi itu, tidak ada suara barang pecah. Tidak ada isak tangis yang tertahan di balik bantal.
Ghea duduk di tepi ranjang dengan punggung tegak, membiarkan rambut panjangnya yang biasanya berantakan kini tersisir rapi menutupi bahunya. Di pergelangan kaki kanannya, rantai emas pemberian Adrian berdenting halus setiap kali ia bergerak. Bunyi logam itu, yang sebelumnya terasa seperti lonceng kematian, kini ia dengarkan dengan saksama—sebuah pengingat bahwa musuhnya sedang berada di atas angin, dan ia harus mulai merangkak dari bawah.
Cklek.
Pintu terbuka. Adrian melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi. Di tangannya terdapat nampan perak berisi sarapan mewah—roti gandum panggang, omelet dengan taburan truffle, dan secangkir kopi hitam yang aromanya memenuhi ruangan.
Langkah kaki Adrian terhenti tepat di tengah ruangan. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut kamar, mencari tanda-tanda pemberontakan atau senjata tersembunyi. Namun, yang ia temukan hanyalah Ghea yang menatapnya dengan tenang. Sangat tenang, hingga itu terasa tidak alami.
"Selamat pagi, Adrian," sapa Ghea. Suaranya rendah, jernih, dan yang paling mengejutkan bagi Adrian: tidak ada nada benci di sana.
Adrian meletakkan nampan di atas meja jati. Ia menyipitkan mata, menelisik wajah Ghea yang tampak lebih cerah meski sedikit pucat. "Kau bangun lebih awal hari ini. Dan kau... menyapa namaku tanpa desisan kemarahan?"
Ghea berdiri perlahan. Rantai di kakinya terseret di atas karpet bulu, menghasilkan suara yang memecah keheningan. Ia berjalan mendekat ke arah Adrian—sejauh panjang rantai itu mengizinkannya. Ia berhenti tepat satu langkah di depan pria itu, menatap matanya dalam-dalam.
"Aku menghabiskan sepanjang malam dengan terjaga," ucap Ghea pelan. "Menatap rantai ini, menatap dinding ini. Dan aku menyadari sesuatu yang sangat pahit."
Adrian melipat tangan di depan dada, tampak tertarik. "Oh? Dan apa itu?"
"Bahwa setiap kali aku mencoba lari, aku justru semakin menyakiti diriku sendiri. Dan aku menyakiti orang-orang yang mencoba membantuku," Ghea menundukkan kepala, membiarkan beberapa helai rambut menutupi wajahnya, menciptakan kesan kerapuhan yang sempurna. "Kejadian di gerbang semalam... melihat Bi Inah ditodong senjata karena keegoisanku... itu menghancurkanku, Adrian."
Ghea menarik napas panjang, suaranya sedikit bergetar, memberikan bumbu emosional yang pas bagi sandiwaranya. "Aku minta maaf. Aku minta maaf karena terus bersikap seperti binatang liar yang mencoba kabur dari rumah yang memberinya makan. Aku baru sadar... dunia luar mungkin memang sudah mati bagiku. Tidak ada yang mencariku, tidak ada yang menungguku. Hanya kau yang ada di sini."
Hening menyergap ruangan itu selama beberapa detik. Adrian tetap diam, namun Ghea bisa melihat denyut halus di rahang pria itu. Adrian adalah seorang manipulator ulung, ia terbiasa curiga. Tapi dia juga seorang pria yang haus akan pengakuan. Egonya yang raksasa sangat merindukan momen di mana korbannya berlutut bukan karena paksaan, tapi karena "kesadaran".
Adrian mengulurkan tangan, menyentuh dagu Ghea dan mengangkatnya agar mereka saling bertatapan. "Kau tahu, Ghea? Aku ingin sekali mempercayaimu. Tapi kau adalah seorang detektif. Menipu adalah makanan sehari-harimu."
Ghea tidak membuang muka. Ia justru membiarkan satu tetes air mata jatuh tepat di saat yang tepat. "Lalu apa yang harus kulakukan? Jika aku lari, kau marah. Jika aku diam, kau curiga. Aku hanya lelah, Adrian. Aku lelah membenci. Aku lelah merasa takut."
Adrian menatap lekat-lekat manik mata Ghea. Ia mencari kebohongan, namun Ghea sudah mengubur identitas aslinya jauh ke dasar jiwanya. Detektif Ghea Zanna sedang "tidur", dan yang ada di hadapan Adrian sekarang adalah seorang tawanan yang patah semangat.
Setelah keheningan yang menyesakkan, ketegangan di wajah Adrian perlahan mencair. Sebuah senyum tipis—hampir menyerupai senyum kemenangan yang tulus—muncul di bibirnya.
"Bagus," bisik Adrian. Jemarinya mengusap air mata di pipi Ghea dengan sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia. "Aku lebih suka wajahmu yang seperti ini. Ghea-ku yang patuh. Ghea-ku yang mulai melihat cahaya."
Adrian menarik Ghea ke dalam pelukannya. Ghea membiarkan tubuhnya bersandar pada dada bidang pria itu. Bau parfum kayu cendana dan tembakau mahal menyengat indra penciumannya. Ghea merasa mual, ia ingin sekali menghujamkan sesuatu ke jantung pria ini, namun ia tetap diam. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Adrian, membalas pelukan itu dengan gerakan yang tampak pasrah.
"Aku akan membuktikan padamu bahwa kau mengambil keputusan yang benar," ujar Adrian di atas kepala Ghea. "Hari ini, aku akan memberikanmu sedikit kebebasan. Sebagai hadiah karena kau sudah mulai belajar caranya bersyukur."
"Terima kasih, Adrian," gumam Ghea di balik dada pria itu.
Di balik punggung Adrian, mata Ghea terbuka lebar. Tatapannya dingin dan tajam seperti mata pisau. Bibirnya tidak tersenyum, melainkan mengatup rapat dalam garis kebencian yang murni.
Percayalah padaku, Adrian, batin Ghea. Jadilah lengah. Jadilah sombong dengan kemenanganmu. Karena saat kau merasa paling dicintai, itulah saat aku akan menghancurkanmu berkeping-keping.
Adrian melepaskan pelukannya, tampak lebih bersemangat dari biasanya. Ia mengambil piring omelet dan menyuapkan satu potongan kecil ke mulut Ghea. Ghea menerimanya dengan patuh, mengunyahnya dengan tenang seolah itu adalah makanan paling lezat di dunia.
"Mulai besok, rencana pernikahan kita akan dilanjutkan dengan suasana yang lebih ceria," kata Adrian sambil tersenyum. "Aku ingin kau tidak lagi melihat villa ini sebagai penjara, tapi sebagai istanamu. Tempat di mana hanya ada kau, aku, dan cinta kita."
Ghea mengangguk pelan. "Aku hanya ingin kedamaian, Adrian. Jika itu berarti berada di sampingmu, maka biarlah begitu."
Sandiwara telah dimulai. Tirai pertama telah dibuka. Adrian merasa ia telah memenangkan jiwa sang detektif, tanpa menyadari bahwa ia baru saja mengundang seekor ular berbisa untuk tidur di bantalnya. Ghea tahu, untuk memenangkan perang melawan seorang psikopat, ia harus menjadi lebih gila, lebih tenang, dan lebih lihai dalam menipu daripada sang psikopat itu sendiri.
Malam itu, Ghea tertidur dengan sebuah rencana yang matang. Tidak ada lagi pelarian bodoh lewat gerbang. Mulai sekarang, setiap langkahnya adalah infiltrasi. Setiap kata-katanya adalah racun. Dan setiap pelukannya adalah persiapan untuk tusukan terakhir.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....