Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Badai Terakhir Sebelum Fajar
Badai keraguan itu reda berkat penjelasan Syapala, atmosfer di kediaman keluarga Erkana berubah drastis. Aroma bunga melati yang menenangkan memenuhi setiap sudut ruangan.
Syafina kembali menemukan senyumnya. Ia tidak lagi menghindari telepon dari Erlaga. Sebaliknya, setiap malam mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendiskusikan detail kecil pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
"Fina ingin konsepnya putih klasik, Kak. Putih bersih dengan sedikit sentuhan emas. Melati yang menjuntai segar, supaya aromanya menenangkan saat prosesi ijab kabul nanti," ujar Syafina melalui sambungan telepon, suaranya riang dan penuh semangat.
Di ujung telepon, Erlaga terkekeh. Suara baritonnya terdengar jauh lebih ringan. "Apapun untukmu, Sayang. Kakak sudah koordinasi dengan komandan untuk urusan Pedang Pora. Semua rekan perwira sudah siap. Kita akan buat momen ini tidak terlupakan."
Persiapan berjalan sesuai koridornya. Syafina dan Syafana, sibuk bolak-balik ke butik untuk memastikan detail payet pada cadar dan gaun pengantin sudah sempurna.
Sementara itu, Erlaga sibuk dengan urusan administrasi di markas dan memastikan rumah masa depan mereka sudah siap huni.
Namun, di balik keriuhan yang bahagia itu, ada satu duri yang belum benar-benar tercabut, Prita.
Satu minggu sebelum hari-H, Syafina sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk mengambil pesanan suvenir eksklusif. Ia sendirian karena Mamanya sedang ada urusan mendadak di butik. Saat ia sedang berjalan menuju area parkir yang agak lengang, sebuah mobil sedan mewah berwarna merah bata tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya, menghalangi langkahnya.
Kaca mobil turun perlahan, menampakkan wajah cantik yang kini tampak kaku dan penuh amarah. Dokter Prita. Kali ini ia tidak mengenakan seragam medisnya, melainkan gaun merah mencolok yang senada dengan mobilnya.
"Masih punya muka untuk melanjutkan pernikahan ini?" tanya Prita tanpa basa-basi. Suaranya dingin, menusuk.
Syafina berhenti, ia menarik napas panjang, mencoba mengingat pesan Syapala untuk tetap tenang. "Dokter Prita. Ada apa lagi? Saya rasa semua sudah jelas."
Prita keluar dari mobilnya, melangkah mendekat dengan high heels yang berbunyi nyaring di atas lantai beton parkiran. "Jelas? Apanya yang jelas? Apa si Syapala itu sudah mencuci otakmu? Dia itu wanita yang gagal. Dia gagal mendapatkan Erlaga, dan sekarang dia pura-pura jadi malaikat untuk membantumu? Lucu sekali."
Syafina menatap Prita dengan tatapan berani. "Mbak Syapala bukan wanita gagal. Dia wanita hebat yang punya kebesaran hati. Sesuatu yang sepertinya tidak Dokter miliki."
Wajah Prita memerah padam. "Kurang ajar! Kamu itu cuma anak kecil yang kebetulan lewat saat Erlaga sedang kesepian. Kamu pikir dia benar-benar mencintaimu? Dia hanya mencari pelarian karena dia tidak bisa memilikiku atau Syapala dengan cara yang benar. Kamu itu cuma cadangan, gadis kecil!"
Prita merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat, lalu melemparkannya ke arah Syafina. Beberapa lembar foto terjatuh ke lantai. Syafina melirik sekilas, foto-foto lama Erlaga dengan Prita saat mereka masih bersama, tampak sangat dekat di sebuah acara formal militer.
"Lihat itu! Itu saat kami merencanakan masa depan. Erlaga tidak pernah menatapmu sedalam dia menatapku di foto itu. Kamu hanya bayang-bayang," desis Prita sok tahu, matanya berkilat penuh obsesi.
Syafina tidak memungut foto-foto itu. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Prita semakin naik pitam. "Dokter Prita, saya kasihan pada Anda. Anda dokter yang pintar, cantik, dan punya karier cemerlang. Tapi Anda memilih untuk membusuk di masa lalu pria yang sudah tidak menginginkan Anda."
"Apa kamu bilang?" Prita mengangkat tangannya, seolah hendak menampar Syafina.
Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Prita dengan sangat kuat. Prita memekik kesakitan.
"Cukup, Prita!"
Erlaga muncul dari balik pilar parkiran. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang luar biasa. Ia baru saja tiba untuk menjemput Syafina setelah mendapat pesan singkat dari calon istrinya itu yang merasa dibuntuti sejak di dalam mal.
"Laga... sakit! Lepaskan!" rintih Prita.
Erlaga menghempaskan tangan Prita dengan kasar. Ia berdiri di depan Syafina, memagari gadis itu dengan tubuh tegapnya. "Jangan pernah sentuh calon istriku dengan tangan kotormu. Sekali lagi kamu muncul di hadapannya atau mengganggunya, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu ke dewan etik kedokteran dan kepolisian atas tindakan perbuatan tidak menyenangkan dan pengancaman."
Prita tertawa kecut, meski matanya berkaca-kaca karena malu dan marah. "Kamu mengancamku demi anak ingusan ini? Setelah apa yang kita lalui?"
"Apa yang kita lalui adalah kesalahan terbesar dalam hidupku!" bentak Erlaga, suaranya menggema di area parkir. "Kamu menghancurkan hubunganku dengan Syapala dengan fitnahmu. Kamu mencoba memanipulasiku. Dan sekarang, kamu mencoba menghancurkan kehidupan baruku? Pergi, Prita. Pergi sebelum aku benar-benar kehilangan rasa hormatku sebagai seorang pria terhadap seorang wanita."
Prita terdiam. Ia melihat sorot mata Erlaga yang penuh dengan kemuakan, tidak ada lagi sisa-sisa kasih sayang atau bahkan rasa kasihan.
Di sampingnya, Syafina berdiri dengan tenang, tidak tampak ketakutan, justru menatapnya dengan rasa iba yang paling menghina bagi wanita sombong seperti Prita.
"Kamu akan menyesal, Erlaga. Suatu saat nanti kamu akan sadar bahwa anak kecil ini tidak akan bisa mengimbangi duniamu!" teriak Prita sambil masuk ke mobilnya dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu dan suara decitan ban yang memekakkan telinga.
Erlaga berbalik, ia memegang kedua bahu Syafina dengan lembut. Napasnya masih memburu. "Kamu tidak apa-apa? Maafkan Kakak, Fina. Kakak terlambat."
Syafina menggeleng, ia memegang tangan Erlaga yang masih gemetar karena emosi. "Fina nggak apa-apa, Kak. Justru Fina lega. Sekarang Fina tahu, seberapa kerasnya dia mencoba, dia tidak akan pernah bisa masuk lagi ke kehidupan kita. Dia hanya orang asing yang sedang tersesat dalam egonya sendiri."
Insiden di parkiran itu menjadi penutup dari segala gangguan masa lalu. Di sisa hari menuju pernikahan, Erlaga dan Syafina fokus pada ibadah dan persiapan batin. Mereka melakukan sesi pengajian di rumah masing-masing, memohon doa restu agar perjalanan mereka diberkahi.
Syafina menatap gaun pengantinnya yang kini sudah tergantung rapi di kamarnya. Warna putih mutiaranya tampak berkilau terkena cahaya lampu. Di sampingnya, terdapat seragam PDU Erlaga yang sudah disetrika sangat rapi. Dua dunia yang berbeda, seorang perwira yang tegas dan seorang gadis yang lembut, akan segera menyatu.
"Ma," panggil Syafina pada Syafana yang sedang membantunya mengepak koper untuk dibawa ke rumah baru nanti.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih sudah mendukung Fina. Tanpa bantuan kalian semua, mungkin Fina sudah menyerah saat orang di masa lalu Kak Laga datang."
Syafana memeluk putrinya erat. "Cinta itu memang butuh ujian, Fina. Dan kamu baru saja lulus ujian pertama. Ingat, setelah ini, tantangannya akan lebih besar sebagai istri seorang prajurit. Tapi selama kalian saling percaya, tidak ada satu pun 'wanita' lain yang bisa menggoyahkan kalian."
Malam sebelum akad nikah, Erlaga berdiri di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang di langit Bandung yang cerah. Ia mengirim satu pesan singkat kepada Syafina.
"Sampai jumpa di depan penghulu, Sayang. Terima kasih sudah memilih bertahan meski masa laluku tidak sesempurna bayanganmu. Aku mencintaimu, lebih dari yang bisa kau bayangkan."
Di kamarnya, Syafina membaca pesan itu dengan air mata bahagia. Ia tahu, esok pagi, hidupnya akan berubah selamanya. Ia akan melangkah bukan lagi sebagai gadis kecil yang malu-malu, melainkan sebagai seorang istri yang berdiri tegak di samping suaminya, siap menghadapi badai apapun yang mungkin datang di masa depan.